Gadis Muda Untuk Pak Duda

Gadis Muda Untuk Pak Duda
Dia Kembali


__ADS_3

Riana Dyxa, perempuan yang telah lama tak terlihat batang hidungnya akhirnya kembali lagi. Perempuan dengan beribu obsesi dan ambisinya, dia tokoh antagonist dalam kisah ini. Tentang Riana si antagonist dengan sisi rapuh yang dia tutupi dengan baik.


Saat ini dia tengah menanti jemputannya. Iya, selama beberapa minggu belakangan ini, perempuan itu pergi ke Singapura karena suatu alasan. Selama beberapa minggu itu juga dia memantau Darren dan Nata, perempuan itu membiarkan Darren dan Nata hidup dengan ketenangan dan kebahagiaan. Namun, kembalinya dirinya jelas bukan pertanda yang baik.


Perempuan itu terus saja menampilkan wajah datarnya, tatapannya begitu sinis. Siapa pun tahu dia sosok antagonisnya di sini. Mengabaikan berbagai tatapan dari orang-orang yang berlalu lalang, Riana memilih memainkan ponselnya itu. Dia sudah lelah menanti jemputannya, Riana mencoba menghubungi supirnya, tetapi tak juga mendapatkan balasan.


"Ck, ke mana sih Pak Mamat?!" kesal Riana.


Baru saja dia ingin melanjutkan ucapannya, orang yang dinanti akhirnya tiba. Riana memandang supir pribadinya dengan tatapan tajam. Terlihat pria paruh baya bernama Mamat itu menundukkan kepalanya dalam, dia yakin majikannya akan memarahinya sekarang.


"Ke mana aja sih, Pak?! Lama banget," hardik Riana.


"Ma—maaf, Non. Tadi ban mobilnya bocor di jalan, jadi saya harus ke bengkel dulu," cicit Mamat.


Meski Riana jauh lebih muda darinya, tetapi Riana jauh lebih kejam darinya. Perempuan itu tak memandang usia jika menindas orang lain, baginya tak ada yang bisa lebih baik darinya.


"Ck, alasan klise. Cepet buka pintu mobilnya. Saya kepanasan," bentak Riana di akhir kalimat.


Mamat dengan cepat membuka pintu belakangan Mobil. Dia membungkuk hormat saat Riana berjalan memasuki mobil. Saat dirasa nonanya sudah masuk ke dalam mobil, pria paruh baya itu menutup pintu mobil dan berlari menuju tempat kemudi. Tanpa menunggu lama lagi, dia menjalankan mobil tersebut dengan kecepatan normal.


Saya kembali, siap menghancurkan kalian.


***


Sekar memandangi Vero yang tengah menyesap kopinya itu. Iya, semenjak insiden di kontrakan Sekar itu, keduanya kembali menjalin hubungan. Keduanya akan melangsungkan pernikahan kembali pada minggu depan dan itu akan menjadi pernikahan termewah dalam hidup Sekar.


Perubahan sikap Vero jelas saja mengundang tanya di kepala Sekar. Kejadian satu malam itu seolah benar-benar meruntuhkan dinding kebencian yang Vero berikan kepada dirinya. Bisakah Sekar bersyukur atas kejadian dikeroyoknya Vero malam itu?


Wanita itu menunduk, mengelus lembut perutnya. Dia tersenyum manis sangat manis, anaknya akan mendapatkan haknya setelah ini. Sekar berjanji akan hal itu. Dia tidak akan membiarkan anaknya menderita lagi. Semoga Tuhan mau merestui niat baiknya itu.


"Kenapa melamun, Baby?"

__ADS_1


Pertanyaan dari Vero itu berhasil menyadarkan Sekar. Wanita itu menggelengkan kepalanya pelan dengan senyum yang tak pernah luntur dari wajahnya.


Vero yang melihat itu segera menarik Sekar ke pangkuannya, dia mengusap perut Sekar dengan lembut. Perlahan dikecupnya dengan mesra bibir wanita itu. Vero menyesal karena baru mengetahui keindahan istrinya itu.


"Anak Daddy baik-baik, 'kan di dalam? Jangan nakal, oke? Jagain mommy-nya, ya?" tuturnya dengan lembut.


Dia tersenyum manis, tangannya bergerak mengusap lembut surai Vero. "Iya, Daddy," sahut Sekar dengan menirukan suara anak kecil.


"Gemes banget sih kamu." Tangan Vero bergerak memainkan pipi chubby milik Sekar, lantas menciumnya lama.


"Pengen aku makan."


***


"Apa di sini sakit?" tanya Cellyn kepada pasiennya sembari menekan perut bagian kiri pasiennya menggunakan tiga jari.


"Ssshhh . . . Iya, Dok."


Setelah membantu pasiennya itu turun dari brankar. Cellyn menuntun pasien ke kursi berhadapan dengan dirinya. Setelah dia duduk di kursi kebanggaannya, tangan perempuan itu sibuk menuliskan sesuatu di sebuah kertas.


Wajah serius Cellyn itu menjadi daya tarik pasiennya yang memang seorang pria. Dia dibuat terpaku dengan wajah cantik dan senyum ramah milik Cellyn. Ditambah sikap lembut dan anggun itu sendiri, sedari tadi dia mencoba mengontrol debur jantungnya.


"Ini resepnya ya, Pak. Anda terkena GERD, ya. GERD atau Gastroesophageal Reflux Disease adalah penyakit kronis pada system pencernaan lambung. Kondisi ini dapat terjadi Ketika asam lambung naik Kembali ke esofagus atau kerongkongan. Hal ini terjadi akibat melemahnya sfingter. GERD bisa terjadi karena melemahnya sfingter esofagus atau otot-otot pembatas antara kerongkongan dan lambung sehingga menyebabkan refluks atau aliran balik, ataupun naiknya isi lambung ke saluran esofagus. Untuk saat ini Bapak hanya boleh memakan makanan lembut, kurangi makanan pedas, bersoda, makanan yang mengandung susu, tepung, dan krim, ya. Hindari juga makanan yang mengandung keju dan asam," jelas Cellyn.


"Ini resep obatnya. Silakan ditebus di apotek depan ruang administrasi, ya," sambungnya sembari memberikan resep obat.


"Baik, Dok. Terima kasih. Saya permisi."


Cellyn menghembuskan napasnya kasar saat pasiennya sudah keluar dari ruangannya. Ada rasa penat yang menghampiri dirinya.


"Semangat, Cel!".

__ADS_1


Cellyn melangkahkan kakinya keluar ruangan. Dirinya berniat pergi ke kantin untuk sarapan meski waktunya sudah sangat telat. Bagaimana tidak telat jika waktu telah menunjukkan pukul 10.23 wib, bisa dikatakan Cellyn akan makan siang sekarang.


Perempuan itu membalas semua sapaan dengan senyum manisnya. Tangan yang dimasukkan ke kantong snellinya dan senyum manis yang menawan membuat siapa saja akan terpesona karenanya.


"Hai, Dokter Cellyn," sapa Nisya yang baru keluar dari ruangan operasi.


Cellyn menoleh ke samping, dia tersenyum manis. "Hai, Dokter Nisya. Habis nanganin lahiran?"


Nisya mengangguk dengan senyum yang menghiasi wajah cantiknya. Dia dan Cellyn berjalan beriringan, saling melempar senyum pada siapa pun yang menyapa keduanya.


"Mau ke mana, Dok?" tanya Nisya.


"Ini mau ke kantin, saya belum sarapan."


"Saya ikut deh sekalian mau beli minum dan roti," ucap Nisya.


Cellyn mengangguk pelan.


Keduanya kini melangkah beriringan menuju kantin, tak banyak ada percakapan di antara keduanya. Mereka hanya fokus membalas sapaan dari Dokter ataupun Suster lainnnya.


Setibanya di kantin rumah sakit, Cellyn melangkahkan kakinya menuju meja paling pojok. Sedangkan, Nisya melangkah menuju penjual di kantin sekaligus membelikan Cellyn nasi goreng, jelas itu karena Keinginannya sendiri.


"Udah aku pesenin. Nih, makan," ucap Nisya sembari membawa nampan berisi pesanan mereka.


Cellyn segera meletakkan ponselnya. "Makasih, ya."


Nisya hanya menganggukan kepalanya sebagai jawaban. Perempuan itu pun mendudukki dirinya di hadapan Cellyn, dia memakan roti bakar yang dirinya beli saat memesankan nasi goreng milik Cellyn. Perempuan itu juga memesankan air putih untuk Cellyn.


"Hubungan kamu sama Om Devan gimana?" tanya Nisya saat melihat Cellyn mengelap bibirnya dengan tisu.


"Iya, begitu. Dia jadi cuek sama aku."

__ADS_1


__ADS_2