
Siang ini Alisha berniat mengunjungi makam Elena, sudah lama sekali dia tidak mengunjungi makam menantunya itu. Semenjak menetap di New York, Alisha memang sangat jarang ziarah ke makam Elena begitu juga dengan Thofid. Namun, untuk hari ini wanita itu pergi sendiri, karena suaminya itu tengah ada perjalanan bisnis ke luar kota. Dengan ditemani supir, Alisha pergi ke makam Elena, sedangkan Darren sudah berangkat ke kantor sejak pagi.
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih empat puluh lima menit akhirnya wanita itu tiba di tempat peristirahatan terakhir sang menantu. Suasana duka sangat jelas dirinya rasakan, walau Elena telah pergi cukup lama. Namun, rasa kehilangan itu masih membekas di hidup keluarga Gautama. Elena seolah mempunyai tempat tersendiri bagi keluarga itu.
Alisha berjongkok di hadapan makam Elena, tangannya terulur mengusap batu nisan sang menantu. Setetes buliran bening itu akhirnya luruh juga, wanita itu sudah tak bisa menahan perasaan sedihnya. Dirinya benar-benar merindukan sosok Elena yang selalu mengumbar senyum kepada siapa saja. Dirinya rindu akan segala tingkah menantu kesayangannya itu. Walaupun Darren kembali menikah, sosok Elena akan tetap memiliki ruang spesial dalam keluarganya.
"Hai, Cantik. Maaf ya Bunda baru sempet temuin kamu, Bunda kangen banget sama kamu, Sayang. Rasa sakit yang kamu rasain udah ilang, 'kan? Kamu tau? Darren masih mencintai kamu, dia bahkan gak nikah lagi sampe sekarang. Bunda takut, saat Bunda pergi nanti dia akan kesepian. Bukannya Cellyn akan nikah nanti? Bunda gak mau dia kesepian," adu Alisha sembari terus mengusap batu nisan Elena.
Wanita itu mendongak mencoba menghalau air matanya yang akan jatuh. Dia tidak mau menangis di hadapan makam Elena, dia sudah berjanji untuk tidak menangis jika berziarah ke makam menantunya itu. Alisha tak mau mengingkari janjinya pada Elena.
Pikirannya tiba-tiba saja mengingat Nata, sosok Sekretaris cantik anaknya itu. Dirinya merasa Sekretaris anaknya itu menyimpan rasa pada Darren. Dirinya bisa lihat tatapan mata Nata saat menatap putranya itu.
Jika benar, lancarkan semuanya, Tuhan, batin Alisha dalam hati.
"Bunda pulang dulu ya? Cellyn bentar lagi pulang dari rumah sakit. Kapan-kapan Bunda ke sini lagi. I love you and i miss you so bad, Sayang."
Alisha melangkahkan kakinya menjauh dari area pemakaman. Dirinya segera berjalan menuju mobilnya, dapat dirinya lihat supirnya tengah menanti dirinya. Alisha masuk ke dalam mobil setelah sang supir membukakan pintu untuknya.
Di tengah perjalanan tiba-tiba saja mobil mereka terhenti. Hal itu tentu saja membuat Alisha kebingungan. Dirinya menatap sang supir seolah meminta jawaban.
"Kenapa, Pak?" tanya Alisha.
Dia menoleh ke belakang. "Kayaknya mogok, Nyonya," sahut supir itu. "Nyonya tunggu di mobil aja, biar saya cek," sambungnya.
Alisha yang mendengar itu menggeleng tak setuju. Dirinya ikut keluar dari mobil dan melihat kegiatan supirnya yang tengah memeriksa ban mobilnya. Dia menghela napas kasar, dapat dia pastikan ban mobilnya bocor.
"Bocor ya, Pak?"
__ADS_1
"Iya, Nya. Kena paku," jawab sang supir sembari memperhatikan ban mobil atasannya.
Baru saja Alisha ingin menghubungi Darren, tetapi sebuah motor matic berhenti tepat di hadapannya. Alis wanita itu menyatu, dirinya nampak asing dengan motor matic tersebut. Namun, dia merasa tak asing dengan postur tubuh yang mengendarai motor tersebut. Alisha membulatkan mulutnya saat tahu siapa sosok di balik helm berwarna pink itu.
"Loh Nata?" celetuk Alisha.
Nata, perempuan itu merapikan rambutnya lantas turun dari motornya. Dia memperhatikan Ibu dari atasannya dengan segan. Nata yang kebetulan ingin kembali ke kantornya justru tak sengaja melihat Ibu atasannya itu.
"Ban mobil Ibu kempes, ya?" tanya Nata yang dijawab anggukan oleh Alisha.
Nata mengangguk mengerti, dirinya memandang sang supir yang tengah mengganti ban. "Ibu mau saya anter ke tempat tujuan? Tapi pakai motor," tawar Nata.
"Gak ngerepotin kamu?" Alisha menggeleng pelan mendengar itu. "Ya udah boleh," sambung Alisha.
Motor butut gini setidaknya gak pernah mogok apalagi ban kempes, ucap Nata dalam hati.
"Pak Joko saya pulang sama Nata ya. Setelah semuanya selesai, Bapak langsung aja pulang ya," titah Alisha.
...***...
"Wuih, makin cantik aja si Sekar," lontar seorang pria yang justru mendapatkan pukulan di punggungnya.
"Cih dasar buaya," sindir pria satunya.
"Kalau bukan buaya gak Leon namanya," ejek seorang pria satunya.
Sekar yang mendengar itu terkekeh geli. Perempuan itu mendudukkan dirinya di hadapan tiga pria tampan yang telah menjadi temannya. Tentu kalian tahu siapa tiga pria tampan yang dimaksudkan oleh Sekar. Ya, mereka Leon, Refan, dan Devan. Ketiganya memutuskan bertemu di salah satu restoran mewah di Jakarta.
__ADS_1
Karena kesibukan masing-masing, ketiganya sangat jarang memiliki waktu bersama. Bahkan sekarang Darren tak bisa ikut menghadiri acara reuni tersebut. Pria beranak satu itu tengah disibukkan dengan proyek besarnya. Nata bahkan harus kerja lebih banyak karena proyek yang sedang Darren bangun.
"Makin sibuk ya, Kar?" tanya Leon.
"Sibuk ngelupain si duda bangkotan sih iya," ejek Devan.
Sekar yang mendengar itu memandang Devan dengan tajam. "Diem, deh! Urus sana istri kamu yang minta cerai," desis Sekar.
Refan yang melihat itu memilih meminum jus yang baru dirinya pesan. Tak heran, Sekar dan Devan memang tak akur sejak dulu. Meski demikian, mereka saling menyayangi dengan cara mereka. Tak jarang mereka membantu saat salah satunya tengah dalam kesusahan.
"Masih aja suka sama Devan, Kar." Refan berujar sembari memakan kentang goreng milik Leon membuat pria itu mendelik sinis.
"Enggak semudah itu hilangin perasaan ke dia. Apa pun itu, aku gak akan maksa Darren untuk cinta aku aja. Aku cuman mau Darren balik kayak dulu, dia yang perhatian ke aku. Darren yang gak cuek ke aku. I just want it," papar Sekar dengan kepala tertunduk.
"Lo utarain perasaan itu tandanya lo harus siap resiko, Kar," terang Leon.
"Leon bener, Kar. Darren kayaknya suka si Nata," imbuh Refan.
"Udah, cowok banyak bukan cuman si duda bangkotan," cetus Devan.
"Kamu calon duda jangan banyak omong, deh!"
...***...
Di sebuah rumah bergaya eropa, dua orang paruh baya tengah membicarakan hal serius. Itu jelas terlihat dalam raut wajah mereka. Namun, ada raut kesedihan yang terpancar dari wanita paruh baya itu. Mereka adalah sepasang suami-istri yang hidup dalam kemewahan, walau tak semewah keluarga Gautama. Mereka bahkan cukup terkenal di kalangan pembisnis.
"Ini salah kamu. Kalau kamu gak memaksa kehendak kamu, putri kita gak akan kabur dari rumah!" hardik pria itu sembari bangkit dari duduknya.
__ADS_1
Wanita itu menundukkan kepalanya. "Aku tau aku salah, Mas. Aku mau putri kita kembali, aku rindu dia Mas hiks ...," akunya dengan air mata yang membasahi pipinya.
Pria itu menghela napasnya dalam. Dia menarik istrinya ke dalam pelukannya, mengusap lembut punggung sang istri. "Sssttt ... Maafin Mas udah nyalahin kamu. Tenang ya? Mas udah minta orang suruhan Mas untuk mencari keberadaan anak kita."