Gadis Muda Untuk Pak Duda

Gadis Muda Untuk Pak Duda
Dijenguk.


__ADS_3

Nata membuka matanya perlahan, perempuan itu mengerjap pelan. Dia melirik jam yang bergantung di dinding kamarnya yang terlalu besar. Perempuan itu menghela nafas kasar sebelum akhirnya bangkit dari posisi duduknya, Nata meringgis pelan saat merasakan kepalanya berdenyut nyeri. Dia memegang kepalanya sembari memejamkan mata, perempuan itu menghentikan langkahnya untuk sesaat.


Ayo, Nat! Kamu cuman ke kamar mandi kok, batinnya.


Dia menghembuskan nafasnya kembali. Dengan perlahan perempuan itu berjalan menuju kamar mandi. Perempuan itu berniat membuang air kecil, tetapi dirinya justru hampir saja terjatuh. Inilah hal yang Nata benci, sakit. Perempuan itu selalu benci saat dirinya.


Sedangkan, di dapur Alika tengah memasak sarapan untuk kedua sahabatnya. Mereka memang memutuskan untuk menginap agar lebih mudah menjaga Nata. Dengan lihai perempuan itu memasak, Alika memang pintar memasak. Mengingat dirinya adalah pemilik restoran yang sudah memiliki cabang di mana-mana.


Berbeda dengan Yesha, perempuan itu tengah membersihkan rumah Nata yang hanya sepetak. Memang Alika dan Yesha berada dalam keluarga kaya, sedangkan Nata bukanlah orang berada. Beginilah mereka, akan saling membantu satu sama lain.


"Sha, lu cek Alika sana! Nanti dia udah bangun lagi," titah Alika dengan suara menggelegar.


Yesha tak menjawab, perempuan itu langsung berjalan menuju kamar Nata. Sesampainya di sana, Yesha mengedarkan pandangannya. Dirinya tak menemukan keberadaan Nata di ranjang, tatapannya lantas beralih pada pintu kamar mandi yang tertutup. Perempuan itu berjalan menuju ranjang, dia mendudukkan dirinya di ranjang sembari menatap lurus ke depan.


Tak berselang lama, pintu kamar mandi terbuka. Yesha segera bangkit dari duduknya dan berjalan menghampiri Nata. Perempuan itu membantu Nata berjalan menuju meja makan. Dengan perlahan Yesha membantu Nata berjalan sembari diiringi obrolan ringan.


"Kenapa gak manggil?"


"Takut repotin kalian aja," sahut Nata dengan suara lemah.


"Cih! Kayak sama siapa aja," cetus Yesha.


Nata hanya menampilkan senyum manisnya. Dirinya paham bahwa sahabatnya itu khawatir. Hanya saja Nata tak enak jika terus merepotkan sahabatnya, dirinya harus bisa tanpa bantuan sahabatnya. Bagaimanapun nanti sahabatnya itu akan memiliki kehidupan masing-masing, sangat tak mungkin jika Nata akan terus bergantung dengan para sahabatnya.


Setibanya mereka di ruang makan, dapat mereka lihat Alika tengah menata sarapan mereka di meja makan. Perempuan itu nampak fokus dengan kegiatannya hingga tak menyadari kehadiran kedua sahabatnya. Yesha hanya menggeleng pelan melihat itu, sedangkan Nata hanya terkikik pelan.


"Duh, Mbak Chef masak apa nih? Pasti enak!" celetuk Nata.


Alika yang mendengar celetukan Nata sontak mendonggakan kepalanya. "Bisa aja si Nta ngalusnya. Kayak buaya."


"Yuk, sarapan dulu. Terus Nata minum obat habis ini."


...***...

__ADS_1


Darren mengerutkan keningnya saat tak melihat Nata ada di meja kerjanya. Pria itu menghela nafas, di pikirannya saat ini Nata tengah terlambat. Namun, faktanya perempuan itu tengah sakit sekarang. Dirinya mencoba meredam amarahnya, selama seminggu bekerja di perusahaannya, Nata cukup cekatan. Atas dasar itulan Darren memaafkannya untuk saat ini.


Suara ketukan pintu membuat pria itu menghela nafas kasar. Darren menekan bel yang berada di meja kerjanya, bel itu berfungsi untuk tanggapan jika ada yang mengetuk pintu ruangannya. Pria itu terlalu malas untuk menyahutinya.


"Kenapa?" Darren menaikkan satu alisnya saat karyawannya sudah berada di hadapannya.


"Saya cuman mau sampein pesan, Pak. Nata, Sekretaris Bapak saat ini tengah sakit."


Dia menaikkan satu alisnya. "Sakit? Sakit apa?"


"Demam."


"Hm, silakan keluar."


Darren melanjutkan pekerjaannya saat karyawannya itu telah pergi. Pria itu kembali fokus pada pekerjaannya, tetapi untuk sesaat dirinya kepikiran mengenai kondisi Nata. Pria itu menghembuskan nafasnya pelan sebelum akhirnya meminta Anak buahnya mencari data mengenai Nata. Dia berniat untuk menjenguk sekretarisnya itu.


Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 18.00 wib, dengan segera Darren membereskan pekerjaannya. Pria itu berniat mendatangi kediaman Nata sebelum akhirnya pulang ke rumah. Darren meraih jasnya yang dia letakkan di kursinya, dengan langkah lebar dirinya berjalan menuju luar ruangannya.


Pria itu menjalankan mobilnya menuju toko buah. Dirinya berencana akan membawakan buah-buahan untuk Nata, tidak mungkin dia datang dengan tangan kosong. Setelah membeli buah-buahan, pria itu melanjutkan perjalannya menuju rusun tempat Nata tinggal.


"Mau cari siapa, Pak?" tanya seorang ibu-ibu yang tak sengaja melihat Darren kebingungan.


"Natalia Defana rumahnya di mana ya, Bu?"


"Owh, Neng Nata. Bapak ke lantai tiga, kamar paling pertama."


Setelah mengetahui letak kamar Nata, Dareen segera melanjutkan langkahnya tentu setelah berujar terima kasih. Dirinya mengetuk pimtu rumah Nata dengan pelan, tak lama seorang perempuan yang asing menyambut penglihatan Darren. Pria itu menautkan alisnya pertanda dirinya tengah kebingungan.


"Cari siapa?"


"Saya Darren, atasan Nata. Saya mau menjenguk dia."


"Oh, silakan masuk."

__ADS_1


"Nata, bos lu dateng nih!" teriaknya.


Darren yang mendengar itu menghela nafasnya kasar. "Enggak ada etika."


"Siapa, Li?" sahut Nata lemah.


Nata tak sengaja melihat ke arah sofa, dirinya terkejut melihat kehadiran Darren. Perempuan itu berjalan mendekati Darren dengan perlahan. Banyak pertanyaan yang muncul dalam benaknya, kenapa bosnya bisa di sini? Pikirnya.


"Loh Pak Darren?"


"Iya, saya. Kenapa?" sahut Darren datar.


"Bapak ngapain ke sini?"


"Jenguk kamu. Ini saya bawakan buah." Darren memberikan buah yang berada di tangannya pada Nata. Dengan gugup perempuan itu menerima pemberian Darren. Dirinya masih terkejut dengan keberadaan bosnya.


"Makasih, Pak. Bapak mau minum apa?"


"Tidak usah, saya mau langsung pulang."


"Em ... Tunggu dulu, Pak. Ini udah maghrib, bakalan ramai yang ibadah di depan. Bapak gak bisa lewat."


"Gitu, ya?" sahut Darren.


"Iya, tunggu sebentar dulu, Pak. Biar saya minta temen saya buatin Bapak minum."


Sedangkan, di sisi lain ada Alika dan Yesha yang tengah memperhatikan interaksi Nata dan bosnya. Mereka cukup penasaran dengan atasan dari sahabatnya itu, alangkah terkejutnya mereka saat tahu siapa atasan dari sahabatnga itu. Mereka tentu mengenal Darren Aryan Gautama, seorang pengusaha kaya raya yang ada di Indonesia dan New York.


"Cakep banget sih tu duda," celetuk Alika.


Yesha memutar malas bola matanya. "Lebay banget lu kecap!"


"Eh! Nama gua Alika bukan kecap! Lu kata gua merek kecap?" sentak Alika kesal sembari berkacak pinggang.

__ADS_1


"Kecap banggo," sahut Yesha tak acuh.


"Itu Malika gua Alika!


__ADS_2