
Devan dibuat frustasi dengan permintaan istrinya yang tak masuk akal. Iya, Hima ngidam untuk pertama kalinya di kehamilan keduanya. Ngidam yang mampu membuat Devan kesal setengah mati.
Devan tak habis pikir dengan permintaan calon anaknya. Ia jadi curiga Hima mengerjai dirinya bukan ngidam sungguhan. Bagaimana bisa Hima ngidam mangga? Iya, itu memang tidak aneh, tapi mangga yang Hima maksud adalah mangga yang dicampur dengan sayur kangkung. Aneh, bukan?
"Belum lahir aja udah jadi beban," gerutu Devan kesal.
Saat ini, dirinya tengah berada di pasar untuk memenuhi keinginan istrinya. Terik matahari membuat pria itu terkadang mengeluh. Namun, Devan tak berniat untuk mengeluh. Dirinya akan melakukan apapun untuk calon anaknya.
"Mas, mau cari apa?" tanya seorang Ibu penjual pecel.
Ia mengaruk tengkuknya yang tak gatal. "Em ... a—anu, Bu. I—itu, saya mau cari sayur kangkung pake sambal pelecing campur mangga," ujar Devan tergagap.
Mata Ibu penjual pecel itu membulat sempurna. "Mangga sama sayur?" pekiknya.
Devan mengusap telinganya yang berdenging. Hima benar-benar membuat dirinya malu setengah mati. Ia memandang Ibu penjual tersebut dengan perasaan tak enak.
"Maaf, Bu. Kalau begitu saya permisi."
Devan melajukan mobilnya dengan perasaan kesal. Ke mana lagi ia harus mencari permintaan Hima dan calon anaknya? Sudah tiga jam pria itu memutari jalanan, tetapi sama sekali tak mendapat yang ia cari.
"Ck, tahu gini gak usah nambah anak lagi."
Helaan nafas yang entah sudah kesekian. Devan tak tahu lagi harus bagaimana, dirinya memilih melajukan mobilnya ke rumah Darren—sahabatnya. Mungkin saja Darren bisa membantu dirinya.
"Ke rumah si duda aja kali, ya," gumamnya.
Darren dibuat terheran dengan kehadiran Devan di rumahnya. Bukan tanpa alasan, tetapi Devan yang datang di waktu jam kerjanya. Jelas sangat aneh di matanya, mengingat Devan tidak akan keluyuran saat bekerja.
"Kesambet apaan?" Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari mulut Darren membuat Devan berdecak kesal.
"Ck, bini gua ngidam."
"Eh, buset! Jadi pake 'lu-gua' lo aki-aki," ujar Darren pura-pura terkejut.
Devan berdecak kesal. Sahabatnya ini memang tak pernah tahu situasi, apa Darren tak melihat wajah lelahnya? Ingin sekali rasanya Devan membuat Darren ke sumur. Namun, dia tak tega melihat Cellyn jika bersedih nantinya.
__ADS_1
"Kenapa? Bini lu ngidam apa?"
"Aslinya, lebih kece ngomong kek gini ternyata," lanjut Darren sedikit narsis.
"Mangga." Devan dengan cepat memotong ucapan Devan.
"Cuman mangga? Kok kek tertekan gini mukanya? Lu gak diminta colong mangga tetangga, 'kan?"
"Ck, dengerin dulu! Mangga dicampur sayur kangkung pake sambil pelecing," ujar Devan.
"Woanjir, belum lahir aja udah jadi beban," celos Darren.
Baru saja Devan ingin menjawab, tetapi terpotong karena Cellyn baru memasuki rumah. Mereka secara refleks mengalihkan atensinya pada Cellyn. Dapat mereka lihat wajah lesu Cellyn.
Cellyn memang baru saja pulang dari rumah sakit. Mengingat hari ini dirinya tak punya banyak pasien jadilah dirinya pulang lebih awal. Dirinya berniat untuk segera beristirahat, tetapi sepertinya harus batal, karena dia melihat Devan ada di rumahnya.
"Kok udah pulang, Sayang?" tanya Darren.
"Gak ada banyak pasien, Pa."
...***...
Nata bangkit dari kasurnya, perempuan itu berjalan menuju dapurnya. Minggu siang sangat enak digunakan untuk makan mi sembari menonton televisi. Dengan senyum di wajahnya, perempuan itu mulai menyiapkan bahan-bahannya. Dia bersenandung kecil, entahlah hari ini ini dirinya merasa bahagia.
"Nikah juga cocok kayaknya aku," gumamnya sembari memotong bawang.
Nata menyelesaikan masakannya dengan cepat. Kemudian dibawanya masakannya ke meja makan. Perempuan itu tersenyum dengan senangnya, dirinya lantas segera mendudukkan diri di kursi. Dia makan dengan lahap, raut wajahnya bahkan sangat terlihat tengah menikmati masakannya.
"Nikmatilah hidupmu sebelum kamu besok ketemu bosmu, Nat."
Setelah selesai dengan kegiatan makannya, Nata segera membereskan piring-piringnya. Dirinya kembali ke kamar, karena ingin menonton televisi. Namun dirinya justru dikejutkan dengan kehadiran Yesha di kamarnya. Dia mempercepat langkahnya lantas duduk di samping perempuan itu.
"Loh sejak kapan di sini?"
"Sejak kamu makan mi," cetus Yesha.
__ADS_1
Nata yang mendengar itu hanya bisa memamerkan deretan gigi putihnya. Dia memeluk Yesha dengan cukup erat membuat sahabatnya itu sedikit kesulitan bernafas, tetapi diabaikan begitu saja oleh Yesha. Dirinya sudah biasa dengan tingkah manja Nata ataupun Alika.
"Tumben ke sini, Alika mana?" tanya Nata dengan tangan yang masih memeluk sahabatnya.
"Akhir-akhir ini ada selalu ngirim bunga ke aku. Alika pergi ke Swiss selama dua hari untuk urusan bisnis." Yesha menghembuskan nafasnya kasar.
Alis Nata menyatu. "Penggagum rahasia maksud kamu?"
Yesha tak menjawab, perempuan itu hanya menghela nafasnya. Jujur, dia risih dengan orang yang selalu mengirimi dirinya bunga. Risih dengan setiap bunga yang selalu datang kepadanya.
"Entah."
...***...
Malam ini, Devan dan Darren memutuskan makan malam bersama keluarga mereka. Mereka memutuskan bertemu di salah satu restoran milik Darren. Sudah lama mereka tak kumpul bersama, hal inilah yang menjadi alasan mereka memilih untuk makan bersama.
Darren sengaja memesan ruangan privat untuk acara mereka. Ia hanya ingin ada dirinya, Cellyn, dan keluarga sahabatnya. Anggap saja mereka tengah melakukan reuni.
Cellyn sendiri sedari tadi hanya diam memandang Yana yang asik duduk di pangkuan Devan. Dia ingat betul, dulu dirinyalah yang duduk di sana. Dia yang selalu memeluk erat leher Devan, dan sekarang Yana melakukan hal sama seperti yang dulu dia lakukan.
Tanpa ia sadari, Hima sedari tadi menatap dirinya. Hima merasa was-was dengan sikap Cellyn yang terus memperhatikan suaminya, bukan tanpa alasan ia hanya takut. Rasa takutnya sebagai seorang istri sangat wajar. Dirinya takut jika suaminya akan berpaling.
Hima tahu betul Cellyn jauh lebih cantik darinya. Tak hanya cantik saja, bahkan Cellyn seorang Dokter. Dari segi manapun Hima akan kalah jika berhadapan dengan Cellyn.
"Ayo, makan."
Intruksi dari Darren membuat Cellyn dan Hima sama-sama tersentak. Keduanya langsung mengalihkan perhatian mereka pada pelayan yang tengah menyajikan makan malam mereka. Hima menunduk, dirinya tak tahu harus bagaimana melawan rasa takutnya.
"Tante kenapa?" tanya Cellyn heran.
Hima mendongak lantas menggeleng pelan. "Gak papa," sahutnya diiringi senyum manis khas Hima.
Darren yang mendengar itu menoleh menatap istrinya. "Kamu kenapa, Sayang?" tanya Darren lembut.
Cellyn yang mendengar itu memalingkan wajahnya. Entahlah dia seakan tak rela jika seseorang yang dulu selalu menaruh perhatian dengannya kini menaruh perhatian pada orang lain. Aneh? Cellyn bahkan tak paham dengan apa yang dirinya rasakan, perasaan tak rela yang membuat dirinya bingung.
__ADS_1
"Kamu kenapa, Cell?"