
Alika menatap sinis Refan, perempuan itu dibuat kesal oleh tunangannya itu. Seperti biasanya, Refan selalu saja melarang Alika memakai pakaian terbuka. Pria itu selalu dibuat meradang oleh tingkah laku Alika. Alika yang keras kepala dan Alika yang selalu bisa membuatnya darah tinggi, terkadang membuat Refan ingin sekali menikahi Alika secepatnya.
Seperti sekarang, Refan tengah mengurung Alika di kantornya. Pria itu meminta Alika untuk datang membawakan makan siang untuknya, Alika memang datang. Namun, perempuan itu datang dengan pakaian yang berhasil memancing emosi Refan. Bagaimana tidak, Alika datang dengan hotpans dan croptop yang jelas memperlihatkan paha dan perut ratanya.
"Apaan sih cuman pakai baju gini doang bukan telanjang!" teriak Alika kesal.
"Cuman? Kamu itu milik saya! Cuman saya yang boleh melihat apa yang ada di diri kamu, termasuk tubuh kamu!" desis Refan.
Alika mendelik kesal. "Ck! Masih tunangan masih bisa batal nikah. Paham?!"
Refan menggeram kesal, pria itu menarik pinggang Alika ke dalam pelukannya. Dia memandang Alika dengan tajamnya, tatapan yang berhasil membuat Alika terdiam. Refan mendekatkan wajahnya ke wajah Alika, perbuatannya itu berhasil membuat Alika dilanda perasaan takut.
"Ka—kamu mau a—apa?" ujar Alika sembari memandang Refan dekat takut.
Refan menyeringai, pria itu menikmati wajah takut tunangannya itu. "Kenapa, hm? Tadi kamu sangat berani melawan saya. Kenapa sekarang diam, hm?"
Alika menelan salivanya dengan susah payah, perempuan itu mencoba melepaskan tangan Refan yang melilit di pinggangnya. Namun, semuanya sia-sia, tenaga Refan jelas lebih kuat. Alika mendesis, detak jantungnya menggila karena ulah pria di hadapannya ini.
"Sayang, maaf ya? Janji enggak bakal pakai baju gini lagi."
"Dengan satu syarat, kita nikah minggu depan," sahut Refan sembari memainkan alisnya.
"APA?!"
...***...
Saat ini, Sekar dan Nata berada di satu ruangan yaitu, ruang tamu kediaman keluarga Gautama. Keduanya berada dalam situasi canggung, situasi yang berhasil membuat keduanya teperangkap dalam sunyi.
Nata yang tak kuat dengan situasi seperti ini mencoba untuk mencari topik obrolan, tetapi pikirannya justru melayang pada fakta bahwa Sekar menaruh hati pada Darren. Dia tahu itu meski Darren tak pernah bercerita, dia tahu itu hanya melalui tatapan mata Sekar ke suaminya. Bagaimanapun dia juga seorang perempuan.
__ADS_1
"Diminum, Mbak," ucap Nata saat melihat asisten rumah tangganya datang dengan nampan berisi minuman dan camilan.
Dia tersenyum lantas mengangguk. "Thanks," sahut Sekar.
Nata tak menjawabnya lagi, perempuan itu hanya melemparkan senyum sebagai jawabannya. Dia memilih mengusap perutnya dengan lembut, perut yang setiap harinya semakin membesar itu.
"Gimana kandungan kamu, Nat?" tanya Sekar setelah meminum tehnya.
"Baik, Mbak. Udah bisa nendang sekarang dedenya," jawab Nata dengan senyuman.
Sekar tersenyum amat manis. Senyum yang dia gunakan untuk menutupi sakitnya, senyuman manis yang menipu siapa pun. Hati perempuan itu hancur, bagaikan diremas dengan hebatnya. Sekar tak tahu lagi bagaimana cara mendeskripsikan kondisi hatinya saat ini. Begitu menusuk dan menyakiti dirinya.
Perempuan itu belum bisa melupakan Darren hingga detik ini. Memendam rasa selama bertahun-tahun lantas berakhir dengan status hanya sahabat. Hancur? Tentu saja, Sekar sejak awal tahu Darren tidak akan semudah itu membuka hati. Elena begitu berarti di hidupnya, tetapi kehadiran Nata benar-benar mengubah segalanya. Dengan mudah Nata mengambil hati keluarga Gautama.
Apakah Sekar iri dengan itu? Jawabannya adalah, iya. Sekar iri, munafik jika cinta tanpa obsesi. Terkadang perempuan itu berharap pernikahan Nata dan Darren hancur, jahat? Itulah faktanya. Cinta terkadang memang membutakan, untungnya Sekar tak berbuat nekat. Dia sadar, hidupkan akan semakin hancur jika mengusik keluarga Gautama. Cukup hatinya yang hancur.
"Pernikahan kamu sama Darren aman?"
"Hahaha . . . Bagus deh. Kalau dia macam-macam, kamu potong aja asetnya." Sekar tertawa dengan pelan begitu juga dengan Nata.
Nata, perempuan itu tak juga sadar jika tawa dan senyum yang Sekar berikan sejatinya bermuatan luka. Dia terlalu asyik dengan perasaan bahagia sehingga abai dengan sakit yang Sekar rasakan.
...***...
Nisya memandang pasiennya dengan senyuman yang amat manis. Perempuan itu memang dikenal sebagai Dokter yang baik hati dan ramah. Setiap pasien yang memeriksakan diri kepadanya selalu berhasil dibuat nyaman olehnya.
Perempuan yang digadang-gadang memiliki hubungan spesial dengan Dion Irawan, Dokter tampan yang dikenal ramah dan friendly itu. Nyatanya keduanya tak pernah ada hubungan, hanya sekadar dekat tanpa status.
Bicara soal Dion Irawan, pria tampan itu dipindah tugaskan ke rumah sakit yang berada di Singapura. Sejak kepergian Dion, hidup Nisya kembali hampa. Sosok yang menjadi obat untuknya pun pergi, Nisya rasanya enggan kembali membuka hati.
__ADS_1
Perempuan itu menghela napasnya lega lantas menatap pasiennya. "Kondisi janin sehat, dia berkembang dengan baik. Kondisi bundanya juga baik, dijaga ya hingga melahirkan nanti dedenya," ucap Nisya.
"Iya, Dok. Terima kasih."
"Sama-sama, Laras."
"By the way, dia siapa, Ras?" tanya Nisya sembari melirik laki-laki di sebelah Laras.
Dia tersenyum. "Ini Mas Vero mantan suamiku yang udah jadi suamiku lagi," sahut Laras.
Nisya menatap Vero dengan tatapan yang sulit diartikan. Perempuan itu jelas mengetahui jika Vero adalah suami dari Laras, tetapi perempuan itu memilih untuk diam. Nisya sadar dia tak pernah ikut campur terlalu dalam.
"Oh, selamat, ya. Oh, ya, ini resepnya silakan tebus di apotek," kata Nisya.
"Terima kasih, Dok. Kami permisi," sahut Vero lantas bangkit dari duduknya sembari mengenggam tangan Laras.
"Makasih, Dok."
Nisya hanya menganggukan kepalanya. Perempuan itu menghela napasnya kasar. Dengan cepat dia bangkit dari duduknya, tujuannya saat ini adalah ruangan Lina. Sahabatnya itu telah sadar sejak kemarin malam dan Nisya belum sempat untuk mengunjungi sahabatnya itu.
"Hallo, Lin," sapa Nisya saat sudah memasuki ruangan Lina.
Lina yang saat itu tengah memakan makan siangnya segera menoleh ke arah pintu masuk ruangannya. Senyuman manis terpancar dari wajah pucatnya, dia menyambut Nisya dengan antusias membuat pria yang ada di sampingnya menggeleng heran.
Nisya berjalan mendekati Lina dengan senyumannya. Perempuan itu bersyukur Lina sadar dalam waktu yang tak terlalu jauh.
"Gimana keadaan kamu?" tanya Nisya.
Lina menyengir. "Membaik, Bu Dok."
__ADS_1
Nisya hanya menggelengkan kepalanya heran. "Hallo, Chiko."
Chiko hanya mengangguk singkat. Pria itu kembali mengusap surai Lina dengan lembut. Masih ingat dengan dia? Sosok laki-laki dari masa lalu Lina. Laki-laki yang sekarang menjadi obat untuk perempuan rapuh itu, laki-laki yang menjadi sandaran kala dirinya lemah.