Gadis Muda Untuk Pak Duda

Gadis Muda Untuk Pak Duda
Candu


__ADS_3

Refan memandang sosok perempuan di hadapannya dengan datar. Pria itu tak habis pikir dengan kelakuan perempuan itu yang telah membuat seorang pria masuk rumah sakit. Dia yang awalnya berniat untuk melewati jalan yang cukup sepi, tetapi dia justru melihat adegan kekerasan. Tanpa pikir panjang, Rafan segera memisahkan keduanya.


"Gila?" cetus Refan dingin sembari menatap datar perempuan di hadapannya.


Perempuan itu mendelik. "Enak aja ngatain gila! Lu kali yang gila. Sok jadi pahlawan kesiangan lu? Kalau gak tau apa-apa, gak usah ikut campur!" cercanya.


Refan menaikkan satu alisnya lantas mengangkat bahunya tak peduli. Hal itu, semakin membuat perempuan di hadapannya kesal. Perempuan itu mengangkat tangannya ke depan wajah Refan, dia menggerakan tangannya seolah tengah menghancurkan wajah Refan.


Perempuan itu tadinya tengah menghajar seorang begal yang menghadangnya di tengah jalan, tetapi Refan justru menolong begal tersebut. Jelas saja perempuan itu narah pada Refan. Baginya Refan sama saja tengah menolong penjahat.


Refan terus saja memperhatikan perempuan yang di hadapannya dengan malas. Perempuan itu masih saja mengoceh tidak jelas meski tak dirinya tanggapi. Refan dibuat pusing sendiri mendengar ocehan perempuan itu.


"Udah ngomongnya?" Perempuan itu menggeleng keras, Refan lantas menghembuskan nafasnya kasar.


"Lu tuh yang lain ka—"


Cup!


Mata perempuan itu melotot saat Refan dengan lancangnya malah mencium dirinya. Dia memandang Refan yang kini hanya menampilkan wajah datarnya. Dia mengusap bibirnya dengan kasar, tak berselang lama mata perempuan berkaca-kaca.


"Huaaaaa ... Bunda! Bibir Alika udah gak suci lagi!"


Refan gelagapan sendiri saat sosok perempuan di hadapannya menangis kejer. Dengan cepat Refan membawa Alika ke dalam pelukannya, perempuan itu membenamkan wajahnya pada dada bidang Refan. Sedangkan, Refan sendiri menghela nafasnya kasar. Tangan kekarnya bergerak mengusap rambut sebahu milik Alika dengan gerakan lembut.


Lama-kelamaan, tangis Alika tak terdengar lagi. Sepertinya perempuan itu kelelahan setelah menangis, terbukti dari tubuhnya yang tiba-tiba saja melemas. Dirinya masih berada dalam pelukan Refan, tenaganya sudah habis bahkan untuk berdiri saja Alika sudah tak sanggup.


"Ssstt ... Udah ya? Jadi capek, 'kan," tutur Refan lembut yang dibalas anggukan oleh Alika.

__ADS_1


Refan menunduk, dirinya menatap Alika yang tengah memejamkan matanya erat. Pria itu menghembuskan nafasnya kasar lantas mengendong Alika masuk ke dalam mobilnya. Dia akan meminta Anak buahnya untuk membawakan mobil Alika ke rumah perempuan itu nanti.


Refan mendudukkan Alika di kursi penumpang, pria itu bahkan memasangkan setbeal Alika. Refan berjalan memutar untuk duduk di kursi kemudi. Pria itu menjalankan mobilnya dengan kecepatan standar, sekali-kali dirinya melirik ke arah Alika yang tengah tertidur. Jemarinya mengusap lembut bibir Alika yang baru saja dikecupnya.


"Candu."


Refan tersenyum tipis untuk sesaat. Pria itu membawa Alika pulang ke rumahnya. Dirinya ingat betul bahwa Alika adalah Anak dari rekan kerjanya. Dirinya bahkan ingat kejadian di malam hari itu, di mana Alika merasa kesal karena terabaikan.


Selang dua puluh lima menit, Refan akhirnya sampai di kediaman Alika. Pria itu kembali mengendong Alika dan berjalan menuju pintu masuk. Tak berselang lama Yanti membuka pintu tersebut, dirinya terkejut melihat sang Putri yang berada dalam gendongan Refan.


"Loh Alika kenapa, Nak?"


"Enggak papa, Tante. Alika cuman ketiduran habis nangis."


"Huft ... Tolong kamu anter dia ke kamar ya."


Weekend, sering kali digunakan orang-orang untuk bersantai atau sekedar beristirahat setelah beraktivitas selama lima hari. Begitu juga dengan Cellyn, perempuan dengan paras menawan itu selalu menggunakan akhir pekannya untuk berkumpul dengan sahabatnya. Namun, kali ini gadis itu memilih berdiam diri di rumah. Dirinya merasa sangat lelah, tubuhnya seakan mati rasa.


Perempuan berusia 24 tahun itu memilih menghabiskan akhir pekannya dengan membaca novel dan membaca buku. Tentu dirinya tak sendiri, karena akan ada Darren yang menemani dirinya. Walau pria berusia 40 tahun itu sibuk, tetapi jika Cellyn memintanya maka akan ia lakukan.


Seperti sekarang, Cellyn sedang fokus membaca sebuah novel di tangannya. Novel bergenre fantasi akan selalu menjadi favoritnya, dirinya tak terlalu menyukai novel bergenre romantis. Sangat berbeda dengan perempuan lainnya, bukan?


Sudut bibirnya terangkat membentuk sebuah senyuman yang manis. Dirinya tengah membayangkan, bagaimana jika dia yang berada di posisi female lead dalam cerita transmigrasi yang dirinya baca. Buku fantasi bukan berarti tak berisi adegan romantis, bukan? Hanya saja genre fantasi tak terlalu mementingkan adegan romantis.


"Manis banget sih cowoknya. Andai aku yang di posisi cewek itu, rela deh sampai masuk ke dalam novel," gumamnya dengan mata berbinar.


"Nasib jomblo mah gini, halu mulu," imbuhnya.

__ADS_1


Cellyn meletakkan novelnya di nakas, dirinya bangkit dari ranjang. Tujuannya saat ini adalah dapur, dirinya merasa lapar. Diliriknya jam yang melingkar di tangannya, ia menghela nafas sesaat. Ternyata masih pukul 10.00 wib, tetapi dirinya sudah kembali lapar. Sepertinya ia akan mendapatkan bulanannya.


"Lho, kenapa?"


Cellyn menghentikan langkahnya di tangga terakhir. Dirinya melihat Darren yang tengah berbicara dengan seseorang di telepon. Dia mengedikkan bahunya acuh, sebelum akhirnya melanjutkan langkahnya. Namun, langkahnya harus terhenti karena Darren memanggil dirinya.


"Cellyn, Papa ingin berbicara dengan kamu," ucap Darren dengan tegas.


"Iya, Pa." Cellyn menghela nafas lantas berjalan menghampiri Darren.


"Duduk!" titah Darren pada Cellyn.


Cellyn kembali menurut, dirinya mendudukkan diri di hadapan Darren. Dia memandang Darren dengan heran, tumben sekali ayahnya itu memandang dirinya dingin. Sesaat kemudian Cellyn sadar, pasti ayahnya ingin berbicara serius.


"Kenapa, Pa?"


"Kenapa kamu gak bilang ke Papa, kalau kamu diteror?"


Mendengar pertanyaan Darren membuat Cellyn terdiam. Dia tengah berpikir, darimana ayahnya tahu bahwa dirinya diteror. Dia berdecak kesal dalam hati, pastinya Darren telah memantau semua kegiatan dirinya. Cellyn menghembuskan nafasnya perlahan, ia menatap Darren dengan serius. Namun, justru terlihat menggemaskan di mata Darren, Darren mencoba menahan diri agar tak tersenyum melihat raut wajah Cellyn.


"Cellyn cuman enggak mau Papa khawatir. Lagipula ancamannya norak banget, enggak berefek apa-apa ke Cellyn, Pa. Papa jangan khawatir, Papa jangan raguin Cellyn," jelasnya.


Dia menghela nafas. "Bukannya Papa meragukan kamu, enggak. Mau sehebat apapun kamu, bagi Papa itu beda. Kamu tetap Putri kecil Papa, Anak yang harus Papa jaga dengan baik," sahut Darren lemah.


Cellyn tersenyum manis. Dirinya melangkah mendekati Darren, memeluk dengan erat satu-satunya orang tua yang ia miliki. Cellyn kembali tersenyum kala merasakan tangan kekar Darren mengusap rambutnya. Dirinya melepaskan pelukannya pada tubuh kekar Darren, memilih 'tuk mendudukkan diri di samping Darren.


"Pa, Cellyn bakal jaga diri, Cellyn janji. Papa boleh pantau Cellyn," cetusnya.

__ADS_1


"Iya, Sayang."


__ADS_2