Gadis Muda Untuk Pak Duda

Gadis Muda Untuk Pak Duda
Kekesalan Seorang Sahabat


__ADS_3

"Yang hamilin lo siapa, yang repot siapa!" ketus Alika.


Tak ada angin dan tak ada hujan, tiba-tiba saja Nata meminta semua sahabatnya untuk datang ke kediaman Triwiya. Tentu Alika dan Yesha menuruti keinginan Ibu hamil itu, tetapi mereka justru dibuat kesal oleh Nata. Bagaimana tidak, Nata meminta para sahabatnya untuk menuruti keinginan sang calon anak.


"Ih, mau makan seblak campur geprek sama keju," rengek Nata sembari menatap kedua sahabatnya memohon.


Yesha yang sedari tadi hanya diam saja, menghela napasnya kasar. Dia bangkit dari duduknya dan berjalan mendekati Alika dan Nata. Perempuan yang paling muda di antara pertemanan para sahabatnya itu mulai muak dengan adegan di hadapannya. Yesha melipat tangannya di depan dada, dia memandang malas kedua sahabatnya itu.


"Udah ributnya?" tanya Yesha sarkas.


"Temen lo ini! Elah, nyusahin bener itu anak. Lahir aja belum, tapi udah jadi beban," cibir Alika.


Nata yang mendengar itu, tiba-tiba saja melangkah pergi. Dirinya berjalan sembari menunduk, dia mencoba menghalau air matanya. Entah ini karena hormon kehamilan atau bukan, tetapi hatinya terasa sesak mendengar semua ucapan sinis Alika. Nata tahu sahabatnya itu memang seperti itu, tetapi tetap saja menyakiti baginya.


"Mas Darren ...," lirih Nata.


Di sisi lain, Yesha memandang tajam Alika. Dirinya tak habis pikir, seharusnya Alika paham suasana hati Ibu hamil itu lebih sensitif. Alika harusnya bersikap dengan wajar, permintaan Nata menurut Yesha sendiri masih tergolong mudah didapatkan. Namun, Alika justru bersikap berlebihan.


"Lo ada otak gak, sih?"


"Salah gua apaan, dih?" balas Alika bertanya.


"Nata itu lagi hamil, bego! Suatu saat lo pun akan hamil, lo pikir nanti lo gak bakal nyusahin suami lo atau orang sekitar lo? Apa gak sakit perasaan Nata lo ngatain anak yang bahkan gak ada salah itu beban?" papar Yesha dengan tangan yang masih melipat di depan dada.


Alika yang mendengar itu menghembuskan napasnya kasar. "Fakta emang gitu, pas lahir dikatain beban, pas udah besar dikatain beban," sungutnya masih tak terima disalahkan.


Yesha tak menyahuti kembali, dia memilih berjalan ke luar dengan kunci mobil di tangannya. Alika yang melihat itu menatap Yesha heran, perempuan seperti Yesha terlalu sulit untuk dipahami.


"Mau ke mana lo?" tanya Alika.


"Beli permintaan Nata."

__ADS_1


...***...


Riana memandang pria di hadapannya itu dengan malas. Dirinya menyesal harus pergi ke club malam ini. Andai dirinya tidak pergi, dia mungkin tak akan bertemu dengan pria yang kini tengah berdiri di hadapannya dengan angkuhnya.


Memilih mengabaikan pria yang berada di hadapannya itu, Riana memutuskan untuk menjauhinya. Namun, pria di hadapannya ini justru dengan sengaja menahan tangannya. Riana menggeram, dirinya hanya ingin menenangkan dirinya. Emosinya saat ini jauh dari kata baik-baik saja.


"Bisakah Anda melepas tangan saya, Tuan Vero Devatar?" desis Riana.


Vero, pria yang dengan teganya mencampakkan istrinya yang tengah mengandung darah dagingnya. Pria itu terkekeh sinis, bukannya melepaskan cekalannya pada tangan Riana. Pria itu justru menarik Riana ke dalam pelukannya, dia memeluk pinggang Riana dengan eratnya. Suara dentuman musik seolah bukan pengganggu untuk dirinya dalam melancarkan aksinya itu.


"Yakin kau tidak merindukanku?" bisik Vero.


"Lepas," desis Yesha.


Vero terbahak dengan kencangnya, tetapi setelah itu raut wajahnya berubah menjadi datar. Dia membalikkan tubuh Riana dengan kasarnya, mencengkeram dagu Riana dengan kencang. Vero tak peduli ringisan yang keluar dari bibir berisi milik Riana itu. Dia menikmati wajah penuh amarah dan rasa sakit yang menyatu di wahah Riana.


"Ditolak oleh seorang Darren Aryan Gautama ternyata mampu membuat Anda gila, Nona," ejek Vero.


"Shut up!" bentak Riana.


"Akan kupastikan kau hancur."


...***...


Prang!


Suara barang yang beradu dengan lantai itu mengejutkan seorang anak kecil yang tengah bermain. Gadis kecil itu berlari menuju sebuah ruang, di mana asal suara itu berada. Langkah mungilnya dipaksa agar bergerak dengan cepat. Jantungnya berdebar, ada perasaan takut menghampirinya.


Dia terdiam kala melihat pertengkara dua orang dewasa di hadapannya. Dengan tatapan kosong dirinya mundur beberapa langkah. Pertengkaran pertama yang dirinya lihat, dia tak pernah melihat pertengkaran kedua orang dewasa itu. Yang dirinya tahu, kedua orang dewasa itu saling mencintai.


"Ma, Pa, hiks ... Yana takut, kalian jangan libut."

__ADS_1


Suara lirih itu berhasil mengalihkan atensi kedua orang yang beradu amarah itu. Hima berlari dengan perlahan mendekati sang putri, dipeluknya sang putri dengan erat. Hima yakin, foto pernikahan yang tadi dirinya lempar membuat Yana terkejut. Dia menghela napas kasar, menyadari kebodohan yang dia lakukan.


"Sssttt ... Kamu kenapa di sini, hm? Ke kamar sekarang, ya?" pinta Hima.


Yana menggeleng dengan keras. "Kalian libut, Yana takut. Jangan libut," ujarnya dengan tangis.


"Liat?! Ini semua karena keegoisan kamu!" hardik Devan.


Yana yang mendengar itu memejamkan matanya, emosi dirinya tidak stabil. Namun, dia harus mengontrol segala amarah yang memuncak, karena saat ini Yana tengah berada di gendongannya. Dia melirik sang suami yang tengah menatapnya dengan tajam. Hima tak peduli, dirinya memilih membawa Yana ke kamar gadis kecil itu.


Namun, Devan menarik dengan kasar tangan Hima, membuat wanita yang tengah mengandung darah dagingnya itu terhuyung ke belakang. Emosi Devan berapi-api, dirinya sudah lelah melakukan segala cara agar Hima membatalkan perceraian itu. Namun, Hima justru tak mendengarkannya, hingga pada akhirnya habis sudah kesabaran seorang Devan.


Hima meringgis saat merasakan sakit di pergelangan tangan miliknya. Dia melihat sang putri yang semakin kencang menangis, dia yakin Yana tengah takut sekarang. Dengan sekuat tenaga dia mencoba melepaskan cekalan tangan Devan, tetapi Devan justru semakin mengeratkan cekalan tangannya.


"Pa, lepasin tangan Mama ... Tangan Mama udah melah," isak Yana.


Devan memandang putrinya dengan tajam. "Kamu diem dan jangan ikut campur!" bentaknya pada Yana.


Lepas sudah amarah yang sedari tadi Hima tahan. Dengan sekali hentakan, genggaman tangan Devan akhirnya terlepas. Wanita yang tengah berbadan dua itu memandang sang suami dengan tajam, hingga ....


Plak!


Devan membeku, dia memandang Hima tak percaya. Namun, tamparan Hima seolah membuatnya sadar. Dirinya telah membentak putri kecilnya dan sekarang dia berhasil membuat putrinya ketakutan. Devan mencoba meraih Yana, tetapi gadis kecil itu menolak. Dirinya benar-benar takut sekarang.


"Sayang, maafin Papa, ya?" ucap Devan penuh sesal.


"Papa udak ndak sayang sama Yana," cetus gadis kecil itu dengan tangis.


Devan dengan cepat menggeleng, sedangkan Hima tengah berusaha menahan tangisnya. Hanya karena dirinya tidak menarik tuntutan cerai mereka, Devan dengan beraninya bermain tangan. Keinginan Hima untuk memberikan pria itu kesempatan kedua dibuat lenyap dengan mudahnya oleh dirinya sendiri. Hilang sudah harap Hima agar Devan mampu berubah.


Mengabaikan Devan yang tengah berusaha membujuk Yana, Hima memilih membawa gadis kecil itu ke kamarnya. Sudah waktunya Yana untuk tidur siang, dirinya yakin Yana akan memaafkan Devan. Namun, mungkin saja Yana akan takut pada ayahnya sendiri.

__ADS_1


"Mau kamu bawa ke mana Yana?!" sentak Devan.


"Tidur, saya harap Anda mengingat jam tidur siang putri Anda."


__ADS_2