
"Mas, aku mau rujak melon!" rengek Nata sembari menarik kemeja kerja Darren.
Mendengar permintaan Nata membuat Darren menghela napasnya berat. Untuk pertama kalinya istrinya itu mengidam, mengidam hal yang menurut Darren aneh. Dia mungkin tahu rujak bisa dengan buah apa pun, tetapi tidak dengan melon.
Pria itu memijat keningnya yang seketika berdenyut nyeri. Ingin menolak keinginan Nata, tetapi yang memintanya calon anaknya, sang penerus dirinya. Darren kembali menghembuskan napasnya secara berulang, menghadapi Nata yang sedang hamil memang dibutuhkan kesabaran ekstra.
"Mas minta Bunda buatin ya, Sayang. Seben—"
"Maunya beli, Mas!" Belum sempat Darren menyelesaikan ucapannya, Nata terlebih dahulu memotongnya.
Pria itu kembali menghela napasnya. Dia menarik Nata yang tengah duduk di ranjang untuk berdiri. Dipeluknya pinggang Nata sedikit erat, pria itu memandang intens Nata. Namun, masih tersirat kelembutan di sana, dia tak ingin membuat istrinya merasa terintimidasi.
"Mau cari rujak melon di mana, Cantik?" tanya Darren dengan lembut.
"Penjual rujak, Mas," sahut Nata dengan polosnya.
Darren menghembuskan napasnya kasar. Kalau bukan penjual rujak di mana lagi? Ya kali penjual sepatu, gini amat bini gua, ucap Darren dalam hati.
__ADS_1
"Darren, Nata! Sarapan dulu."
Saat hendak menyahuti balasan Nata, teriakan Alisha yang meminta mereka untuk sarapan menghentikan mulut Darren yang akan mengeluarkan suara. Darren menatap Nata yang memasang wajah sedihnya, pria itu menghela napasnya kasar sebelum akhirnya menarik tangan sang istri untuk ke meja makan.
"Kita sarapan dulu, ya."
Sesampainya di meja makan, mata mereka menangkap Alisha yang tengah menata meja makan dan Thofid yang tengah meminum kopi sembari membaca koran. Melihat itu Nata segera melepaskan genggaman tangan Darren dan berjalan mendekati Alisha. Dia merasa tak enak hati karena tak membantu Alisha pagi ini.
"Sini biar Nata bantu, Bun," ujar Nata menawarkan diri.
Nata menghembuskan napasnya kasar. Hanya menata makanan di meja makan saja Alisha dan Thofid melarangnya. Dia seolah ratu di rumah itu, diperlakukan layaknya anak bukan menantu. Memilih menuruti ucapan Alisha, karena dia tahu membantah akan berakhir sia-sia.
Beralih pada Thofid yang baru saja menyudahi aktivitasnya. Pria paruh baya itu tak sengaja menatap wajah sang anak, dia mengerutkan keningnya. Wajah Darren sangat kusut, terlihat sangat jelas anaknya itu tengah memikirkan sesuatu.
"Kamu mikirin apa?" tanya Thofid sembari menaruh korannya.
"Nata ngidam rujak melon, Yah. Mau cari di mana?" sahut Darren lesu.
__ADS_1
Dia terkekeh. "Buat aja sendiri," balas Thofid santai.
Darren meliriknya sekilas. "Nata maunya beli."
"Makanya sebelom bikin itu kamu mikir dulu. Sekarang makan tuh rujak melon."
"Ayah kurang akhlak."
...***...
Yana memandang Cellyn yang tengah menimang-nimang sang Adik. Dia menatap penuh tanya saat perempuan yang berstatus Ibu kandungnya itu memakai daster bukan pakaian yang menurutnya bagus. Yana mengamati pakaian Cellyn dengan pandangan menilai.
"Tante kenapa pakai dastel? Bukan pakaian bagus. Malu-maluin tahu ndak, sih?" celetuk Yana.
Cellyn yang mendengar itu menghentikan aktivitasnya. Dia membisu, hatinya mencelos. Ada sakit yang menyapa dirinya dengan manis. Ucapan bernada datar itu berhasil membuat hati Cellyn berdenyut nyeri.
"Maafin saya kalau malu-maluin kamu, Yana."
__ADS_1