
"Ganteng banget si cucunya Oma."
"Kamu terlalu muda untuk menjadi Oma," sahut Thofid.
Nata menunduk malu mendengar ucapan ayah mertuanya, sedangkan Alisha hanya tertawa pelan. Wanita itu mengusap lembut surai Nata, dia paham menantunya itu masih malu-malu.
Cellyn tersenyum tipis melihat pipi merona Ibu sambungnya, ia kembali menatap Abian yang tengah terlelap di pangkuan Alisha. Melihat wajah damai Abian membuat Cellyn tenang, sakit yang Cellyn rasakan seakan terobati dengan baik.
"Ma, Cellyn ke dapur bentaran, ya. Mau siapin kue sama puding yang tadi Cellyn buat." Cellyn bangkit dari duduknya, dia memandang Nata dengan lembut.
"Gih, sana. Adek kamu udah enggak sabar mau nyobain kue sama puding buatmu," jawab Nata sembari mengusap perut buncitnya itu.
Di sisi lain, para pria tengah berkumpul. Darren, Devan, Leon, dan Refan. Keempatnya tengah sibuk membahas bisnis Devan yang mulai membaik. Ah, jangan lupakan si kecil Yana yang duduk nyaman di pangkuan sang Ayah.
Memang hari ini mereka memutuskan untuk berkumpul di rumah keluarga Gautama. Tentu ini semua atas permintaan Thofid sendiri, apa bisa mereka menolak? Jelas tidak jawabannya.
"Baguslah kalau bisnis lo udah membaik, kalau butuh bantuan call kita aja," cetus Refan yang diangguki oleh semuanya.
__ADS_1
"Thanks bantuannya."
Di tengah perbincangan mereka, tiba-tiba saja Cellyn datang membawa nampan dan puding. Yana yang melihat itu memandangnya berbinar, tetapi saat sadar itu dibawa oleh Cellyn, gadis kecil itu kehilangan seleranya.
"Ini, Pa, Om, Yana. Dimakan, ya. Semoga suka, Cellyn ke sana lagi, permisi." Perempuan itu tersenyum dengan sangat manis.
Leon yang melihat Cellyn sedikit menjauh segera mengambil kue tersebut, dengan terburu-buru dia memasukkan kue tersebut ke dalam mulutnya. Mata pria itu berbinar, rasa kue buatan Cellyn sangat enak, sepertinya akan menjadi kue favoritnya.
"Gila enak banget! Udah cakep, Dokter, pinter, baik hati, body oke. Kurang apa lagi coba?" seru Leon.
Darren tersenyum puas. "Heleh, baru makan kue buatan anak gua. Gimana masakan yang lain? Gua yakin anak gua belum pernah masak untuk Devan dan Yana."
"Gua yakin banyak kaum adam yang demen Cellyn, sih," ujar Leon.
"Iya, tapi begonya cowok yang dapetin dia malah ngabain dia, nanti diambil orang malah nangis," sindir Refan.
Leon terbahak dibuatnya. "Yana yakin enggak mau? Ini enak loh, Cantik. Sini Om Leon suapin."
__ADS_1
Dengan ragu Yana membuka mulutnya, mata gadis kecil itu berbinar saat merasakan kue buatan Cellyn yang begitu lezat.
"Enak, Om!" seru Yana sembari bertepuk tangan.
"Nahkan—"
"Hai, sorry aku telat," potong sebuah suara.
Mereka secara kompak menoleh ke arah seorang perempuan yang baru saja memasuki ruang tamu keluarga Gautama. Senyum tak pernah luntur dari wajah cantiknya itu.
"Eh, Sekar. Duduk, Kar," ucap Devan.
Sekar mengangguk pelan lantas mendudukkan dirinya di samping Darren. Perempuan itu melirik Darren sekilas, lama tak berjumpa ternyata pria idamannya itu semakin tampan saja. Ingin sekali rasanya Sekar memeluk Darren dengan eratnya.
"Maaf aku enggak bisa datang ke nikahan kamu, karena terlalu sibuk di Aussie," tutur Sekar penuh penyesalan.
"Enggak apa-apa, saya paham," jawab Darren tanpa minat.
__ADS_1
Pria itu hanya ingin menjaga hati istrinya, Darren tahu Nata sangat mudah cemburu. Namun, perempuan itu akan memendam rasa cemburunya