Gadis Muda Untuk Pak Duda

Gadis Muda Untuk Pak Duda
Makam Elena


__ADS_3

Seperti biasa, akhir bulan adalah hari dimana seorang Darren Gautama pergi ke makam istrinya— Elena Gautama. Sosok wanita yang sudah memberikannya putri secantik dan sebaik Cellyn. Tanggal 28 merupakan tanggal dimana Elena menghembuskan nafas terakhirnya, tepat saat itu adalah ulang tahun pernikahan mereka yang ke- 5 tahun.


Darren sangat mencintai sosok Elena. Dirinya mengenal Elena sejak SMA, dirinya mengagumi Elena tidak hanya paras, tetapi juga hati Elena. Kisah percintaan mereka cukup rumit, karena orang tua Elena tak pernah merestui keduanya. Hingga pada akhirnya Darren berhasil meluluhkan hati orang tua Elena, tetapi hal itu justru tak berlangsung lama.


Elena Gautama, sosok malaikat bagi Darren dan Cellyn. Keduanya sangat menyayangi wanita itu, kematian Elena menjadi luka terbesar keduanya. Elena, sosok wanita cantik, cerdas, lemah lembut, tetapi sedikit keras kepala. Dia menjadi benteng terkuat bagi keluarganya, kelemahan keluarganya.


Sosok Ibu yang tegas dan penyayang. Cellyn selalu dididik menjadi wanita yang kuat semasa kecil, dan terbukti sekarang Cellyn menjadi wanita hebat. Sifat Elena menurun pada Cellyn, terutama kebiasaan Elena dalam menghirup aroma teh.


Kematian Elena dikarenakan tumor otak yang dideritanya. dirinya menderita tumor otak sejak Cellyn berusia 3 tahun. Dua tahun perjuangannya bertahan, dua tahun dirinya menahan sakit demi keluarganya. Namun, Tuhan berkehendak lain, tepat saat pernikahannya yang kelima tahun dirinya meninggal. Elena ditemukan sudah tak bernyawa di kamar mandi miliknya.


Peristiwa itu tentu menimbulkan luka yang sulit untuk disembuhkan, terutama bagi Cellyn yang masih sangat membutuhkan figur seorang Ibu. Mental Cellyn terguncang saat itu, dirinya menjadi sosok pendiam dan suka mengurung diri di kamar. Hal itu tentu membuat Darren khawatir dan pada akhirnya memutuskan membawa Cellyn ke Psikiater.


Di sinilah Darren sekarang, makam istrinya. Cellyn bahkan tak tahu kebiasaan ayahnya ini. Dirinya hanya tahu Darren mengunjungi makam itu saat akhir tahun saja. Darren hanya tak mau anaknya tahu luka yang dia rasakan belum sembuh. Dia tak mau Cellyn khawatir nantinya.


Darren mengelus dengan lembut batu nisan Elena, air matanya menetes secara perlahan. Inilah sisi lemah seorang Darren Gautama, Elena adalah kelemahan terbesarnya. Kehilangan Elena adalah satu hal yang paling dirinya takuti.


"Hai, Sayang. Apa kabar, heem? Aku rindu sama kamu, El. Aku kangen masakan kamu. Sembilan belas tahun udah berlalu, El. Dan, kamu masih betah ada di sana."


Darren dan Elena menikah di usia mereka yang baru menginjak 18 tahun. Pernikahan dini yang mengajarkan mereka arti perjuangan itu. Jatuh bangun mereka hadapi dalam pernikahan dini.


"El, sekarang Cellyn udah besar. Suatu saat nanti dia bakal nikah, El. Bakal ninggalin aku sendiri, aku gak rela. Boleh, El? Aku gak rela Cellyn ada di tangan pria lain, tapi itu udah takdir. Hahaha .... nanti aku menua sendiri, Cellyn pasti sibuk sama keluarganya. Kamu tahu? Semakin dia dewasa, semakin dia mirip sama kamu. Cellyn selalu berhasil bikin aku rindu kamu, El," lanjut Darren dengan air mata yang tak bisa dia bendung lagi.


Dia mengecup batu nisan Elena lama. "Aku pulang dulu, ya. Nanti aku ke sini lagi. Happy anniversary, Baby."


...***...

__ADS_1


Refan mendesah kecewa. Niatnya ingin membelikan batagor kesukaan sang Ibu harus kandas begitu saja, karena penjual batagornya tutup. Refan menghela nafasnya lantas menjalankan mobilnya untuk kembali ke rumah. Dengan wajah lesunya, dirinya memasuki rumahnya. Niat hati ingin membuat Diana senang justru hanya menjadi angan-angan.


Diana yang melihat sang Anak memasuki rumah dengan wajah lesu, mengerutkan keningnya. Wanita itu berjalan mendekati Refan dengan tatapan yang terus tertuju pada anaknya. Refan yang melihat ibunya berjalan mendekati dirinya kembali menghela nafasnya kasar. Pria merasa kecewa dengan dirinya sendiri.


"Kamu kenapa?" tanya Diana sembari mengusap lembut surai sang Anak.


Refan enggan untuk menjawab pertanyaan sang Ibu, pria itu memilih untuk memeluk Diana cukup erat. Sedangkan, wanita itu hanya tersenyum tipis melihat kelakuan manja Anak semata wayangnya. Anaknya itu memang terkenal cuek di luar sana, tetapi saat sudah berada di dalam rumah, dia justru terlihat seperti Anak kecil.


Diana mengusap lembut surai Refan membuat pria itu semakin nyaman berada dalam pelukan sang Ibu. Walau usianya sudah memasuki kepala tiga, tetapi sikap manjanya pada Diana tak juga hilang. Dirinya bahkan tak bisa jauh dari sosok sang Ibu.


"Refan sayang banget sama Ibu," cetusnya.


Dia tersenyum. "Ibu juga. Kalau kamu sayang sama Ibu terus kapan kasih Ibu mantu?" gurau Diana.


"Tau ah, malas sama Ibu!"


...***...


Siang ini, ketiga perempuan cantik dan hebat tengah berada di salah satu kafe. Ketiganya memutuskan untuk makan siang bersama, kegiatan rutin setiap akhir bulan. Tempat yang mereka datangi tentu bukan tempat mahal, tetapi tempat sederhana dengan pemandangan yang indah. Iya, saat ini mereka tengah berada di Bandung.


Setiap akhir bulan, ketiganya akan menghabiskan waktu untuk liburan. Mereka akan menghabiskan waktu untuk menghilangkan penat mereka setelah satu bulan beraktivitas. Mereka tak ingin menjadi setres karena tuntutan pekerjaan.


Dia menatap sahabatnya. "Kayaknya nanti kita nginep di villa aja," ucap Alika.


"Villa orang tua kamu?" tanya Nata.

__ADS_1


"Iya. Enggak apa-apa?"


"Enggak," cetus Yesha.


Mereka kembali hening saat makanan yang mereka pesan sudah diantarkan. Mereka makan malam diam, hal itu sudah mereka terapkan sejak lama. Ketiganya terbiasa makan tanpa bersuara.


Selang beberapa menit, ketiganya telah menghabiskan makanannya. Mereka menghela nafas lega lantas menyadarkan tubuhnya di kursi. Perut mereka sudah penuh oleh makanan, sekarang saatnya mereka melanjutkan perjalanannya.


Di dalam perjalanan hanya ada keheningan,


karena Alika sudah tertidur. Tersisa Yesha yang tengah menyetir mobil dan Nata yang menatap jalanan. Mereka sama-sama asik dengan kegiatan mereka, berbeda dengan Alika yang sudah memasuki alam bawah sadarnya.


"Nyenyak banget tidurnya," celetuk Yesha saat dirinya tak sengaja melihat Alika tertidur dari kaca mobilnya.


Nata menoleh ke belakang. "Kecapekan mungkin, biarin aja."


Yesha mengganguk singkat sebagai jawaban. Dirinya kembali fokus pada jalan yang di depannya. Perempuan dengan ciri khas dingin itu memang tak akan banyak bicara, baginya sangat membuang tenaga berbicara terlalu banyak. Untuk sesaat dia menoleh ke arah Nata, dapat dia lihat Nata tengah asik memandang jalanan.


"Bos kamu duda?" tanya Yesha.


Nata mengalihkan pandangannya ke Yesha. "Duda? Entah."


"Bisa-bisanya kamu enggak tahu. Kamu suka dia?"


"Enggak!"

__ADS_1


__ADS_2