
*Seorang gadis kecil berjalan di tengah kegelapan malam seorang diri. Dia memeluk dirinya sendiri, berharap akan mampu menghalau dingin yang menusuk kulitnya. Suara gemuruh yang saling menyahut itu membuatnya ketakutan setengah mati, bahunya bergetar dengan hebatnya. Rasa takut itu menghantui dirinya dengan hebatnya.
Dia memejamkan matanya erat saat kilat menyambar dengan hebatnya. Sesaat dia membuka mata, melihat kanan dan kirinya yang terlihat sunyi itu. Dirinya ingin berteduh di bawah rindangnya dedaunan, tetapi itu justru kian membahayakan nyawanya.
Dia kembali melangkahkan kaki mungilnya, berjalan tak tentu arah di tengah malam. Wajah gadis kecil itu memucat, tubuhnya semakin dingin dia rasakan. Dia menghentikan langkahnya kembali saat merasakan kepalanya berdenyut nyeri, tubuhnya melemas tak mampu lagi menahan bobot tubuh mungilnya itu, hingga ....
Bruk*!
...***...
"*Eugh ...."
Suara lenguhan itu menyadarkan seorang wanita paruh baya yang tengah berbicara dengan seorang gadis muda. Wanita itu berjalan dengan tergesa menuju tempat tidurnya itu. Dia dengan segera mengambilkan segelas air dan menyodorkannya pada seseorang yang tengah terbaring dengan lemas.
"Minum dulu, Nak," titahnya.
"Nama kamu siapa, Cantik?" tanya wanita itu dengan lembut.
"Natalia Defana Tri— itu nama aku," jawabnya.
"Ya, udah, Bibi panggil kamu Nata, ya? Sekarang kamu ceritakan sama Bibi, kenapa malam-malam ada di jalan, hm?"
"Na—nata? I—itu ...," ucapnya tergugup.
Wanita paruh baya itu mengepalkan tangannya mendengarkan cerita malang dari seorang gadis kecil yang kini memandangnya dengan polos. Dia tak habis pikir, mengapa masih ada saja orang tua sekejam itu. Baginya, itu murni kehendak takdir, bukan kesalahan gadis kecil di hadapannya.
"Mulai sekarang Nata tinggal di sini, ya. Ini rumah Nata, nanti semua hal pentingnya biar Bibi yang urus," ucap wanita itu sembari mengusap lembut surai Nata.
Dia menundukkan kepalanya dalam. "Apa Nata menyusahkan Bibi?" tanya Nata dengan nada lirih.
"Tidak, Cantik. Bibi dengan ikhlas melakukan semua ini*."
...***...
__ADS_1
*10 tahun kemudian ....
Nata tumbuh menjadi gadis remaja yang cantik. Tak hanya memiliki paras menawan, Nata pun memiliki kecerdasan yang tak bisa diragukan. Terbukti, sekama dirinya menempuh pendidikan, dirinya selalu mendapatkan beasiswa karena kecerdasannya itu. Bahkan dia menerima beasiswa untuk bersekolah di jenjang lebih tinggi di Universitas impiannya.
Dirinya berhasil, berhasil hidup dengan luar biasa di tengah kerasnya kota Jakarta. Hidup seolah menjadi sebatang kara dengan kurun waktu bertahun-tahun itu tidak mudah, sering kali Nata merasakan keterpurukan yang dirinya sembunyikan. Rasa ingin menyerah itu kerap kali mendatangi dirinya, tetapi dia memiliki dua sahabat yang selalu siap membantunya dengan ikhlas. Kehadiran Alika dan Yesha jelas menjadi semangat untuknya*.
Flashback Off ....
Nata menghembuskan napasnya kasar, rasa sakit itu tiba-tiba saja menikam dirinya. Kilasan-kilasan masa lalunya menjadi memori paling kelam dalam hidupnya. Bahkan hingga detik ini, dirinya masih saja dihantui sesak dan sebuah trauma. Meski demikian, bukan Nata namanya jika dia tak pandai menutupi luka.
Darren memandang Nata dengan sendu, dirinya tak pernah tahu masalah yang dialami calon istrinya itu terlalu berat. Pria itu lantas memeluk Nata dengan erat, dia memberikan kecupan-kecupan ringan pada puncak kepala Nata. Darren seolah lupa, di sana ada dua orang pasangan paruh baya yang tengah melihat mereka.
"Lepas, ih! Ada Mama sama Papa," tegur Nata membuat Darren mendengus.
"Kamu gak kangen Papa, Lia?"
Nata dengan cepat mengalihkan pandangannya. Wanita itu dengan cepat memeluk sosok yang telah berjasa dalam hidupnya. Rindu yang dirinya pendam selama bertahun-tahun itu akhirnya terbayar sudah, sesak yang sempat menyakitkan itu akhirnya mereda sudah saat dirinya dapat memeluk orangtuanya.
"Maafin kita ya, Sayang."
Darren yang melihat itu tak mampu lagi menahan senyumnya itu. Wanita yang kuat dan dia hanya milikku, batin Darren.
...***...
Laras menghembuskan napasnya kasar sembari mengusap perutnya yang sudah mulai sedikit membesar itu. Dia memandang sekeliling restoran tempatnya bekerja dengan tatapan letih yang sangat ketara. Wanita itu mengusap bulir-bulir keringat yang membasahi keningnya itu, dia benar-benar lelah sekarang. Namun, jika dirinya menyerah sekarang, siapa nanti yang akan membiayai hidupnya dan biaya persalinan dirinya kelak? Hanya Laras sendiri yang mampu.
"Mbak, kalau capek rehat dulu aja," ucap teman kerja Laras.
"Enggak papa. Sini, ini untuk di meja mana?"
"Nomor 10 ya, Mbak."
Laras mengangguk lantas melangkahkan kakinya menuju meja nomor 10. Dari kejauhan dapat dirinya dua pasangan yang tengah sedikit bercecok itu. Wanita itu hanya menggelengkan kepalanya, tak heran lagi dengan gaya berpacaran anak zaman sekarang.
__ADS_1
"Permisi. Ini, Mas, Mbak," ucap Laras lantas meletakkan semua hidangan di atas meja.
"Terima kasih, Mbak."
Laras hanya tersenyum simpul dan mengangguk singkat. Wanita itu kembali menuju dapur, dirinya berniat untuk kembali mengambil hidangan yang sudah siap untuk dihantarkan pada pelanggan.
Meski dirinya lelah, Laras tak pernah berpikiran untuk menyerah. Dirinya harus menanggung hidupnya seorang diri dengan janin yang berada di perutnya itu. Biaya yang harus dia keluarkan untuk keperluan sehari-hari, uang kontrakan, dan biaya untuk memeriksa kandungannya jelas tak sedikit. Penghasilannya bahkan tak mencukupi untuk semua itu, Laras bahkan harus bekerja di dua tempat, restoran dan menjadi pembantu yang tugasnya hanya dilakukan saat hari minggu.
"Kamu mau bakso, ya? Nanti kita beli ya."
...***...
"Hayoloh ngelamun!"
Cellyn mengusap dadanya, selalu saja Lina mengejutkan dirinya. Perempuan itu memandangi sang sahabat dengan tajamnya, tetapi Lina justru merespons dengan cengiran khas miliknya. Cellyn tak habis pikir dengan tingkah sahabatnya itu. Dia memijat keningnya yang terasa berdenyut akibat kelakuan Lina, sedangkan Nesya hanya terkekeh dengan pelan.
"Duh ... Bu Dokter agi pucing, ya?" Lina memandang Cellyn dengan senyum tertahan.
"Bisa diem gak?!" ketus Cellyn
"Ngamuk, dih." Lina mendudukkan dirinya pada sofa yang berada di ruangan Cellyn, sedangkan Nesya memilih duduk di hadapan Cellyn.
"Sabar, ngehadapin manusia setengah waras emang nguras emosi," goda Nesya.
Cellyn hanya bisa menghembuskan napasnya berkali-kali. Sejak berteman dengan Lina, sikap tenang Nesya perlahan mulai terkikis. Cellyn yang bahkan bertahun-tahun bersama Lina, tak pernah tertular virus tidak waras Lina. Namun, Nesya dengan mudahnya tertular. Cellyn tak paham, dirinya yang tidak waras atau sahabatnya.
"Bisa gila lama-lama," gumam Cellyn.
Dia meminum minuman soda yang baru saja dirinya buka. "Kedengeran, Cell," cetus Lina.
Cellyn hanya mengedikkan bahunya tak peduli. "Ini Nesya gak ada pasien?"
"Udah enggak, tadi cuman nanganin orang lahiran," balas Nesya sembari bermain ponsel.
__ADS_1
"Gua juga mo jadi Dokter, ah," celetuk Lina.
"Bukannya sembuh malah setres pasien yang ada."