
Devan meremas rambutnya, pria itu tengah berperang dengan pikirannya sendiri. Dia tidak tahu bagaimana cara untuk meminta maf pada Hima kembali. Rasanya sangat sulit untuk mengambil kembali hati Hima. Andai saja dirinya tak menyakiti wanita itu, mungkin dia masih bisa merasakan kasih sayang dari istrinya.
Dia menghela napasnya kasar. Devan terdiam dengan pandangan kosong, pikirannya mulai kalut. Terlalu banyak masalah yang pria itu hadapkan.
"Lo pagi-pagi ke rumah gua cuman buat ngelamun?"
Suara itu memecahkan lamunan milik Devan. Pria itu menoleh ke sampingnya, dapat dia lihat seorang pria berjalan dengan langkah tegasnya. Pria itu tak bersuara, dia hanya menghela napasnya kasar. Devan lelah sangat lelah.
Pria itu mendudukkan dirinya di hadapan Devan. Dia memandang Devan dengan tatapan iba. Ingin membela, tetapi ini murni kesalahan Devan.
"Lo udah sarapan?" tanya pria itu sekali lagi.
"Belum, Ren."
Darren, pria itu menghela napasnya kasar saat mendengar sahutan sang sahabatnya itu. Dia yakin Devan sedikit menghindari Hima, dia tak mau melukai Hima kembali. Darren yakin akan hal itu. Pria itu bangkit dari duduknya sembari menarik tangan Devan untuk mengikutinya ke arah meja makan.
Di ruangan yang berbeda, Alisha tengah menyiapkan sarapannya untuk keluarganya, perempuan itu nampak sibuk dengan merapikan meja makan. Jangan lupakan Thofid yang tengah menikmati kopi buatan sang istri sembari membaca koran, rutinitas pagi yang menjadi kebiasaan pria itu.
Suara derap langkah kaki mengalihkan atensi mereka semua. Mereka melihat Cellyn yang baru saja menuruni tangga dan jas kebanggaan dirinya, lantas di sisi lain ada Darren yang berjalan berdampingan dengan Devan.
"Loh, Devan?" ucap Alisha dengan raut bingungnya.
Mendengar ucapan sang Nenek, tanpa sadar Cellyn menoleh ke samping. Raut muka perempuan itu berubah menjadi tak terbaca. Melihat Devan yang pagi-pagi begini sudah ada di rumahnya, dia yakin pria itu belum juga berdamai dengan istrinya.
Cellyn menghela napasnya kasar. Ini salah aku, andai aku sama Om Devan nggak ketemu lagi. Pasti nggak akan kayak gini, batin perempuan itu.
"Om, Tante." Devan menyalimi kedua orangtua Devan.
Raut wajah pria itu sama sekali tak bisa berbohong. Meski dirinya tak banyak bicara, tetapi tatapan matanya tak bisa berbohong. Pria itu tengah dirundung oleh banyaknya masalah.
"Cellyn ngapain di sana?" Celetukan Thofid membuat Cellyn tersadar dari lamunannya.
Perempuan itu berjalan menuju meja makan. Dia meminum segelas susu yang dibuatkan Alisha untuknya.
"Cellyn sarapan di rumah sakit aja. Lagian udah minum susu juga," ucap perempuan itu tanpa melihat ke arah Devan.
"Loh? Kenapa, Sayang?" tanya Darren heran.
"Eum ... Eem ... Cellyn ada jadwal operasi," alibinya.
Darren memicingkan matanya. "Bohong?"
"Enggak, Pa. Ya udah, Cellyn berangkat dulu."
Setelah berpamitan, perempuan itu pergi begitu saja. Dirinya sama sekali tak melirik Devan. Cellyn tak sanggup, hatinya berdenyut nyeri melihat tatapan lelah yang Devan pancarkan.
"Pasti karena kamu, cucu saya nggak mau sarapan," sindir Thofid.
"Maaf."
"Mas! Selagi kamu ngomong kayak gitu, malam ini kamu tidur di luar."
Pria paruh baya itu menghela napasnya kasar saat mendengar ancaman sang istri. Alisha sangat tidak menyukai kalimat yang terlontar dari mulut suaminya itu.
"Makan dulu, Dev. Kamu juga, Ren. Jangan lupa untuk bawa Nata ke sini, Bunda mau ajak dia perawatan sebelum pernikahan kalian besok."
...***...
Seorang anak kecil memandang seorang wanita yang tengah linglung. Dengan perlahan dia berjalan mendekati wanita itu, ada sedikit rasa sesak yang menghampiri anak kecil itu.
"Mama kenapa?" Ditatapnya wajah pucat itu dengan sendu.
Wanita itu menoleh dengan perlahan. "Hm? Mama enggak papa," sahut wanita itu dengan suara lemah.
Anak kecil itu menggelengkan kepalanya pelan tanda tak setuju, dia tahu wanita itu jauh dari kata baik. Wajah pucat itu, siapa yang akan percaya bahwa wanita itu baik-baik saja? Tidak ada! Dia berjalan mendekati wanita, tangan mungilnya menggenggam tangan besar itu dengan lembut.
"Mama jangan bohongin Yana. Yana tau Mama pasti lagi ndak sehat."
__ADS_1
Ucapan dengan senyum yang merekah di bibir mungil itu membuat hati Hima tersenyum. Wanita itu membawa putrinya ke dalam pelukannya, dia memejamkan matanya.
"Mama baik-baik aja."
Yana tak menjawabnya, gadis itu justru melepaskan pelukannya. Tanpa diduga, Yana mengusap lembut perut Hima.
"Dede jangan nakal ya biar Mama ndak sakit. Kalau Mama sakit siapa yang jagain Kakak? ucap Yana dengan nada lirih.
Hati Hima tersentuh, wanita itu berusaha menahan air matanya yang akan meluncur.
"Papa ke mana?" tanyanya mencoba mengalihkan pembicaraan.
Yana menggeleng. "Yana ndak tau, Yana bangun Papa udah ndak di rumah."
Hima menghela napasnya kasar. Dia sadar telah keterlaluan pada suaminya itu. Wanita itu bahkan baru sadar, jika belakangan ini wajah suaminya kusut.
Maaf.
...***...
Saat ini, Alika dan Yesha tengah tengah berada di salah satu restoran. Keduanya tengah menghabiskan waktu berdua tanpa Nata, dikarenakan Nata tengah sibuk mempersiapkan acara pernikahannya yang akan dilaksanakan esok hari.
Alika memainkan sedotan minumannya sembari memandangi minumannya dengan tatapan sedih. Yesha yang melihat itu mengerutkan keningnya, dia sedikit keheranan melihat tingkah Alika.
"Kenapa lo?" tanya Yesha sembari mencomot kentang goreng di hadapannya.
"Si Nata udah mau nikah. Lah gua yang tuaan masih ae sendiri."
Dia menaikkan satu alisnya. "Tunangan elo gak diakuin?" tanya Yesha dengan sinis.
Alika menepuk jidatnya lantas terkekeh geli. Yesha yang melihat itu hanya menggelengkan kepalanya pelan. Dia sudah tak heran dengan kelakuan Alika yang satu ini.
"Kayaknya si Nata enggak bego-bego amat, kenapa mau dah dienakin," ucap Alika dengan heran.
"Namanya juga enak. Siapa yang enggak mau, sih?"
Tuk!
Yesha dengan geramnya memukul kepala Alika dengan sendok yang ada di tangannya. Perempuan itu memandang Alika dengan tajam, sedangkan Alika tengah mengusap kepalanya.
"Untung itu sendok bersih, kalau kotor sia-sia perawatan rambut gua!" gerutu Alika dengan wajah kesal.
"Who care?"
...***...
Nata berjalan berdampingan dengan Alisha. Sesuai ucapan Alisha, dia akan membawa calon menantunya itu perawatan sebelum hari pernikahan anaknya dan Nata dilaksanakan. Meski mereka mengenal belum lama, tetapi keduanya sudah sangat dekat. Alisha bahkan terlihat seperti Ibu kandung dari Nata, keduanya nampak serasi.
Nata memejamkan matanya saat merasakan pijatan lembut di kepalanya. Rasa kantuk perlahan menyerang dirinya, pijatan pada kepala dan tangannya mendatangkan rasa kantuk itu dengan sendirinya.
Alisha terkekeh melihat calon menantunya mengantuk. Tingkah Nata sangat persis seperti Cellyn yang akan mengantuk jika kepalanya dipijat.
"Tidur aja, Sayang. Enggak apa-apa, kok," celetuk Alisha.
"Iya, Bun."
...***...
Aya memandang Ara yang tengah berlarian di dalam rumah. Gadis kecil itu menghela napasnya kasar, pusing melihat tingkah kembarannya itu. Bagi Aya, Ara terlalu aktif. Bibir gadis kecil itu seolah tak bisa tertutup, sering kali membuat dirinya kewalahan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang adiknya itu lontarkan.
Aya berjalan ke sofa, memilih mendudukkan dirinya di sana sembari membaca buku favoritnya. Entah terbuat dari apa otak anak kecil itu, dirinya sangat suka membaca buku mitologi Yunani. Anissa dan Khrisna bahkan dibuat heran oleh putri sulungnya itu.
Berbeda dengan Ara, gadis itu tengah asik memainkan ekor cicak yang baru saja dia tangkap. Dengan tawa riangnya dia menggoyangkan cicak itu. Sadar atau tidak, kakaknya sedikit terusik dengan tawa itu.
Aya menutup buku di tangannya, dia melihat sang Adik tengah memainkan seekor cicak di pojok ruangan. Mata gadis itu melotot, dengan cepat dia menghampiri Ara.
"Hey, don't do it, Ara!" tegas Aya membuat Ara tersentak kaget.
__ADS_1
Secara tak sengaja cicak itu jatuh ke lantai, ia dengan cepat melarikan dirinya. Ara yang melihat itu sontak saja memasang wajah cemberut miliknya.
"Kenapa kamu mainin cicaknya?" tanya Aya dengan hati-hati.
"Habisna cicakna ucu," sahut Ara dengan pelan.
Dia menghela napas. "Ara boleh gemes sama cicaknya, tapi jangan dimainin. Inget, cicaknya juga ciptaan Tuhan. Ara mau Tuhan marah sama Ara?" jelas Aya dengan sabar.
"Ndak!" Gadis itu menggeleng dengan kerasnya.
"Bag—"
"Wih, ada apa, nih?" potong sebuah suara yang asalnya dari belakang mereka.
Aya menghembuskan napasnya, dia paling tak suka ada yang memotong ucapannya. Gadis kecil itu membalikkan badannya, dia memandang tak minat seseorang yang berada di hadapannya.
"Enggak sopan," sindir Aya lantas pergi.
"Wuu ... Om ndak sopan. Udah jelek, ndak sopan lagi," sambung Ara lantas berlari menyusul kakaknya.
"Sialan!"
Leon menggeram kesal. Tingkah dua anak kembar itu sering kali membuat kesabarannya hampir habis. Leon tentu kesal, tetapi dirinya menyayangi dua keponakannya itu.
Memilih mengalah, pria itu berjalan menghampiri ponakannya yang tengah duduk di sofa ruang keluarga. Dia menggelengkan kepalanya saat melihat Aya tengah asik membaca bukunya.
Curiga si Aya bukan manusia, ucap pria itu dalam hati.
"Aku anak Indonesia tubuhku kuat, kalena Ibu membeli sakatonik ABC." Nyanyian Ara itu membuat Leon terkekeh geli.
"Om! Belalti kalau ndak makan sakatonik ABC bukan anak Indonesia, ya?" tanya Ara pada Leon yang baru mendudukkan dirinya.
"Enggak gitu, Cantik," jawab Leon dengan gemasnya.
"Telus? Kan lagunya aku anak Indonesia tubuhku kuat, kalena Ibu membeli sakatonik ABC."
Iya juga, tapi, 'kan . . ., batin Leon kebingungan.
"Itu cuman lagu, Ra. Jangan dibawa serius," jelas Leon.
"Ala ndak serius, Ala, kan belum nikah.
Aya terkekeh dengan pelannya, dia melirik sekilas pada Leon yang tengah memejamkan matanya.
"Astaghfirullah, Bocil!"
...***...
Setelah menghabiskan beberapa jam di salon, akhirnya Alisha dan Nata usai sudah melakukan perawatan.
Kini, kedua perempuan itu melangkahkan kakinya menuju sebuah restoran yang berada di dalam mall itu. Namun, langkah keduanya harus terhenti saat seseorang perempuan menghadang jalan mereka.
"Loh Tante sama siapa?" tanya sosok itu.
"Dia Nata, calon mantu Tante," balas Alisha dengan ramahnya.
Sosok yang berdiri di hadapan mereka itu mengerutkan keningnya. Dia menatap Nata dengan pandangan menilai, lantas memasang raut wajah tak suka.
"Iyuh ... Kampungan. Masa iya keluarga Gautama calon mantunya kampungan? Masih juga cocok aku sama Darren," ucapnya dengan nada mengejek.
"Jaga ucapan kamu, Riana!" tegas Alisha menatap Riana tajam.
Bukannya takut, Riana justru terkekeh sinis. "Fakta," ucapnya dengan angkuh.
Alisha tak menyahuti, dia tak mau membuang waktunya. Asalkan orang itu tak sampai melukai keluarganya, Alisha tak akan bertindak. Tanpa bicara wanita itu menarik tangan Alisha untuk menjauh. Riana yang melihat itu memandang benci Nata.
"Liat aja, Darren hanya untuk aku."
__ADS_1