
Sore ini Alika dan Yesha memutuskan untuk berjalan-jalan ke mall, mengapa tidak bersama Nata? Itu karena Nata tengah disibukkan dengan pekerjaannya. Jadilah mereka berdua yang pergi, mungkin di lain waktu Nata akan ikut. Kesibukan mereka sering kali membuat mereka jarang bisa menghabiskan waktu bersama lagi.
Keduanya berjalan dengan bergandengan tangan, terkadang canda selalu dilempar oleh Alika meski Yesha hanya menanggapi dengan singkat. Perempuan itu seolah sudah kebal dengan sifat dingin sahabatnya itu. Meski demikian Alika beruntung memiliki sahabat seperti Yesha, karena perempuan itu sangat pengertian.
Langkah kaki mereka melangkah menuju restoran Jepang yang berada di mall tersebut. Keduanya mendudukkan diri di salah satu meja. Setelah memesan sushi, keduanya larut dalam keheningan. Mereka sama-sama fokus dalam bermain ponselnya.
"Li, kamu tau kalau ada yang suka aku?" Yesha mengalihkan atensinya ke Alika.
Dia meletakkan ponselnya. "Iya tau. Itu cowok yang waktu itu kamu bantuin kasus perceraiannya," sahut Alika.
"Vero," sambung Alika.
Yesha menaikkan satu alisnya saat mendengar ucapan Alika. Dirinya sama sekali tak mengenal siapa nama yang disebutkan oleh Alika. Sedangkan, Alika yang melihat raut wajah Yesha hanya bisa berdecak kesal. Sahabatnya yang satu itu memang sangat mudah melupakan orang lain.
"Ck, kebiasaan!"
Mereka kembali dilanda keheningan hingga pesanan mereka tiba. Keduanya makan dalam diam, tetapi keheningan itu harus hilang karena seorang pria mendatangi meja mereka. Keduanya mendongak lantas kembali melanjutkan makannya dengan santai.
"Hai cewek cantik!" ucapnya lantas duduk di salah satu kursi.
Alika yang saat itu sudah menyelesaikan makannya lantas menatap pria di hadapannya dengan satu alis terangkat. Alika menatap Yesha yang tengah membersihkan mulutnya dengan tisu, Yesha yang merasa ditatap lantas mendongak. Alika melirik pria yang kini berada di hadapannya.
"Cantik kenalan dong!" ujar pria itu dengan senyum menawannya.
Suka sih sama cogan, tapi kalau modelan buaya juga ogah kali! batin Alika.
Yesha yang mendengar itu menatap tajam pria tersebut. Dirinya dibuat risih dengan kehadiran pria yang kini duduk di hadapan sahabatnya. Tindakan pria itu juga cukup menganggu mereka saat makan.
"Kenalin aku Leonathan Gabriel," cetusnya sembari mengulurkan tangan.
Iya, dia Leonathan Gabriel. Sahabat dari Darren dan Devan begitu juga dengan Refan. Pria itu tadinya berniat ingin makan, tetapi saat melihat Alika dan Yesha membuatnya mengurungkan niatnya. Pria itu merasa tertarik dengan senyum manis milik Alika, pria dengan julukan buaya itu akan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan perempuan yang dia inginkan.
"Emang gua nanya apa?" sahut Alika dengan ketus.
__ADS_1
Leon menyengir sembari menggaruk tengkuknya. "Sekarang sih enggak penting ya, tapi nanti pasti jadi penting. Secara aku, 'kan yang bakal genggam tangan Ayah kamu buat ijab qabul." Leon menyugar rambutnya ke belakang sembari tersenyum manis.
"Pede," ceplos Yesha.
Leon terkekeh pelan. Pria itu mengedipkan matanya ke arah Alika yang justru membuat perempuan itu merasa jijik sendiri. Dengan segaja perempuan itu mengambil selembar tisu dan memuntahkan liurnya di tisu itu bukannya sadar, Leon justru gemas sendiri dengan kelakuan Alisha.
Huek!
"Kamu tau gak bedanya kamu sama matahari?" ucap Leon mulai menggeluarkan gombalannya.
"Gak!"
"Matahari itu menerangkan bumi, kalau kamu menerangi hatiku." Yesha bergidik ngeri mendengar gombalan yang Leon layangkan padahal gombalan itu bukan untuk dirinya.
"Kamu tau persamaan kamu sama pare?" Alika tersenyum manis pada Leon, tetapi makna senyum itu dipahami oleh Yesha.
"Sama-sama kesukaan kamu, 'kan?" jawab Leon dengan percaya diri.
...***...
Ara memandangi sang Kakak yang tengah membaca sebuah buku. Iya, Aya memang gemar membaca meski usianya masih sangat kecil. Sangat berbanding berbalik dengan Ara yang lebih gemar melakukan eksperimen. Kelakuan keduanya sebagai kembar sering kali membuat orang sekitarnya gemas.
Merasa diperhatikan, Aya menurunkan bukunya dari depan wajahnya lantas memandang sang Adik. Ara yang dipandang oleh sang Kakak hanya mengeluarkan cengirannya. Dia sendiri bingung kenapa dia memandangi sang Kakak.
"Kenapa?" tanya Aya dengan nada datar.
"Ndak papa, Ay. Ala cuman bosan saja," ucapnya cadel. Gadis kecil itu cemberut sembari memandang sang Kakak.
"Terus?" Ara mendengus saat mendengar suara sang Kakak, dirinya merasa iri dengan Aya yang sudah lancar berbicara.
"Mau main," sahutnya dengan wajah yang dibuat seimut mungkin.
Aya menghela nafasnya pelan. "Huft ... Ayo."
__ADS_1
Mendengar sahutan sang Kakak, Ara bersorak gembira. Gadis kecil itu bahkan melompat kesenangan sembari terus berteriak 'hore'. Aya yang melihat itu hanya menggelengkan kepalanya.
Kemana orang tua mereka? Jawabannya tengah melakukan perjalanan bisnis suami-istri ke luar Negeri. Sedangkan, Leon saat ini tengah membelikan mereka makan yang nyatanya tengah merayu perempuan. Jika saja Aya tahu itu sudah pasti Leon akan terkena ucapan menyakitkan dari ponakannya itu.
...***...
Nata merapikan barang-barangnya, dirinya baru saja menyelesaikan semua pekerjaannya. Perempuan itu menghela nafasnya lega, akhirnya dia bisa pulang ke rumah juga. Dengan langkah lebar dirinya melangkah keluar dari ruangannya. Namun, langkahnya tiba-tiba saja terhenti karena panggilan Darren.
"Mau kemana kamu?"
Ke kuburan, Pak. Ya, pulanglah, sahutnya dalam hati. Perempuan itu masih membutuhkan biaya untuk hidupnya tak mungkin berani berujar demikian. Dia membalikkan tubuhnya, menatap Darren yang saat ini penampilannya tengah berantakan. Nata menelan salivanya dengan susah payah saat melihat penampilan Darren.
"Ke—kenapa, Pak? Saya mau pulang. Apa ada pekerjaan tambahan? Akan saya kerjakan," jawab Nata dengan gugup.
"Ah itu, ya. Saya cuman mau minta tolong kamu untuk buatkan saya kopi, karena saya mengantuk. Oh, iya kopinya tanpa gula ya." Darren berlalu begitu saja setelah mengucapkan hal demikian.
Nata cengo sendiri melihat kelakuan atasannya. Dia mengusap dadanya berusaha sabar. Tanpa banyak bicara perempuan itu berjalan menuju dapur. Dia menghela nafas kasar saat melihat suasana kantor yang sepi, mengingat ini sudah pukul 21.30 wib. Semua karyawan sudah pulang kecuali, dirinya dan Darren yang harus lembur.
"Gini amat punya bos," dumel Nata sembari menuangkan kopi ke cangkir.
Dirinya berjalan ke ruangan Darren saat sudah selesai membuatkan Darren kopi. Dia memasuki ruangan Darren setelah mendapatkan intruksi dari Darren sendiri. Dapat Nata lihat Darren tengah bergelut dengan tumpukan berkas.
Dia meletakkan kopinya di meja. "Ini kopinya, Pak."
Darren mendongak lantas menganggukan kepalanya singkat. Pria itu kembali fokus pada tumpukan berkas di mejanya. Dirinya sebenarnya sangat lelah, tetapi pekerjaannya tak dapat ditunda. Nata yang melhat itu menghela nafasnya pelan.
"Makasih," cetus Darren setelah sekian lama.
Nata mengganguk singkat. "Sama-sama, Pak. Kalau Bapak capek, pulang aja."
"Terus kerjaan saya?" Dia mendongak menatap Nata dengan datar.
"Bapak gak akan jatuh miskin cuman buat istirahat. Kesehatan Bapak jauh lebih penting."
__ADS_1