Gadis Muda Untuk Pak Duda

Gadis Muda Untuk Pak Duda
Devan Penggangu!


__ADS_3

Yesha memeluk sang Ibu dari samping dengan cukup erat. Perempuan itu meletakkan kepalanya di bahu sang Ibu, dia tengah memperhatikan sang Ibu yang tengah membuat adonan kue.


Sedangkan, Wina hanya mengulas senyum manis melihat kelakuan manja sang Anak. Tangan kirinya terangkat guna mengelus rambut sang Anak dengan lembut. Dirinya sebenarnya sedikit susah untuk bergerak, tetapi dia sangat tahu anaknya tengah manja sekarang.


Yesha memejamkan matanya merasakan elusan lembut dari tangan wanita yang paling dirinya sayangi. Perasaan aman, nyaman, dan tenang itu selalu menyatu saat dia memeluk sang Ibu. Yesha membuka matanya lantas mencium singkat pipi sang Ibu, dia melepaskan pelukannya. Memilih untuk memperhatikan sang Ibu yang tengah membuat adonan kue.


"Mama mau bikin kue apa?" tanya Yesha sembari memainkan garam yang ada di meja.


"Kue kering, Sayang. Buat cemilan kamu, biar kamu gak jajan di luar terus." Wanita itu menjawab pertanyaan sang Anak tanpa menoleh sama sekali, dirinya fokus mengaduk bahan kue.


"Sayang, tolong beli susu full cream sama gula ya. Boleh?" Wina menoleh menatap sang Putri dengan senyum manis di wajahnya.


"Tentu boleh, apa pun untuk Mama kesayangan aku." Yesha mencium kembali pipi sang Ibu lantas berjalan menuju kamarnya untuk mengambil kunci mobil.


"Makasih cantiknya Mama."


Yesha menjalankan mobilnya menuju minimarket yang letaknya tak jauh dari rumahnya. Hari ini, dia berniat akan menghabiskan waktu dengan sang Ibu dikarenakan dia tengah luang. Hal itu selalu dia lakukan saat kesibukannya telah usai, dia tak mau sang Ibu merasakan kesepian.


Setibanya di minimarket, Yesha segera mengambil barang yang menjadi pesanan sang Ibu. Tidak hanya barang yang menjadi pesanan ibunya, tetapi juga beberapa kebutuhannya. Perempuan itu juga membeli beberapa cemilan yang rencananya akan dia makan saat nonton televisi nanti. Yesha bahkan membeli cukup banyak susu kotak, mengingat dia merupakan pecinta susu kontak.


Setelah semuanya dirasa cukup, perempuan itu berjalan menuju kasir. Namun, langkahnya harus terhenti karena tangannya ditahan oleh seseorang. Yesha membalikkan tubuhnya, tatapan matanya berubah menjadi dingin begitu juga raut wajahnya yang berubah menjadi tak bersahabat.


"Lepas!" sentak Yesha.


"Hehe ... Jangan marah-marah dong, Cantik. Kalau kamu marah-marah nanti cantiknya ilang loh," cetus pria itu tanpa tahu malunya.


"Lepaskan saya, Tuan!" Suara yang dikeluarkan Yesha lebih dingin dari sebelumnya. Perempuan itu dengan sengaja memutar tangannya membuat tangan pria yang memegangnya terpelintir.

__ADS_1


"Aawwwssss! Iya-iya dilepasin." Dia memejamkan matanya saat merasakan sakit pada pergelangan tangannya.


"Makanya Om Leon jangan suka goda cewe. Keponakan Om itu cewek semua," cetus Aya dengan kesal.


Leon yang mendengar ucapan sang keponakan lantas menghela nafasnya kasar. Dia beralih memandang Yesha yang telah berjalan menjauhi dirinya, senyum culas terukir di wajah tampannya. Aya dan Ara yang melihat itu hanya bisa menghembuskan nafasnya.


"Menarik," gumam Leon dengan seringainya.


"Emang Om yakin bisa luluhin hati itu Tante?" celetuk Aya dengan wajah sinisnya.


Leon menggeram kesal melihat raut wajah Aya. Dia tak paham, mengapa keponakannya yang satu ini sangat julid. Bahkan otak dan gaya bicaranya persis orang dewasa, apa membaca buku terlalu banyak membuat Anak kecil tumbuh dewasa sebelum waktunya?


"Mukana Om tayak nahan bokel," celetuk Ara yang sedari tadi diam.


"Ponakan arggghhhh ... Gini banget Kakak gua punya Anak."


***


Darren yang melihat Nata terdiam lantas menatapnya sesaat. Dirinya mengulurkan tangannya yang berisikan sendok ke depan mulut Nata. Perempuan itu terkejut saat melihat ada sendok di depan mulutnya. Dia memandang Darren heran, degup jantungnya berdetak tak beraturan karena ulah atasannya itu.


"Makan!" titah Darren dengan suara dinginnya itu.


Mau tidak mau Nata harus membuka mulutnya. Dia memejamkan matanya saat sendok yang berada di tangan Darren masuk ke mulutnya. Perempuan yang saat ini duduk di hadapan Darren berusaha mati-matian agar tak menunjukkan sikap salah tingkahnya. Jemarinya bertaut untuk menetralisir rasa gugupnya. Nata semakin terkejut saat jemari Darren mengusap sudut bibirnya dengan lembut.


"Makan yang bener."


Ya Tuhan! Gak kuat! batin Nata.

__ADS_1


Perempuan itu menunduk guna menyembunyikan wajahnya yang bersemu. Degup jantungnya semakin menggila, jemarinya semakin kuat meremas. Berulang kali Nata menarik dan menghembuskan nafasnya guna menenangkan dirinya.


Darren menyatukan alisnya saat melihat tingkah Nata. Tangannya terulur menyentuh kening perempuan itu, yang sialnya semakin membuat Nata salah tingkah. Pria itu memandang Nata khawatir, perempuan di hadapannya ini tidak tengah sakit.


Terus dia kenapa? batin Darren.


"Oh gitu, sekarang mainnya sama Sekretaris sendiri."


Darren dan Nata terkejut mendengar suara tersebut. Dengan cepat Nata menoleh ke belakang. Sedangkan, Darren berdecak kesal melihat kelakuan sahabatnya. Dia memandang Devan dengan malas.


Devan yang dipandang oleh Darren hanya membalas dengan senyuman menggoda. Kakinya melangkah mendekati dua pasang manusia itu. Dirinya melirik Nata yang masih nampak salah tingkah, Devan terkekeh geli dibuatnya. Perempuan itu sangat menggemaskan pantas saja Darren terpikat.


Devan menepuk pundak Darren saat dirinya sudah berada di hadapan Darren. Senyum menggoda yang diberikan Devan justru semakin membuat Darren kesal. Pria itu berdecak kesal, dia melirik Nata yang tengah menundukkan kepalanya malu.


"Jadi ini alasan lu nolak ajakan gua buat makan siang bareng?" ucap Devan sembari menaik turunkan alisnya.


"Enggak." Devan mencibir mendengar jawaban sang sahabat. Tatapannya beralih pada tempat makan Darren, dirinya yakin itu pasti dari Cellyn. Yang menjadi pertanyaan Devan adalah keberadaan Sekretaris sahabatnya di ruangan Darren.


"Enggak salah lagi, 'kan? Sepiring berdua heh?" Senyum licik terbit di wajah pria dengan satu Anak itu.


Nata yang sudah tak betah ada di ruangan Darren berniat untuk kembali ke mejanya, tetapi Darren justru melarangnya. Perempuan itu sedikit tidak nyaman dengan rentetan pertanyaan yang dikeluarkan oleh sahabat atasannya itu. Dirinya seolah tengah introgasi sekarang.


"Pak, saya mau ke meja saya. Perm—"


"Jangan! Kamu diem di sini," potong Darren.


Melihat Nata yang sudah kembali duduk, kini tatapan Darren beralih pada Devan. Pria itu memandang sahabatnya dengan tajam yang justru dibalas senyuman mengejek oleh Devan. Tangan Darren terkepal kuat, dirinya berusaha menahan diri agar tidak memukuli wajah sahabatnya itu.

__ADS_1


"Ngapain lu ke sini?" tanya Darren dengan ketus.


"Oh gak boleh? Atau takut kepergok lagi fall in love sama sekretaris sendiri?" Devan menaikkan satu alisnya sembari menatap Darren.


__ADS_2