Gadis Muda Untuk Pak Duda

Gadis Muda Untuk Pak Duda
Rasa Cemburu


__ADS_3

Alika Dirnata, gadis dengan perangai ceria itu menatap sosok lelaki dengan datarnya. Laki-laki yang berstatus sebagai tunangannya itu tengah menikmati makan siang bersama seorang perempuan, Alika tak mempermasalahkan itu. Yang jadi masalahnya perempuan itu yang dengan berani mencium pipi tunangannya.


Rasa cemburu yang menggelora itu membuat darah Alika mendidih. Perempuan itu terus menatap pengunjung kafe yang duduk di meja dekat jendela. Niat hati ingin makan siang, dirinya justru disuguhkan hal paling menjijikkan di matanya.


Alika menghela napasnya kasar, dia segera bangkit dari duduknya. Berjalan dengan angkuhnya menuju pintu keluar yang kebetulan berdekatan dengan posisi Refan dan perempuan itu. Alika menatap mereka dengan sinis, tatapan yang berhasil membuat Refan terkejut dan menegang.


Pandangan pria itu terus saja berpusat pada Alika bahkan saat Alika sudah memasuki mobilnya. Tak berselang lama dari itu, ponsel Refan berbunyi. Melihat pesan yang dikirim orang dari seberang sana berhasil membangkitkan amarah milik Refan. Terbukti pria itu sekarang mengepalkan tangannya kuat.


Manisnya Saya-♡:


[Lanjutkan makan siangmu, Tuan. Saya akan meminta keluarga saya untuk membatalkan pertunangan ini.]


Tanpa membalas lagi, Refan langsung memasuki ponsel miliknya ke saku jasnya. Dirinya segera bangkit dari duduknya membuat perempuan yang berada di hadapannya tersentak kaget.


"Kamu mau ke mana, Fan?" tanya perempuan itu yang sayangnya diabaikan oleh Refan.


Untuk saat ini Alika jauh lebih penting. Perempuan itu berhasil mengambil hatinya sejak pertama kali bertemu dan Refan tidak akan melepaskan Alika dengan mudahnya.


Tujuannya saat ini adalah apartemen tunangannya. Dia yakin Alika akan pergi ke sana untuk menenangkan dirinya. Mengenal Alika dalam kurun waktu satu bulan, membuat Refan sedikit mulai paham dengan perangai perempuan itu.


Setibanya di sana, Refan segera memasuki apartemen Alika, tentu saja dia sudah tahu password-nya. Laki-laki melihat ke segala ruangan, dirinya tak juga menemukan Alika. Memilih berjalan menuju dapur, di sana dia melihat Alika yang tengah menikmati minuman di tangannya sembari memandang jendela yang berada di dapur.


Refan berjalan dengan perlahan, saat sudah berada di belakang perempuannya, dengan cepat dia memeluk Alika dengan erat. Pria itu meletakkan dagunya pada bahu Alika, berusaha mencari kenyamanan di sana. Matanya melirik pada coklat panas yang berada di tangan gadis itu.


Di sisi lain, Alika jelas terkejut dengan kehadiran Refan yang tiba-tiba saja. Alika diam saat tunangannya itu memeluk dirinya, wajahnya hanya menampilkan ekspresi datar. Marah? Mungkin saja.


"Ada apa Anda kemari? Lanjutkan saja makan siang Anda itu," ujar Alika dengan datarnya.


Dia terkekeh geli. "Jadi, kesayangan saya ini cemburu, hum?" Refan bertanya sembari memberikan kecupan pada bahu terbuka Alika.


"Re—refan, diem!" sentak Alika saat merasakan tubuhnya meremang.


"Ssttt . . ., janji kamu akan suka," bisik Refan.


...***...


Aya memandang datar Leon, gadis kecil itu dibuat jengah dengan kelakuan Leon yang asyik menggoda perempuan-perempuan yang berlalu lalang di hadapan mereka. Saat ini, mereka tengah berada di taman kota, itu pun tentu saja atas permintaan Ara. Mau tak mau dua orang itu harus menyetujuinya, untung saja waktu sudah menunjukkan pukul 15.40 wib, jadi tidak terlalu panas untuk mereka.

__ADS_1


Dia mendengus. "Om sekali lagi goda-goda cewek, Aya tabok mulutnya," sarkas Aya.


Leon yang mendengar itu segera menolehkan kepalanya, dia memandang Aya dengan tajam. "Eh! Lo masih bocil jangan sok dewasa," ketus Leon.


"Lebih baik saya daripada Om yang hobi nengokin kepunyaan cewek-cewek. Inget ada cewek yang namanya Yesha, kalau Om enggak suka dia mending lepas." Aya berucap demikian sembari fokus membaca buku filsafat yang dirinya bawa.


Kakak gua ngasih makan si Aya apaan, sih? Omogannya lebih pedes dari netizen Indonesia.


Di sisi lain, ada Ara yang tengah fokus bermain dengan anak-anak yang ada di taman. Jika, Ara cenderung mudah berbaur, maka berbanding terbalik dengan Aya yang sukar berbaur. Meski mereka kembar, tetapi terlalu banyak perbedaan mereka.


"Gimana kalau kita main sembunyi-sembunyi?" celetuk anak berjenis kelamin laki-laki


Ara sontak menggeleng dengan kerasnya mendengar saran dari anak itu. "Ndak mau, nanti Ala diumpetin medi," ujar Ara dengan polosnya.


"Medi?" tanya anak perempuan sembari memakan lolipopnya.


Ara mengangguk dengan antusias. Tangan gadis kecil itu masih sibuk memainkan telinga boneka kelinci yang dia bawa.


"Hum, medi. Medi itu setan," jelas Ara.


Mendengar jawaban Ara yang terkesan santai itu berhasil mengundang kericuhan anak-anak di sekitarnya. Mereka saling berteriak satu sama lain, hal itu berhasil membuat atensi pengunjung lain terusik. Aya dan Leon bahkan dibuat terkejut.


"Aku ndak mau dimam sama medi!"


"Ish! Kamu sih ngajakin kita main begitu!"


"Iya, kamu tuh!"


"Mereka kenapa, Ay?" tanya Leon sembari menatap anak-anak itu.


"Kalau Om tanya Aya, Aya tanya siapa? Harusnya Om itu tanya mereka."


...***...


Laras mengusap perutnya yang mulai membesar itu. Wanita itu tersenyum tipis, sangat manis. Dia tak menyangka bisa bertahan sejauh ini, tak pernah menyangka bisa menghadapi semuanya dengan kuat. Laras bersyukur akan hal itu.


Saat ini, wanita itu berniat untuk membeli makan malam untuknya dan anaknya. Tiba-tiba saja dia menginginkan sate ayam, untung saja ekonominya mulai sedikit membaik saat ini. Laras berjalan seorang diri menuju penjual sate yang berada tak begitu jauh dari kost-an miliknya.

__ADS_1


"Kesayangan Mama udah gak sabar, ya? Sebentar ya, Sayang." Laras mengusap perutnya sembari tersenyum manis.


"Mang, sate satu porsi, ya! Makan di sini aja," teriak Laras sembari mendudukkan dirinya.


Penjual sate itu hanya mengacungkan jempolnya sebagai respons. Laras yang melihat itu hanya tersenyum dengan tipis, matanya memandang sekitar yang tampak lebih sunyi, mungkin karena ini sudah larut malam.


Saat dirinya tak sengaja melihat ke sebuah gang kecil, Laras terkejut saat melihat seorang pria dikeroyok. Wanita itu menajamkan matanya mencoba memperjelas penglihatannya. Tanpa aba-aba wanita itu segera bangkit dari duduknya.


"Mang, tolong buatin satu porsi lagi, ya!" pintanya lalu berlari ke arah gang kecil itu.


Setibanya di sana, Laras mengatur napasnya dan mengusap perutnya. Wanita itu mengambil ponsel miliknya dan menyalakan suara sirine mobil polisi. Sontak saja itu membuat preman itu berlari lunggah-langgah.


"Lari, woi! Lari! Ada polisi."


Senyum terbit di wajah cantiknya saat melihat preman itu sudah menjauh. Laras melangkahkan kakinya mendekati pria itu, dia meremas jemarinya merasa gugup. Namun, tekadnya untuk membantu pria itu cukup kuat.


"Mas, enggak apa-apa? Sini saya bantu," tawar Laras sembari mengulurkan tangannya.


Pria itu mendongak, raut terkejut jelas tergambar dari wajahnya. "La—laras . . .."


Laras seolah tuli. Tanpa banyak bicara, wanita itu memapah pria itu menuju penjual sate tersebut. Dirinya kembali pergi saat berhasil membuat pria itu duduk di kursi yang ada di sebelahnya.


Selang beberapa menit, Laras kembali dengan es batu, handuk, dan obat di tangannya. Tetap membisu, Laras mengobati luka pria itu dengan hati-hati. Perlakuannya sontak saja membuat pria itu membeku.


"Neng, ini satenya."


"Tolong taruh di meja, Mang," sahut Laras sembari meniup luka memar di sudut bibir pria itu.


Laras menghembuskan napasnya setelah selesai mengobati luka pria itu. Dia segera menjauhkan kembali tubuhnya.


"Makan, Mas. Mas Vero pasti belum makan," ucap Laras sembari memasukkan satu tusuk sate dan lontong.


Merasa tak ada sahutan, Laras menolehkan kepalanya. Mata mereka beradu, Laras terdiam. Wanita itu menyelami wajah mantan suaminya, wajah yang mampu membuatnya tenang dan sedih secara bersamaan.


"Ekhm . . ., buka mulutnya, Mas. Aaa . . .," ucap Laras yang dituruti Vero.


"Makan yang banyak, pasti Mas baru pulang kerja."

__ADS_1


Vero mengabaikan segala celotehan Laras, pandangan pria itu terfokus pada perut Laras yang membuncit. Ada perasaan sakit dan sesak yang tiba-tiba menghantam dirinya cukup keras.


Secepat itu dia tumbuh?


__ADS_2