Gadis Muda Untuk Pak Duda

Gadis Muda Untuk Pak Duda
Yesha Cemburu?


__ADS_3

"Maaf ya Mama mau sempet kunjungin kamu," ucap Dea sembari memeluk Nata dengan erat.


Nata hanya diam, wanita itu tak juga membalas pelukan sang Ibu. Dirinya masih merasakan asing saat berada di dekat orangtuanya. Mungkin karena selama ini dia jauh dari kedua orangtuanya.


Merasa tak mendapatkan balasan, Dea melepaskan pelukannya tersebut. Ada sesak yang mengunjungi hatinya, menyapa dengan hantaman yang begitu kuat. Dia menundukkan kepalanya, berusaha menahan bulir bening yang akan pecah tersebut.


Budian yang tahu istrinya tengah terluka segera merangkul pundak Dea. Pria paruh baya itu paham istrinya tengah kecewa dengan sikap putri mereka, tetapi jelas itu karena kesalahan mereka sendiri.


"Duduk dulu, Pa, Ma. Aku mau ke dapur dulu," ucap Nata lalu beranjak pergi dari sana.


Saat Budian dan Dea sudah mendudukkan dirinya di sofa, Alisha dan Thofid baru saja keluar dari kamarnya. Melihat kehadiran besannya, Alisha dengan cepat menghampiri keduanya. Berbanding terbalik dengan Thofid yang memilih pergi ke ruang kerjanya.


"Kamu temenin mereka, aku mau selesain kerjaan kemarin," titah Thofid yang diangguki oleh Alisha.


Setelah mencium kening Alisha, Thofid berlalu menuju ruang kerjanya. Sedangkan, Alisha melangkah menuju besannya. Senyuman manis tak luntur dari wajahnya yang mulai memperlihatkan garis-garis penuaan itu.


"Selamat pagi, Bu, Pak," sapa Alisha.


Mereka menatap Alisha terkejut lantas bangkit dari duduk mereka. "Pagi, Bu," sahut Budian dan Dea serempak.


Dia tersenyum manis. "Silakan duduk, Pak, Bu," pinta Alisha.


Dea dan Budian kembali mendudukkan dirinya diikuti oleh Alisha. Mereka berbincang bersama, tak lama dari itu Nata datang dengan nampan di tangannya. Alisha yang melihat itu segera bangkit dari duduknya dan merebut nampan itu dari tangan Nata.


"Bunda, 'kan udah bilang kamu jangan ngelakuin apa pun di rumah ini. Udah ada Bibi, loh. Kamu bisa minta bantuan Bibi, Sayang," omel Alisha.


Nata tersenyum canggung. "Maaf, Bun. Nata cuman bantu bawa aja, Bibi lagi siapin makan siang kita soalnya," jelas Nata sembari memainkan jemarinya.


Dia menghela napasnya kasar. "Bunda maafin, jangan diulangin. Sekarang kamu duduk," sahut Alisha sembari mengusap lembut surai Nata.


"Silakan diminum, Pak, Bu," sambung Alisha.


"Terima kasih, Bu," sahut Dea dengan senyuman manis.

__ADS_1


Budian menatap sang putri yang sedang bersandar di bahu Alisha dengan mata terpejam. Ada perasaan sesak di hatinya, ada perasaan tak rela saat putrinya mengacuhkan keberadaan Dea, istrinya. Namun, merekalah penyebab Nata tak nyaman dengan orangtuanya sendiri.


Papa kangen sama kamu, Nak.


"Kondisi kandungan kamu gimana, Nat?" tanya Budian setelah meletakkan cangkir yang dia pegang di meja.


Dia menegakkan tubuhnya. "Baik, Pa. Cucu Papa udah mulai aktif, dia suka banget nendang perut aku," balas Nata dengan riangnya.


"Wah, cucu Nenek ternyata udah gak sabar ya mau keluar?" ucap Dea sembari mengusap lembut perut Nata.


"Iya, Ma. Kadang aku sampe ngeringgis," kata Nata dengan senyumnya.


"Wajar, Sayang. Anak kamu udah mulai tumbuh," celetuk Alisha.


"Iya, semoga dia sehat terus."


...***...


Yesha memandangi seorang pria yang tengah tertawa bersama seorang perempuan dengan mesranya. Niatnya untuk makan di kafe dekat pengadilan, pupus sudah. Hatinya bergejolak menahan panas dan sakit. Perempuan itu sadar cemburu kita menyapa dirinya.


Asik banget sampe enggak nyadar di sebelahnya ada orang, batin Yesha sembari matanya melirik meja di sebelahnya.


"Hallo, Yes. Sorry gua lama, tadi harus cek laporan akhir bulan dulu," ucap Alika yang baru datang dan langsung mendudukki dirinya di samping Yesha.


Ucapan Alika itu berhasil mengalihkan dua orang yang sedari tadi sibuk menukar tawa. Secara serempak mereka menoleh ke samping. Leon yang melihat Yesha duduk di sampingnya tentu saja terkejut, tubuh pria itu menegang.


Melihat wajah Yesha yang datar membuat Leon meringgis. Dia sangat berharap Yesha tak melihatnya walau mustahil.


"Loh ada Leon?" ucap Alika saat tak sengaja melihat Leon dengan seorang perempuan cantik dan imut.


"Hm," sahut Yesha sembari fokus menghabiskan makanannya.


"Wih, hebat ya, Le. Ngengantungin sahabat gua," sindir Alika.

__ADS_1


"Al—"


"Berisik! Saya lagi makan, kalian paham?" potong Yesha dengan tajam.


Alika terdiam begitu juga Leon. Perempuan yang duduk di hadapan Leon hanya mampu diam, dia tak tahu siapa perempuan yang Leon ajak mengobrol itu.


"Saya permisi." Yesha berlalu pergi begitu saja.


"Eh, Yes! Gua belum kelar ih! Tungguin!" teriak Alika yang sayangnya diabaikan.


"Ini semua karena lo!" ucap Alika sembari menatap Leon sinis lalu berlalu pergi.


...***...


Sekar menghela napasnya panjang saat melihat Lina yang terbaring di brankar rumah sakit. Perempuan itu cukup terkejut saat melihat keponakannya itu pingsan di ruang kerjanya sendiri. Dengan cepat Sekar menelpon ambulan.


Perempuan itu khawatir, tentu saja. Bagaimanapun Lina adalah keponakan yang seharusnya dia jaga. Sekar cukup prihatin terhadap Lina yang tak mendapatkan kasih sayang dari orangtuanya. Andai saja dulu dirinya tak pergi ke luar negeri, mungkin dia bisa mencegah hal itu terjadi.


"Cepet bangun, Lin. Tante khawatir," lirih Sekar sembari mengusap lembut surai Lina.


Pintu ruangan rawat inap Lina terbuka, muncullah Cellyn dan Nisya dengan jas snelli kebanggaan mereka. Keduanya berjalan mendekati brankar Lina dengan tatapan sendu. Lina terlalu sering sakit belakangan ini, keduanya sering kali menasehati Lina untuk menjaga kesehatannya. Namun, semuanya sia-sia, Lina tak akan mau mendengarkannya.


"Siang, Tan. Keadaan Lina gimana?" tanya Nisya sembari menatap Lina sendu.


Dia menghela napas. "Ya gitu, dia kecapean. Belum lagi Lina asam lambung kronis, dia selalu telat makan. Itu yang buat kondisinya nurun drastis," sahut Sekar.


"Huft . . . Padahal kami udah sering nasehatin Lina, Tan. Cuman Lina keras kepala," celetuk Cellyn sembari mengenggam tangan sahabatnya.


"Tante paham, Lin. Oh, ya, pernikahan kamu sama Devan gimana?" tanya Sekar mencoba mengalihkan pembicaraan.


Cellyn terdiam, otaknya melayang pada kejadian tiga hari lalu. Di mana dia dan Devan melakukan hubungan suami istri. Cellyn pikir setelah itu Devan akan berubah, nyatanya tidak. Devan masih mengabaikan dirinya, begitu juga dengan Yana yang semakin ketus dengannya.


"Ya gitu, Om Devan masih cuekkin aku. Yana yang makin ketus sama aku," balasnya sembari menunduk.

__ADS_1


Nisya mengusap punggung sahabatnya itu. Dia tahu dan paham sakit hati yang Cellyn rasakan, karena Cellyn selalu menceritakan semuanya kepada dirinya.


"Suatu saat Devan dan Yana akan nerima kamu, Cell."


__ADS_2