Gadis Muda Untuk Pak Duda

Gadis Muda Untuk Pak Duda
Semakin Hancur


__ADS_3

Dua minggu telah berlalu, hubungan antara Nata dan Darren kian memanas. Nata yang kekeh ingin bercerai dan Darren yang kekeh ingin mempertahankan pernikahan mereka. Darren bahkan mendapati segala cacian dari orang terdekatnya baik keluarganya, sahabatnya, dan sahabat istrinya sendiri.


Apakah orangtua Nata tahu akan hal ini? Jawabannya, tidak. Kedua orangtua Nata tengah berada di Jerman untuk melakukan perjalanan bisnis selama dua tahun, salah satu cabang perusahaan mereka di Jerman tengah berada di ujung tanduk. Nata tak mungkin memberitahu orangtuanya, dia tak ingin orangtuanya menjadi khawatir.


Nata memandangi balkon kamarnya dengan raut wajah datar, udara pagi mampu membuatnya jauh lebih tenang. Hitungan minggu, anaknya akan lahir. Maka setelah itu dia akan menceraikan Darren, Nata tak peduli penolakan yang Darren berikan. Bagi wanita yang tengah mengandung itu, sebuah penghianatan tak bisa lagi dimaafkan.


Maaf kalau Mama harus misahin kamu sama Papa kamu, ya. Nata mengusap lembut perutnya yang membuncit. Dia menatap perutnya dengan senyuman lembut, kehadiran calon buah hatinya benar-benar dirinya nanti.


Nata menghembuskan napasnya kasar, dadanya terasa nyeri, menghimpit. Dia masih tak percaya Darren melakukan hal sekeji ini padanya, Nata tak menyangka Darren bisa sekeji ini menghancurkannya.


Suara bising dari lantai bawah membuat Nata mengerutkan keningnya. Wanita itu berjalan keluar kamarnya, dia penasaran dengan apa yang terjadi. Wanita itu mengerutkan keningnya saat melihat seorang wanita tengah berteriak di hadapan Darren. Nata segera menuruni sisa anak tangga dengan hati-hati, dia berjalan menghampiri Darren dan mertuanya itu.


"Ada apa ini?" tanya Nata heran.


Dia menoleh. "Eh, ada bumil kampungan. Gua hamil anak Darren, posisi lo akan gua ribut," sarkasnya.


"Riana jaga ucapan kamu!" bentak Alisha membuat semuanya terkejut.


"Jangan harap saya mau mempunyai menantu wanita rendahan seperti kamu," sambung Alisha menusuk.


Riana menggepalkan tangannya, binar matanya penuh amarah. Dia memandang Alisha tajam, dia tidak ingin ada yang menghancurkan rencananya untuk menjadi Nyonya di keluarga Gautama. Dia akan menyingkirkan siapa pun yang akan menghalangi jalannya, tak terkecuali Alisha sendiri. Dia yakin Alisha hanya wanita tua yang berlindung di belakang para penjaga.


"Memang apa wanita tua sepertimu bisa lakukan, Nyonya Gautama?" tanya Riana dengan tatapan meremehkan.


Thofid yang melihat tatapan Riana pada istrinya memandang wanita itu tajam, dia baru saja akan berjalan mendekati Riana. Namun, tangannya segera ditahan oleh Alisha membuat Thofid menghela napasnya kasar. Darren memandang Riana tajam, dia tidak percaya Riana berani menghina bundanya di hadapan dirinya.

__ADS_1


"Jaga ucapanmu, Riana! Saya tidak pernah menghamili kamu bahkan melihatmu saja saya merasa jijik," tampik Darren.


"Tapi kita emang ngelakuinnya, Sayang! Kamu jangan pura-pura lupa buat jaga perasaan istri kampungan kamu itu!" serang Riana sembari mencoba mendekati Darren, tetapi Darren justru berjalan menjauh.


Suara tawa yang berasal dari Nata membuat semua orang di ruangan itu menatap Nata heran. Nata bertepuk tangan dengan pelan, dia memandang Riana tajam. Wanita itu tak pernah suka ada yang merendahkan dirinya, tak berselang lama semua orang terdekat Darren dan Nata hadir.


Bukan tanpa alasan mereka hadir. Seperti biasa, hari minggu selalu mereka gunakan untuk berkumpul di kediaman keluarga Gautama. Namun, sepertinya rencana itu harus kandas karena adanya keributan di sana.


"Loh, Riana ngapain di mari?" tanya Leon heran.


Riana tersenyum dengan bangganya. "Ya, jelas minta pertanggungjawaban Darren. Gua, kan lagi hamil anak Darren," sahut Riana dengan bangganya.


Semuanya terdiam. Mereka memandang Darren dan keluarga Gautama penuh tanya. Mereka sama sekali tak menduga Darren bahkan menghamili Riana. Mereka tahu Darren berselingkuh, tetapi mereka tidak tahu siapa wanita itu dan tidak tahu bahwa Darren juga menghamili Riana.


"Papa hamilin sampah itu?" tanya Cellyn.


"Loh, yang namanya selir enggak ada yang sekelas sama Permaisuri, pasti di bawah Permaisuri," celetuk Nata sembari memandang Darren remeh.


"Lagi pula selirmu ini lebih cocok menjadi pembantu pribadi saya, ah tepatnya pelayan Permaisuri," sambung Nata dengan tetapan merendahkan ke arah Riana.


Riana menggepalkan tangannya, dia berjalan maju ingin menampar Nata. Namun, sebelum itu, Alika sudah mencekal tangan wanita itu. Dia mencengkram kuat tangan Riana lantas memutarnya ke belakang, suara tulang yang begitu nyaring membuat semuanya meringgis ngilu. Mereka tentu tahu bahwa Alika jagonya bela diri.


"Sekali saja tangan Anda menyentuh sahabat saya, jangan harap tangan Anda bisa digunakan setelah ini," tekan Alika.


Alika beralih mendekati Darren, meninggalkan Riana yang tengah menahan rasa sakit. Dia menatap Darren dengan smiriknya, Darren yang melihat itu dibuat mundur perlahan. Namun, sebelum itu Alika sudah menyerangnya dengan beringas, bahkan pria itu hampir saja pingsan karena ulah sahabat istrinya itu.

__ADS_1


Semuanya terdiam, tak ada yang berani bersuara. Mereka dibuat bergidik ngeri dengan kelakuan Alika. Alika bahkan lebih ganas dari dugaan mereka. Berbeda dengan Nata dan Yesha, mereka justru bertepuk tangan dengan senangnya. Bagi mereka ini belum seberapa, biasanya Alika akan membuat orang itu koma dengan mudahnya.


Anjir, si Nata sama Yesha malah tepuk tangan, batin Leon tak percaya.


Enggak kebayang kalau gua selingkuh, bisa-bisa mati detik itu juga, batin Refan bergidik.


Devan justru menutup mata Yana dengan tangannya, sedangkan Cellyn menutup telinga putranya. Cellyn menarik tangan Yana pelan, mengajak kedua anak sambungnya itu untuk ke kamarnya. Dia juga meminta salah satu asisten rumah tangganya untuk menjaga anaknya.


Cellyn memandang Yana dengan lembut. "Yana sama Adek di sini dulu, ya. Di sini sama Mbak Asih, nanti Mama samperin lagi. Oke? Kamu jangan keluar dulu," pinta Cellyn sembari mengusap rambut Yana dengan lembutnya.


"Siap, Ma!" sahut Yana dengan cepat.


Cellyn tersenyum simpul, dia mengecup kening kedua anak sambungnya dengan lembut. Wanita itu lantas keluar menuju ruang tamu dengan hati-hati, dia tengah melindungi satu lagi nyawa di dalam tubuhnya.


"Cellyn kecewa sama Papa." Ucapan yang keluar dari mulut Cellyn itu membuat semuanya menoleh ke belakang.


Cellyn berjalan mendekati Darren dengan pandangan penuh kekecewaan. Dia ikut hancur saat mengetahui kelakukan ayahnya, bagaimanapun dia juga perempuan. Cellyn jelas paham dengan apa yang dirasakan Ibu sambungnya itu.


"Papa enggak mikir kalau Cellyn itu perempuan? Gampang banget ya selingkuhnya? Mikir enggak perasaan Cellyn? Cellyn juga perempuan, Cellyn tau rasanya walau Cellyn enggak alamin itu," sembur Cellyn.


"Maaf," cicit Darren.


"Nikahi sampah itu dua hari lagi," celetuk Nata.


"Tidak ada bantahan," sambungnya saat melihat Darren akan protes.

__ADS_1


"Sayang," panggil Darren.


"Shut up!"


__ADS_2