
Cellyn menenangkan Abian yang menangis di gendongannya, perempuan itu menghela napasnya berulang kali saat tangis Abian tak juga reda. Cellyn dibuat kewalahan, dia baru saja pulang dari rumah sakit dan langsung disambut oleh tangis Abian.
"Abi kenapa, Sayang? Kenapa nangis, hm?" tanya Cellyn dengan lembut pada anak sambungnya itu.
"Mbak, tolong buatin susu untuk Abi, ya," teriak Cellyn dari ruang keluarga.
Perempuan itu kembali menenangkan Abian. Sepertinya putra sambungnya itu sangat merindukan Devan, Abian akan selalu menangis jika merindukan Devan. Cellyn melangkah ke pintu keluar, dia berniat akan menunggu Devan di sana.
"Sssttt . . ., don't cry, Baby. Sebentar lagi papanya pulang," ujar Cellyn sembari mengusap kening anaknya.
Selang beberapa menit sebuah mobil memasuki kediaman Brawirya. Cellyn menghembuskan napasnya lega. Dia menatap Devan yang tengah melangkah dengan wajah datar ke arahnya, tatapan yang selalu Cellyn dapatkan belakangan ini.
Devan menatap teduh Abian yang tengah menangis, pria itu mengusap lembut wajah Abian. "Sebentar, ya, Ganteng. Papa mau bersih-bersih dulu," ujar Devan dengan lembut.
Setelah mengucapkan kalimat tersebut, Devan berlalu begitu saja dari sana. Pria itu bahkan tak melirik Cellyn sama sekali. Pria itu masih terpuruk atas kematian Hima, perasaan bersalah atas perbuatannya itu menciptakan penyesalan bagi dirinya.
Cellyn mengikuti langkah Devan perlahan, perempuan itu menatap punggung suaminya dengan sendu. Dulu, Devan tak pernah mengacuhkannya, sangat berbeda dengan sekarang. Devan seolah tak menganggapnya ada.
Entah sampai kapan akan begini.
...***...
Leon saat ini tengah berada di kafe bersama keponakannya, Aya dan Ara. Pria matang itu seperti biasa menjadi pengasuh keponakannya, karena orangtua mereka kembali berbulan madu. Leon benar-benar tak habis pikir dengan tingkah kakaknya itu.
Keinginan untuk makan di kafe jelas bukan kemauannya, melainkan si kembar. Sudah jelas Leon tak akan menolak, dirinya bisa-bisa mendapatkan ucapan pedas dari Aya. Mentalnya belum siap menerima serangan dari mulut pedas Aya.
"Om, jangan genit! Mirip orang kurang belaian," cibir Aya dengan ekspresi kesalnya.
Leon mendengus. "Kamu enggak suka banget liat Om bahagia."
Aya tak menyahut, dia hanya mengedikkan bahunya acuh tak acuh. Sudah lelah dengan tingkah pria yang berstatus omnya itu, tak akan ada habisnya jika diladeni.
Di sisi lain, ada Ara yang asyik menikmati es krimnya. Gadis kecil itu nampak tak peduli dengan perdebatan dua orang di hadapannya, sudah biasa dia melihat itu semua. Aya yang sinis dan Leon yang jahil, Ara hanya akan menjadi penonton saja saat mereka berdebat.
"Astaga, Cantik. Makannya jangan belepotan atuh." Ara mengerjap pelan, dia memandang Leon yang tengah membersihkan sudut bibirnya dengan tisu.
"Kedip," celetuk Aya yang melihat adiknya tak berkedip memandangi wajah tampan Leon.
Ara merenggut kesal, kakaknya itu memang tak bisa melihat dia bahagia. "Syilik, Kay! Huh!"
__ADS_1
Baru saja Aya ingin menjawab, seorang perempuan cantik menghampiri mereka. Aya memandang perempuan tersebut dengan tatapan menilai, dia merasa tak nyaman begitu juga dengan Ara. Wajah Ara bahkan terlihat sangat julid, sedangkan Aya menampilkan wajah sinisnya.
"Eh, hai, kamu! Boleh kenalan enggak?" ucapnya sembari duduk di samping Leon.
"Bo—"
"Jauh-jauh, Tante! Ala elelgi sama kuman!" potong Ara sembari mendelik. Bukannya terlihat seram justru terlihat lucu.
"Eh, kamu cantik banget, sih. Anaknya dia, ya?" Baru saja perempuan itu ingin memegang pipi Ara, Aya segera menepis tangan perempuan.
"Jauh-jauh! Anda bau dosa," sarkas Aya.
Ucapan Aya berhasil memancing amarah perempuan di hadapannya, tetapi perempuan itu tetap berusaha menampilkan senyum manisnya.
"Enggak usah ditahan kalau mau marah."
Leon berdecak kagum, Aya memang ahlinya memainkan emosi orang.
"Kay, jangan begitu. Nanti dia kena mental," ucap Ara sembari menatap dengan tatapan mengejek.
"Maaf ya, Tante. Cuman kami butuhnya Tante untuk kami," ucap Ara lantas melirik Aya.
......***......
"Ganteng banget si cucunya Oma."
"Kamu terlalu muda untuk menjadi Oma," sahut Thofid.
Nata menunduk malu mendengar ucapan ayah mertuanya, sedangkan Alisha hanya tertawa pelan. Wanita itu mengusap lembut surai Nata, dia paham menantunya itu masih malu-malu.
Cellyn tersenyum tipis melihat pipi merona Ibu sambungnya, dia kembali menatap Abian yang tengah terlelap di pangkuan Alisha. Melihat wajah damai Abian membuat Cellyn tenang, sakit yang Cellyn rasakan seakan terobati dengan baik.
"Ma, Cellyn ke dapur bentaran, ya. Mau siapin kue sama puding yang tadi Cellyn buat." Cellyn bangkit dari duduknya, dia memandang Nata dengan lembut.
"Gih, sana. Adek kamu udah enggak sabar mau nyobain kue sama puding buatmu," jawab Nata sembari mengusap perut buncitnya itu.
Di sisi lain, para pria tengah berkumpul. Darren, Devan, Leon, dan Refan. Keempatnya tengah sibuk membahas bisnis Devan yang mulai membaik. Ah, jangan lupakan si kecil Yana yang duduk nyaman di pangkuan sang Ayah.
Memang hari ini mereka memutuskan untuk berkumpul di rumah keluarga Gautama. Tentu ini semua atas permintaan Thofid sendiri, apa bisa mereka menolak? Jelas tidak jawabannya.
__ADS_1
"Baguslah kalau bisnis lo udah membaik, kalau butuh bantuan call kita aja," cetus Refan yang diangguki oleh semuanya.
"Thanks bantuannya."
Di tengah perbincangan mereka, tiba-tiba saja Cellyn datang membawa nampan dan puding. Yana yang melihat itu memandangnya berbinar, tetapi saat sadar itu dibawa oleh Cellyn, gadis kecil itu kehilangan seleranya.
"Ini, Pa, Om, Yana. Dimakan, ya. Semoga suka, Cellyn ke sana lagi, permisi." Perempuan itu tersenyum dengan sangat manis.
Leon yang melihat Cellyn sedikit menjauh segera mengambil kue tersebut, dengan terburu-buru dia memasukkan kue tersebut ke dalam mulutnya. Mata pria itu berbinar, rasa kue buatan Cellyn sangat enak, sepertinya akan menjadi kue favoritnya.
"Gila enak banget! Udah cakep, Dokter, pinter, baik hati, body oke. Kurang apa lagi coba?" seru Leon.
Darren tersenyum puas. "Heleh, baru makan kue buatan anak gua. Gimana masakan yang lain? Gua yakin anak gua belum pernah masak untuk Devan dan Yana."
"Pernah, tapi enggak dimakan," sela Refan sembari menikmati kue buatan Cellyn.
"Gua yakin banyak kaum adam yang demen Cellyn, sih," ujar Leon.
"Iya, tapi begonya cowok yang dapetin dia malah ngabain dia, nanti diambil orang malah nangis," sindir Refan.
Leon terbahak dibuatnya. "Yana yakin enggak mau? Ini enak loh, Cantik. Sini Om Leon suapin."
Dengan ragu Yana membuka mulutnya, mata gadis kecil itu berbinar saat merasakan kue buatan Cellyn yang begitu lezat.
"Enak, Om!" seru Yana sembari bertepuk tangan.
"Nahkan—"
"Hai, sorry aku telat," potong sebuah suara.
Mereka secara kompak menoleh ke arah seorang perempuan yang baru saja memasuki ruang tamu keluarga Gautama. Senyum tak pernah luntur dari wajah cantiknya itu.
"Eh, Sekar. Duduk, Kar," ucap Devan.
Sekar mengangguk pelan lantas mendudukkan dirinya di samping Darren. Perempuan itu melirik Darren sekilas, lama tak berjumpa ternyata pria idamannya itu semakin tampan saja. Ingin sekali rasanya Sekar memeluk Darren dengan eratnya.
"Maaf aku enggak bisa datang ke nikahan kamu, karena terlalu sibuk di Aussie," tutur Sekar penuh penyesalan.
"Enggak apa-apa, saya paham," jawab Darren tanpa minat.
__ADS_1
Pria itu hanya ingin menjaga hati istrinya, Darren tahu Nata sangat mudah cemburu. Namun, perempuan itu akan memendam rasa cemburunya