
Huek . . . Huek . . . Huek . . .
Seorang wanita mengusap mulutnya dengan kasar, dia menghela napas kasar. Dengan lemas dia bersandar pada dinding yang ada di kamar mandi. Dia menunduk, menatap perutnya yang rata. Dia menatap gamang perutnya, dirinya takut akan ada kehidupan di dalam sana karena kejadian sebulan lalu.
Gimana kalau aku hamil?
Tubuhnya merosot ke lantai, dia menangis. Rasa takut itu menghantui, di satu sisi dia bahagia, tetapi di satu sisi dia takut. Dia takut pria yang membuatnya hamil tak mau bertanggung jawab dan tak mau mengakui anak ini.
Dia mengusap kasar air matanya lantas bangkit dengan terburu-buru. Enggak, aku enggak boleh lemah, pikirnya. Dia segera bersiap, tujuannya saat ini adalah rumah sakit. Dia harus memastikan apakah dia hamil atau tidak.
Setelah selesai bersiap, dia keluar dari kamar. Wanita itu menatap seluruh penjuru rumah yang tampak sepi, dapat dia tebak bahwa seluruh penghuni rumah sudah menjalankan aktivitasnya masing-masing. Dia segera berjalan ke arah garasi untuk mengambil mobilnya dan pergi ke rumah sakit.
Setibanya di rumah sakit, dia menghembuskan napasnya perlahan secara berulang kali. Dia tengah mencoba menenangkan hatinya yang gelisah dan khawatir. Dia segera turun dari mobil saat dirasa dirinya sudah tenang, wanita itu melangkah menuju koridor rumah sakit.
"Selamat pagi, Dokter Chellyn," sapa beberapa Perawat dan Dokter yang dibalas anggukan dan senyuman.
Cellyn menghela napasnya kembali, perasaan takut itu kembali menghampiri. Dia takut Devan tak akan mau menerima anak yang telah dirinya kandung. Andai saja mereka nikah bukan karena keinginan satu pihak, pasti Cellyn sudah menanti kehamilannya. Bagaimana pun dirinya seorang wanita yang pasti mendambakan kehamilan dan menjadi seorang Ibu.
Dia melihat Nisya berjalan dari arah sebaliknya, dengan langkah terburu-buru dia menghampiri Nisya. Nisya yang melihat Cellyn berjalan terburu-buru ke arahnya, dia mengerutkan keningnya melihat tingkah sahabat sekaligus rekan kerjanya.
"Dokter Cellyn kenapa?" tanya Nisya saat sahabatnya sudah ada di depan matanya.
Dia mengatur napasnya. "Saya mau testpack bisa?" bisik Cellyn.
Nisya memandang Cellyn terkejut, perempuan itu tak tahu jika hubungan Cellyn dan Devan sudah sejauh itu. Tanpa menjawab pertanyaan Cellyn, Nisya menarik tangan Cellyn dengan lembut menuju ruangannya.
Setibanya di ruangannya, Nisya langsung memberikan urine container kepada Cellyn. Cellyn yang paham pun segera mengambil wadah untuk urine itu dan berjalan menuju kamar mandi, sedangkan Nisya menunggu dengan gelisah. Entah kenapa dirinya pun dilanda ketakutan saat ini.
"Ini," ucap Cellyn sembari memberikan urine container itu kepada Nisya.
Nisya yang melihat itu segera mengambil testpack digital. Nisya memasukkan testpack tersebut ke dalam urine container, dia menunggu selama 5 - 10 menit. Di sisi lain, Cellyn tengah meremas tangannya, dia gugup bercampur dengan gelisah.
Nisya mengeluarkan testpack itu dari dalam urine container lantas menatap sang sahabat dengan tatapan yang sulit diartikan. "Cell, kamu hamil . . .."
Cellyn yang mendengar pernyataan Nisya mematung sesaat, ada perasaan senang yang hinggap di hatinya. Namun, ada perasaan takut juga yang hinggap, perasaan wanita itu campur aduk sekarang. Dia merasakan sesak di dadanya, dua perasaan itu menghimpit dadanya.
__ADS_1
"Cell, are you okay?" tanya Nisya saat melihat sahabatnya terdiam.
Cellyn mengangguk sekilas. "Iya, thanks, Nis. Aku ke ruanganku dulu bakal ada pasien."
Nisya terdiam, dia tahu apa yang dipikirkan sahabatnya itu. "Huh . . . Ya udah, selamat ya. Jangan terlalu banyak pikiran dan stress, itu enggak baik untuk janin kamu. Jangan terlalu capek juga, ya. Dan makan-makanan yang bagus untuk Ibu hamil," tutur Nisya.
"Iya, Nis. Makasih, aku permisi, ya." Cellyn berjalan meninggalkan ruangan Nisya dengan perasaan campur aduk, Nisya yang melihat itu hanya mampu menghela napasnya kasar.
Semoga anak itu mendatangkan bahagia buat kamu, Cell.
...***...
Laras mencium wajah buah hatinya, malaikat kecil yang terlahir ke dunia seminggu yang lalu. Anak yang diberi nama Michael Jession Devatar, balita itu lahir pada pukul 23.00 wib. Lahir menjadi keturunan dari keluarga Devatar membuat Michael menuruni paras rupawan sang Ayah, sejak terlahir ke dunia saja balita itu begitu tampan. Sama persis seperti sosok Vero Devatar, matanya yang mirip dengan Vero dan hidung yang mirip dengan Laras. Benar-benar perpaduan yang sempurna.
Laras begitu menikmati hari-harinya menjadi seorang Ibu untuk pertama kalinya, dia begitu menyukai saat harus terbangun dini hari karena sang putra yang menangis. Dia bahkan merasakan kehangatan saat Michael menyusu padanya, Laras merasakan hidupnya sempurna saat ini.
"Sore kesayangannya Ayah," ucap Vero sembari mengecup kening Michael sekilas.
"Sore, Sayang." Dia mengecup sekilas bibir Laras membuat Wanita itu tersenyum malu.
Vero memeluk Laras dari samping, meletakkan dagunya pada bahu terbuka milik Laras. Dia menatap sang anak yang begitu asyik menyusu pada Laras. Pria itu tersenyum tipis, dirinya merasakan kebahagiaan yang luar. Mungkin jika dirinya tak rujuk dengan Laras, semua ini tak akan dia rasakan.
"Apa aja yang penting kamu yang masak." Dia mengecup pipi Laras. "Vena ke mana?" sambungnya.
"Main sama Via, besok jadi ketemu sama calon Vena?" sahut Laras sembari menatap suaminya sekilas.
"Jadi, sayangku."
...***...
Matahari sudah lama tenggelam, sudah saatnya bulan yang bersinar terang. Seorang wanita melirik jam yang menggantung di dinding ruang keluarga, dia meremas jemarinya guna menghilangkan perasaan gugup dan gelisah yang dia rasakan. Waktu sudah menunjukkan pukul 22.35 wib, tetapi belum ada keinginannya untuk pergi beristirahat.
"Kamu kenapa belum tidur?"
Sebuah suara berhasil mengejutkan dirinya yang tengah melamun. Dia menoleh ke sumber suara, sejenak dia terpaku melihat seorang pria yang tengah berdiri dengan telanjang dada. Wanita itu menelan salivanya susah payah lantas memalingkan wajahnya.
__ADS_1
Uhh . . . Aku pengen pegang roti sobeknya . . . Ya ampun, Dek, Mama mohon ngidamnya jangan itu, ucapnya dalam hati.
"Cellyn?" panggil Devan saat melihat Cellyn terdiam, pria itu berjalan mendekati Cellyn.
Cellyn yang mendapati Devan berada di hadapannya langsung terdiam. Atensi wanita itu terfokus pada mata tajam milik suaminya itu, lantas beralih pada bibir seksi milik Devan. Cellyn kembali menelan salivanya, kali ini dia menelan salivanya dengan kasar. Entah keberanian darimana, wanita itu mencium bibir Devan. Awalnya hanya menempel, tetapi lama-kelamaan semua berubah panas. Tangan Cellyn terulur memegang perut kekar milik Devan, janin yang dikandungnya berhasil membuat Cellyn hampir gila.
Sedangkan, Devan sendiri terdiam. Tak biasanya Cellyn bersikap agresif kepada dirinya, pria itu lama-lama hanyut dalam permainan yang Cellyn lakukan. Dia memeluk pinggang Cellyn dengan erat. Dirasa pasokan udara mulai menipis, Devan melepas ciuman mereka, membiarkan liur mereka menyatu layaknya benang. Dia menatap Cellyn dengan heran.
"Kamu kenapa?" tanya Devan membuat Cellyn menegang.
Dia menatap Devan takut. "Om janji jangan marah?" ucapnya pelan.
Devan menaikkan satu alisnya lantas mengangguk pelan. Dia menanti Cellyn melanjutkan ucapannya.
"Cellyn hamil." Ucapan bernada lirih itu berhasil membuat Devan membeku, dirinya tak bisa berkata-kata.
Gua mau jadi Ayah lagi?! ucapnya dalam hati tak percaya.
"Maaf, Om. Kalau Om enggak mau anggap anak ini, enggak papa. Cellyn bisa urus sendiri," sambung Cellyn sembari menunduk.
Devan tersentak kaget mendengar ucapan Cellyn, dia segera menangkup wajah Cellyn dengan lembut. Devan mengecup sekilas bibir yang sejak lama menjadi candunya dan menatap Cellyn dengan lembut.
"Hey, kenapa ngomong gitu, hm? Saya justru senang kamu hamil, kenapa harus enggak suka? Makasih, Sayang, makasih! Maaf kalau Mas selama ini abain kamu, maaf kalau Yana bersikap buruk sama kamu. Yana cuman mau ngetes kamu, dia takut kamu kayak Ibu sambung yang ada di film yang dia tonton. Maaf ya? Makasih udah buat Mas jadi Ayah untuk ketiga kalinya," papar Devan lantas memeluk Cellyn erat.
"Ma—mas?" ujar Cellyn gugup.
Devan melepas pelukannya lantas memandang Cellyn lembut. "Iya, mau sampai kapan manggil suami sendiri 'Om', Sayang?" goda Devan membuat Cellyn tersipu.
Devan tiba-tiba saja jongkok di hadapan Cellyn membuat wanita itu terkejut. Pria itu mengusap lembut perut rata Cellyn lantas menciumnya cukup lama.
"Hallo kesayangan Papa, sehat-sehat di dalam, ya? Jangan bandel, jangan repotin Mama. Papa sayang kamu."
Hati Cellyn menghangat mendengar penuturan Devan, dia tersenyum lantas mengusap lembut surai Devan.
Terima kasih, Tuhan.
__ADS_1