Gadis Muda Untuk Pak Duda

Gadis Muda Untuk Pak Duda
Ke Rumah Darren


__ADS_3

Alisha saat ini tengah membuatkan kopi untuk suaminya. Kopi salah minuman wajib Thofid di pagi hari, secangkir kopi dan sepiring gorengan sangat mencerminkan warga Indonesia. Bahkan saat mereka di New York, Alisha setiap paginya harus membuatkan gorengan untuk Thofid.


Pagi ini, suasana kota Jakarta cukup cerah. Matahari bersinar dengan terangnya tanpa awan mendung yang mengikuti. Thofid saat ini tengah duduk di teras rumahnya, menatap langit dengan tatapan menerawang. Dirinya rindu masa mudanya, masa dimana dirinya hanya fokus bermain dan bermain. Namun, saat ini dirinya justru memikirkan banyak hal yang menjadi ketakutan.


"Ayah kenapa ngelamun pagi buta gini?" tanya Darren yang baru saja keluar.


Thofid mengedikkan bahunya acuh. "Kepo banget kamu," sinisnya.


Darren memandang Thofid kesal, ayahnya itu selalu saja membuatnya kesal. Sifat menyebalkan Thofid bahkan terkadang membuat Alisha kesal sendiri, ada saja tingkahnya yang membuat Alisha pusing sendiri. Namun, begitulah Thofid, dia akan menjadi pribadi yang berbeda jika sudah bersama keluarganya.


Atensi keduanya teralihkan oleh Alisha yang baru saja keluar dengan membawa nampan berisi dua cangkir kopi dan sepiring gorengan. Mata Thofid berbinar melihat apa yang istri tercintanya bawakan untuknya. Darren yang melihat itu pun ikut senang, sudah lama dirinya tak merasakan kopi buatan sang Ibu.


"Bunda buatin aku juga?" tanyanya.


Dia mengganguk. "Hm, iya. Kasian kamu enggak punya istri, nikah makanya," sahut Alisha.


Darren yang mendengar itu sontak merubah raut wajahnya menjadi datar. Dirinya tak paham, kenapa orang-orang sekitarnya memintanya untuk menikah. Apa mereka tak paham bahwa Darren tak bisa semudah itu melupakan Elena.


Alisha yang melihat raut wajah sang Anak hanya mampu tersenyum tipis dan menggeleng pelan. Dirinya sangat tahu secinta apa Darren pada Alisha. Tidak akan mudah memintanya untuk melupakan Alisha.


...***...


Nata saat ini tengah dalam perjalanan menuju rumah Darren, bukan tanpa alasan dirinya pergi ke sana. Darren memintanya membawa berkas-berkas penting ke rumahnya. Dengan perasaan dongkol, Nata mengendarai motor maticnya dengan perasaan kesal. Bagaimana tidak kesal jika Darren menelfon dirinya pukul 03.45 wib hanya untuk membawakan berkas-berkas penghasil kekayaannya itu.


Nata berdecak kala dirinya harus menghadapi macetnya kota Jakarta. Dia menghela napasnya kasar, rasanya Nata ingin sekali memaki Darren. Namun, dirinya masih sayang akan nyawa, nasibnya bergantung pada Darren.


"Huft ... Nyusahin banget tu bos," keluhnya.

__ADS_1


Satu jam kemudian, Nata sampai di kediaman Gautama. Dirinya menghela napas kembali saat melihat mewahnya kediaman Gautama. Dengan ragu dirinya masuk ke dalam dan memakirkan motor maticnya di halaman rumah keluarga Gautama. Nata melangkah perlahan mendekati pintu masuk keluarga Gautama, langkahnya terhenti kala melihat sang bos sedang mengobrol dengan seseorang. Dirinya yakin itu adalah orang tua Darren.


Nata berdehem singkat untuk mengurangi rasa gugupnya. Padahal dirinya hanya membawa berkas bukan bertemu dengan calon mertuanya. Dirinya menghembuskan nafasnya kasar sebelum akhirnya kakinya kembali melangkah. Nata semakin gugup saat dirinya sebentar lagi langkahnya tak jauh dari bosnya.


"Pe—permisi, Pak," ucapnya gugup.


Atensi ketiga orang tersebut teralih ke Nata. Nata yang ditatap secara intens hanya bisa tersenyum kaku, bagaimana pun dirinya harus sopan. Dalam hati, dirinya mengutuk Darren yang justru hanya berdiam diri.


"Hm, mana berkasnya?" sahut Darren setelah sekian lama terdiam.


Nata yang mendengar itu langsung memberikan berkasnya pada Darren. "Kalau begitu saya pamit, Pak, Bu."


"Eh, mau kemana? Ikut sarapan bareng aja." Langkah Nata terhenti mendengar suara dari Alisha.


Nata membalikkan tubuhnya lantas tersenyum tipis, dirinya menggeleng pelan. "Enggak usah, Bu. Saya sudah sarapan," sahut Nata berdusta.


Di sinilah Nata sekarang, ruang makan keluarga Gautama. Nata jelas merasakan kecanggungan, bagaimana pun dirinya masih sadar diri. Dirinya tentu jauh berbeda dengan keluarga bosnya. Tangannya saling bertaut di bawah meja, meremas dengan kuat untuk menyalurkan rasa gugupnya. Sarapan yang tertata rapi di meja makan bahkan tak sedikit pun menarik perhatiannya.


Suara langkah kaki membuat semua yang berada di meja makan menoleh, termasuk Nara. Dirinya dapat melihat seorang perempun cantik tengah menuruni tangan dengan anggunnya, jangan lupakan jas dokternya yang bertengger manis di tangannya. Nata yang melihat itu hanya bisa berdecak, dirinya merasa benar-benar tak pantas berada di sana.


"Pagi," sapa Cellyn.


"Lho ini siapa?" lanjutnya.


"Juga, Sayang. Sekretaris Papa kamu. Ayo, sini makan," sahut Alisha.


"Owh, baru toh."

__ADS_1


"Tante gugup?" tanya Cellyn.


Nata berdeham singkat. "Eng—enggak, kok," sahutnya bohong.


Cellyn yang mendengar itu terkekeh gemas, dirinya merasa gemas dengan tingkah Sekretaris baru ayahnya. Perempuan itu memilih menganggukkan kepalanya saja sebagai respons. Dirinya pun tak mau membuat Nata semakin gugup jika dia kembali bertanya.


...***...


Acara sarapan telah usai sejak tadi. Kini, Nata tengah mengobrol dengan Alisha. Niatnya untuk pulang kembari urung, karena Alisha melarangnya. Tak hanya Alisha, Thofid pun melarangnya untuk pulang. Sedangkan, Darren hanya diam saja sembari menatap layar ponselnya.


Kegugupan Nata sudah sirna sejak Alisha mengajaknya berbincang. Keduanya bahkan saling melempar tawa membuat Darren tersenyum tipis di balik layar ponselnya. Dirinya merasa senang karena Nata akrab dengan Alisha. Setahu Darren, Alisha bukanlah orang yang mudah akrab dengan perempuan-perempuan yang dekat dengan dirinya. Namun, saat dengan Nata justru berbanding terbalik.


"Kalau Darren jahat ke kamu, dia ngasih kamu kerjaan terlalu banyak. Kamu lapor aja ke Bunda ya," lontar Alisha. Iya, dia memang meminta Nata untuk memanggilnya dengan sebutan Bunda.


Darren yang mendengar itu menggelengkan kepalanya pelan. "Kalau enggak dikasih kerjaan gunanya dia jadi Sekretaris aku apa, Bun?" tanyanya sembari meletakkan ponselnya di meja.


"Biarin aja, Ren. Bundamu lagi caper ke calon mantunya," kelakar Thofid membuat Nata tersenyum.


Perbincangan mereka terhenti, karena Sekar datang diantar asisten rumah tangga keluarga Gautama. Perempuan itu berniat berbicara dengan Darren perihal perasaannya, dia tak mau Darren semakin jauh darinya. Sekar datang tidak dengan kosong, perempuan itu datang dengan kue yang ada di tangannya.


"Loh Sekar? Sejak kapan di Indonesia?" tanya Alisha sembari bangkit dari duduknya.


Dia memeluk Alisha erat. "Hampir sebulan inilah, Tan," sahut Sekar.


Alisha melepaskan pelukannya lantas mengganguk. Wanita itu meminta Sekar untuk duduk di sebelah Darren, dia tentu dengan antusias duduk di sebelah Darren. Sedangkan, Nata yang melihat itu hanya menundukkan kepalanya. Dirinya tengah menahan hasrat untuk tidak menangis, dia ingin segera pulang sekarang.


"Bun, Yah, Pak, saya izin pulang ya. Saya ada urusan sama temen soalnya," pamit Alisha lantas pergi setelah mendapat izin.

__ADS_1


Darren yang melihat itu menghembuskan napasnya kasar. "Pasti cemburu," lirihnya.


__ADS_2