Gadis Muda Untuk Pak Duda

Gadis Muda Untuk Pak Duda
Devan & Cellyn


__ADS_3

"Kamu apa kabar?"


"Baik."


"Maafin saya, Cellyn."


Perempuan itu memandang Devan dengan tatapan yang sulit diartikan. Dirinya tak menjawab permintaan maaf Devan, dia hanya merespons dengan anggukan singkat. Dirinya enggan untuk terlalu banyak bicara, apalagi sejak Hima memergoki mereka, perempuan itu menjadi enggan untuk berbicara dengan Devan.


Iya, sudah seminggu setelah kejadian itu. Darren yang sudah tak marah lagi dengannya, karena Alisha sudah menjelaskan semuanya pada Darren. Namun, perempuan itu tak tahu bagaimana kabar pernikahan Devan dan Hima. Setelah kejadian itu, Cellyn memilih menjauh dari keluarga milik Devan. Setelah seminggu menjauh, Devan justru mengajaknya bertemu di salah satu restoran. Mau tak mau, Cellyn harus mau.


"Hima meminta cerai." Cellyn yang mendengar itu langsung menatap Devan. Dirinya merasa bersalah pada Devan, seharusnya dia tidak memberikan respons baik terhadap perbuatan Devan. Dia menghela napasnya dalam-dalam lantas menghembuskannya.


"Maaf," cetusnya.


Devan menggeleng pelan. "Ini bukan salah, tapi murni salah saya. Nafsu membutakan saya saat itu," balas Devan dengan senyum yang Cellyn artikan sebagai senyum penuh luka.


"Tapi aku respons Om, sama aja aku salah." Perempuan itu menunduk dalam, dia tengah dirundung oleh rasa bersalahnya.


Devan mengusap surai Cellyn dengan lembut, perbuatannya itu tentu mengundang respons tak santai dari tubuh Cellyn. Munafik jika rasa itu telah hilang dari hatinya, munafik jika dirinya telah melupakan Devan. Tidak semudah itu untuk melupakan Devan, dirinya bahkan sering dihantui rasa rindu setiap malam.


"Gimana sama yang neror kamu?" tanya Devan mencoba mengalihkan pikiran Cellyn.


"Udah ketangkep." Dia menghembuskan napasnya kasar, "Ternyata dalang dari pelaku ini Kakek aku sendiri," sambung Cellyn sembari memandang lurus.


"Jangan membencinya, Cell. Bagaimanapun dia itu Kakek kamu. Seburuk apa pun sikap dia, dia tetap keluarga kamu. Suatu saat dia pasti sadar akan perbuatan buruknya," pesan Devan.


"Aku hanya kecewa, tidak lebih."


...***...


Saat ini Nata dan Alika sedang berada di kamar milik Yesha. Mereka bertiga memutuskan untuk berkumpul karena hari ini tengah tanggal merah. Dikarenakan kesibukan ketiganya, mereka menjadi jarak bertemu. Oleh karena itu, kesempatan saat ada waktu tak pernah mereka lewatkan untuk berkumpul bersama.


Nata tengah asyik dengan novel milik Yesha, Alika tengah sibuk dengan drama China favoritnya, dan si pemilik kamar tengah sibuk dengan cat kuku miliknya. Mereka sama-sama sibuk dengan dunia mereka, tetapi sebelum itu ketiganya sempat bercanda bersama. Dikarenakan mereka lelah, mereka memutuskan untuk beristirahat.


Dering ponsel milik Nata membuat atensi mereka teralih pada benda pipih yang berada di nakas. Tangannya dengan cepat mengambil benda tersebut, keningnya berkerut karena membaca nama yang tertera di layar ponselnya. Nata segera membuka pesan yang dikirimkan untuknya itu.


Pak Bos:


[Kamu di mana? Saya ingin bertemu.]

__ADS_1


Cellyn menghela napas sebelum akhirnya menjawab pesan dari bosnya itu.


^^^Anda:^^^


^^^[Di bumi, Pak. Kenapa? Bapak mau ke bumi?]^^^


Pak Bos:


[Saya serius, Natalia Defana.]


Nata yakin atasannya itu pasti tengah kesal di sebrang sana. Sebenarnya, dirinya sangat jarang berani membalas pesan Darren dengan candaan. Dia tahu jika Darren sampai mencarinya berarti itu urusan pekerjaan. Namun, entahlah dirinya tak tahu mengapa dia melakukan itu sekarang.


^^^Anda:^^^


^^^[Rumah temen, Pak. Kenapa? Ada hal penting.]^^^


^^^Pak Bos:^^^


^^^[Saya ke sana.]^^^


Mata perempuan itu membulat sempurna kala membaca pesan dari Darren. Dirinya melempar handphone miliknya ke kasur lantas menjambak rambutnya. Sahabatnya yang melihat itu menatap Nata dengan heran, ditambah raut khawatir milik Nata membuat mereka semakin bertanya. Mereka penasaran dengan siapa yang menghubungi Nata sehingga perempuan itu tampak frustasi sekarang.


"Kenapa? Siapa yang chat?" tanya Alika.


"Terus kok jadi lemas?" sambung Yesha heran.


"Dia mau ke sini," balas Nata dengan lemas.


Yesha dan Alika yang mendengar itu saling pandang. Keduanya kompak memberikan kode seolah saling berbicara melalui batin. Keduanya berjalan menghampiri Nata yang tengah tertidur di kasur milik Yesha, mereka memposisikan dirinya di samping Nata.


"Ini kayaknya udah bukan bos dan bawahan," celetuk Alika sembari memegang dagunya seolah berpikir.


"Kamu gak ada hubungan sama duda hot itu, 'kan?" lanjut Alika memandang Nata serius.


Nata diam sejenak lantas menggeleng pelan. Dia memandang keduanya sahabatnya sejenak lalu menghembuskan napasnya kasar. "Aku juga enggak tahu."


"Loh? Kok git—"


"Mbak Nata dicari sama atasannya, nih!" Ucapan Yesha terpotong karena teriakan dari asisten rumah tangga miliknya.

__ADS_1


"Mampus."


"Cepet amat sampai dah."


"Setan, omongan gua dipotong."


Ucap mereka secara serempak.


"Ha? Mampus! Tau darimana dia alamat si Yesha?"


...***...


Vero memandang mantan istrinya dengan muak, dirinya merasa jijik dengan penampilan milik Laras. Laki-laki dengan paras tampannya itu sama sekali tak memiliki iba untuk mantan istrinya. Bahkan dengan teganya tak mau mengakui bayi yang berada di kandungan Laras. Dirinya sangat tahu jika bayi yang dikandung oleh Laras adalah anaknya, tetapi dirinya enggan untuk mengakui itu. Vero tentu masih ingat hanya dia yang merenggut mahkota milik Laras karena dia tengah mabuk kala itu.


"Kenapa saya harus bertemu dengan perempuan murahan seperti kamu ya?"


Laras yang mendengar itu menundukkan kepalanya. Dirinya datang ke rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan rutin ke Psikiater yang disarankan oleh Nisya dan Cellyn, tetapi siapa sangka dia akan bertemu mantan suaminya di sini. Tangannya terulur mengusap perutnya, dia tak mau anaknya mendengar ucapan tak pantas ayahnya itu. Dia memilih mengabaikan Vero dan melangkahkan kakinya, tetapi lelaki itu justru menariknya dengan kuat. Perbuatan Vero membuat Laras berada sangat dekat dengan dirinya hanya berjarak dua cm saja.


"Awss ...," ringis Laras karena Vero mencengkram tangannya.


"Oh, udah berani sekarang ya?! Orang ngomong itu dijawab, bego!" maki Vero.


"Eh, lupa! Perempuan murahan mana tau etika," ejek Vero dengan senyum mengejek yang dia lontarkan.


Laras yang mendengar itu hanya diam. Dia hanya berusaha untuk tak meneteskan air matanya, dirinya tak mau Vero melihat dia lemah. Laras sudah bertekad tidak akan menunjukkan kelemahannya di hadapan Vero. Dia yang tak sengaja menatap mata milik Vero dapat dengan jelas melihat kemarahan di sana, tetapi dia tidak tahu apa penyebabnya dan alasan kenapa Vero ada di sini.


"Le—lepas, Mas ...," lirih Laras.


"Ada apa itu?" teriak seseorang.


Laras menoleh ke samping. "Dokter Nisya," gumamnya dengan senyum lega.


Vero segera melepaskan cekalannya pada tangan laras. Dia memandang Nisya yang berjalan mendekati dirinya dan juga Laras. Vero sempat terpesona dengan Nisya yang sangat anggun, bahkan aura Nisya membuat pria itu merasa tertarik untuk mendekati Nisya.


"Kamu enggak papa?" tanya Nisya sembari mengecek tangan milik Laras.


"Enggak, Dok." Dia melirik mantan suaminya itu sekilas.


Dia memandang Vero tajam. "Begini kelakuan kamu sebagai laki-laki? Memperlakukan wanita layaknya hewan. Seharusnya kamu ingat, ibumu itu seorang perempuan. Apa nanti kamu akan terima jika anakmu diperlakukan seperti itu oleh pria lain?" tegas Nisya.

__ADS_1


"Cih."


Laras dan Nisya memandang Vero yang berjalan menjauhi mereka.


__ADS_2