
Darren memandang sekitarnya dengan linglung. Dirinya saat ini tengah berada di sebuah danau yang indah, tempat yang bahkan tak pernah dirinya kunjungi. Matanya menari ke sana dan ke mari mencari orang yang bisa dia tanyakan mengenai tempatnya berada saat ini, tapi tak ada satu pun orang yang melintas. Kakinya berjalan mendekati sebuah kursi yang berada di danau tersebut, Darren mendudukkan dirinya di sana sembari memejamkan matanya, menikmati angin yang menyapu kulitnya.
Suara langkah kaki terdengar jelas membuat Darren membuka matanya dan menoleh ke belakang. Matanya membulat sempurna saat melihat siapa yang melangkah mendekatinya. Secara perlahan Darren bangkit dari duduknya dengan pandangan yang tak pernah lepas dari sosok tersebut.
Mata pria itu berkaca-kaca, senyum sendu terukir di wajah tampannya. Darren berdiri dengan kaku menanti sosok itu mendekati dirinya. Tububnya menegang sempurna kala sosok itu sudah berdiri di dekatnya, tangannya terulur mengelus wajah sosok tersebut. Senyum sendu semakin mengembang di wajahnya, dirinya menarik sosok tersebut ke dalam pelukannya.
"Aku kangen kamu, El."
Elena, sosok yang kini berada dalam pelukan Darren. Sosok anggun dengan gaun putih yang menjuntai indah. Senyum manis tak pernah luntur dari wajah cantiknya, senyum yang menjadi seorang candu seorang Devan.
Darren melerai pelukannya, dirinya kembali mengusap lembut wajah Elena. Dirinya masih tak percaya Elena kini berdiri di hadapannya. Air matanya menetes membuat Elena menggeleng sembari tersenyum manis. Tangannya menghapus jejak air mata Darren dengan lembut.
"Jangan nangis," ujarnya lembut sembari menggeleng lembut.
"Ini beneran kamu? Ini gak mimpi, kan?" tanya Darren sembari menangis.
Elena terkekeh lantas menggeleng pelan. Tangannya terulur merapikan rambut Darren. Sedangkan, Darren tak melepaskan pandangannya dari Elena. Dirinya takut saat dia mengalihkan pandangannya Elena justru menghilang.
"Kenapa? Kenapa kamu jadi seperti ini? Darren yang aku kenal enggak lemah, kan? Sampai kapan? Sampai kapan kamu pura-pura bahagia di hadapan Anak kita? Kamu gaK capek?" Darren terdiam kaku mendengar penuturan Elena.
"Hey, kamu berhak bahagia. Kamu berhak mendapatkan kebahagian. Jangan karena kepergian aku, kamu jadi terus hidup dalam kensendirian. Suatu saat nanti Cellyn akan menikah, orang tua kamu pun akan semakin tua. Siapa, siapa yang akan menjaga kamu, hm? Aku, aku enggak akan bisa. Siapa nanti yang akan dampingi kamu? Aku enggak akan tenang di sana, kalau kamu gak bahagia," lanjut Elena lembut.
"Ta—tapi, aku cuman cinta kamu, El," lirih Darren.
Dia tersenyum lembut. "Buka hati kamu, buka untuk perempuan lain. Cari pedamping yang bisa menemani kamu sampai tua, pedamping yang bisa menyayangi Cellyn. Cellyn pun butuh sosok seorang Ibu. Sebesar apa pun dia, setua apa pun dia, dia akan tetap butuh figur seorang Ibu. Aku mohon kamu harus menikah, ya? Cari pasangan yang tepat," ucap Elena.
__ADS_1
"Tapi, kamu?" sahut Darren berat.
"Hey, aku akan bahagia di sini asal orang yang aku sayang juga bahagia. Kamu, Cellyn, Ayah, Bunda, kalian semua harus bahagia. Kalau kalian bahagia, aku juga akan bahagia. Cellyn udah dewasa, jaga dia. Jaga dia dari pria gak bener, ya? Aku titip Anak kita ke kamu, aku yakin kamu bisa jaga dia. Aku pamit, ya? Jaga dirimu kamu*."
"ELENA!!"
...***...
Darren tengah melamun di ruangannya. Mimpinya semalam membuat dirinya kepikiran, permintaan Elena agar dia kembali menikah cukup mengusik pikirannya. Melupakan Elena tentu bukan hal yang mudah, Elena adalah segalanya bagi Darren. Rasa cintanya pada Elena bahkan tak bisa diutarakan melalui kata-kata, bagi Darren seorang Elena lebih dari cintanya.
Darren menyenderkan badannya pada kursi, dia meremas rambutnya frustasi. Dia tak tahu harus melakukan apa, tetapi yang pasti dirinya harus menikah. Darren akan melakukan apa pun untuk Elena, tapi tidak dengan permintaan Elena yang ini. Berat bagi Darren untuk menduakan Elena, dirinya sudah berjanji akan menikah satu kali seumur hidupnya.
Darren membuka matanya kala dirinya mendengar suara pintu ruangannya terbuka. Raut wajahnya berubah menjadi datar. Darren memainkan pulpen di tangannya dengan raut yang jelas sedang menahan amarah.
"Nata, sudah saya katakan ke kamu, saya sedang tak menerima tamu saat ini," desis Darren tanpa melihat ke arah pintu.
Dengan cepat dirinya bangkit dari duduk. "Sekar? Ngapain kamu ke sini?"
"Maaf, Pak. Saya sudah melarang Ibu ini, tapi dia kekeh. Katanya mau ngasih makan siang buat Bapak," celetuk Nata membuat Atensi Darren dan Sekar beralih padanya.
Darren menghela nafasnya kasar. Dirinya bahkan tak bisa tenang untuk sehari saja, jika tidak perkerjaan yang mengusiknya maka orang lain. Dirinya hanya butuh waktu
untuk sendiri saja, tetapi itu cukup tak mungkin baginya.
"Hm, enggak papa. Kamu kembali kerja sekarang." Nata hanya mengganguk mendengar perintah dari Darren.
__ADS_1
Setelah Nata keluar dari ruangan Darren, sekar berjalan mendekati Darren. Dirinya memeluk Darren dengan erat, Darren hanya menghela nafas sebelum akhirnya membalas pelukan Sekar. Darren terdiam kala Sekar mencium pipinya cukup lama.
"Kangen, hehe ...," ucap Sekar dengan cengiran khasnya.
"Kamu selalu kangen aku, Kar," balas Darren malas.
Sekar mendengus. "Sama sahabat jangan gitu ih!"
Sedangkan, di luar ruangan, Nata mendengus kesal. Tingkah Sekar yang memaksa masuk membuatnya kesal setengah mati. Ditambah Darren yang justru memperbolehkan Sekar masuk ke ruangannya.
"Siapa sih tu cewek?!"
Nata menghentakkan kakinya kesal lantas kembali duduk di mejanya. Raut wajahnya sangat kentara tengah kesal, mulutnya tak berhenti mengeluarkan ocehan. Dia benar-benar dengan kesal dengan kehadiran Sekar.
"Arghhhh! Aku kenapa sih sebenarnya? Kenapa aku gak suka liat Pak Darren sama cewek lain?" tanyanya pada diri sendiri.
Nata mengambil kertas kosong dengan kesal perempuan itu mencoret kertasnya lantas merobeknya menjadi bagian kecil. Nata menjambak rambutnya kesal, dirinya benar-benar tak paham dengan perasaan yang dia miliki sekarang.
"Aish! Aku kenapa sih?!"
Sedangkan di dalam ruangan, ada Darren yang tengah menatap Sekar dengan lembut. Pria itu berjalan menghampiri Sekar yang tengah duduk di sofa miliknya. Dirinya menatap Sekar dengan senyuman tipis. Sekarang pria itu sudah berada di dekat Sekar, wanita yang berstatus menjadi sahabatnya.
Sekar memeluk Darren erat. "Aku cinta kamu, Ren. Kamu pasti tahu itu, 'kan," lirihnya.
Darren menghela nafas. Dia sangat tahu sahabatnya itu menaruh rasa lebih, tetapi dirinya hanya menggangap Sekar sebagai sahabatnya. Dirinya tak mau terjebak dalam hubungan lebih dalam dengan sahabatnya itu.
__ADS_1
"Dan kamu juga tahu aku enggak pernah anggap kamu lebih dari sahabat, Sekar."