Gadis Muda Untuk Pak Duda

Gadis Muda Untuk Pak Duda
Jangan Cemburu


__ADS_3

Seorang perempuan berjalan memasuki kantor milik Darren. Perempuan dengan pakaian terbuka dan mewah itu mengabaikan seluruh orang yang menatapnya. Dirinya memang sering mengunjungi perusahaan milik Darren itu.


Dengan santai dirinya melangkah menuju ruangan Darren. Senyum tak luntur dari wajahnya, dia memasuki ruangan Darren begitu saja. Sedangkan, Nata yang melihat itu hanya mampu menyatukan alisnya. Dirinya kurang nyaman dengan kelakuan perempuan itu.


"Dia siapa sih?" gumam Nata.


Sedangkan di ruangan Darren, perempuan itu tengah bergelayut manja di lengan pria itu. Berulang kali Darren menghela nafasnya kasar, dia sangat berharap perempuan itu segera meninggalkan dirinya. Berulang kali Darren mencoba melepaskan tangan perempuan itu, tetapi perempuan itu justru kembali mengalungi lengannya.


Perempuan itu memperhatikan Darren dengan senyum yang mengembang. Dengan sengaja dirinya membelai dada bidang milik itu, tetapi tangannya langsung ditepis oleh Darren. Perempuan itu tak juga menyerah, dia masih berusaha menggoda duda Anak satu itu.


"Bisakah kamu menjauh?" cetus Darren.


"Enggak," sahutnya manja.


Darren menghela nafas. "Menjauh dari saya, Riana Dxya."


Mendengar nama lengkapnya disebutkan oleh Darren, perempuan itu segera menjauh dari Darren. Sejujurnya, dia sangat tidak rela jika diminta menjauhi Darren walau hanya sesaat. Perempuan itu merenggut kesal, dirinya dengan sengaja menghentakkan kakinya. Namun, sayangnya Darren justru tak peduli.


Riana Dxya, seorang perempuan yang merupakan teman lama Darren semasa kuliah dulu. Perempuan itu memang sudah biasa datang ke kantor Darren tanpa izin. Apa dia memiliki perasaan lebih? Tentu saja jawabannya adalah iya. Riana menaruh harapan besar agar bisa menjadi Nyonya Gautama.


"Kamu gak kangen aku gitu, Ren?" tanya dengan suara yang dilembutkan.


"Enggak! Mending kamu pulang, aku sibuk," celos Darren.


Riana mendelik. "Ih! Aku udah lama loh gak main ke sini sejak pindah ke Swiss," ujarnya.


"Kamu pikir aku peduli?"


Cup!


Tepat saat bibir Riana mendarat di pipi kiri Darren, Nata membuka pintu ruangan Darren. Perempuan yang menyandang status sebagai Sekretaris Darren itu dibuat terkejut. Mata perempuan itu membulat sempurna, berkas yang berada di tangannya terjatuh begitu saja. Tanpa sepatah kata pun, Nata keluar dari ruangan Darren.

__ADS_1


Riana dan Darren dibuat terkejut dengan kehadiran Nata tiba-tiba, terutama Darren. Pria itu segera bangkit dari duduknya saat melihat Nata memilih keluar dari ruangannya. Pria itu bahkan mengabaikan teriakan Riana yang sedari tadi memanggil namanya.


"Arrggghhhh! Sialan! Siapa sih tuh cewek?!" pekik Riana sembari menjambak rambutnya.


Sedangkan, di sisi lain, Darren tengah mengacak rambutnya frustasi saat melihat Nata tak ada di mejanya. Dirinya menghela nafasnya kasar sebelum akhirnya berjalan keluar kantor. Matanya sibuk mencari keberadaan sekretarisnya itu. Saat sudah di parkiran, dapat dia lihat jika Nata tengah menghidupkan sepeda motornya. Dengan cepat pria itu berlari dan setelah tiba di dekat Nata, dia segera menarik Nata menuju mobilnya.


Darren mendorong Nata masuk ke dalam mobilnya. Pria itu segera mengemudikan mobilnya menjauh dari kantornya. Tujuannya saat ini adalah apartemen miliknya. Sesekali pria itu menoleh ke arah Nata.


Sedangkan, Nata dibuat terkejut dengan kelakuan Darren. Dirinya tak habis pikir dengan Darren yang tiba-tiba saja menariknya menuju mobil pria itu. Perempuan itu bahkan memandang Darren tajam, tetapi diabaikan oleh pria itu.


"Bapak apa-apaan sih?!" sentak Nata marah.


"Diem!" Mendengar nada dingin yang keluar dari mulut Darren membuat Nata langsung terdiam. Perempuan itu memalingkan wajahnya ke arah lain merasa kesal dengan Darren. Dirinya bahkan tahu mengapa dia bisa semarah ini dengan Darren.


Setibanya di apartemen milik pria itu, Darren segera menarik Nata untuk masuk ke apartemennya. Nata memandang sekitar dengan heran, dirinya tak paham mengapa Darren justru membawanya kemari. Perasaan takut tiba-tiba saja menghampiri dirinya saat Darren menariknya masuk ke salah satu kamar.


Saat ini, keduanya saling berhadapan dengan Darren yang tengah melipat tangannya di depan dada. Sedangkan, Nata tengah memandang sekitar dengan was-was. Dirinya takut jika Darren akan berbuat hal di luar batas padanya.


"Kenapa kamu tiba-tiba pergi, heem?" Bukannya bertanya, Darren justru balik bertanya.


Nata menatap Darren heran. "Pergi?"


Raut wajah perempuan itu berubah seketika saat paham maksud dari atasannya itu. Dia memandang Darren dengan sinis, entahlah dia kesal saat melihat banyaknya perempuan yang mendekati bosnya itu. Namun, Nata masih tak juga paham dengan perasaannya sendiri.


Darren dibuat keheranan dengan perubahan raut wajah Nata. Tanpa bicara, dirinya memeluk erat pinggang Nata membuat tubuhnya dan Nata menempel. Sedangkan, Nata dibuat terkejut dengan perbuatan Darren. Dirinya berusaha untuk melepaskan pelukan Darren pada pinggangnya, tetapi Darren justru semakin mengeratkannya.


"Kamu kenapa, heem?" tanya Darren sekali lagi.


"Enggak tau!" sahutnya ketus sembari memalingkan wajahnya.


Sadar atau tidak, kelakuan Nata saat ini persis seperti seorang kekasih yang tengah marah. Kelakuannya itu membuat Darren gemas sendiri, pria itu dengan sengaja menarik Nata ke dalam pelukannya. Tangannya terulur mengusap lembut surai indah milik Nata.

__ADS_1


"Cemburu dengan Riana?" tanya Darren spontan.


Nata mendongakkan kepalanya. "Oh, Riana toh namanya," ujarnya dingin.


Darren terkekeh, jemarinya dengan gemas mencubit hidung Nata lantas menggigitnya pelan. "Gemes," cetusnya.


"Sakit ih!" pekik Nata kesal.


Darren terkekeh pelan. Dirinya mengendong Nata lantas membawanya ke sofa. Pria itu mendudukkan dirinya dengan Nata yang berada di pangkuannya. Darren memeluk erat pinggang Nata sembari menenggelamkan wajahnya pada dada milik Nata.


Perempuan itu terdiam, tubuhnya membeku. Aroma maskulin yang berasal dari parfum milik Darren membuat jantung berdebar hebat. Belum lagi saat ini atasannya itu tengah menenggelamkan wajahnya di dadanya. Nata sangat berharap Darren tak akan mendengar debaran jantungnya.


"Pp—pak," ujarnya gugup.


"Heem?" sahut Darren. Pria merasa tenang saat berada di posisinya saat ini. Dirinya memejamkan matanya erat, aroma mawar yang menguar dari tubuh Nata benar-benar membuatnya tenang.


"Kamu cemburu?" ucap Darren dengan suara teredam.


"Enggak! Siapa bilang?!" sahut Nata ketus.


Darren terkekeh lantas menjauhkan wajahnya dari dada Nata. Dirinya memandang wajah Nata dengan lembut, jemarinya mengusap lembut wajah perempuan itu. Tatapannya terhenti di bibir ranum milik Nata. Jemarinya mengusap bibir ranum milik perempuan itu dengan lembut.


Cup!


Nata melototkan matanya saat merasakan Darren memberikan kecupan pada bibirnya. Perempuan itu menatap Darren yang kini tengah memasang senyum manisnya. Bukannya jantungnya semakin tenang justru semakin menggila karena ulah bosnya itu.


Mama! Anakmu baper huaaaaaaa! batin Nata.


"Jangan cemburu lagi ya?" Nata terpaku dengan suara lembut dan tatapan lembut yang Darren berikan padanya.


"Iya."

__ADS_1


__ADS_2