
Yesha memandang sosok pria di hadapannya dengan datar. Dirinya tak mengenali siapa sosok yang telah menghadang jalannya itu. Perempuan itu bahkan dapat merasakan orang-orang di sekitar pengadilan tengah menatap dirinya dengan penasaran. Siapa yang tidak tahu sosoknya? Seorang pengacara yang selalu berhasil memenangkan kasus-kasus yang dirinya tanganin.
Perempuan itu berdecak kesal lantas mengambil jalan ke samping agar bisa meninggalkan pria asing yang tengah mehadang jalannya. Namun, lagi-lagi pria itu mehadang jalannya. Habis sudah kesabaran Yesha saat ini, tangannya mengepal memandang pria di hadapannya dengan dingin.
"Bisakah anda tidak menghalangi jalan saya?" sentak Yesha dingin.
Pria itu justru menyunggingkan senyumnya. Dia tak menyahut, dia justru semakin menatap Yesha dengan intens. Dalam tatapannya terpancar kelembutan dan Yesha sadar akan hal itu. Dirinya mulai merasa risih oleh kehadiran sosok di hadapannya ini.
"Sepertinya kamu melupakanku, Nona." Satu alis Yesha terangkat mendengar penuturan sosok di hadapannya. Pria itu hanya terkekeh pelan melihat Yesha tengah kebingungan sekarang. Di matanya, Yesha nampak menggemaskan sekarang.
"Cih, tidak penting." Yesha berujar sembari meludah. Bukannya tersinggung, pria itu justru semakin melebarkan senyum miliknya.
Gila, batin Yesha.
"Kalau gitu kita harus kenalan ulang lagi, Cantik. Kenalin aku Vero Devatar, mantan klien kamu dua tahun lalu," ujarnya dengan senyum yang mengembang di wajahnya.
Mendengar nama Vero Devatar membuat alis Yesha bertaut. Dirinya tengah mencoba mengingat siapa sosok yang berdiri di hadapannya. Dia merasa tak asing dengan nama itu, tetapi Yesha tidak bisa mengingat apa pun saat ini.
Lama larut dalam pikirannya, Yesha mengabaikan Vero yang sedari tadi curi-curi pandang ke arah tubuh Yesha yang saat ini menggunakan dress hitam yang nampak elegan. Hasratnya bergelonjak saat melihat tubuh indah Yesha yang terbalut dress yang cukup ketat.
"Mikirin apa, heem?" Pertanyaan yang dilontarkan oleh Vero membuat Yesha kembali tersadar. Perempuan itu tak menjawabnya, dia justru berjalan pergi meninggalkan Vero seorang diri. Vero yang melihat itu menarik sudut bibirnya ke atas membentuk sebuah seringaian.
l
"Menarik."
***
Darren dibuat kebingungan dengan sikap Nata sejak pagi tadi. Perempuan itu sama sekali tak mengeluarkan suaranya bahkan saat perempuan itu mengantarkan berkas kepadanya, dia tetap tak mengeluarkan suaranya. Bingung, hal itulah yang dirasakan oleh Darren. Tidak seperti biasanya sekretarisnya itu menjadi pendiam, walau Nata memang tak banyak bicara.
__ADS_1
Darren sedari tadi melirik Nata yang tengah fokus memandang layar komputernya. Pria itu mengacak rambutnya frustasi, dirinya benar-benar tak mengerti dengan perubahan sikap Nata. Tatapan matanya bahkan tak sekali pun lepas dari Nata.
"Dia kenapa sih? Arghhh ...," gumam Darren sembari mengacak rambutnya.
Pria itu melepaskan dua kancing kemejanya, dia menyandarkan tubuhnya pada badan kursi. Kelakuannya itu justru menambah kesan sexy yang ada pada dirinya. Entahlah, Darren merasa panas di ruangan ber-AC miliknya itu.
Tak lama, Nata memasuki ruangannya dengan tumpukkan berkas. Perempuan itu bahkan menatap Darren dengan datar, tatapan matanya pun terkesan sinis. Kondisi hatinya memburuk hingga saat ini, karena Sekar tentunya. Pertanyaan tentang siapa Sekar masih menghantui benaknya.
Darren segera bangkit dari duduknya, dirinya yakin Nata akan langsung keluar dari ruangannya setelah menaruh berkas itu di atas mejanya. Dengan gerakan cepat pria itu menarik tangan Nata yang akan meninggalkan ruangannya. Saat ini perempuan itu berada tepat di pelukan Darren.
Aroma maskulin yang menguar dari tubuh Darren membuat Nata salah tingkah. Namun, perempuan itu masih bertahan dengan rasa kesalnya. Usapan lembut pada rambutnya entah mengapa membuat seorang Nata merasakan kenyamanan. Pelukan Darren semakin erat saat Nata ingin melepaskannya, perempuan itu masih kesal dengan Darren, mungkin.
"Kamu kenapa, heem?" tanya Darren sembari melonggarkan pelukannya, pria itu menatap Nata dengan lembut.
Nata masih diam, walau faktanya dia tengah gugup saat ini. Penampilan Darren yang saat ini tengah berantakan membuatnya salah tingkah sendiri. Bagaimanapun dirinya perempuan dewasa yang sangat tidak mungkin pikirannya melayang ke hal lain.
"Kenapa?" tanya Darren lagi saat tak mendapatkan jawaban.
Nata tersentak dengan perbuatan Darren. Dapat dirinya rasakan Darren tengah menciumnya lehernya dengan ganas. Dia bahkan harus menggigit bibir bawahnya karena ulah Darren. Perempuan itu berusaha menjauhkan Darren dari lehernya, tetapi pria itu justru semakin ganas memakan lehernya.
"Pak ...," lirihnya dengan mata terpejam.
"Heem? Kamu suka?" tanya Darren dengan suara seraknya.
Nata tak menjawab, dirinya justru semakin memejamkan matanya. Tangannya meremas kemeja Darren cukup kuat membuat kemeja yang Darren gunakan menjadi berantakan. Nata dibuat melayang oleh kelakuan Darren pada leher putih miliknya.
Pria itu menyudahi aksinya. Sebuah senyum tercetak kala dirinya melihat hasil karyanya pada leher putih milik Nata. Dengan gemas pria itu menggigit hidung milik Nata membuat sang empunya meringgis. Tangannya dengan lembut mengusap paha Nata dengan sengaja, tatapan pria itu berubah menjadi sayu.
"Pak, tangannya," ucap Nata saat merasakan tindakan Darren semakin jauh.
__ADS_1
Seketika perempuan itu menyesal telah menggunakan gaun sepaha. Seharusnya dirinya menggunakan celana kain saja untuk pergi ke kantor. Tangannya meremas lengan Darren cukup kuat saat atasannya semakin menjadi mempermainkan dirinya. Nata berdecak saat dengan sengaja Darren menarik rambut yang berada di kakinya.
"Bapak ngapain sih?" cetus Nata kesal.
"Apa harus saya perkosa dulu kamu baru mau bicara dengan saya, heem?" Darren menatap Nata dengan lembut.
Sadar dirinya masih marah dengan Darren, raut wajah Nata kembali datar. Hal itu, sontak membuat Darren mengulum bibirnya. Dirinya semakin gemas dengan tingkah sekretarisnya itu. Pria itu mengecup bibir Nata lantas menggigit hidung perempuan itu, sepertinya itu akan menjadi kebiasaan barunya.
"Kamu kenapa marah sama saya, heem?"
"Pikir aja sendiri!" ketus Nata.
Pria itu menghela nafas. "Kasih tau, Sayang. Saya enggak akan paham, kalau kamu diem aja," desah Darren.
Nata melirik mata milik Darren. Perempuan itu dengan tiba-tiba memeluk tubuh Darren dengan erat, dirinya menyembunyikan wajahnya pada leher milik Darren. Sedangkan, Darren dibuat terkejut oleh tindakan Nata.
"Siapa cewek kemarin?" tanya Nata dengan suara pelan.
"Nata gak suka dia dengan Bapak," lirihnya.
Darren dibuat terkejut dengan pengakuan Nata, ditambah perempuan itu menangis sekarang. Darren mengusap lembut surai Nata lantas mencium puncak kepala Nata. Hembusan nafas Nata pada lehernya membuat sisi laki-lakinya bangkit begitu saja.
"Sssttt ... Udah ya nangisnya? Gemesin banget sih kesayangan saya ini. Dia temen lama saya aja, Cantik," ujar Darren membuat Nata mendongak.
"Bener?" ujarnya dengan sisa tangis membuat Darren semakin gemas melihat raut lucu Nata.
"Heem," sahutnya sembari mengusap air mata Nata.
"Kita lanjut yang tadi, ya," ucapnya sembari berjalan mengendong Nata menuju kamar yang berada di ruangannya.
__ADS_1
Brak!