
Anissa menggelengkan kepalanya pelan melihat kelakuan Ara yang tengah mengusili Aya. Wanita dua anak itu selalu disuguhkan pemandangan seperti ini setiap paginya. Ara yang usil dan Aya yang cuek terhadap sekitarnya. Jika, Ara tak berhasil juga membuat Aya marah maka anak itu akan menangis.
Anissa berjalan ke ruang keluarga, dia yakin sebentar lagi Ara akan menangis. Bertepatan dengan itu Krishna sedang menuruni tangga menuju ruang keluarga, Anissa tersenyum senang lantas mengandeng lengan Krishna dengan mesra.
"Kenapa, hm?" tanya Krishna dengan senyuman manisnya.
Anissa hanya menggeleng sembari tersenyum manis. Krishna terkekeh geli, dia tahu istrinya itu rindu dimanja. Kesibukannya belakangan ini membuat Krishna sangat jarang menghabiskan waktu dengan keluarganya, terutama memanjakan istri cantiknya itu.
"Nanti malam aku bakal manjain kamu," ucap Krishna.
Anissa menunduk malu. "Ara, Aya, ayo sarapan!" panggil Anissa guna mengalihkan pembicarannya dengan sang suami.
Krishna tertawa pelan saat melihat istrinya itu masih saja malu-malu meski telah menikah selama empat tahun lamanya. Sifat pemalu Anissa yang selalu berhasil menghibur dirinya, menciptakan bahagia dengan cara sederhana.
"Mom, Ala mau makan loti pakai keju!" seru Ara sembari melompat.
Saat ini, mereka telah berada di meja makan. Aya yang sudah duduk dengan tenang di sebelah kiri sang Ayah, Ara yang duduk di samping Aya sembari meminum susunya, terakhir Anissa yang tengah berdiri dan menyiapkan sarapan untuk keluarga kecilnya.
"Kamu mau apa, Yang? Aya mau apa?" Anissa menatap anak dan suaminya dengan lembut.
"Nasi goreng, Sayang."
"Nasi goreng, Mom."
Satu lagi perbedaan Aya dan Ara, Aya yang tak bisa tak makan nasi. Lantas Ara yang tak bisa sarapan dengan nasi, dia selalu sarapan dengan roti atau sereal.
Mereka sarapan dengan tenang, hanya denting dari alat makan yang sedari tadi bersuara. Sang kepala keluarga selalu meminta keluarga kecilnya untuk tidak bersuara di meja makan. Tentu mereka semua mendengarkan nasihat dari Krishna yang jelas untuk kebaikan mereka.
"Aya kalau sudah selesai makan langsung ke ruang kerja Dad, bisa?" tanya Krishna sembari bangkit dari duduknya.
Aya menatap sang Ayah lantas mengangguk pela, sedangkan Ara hanya melirik sekilas. Dia tak pernah tahu apa yang ayahnya dan kakaknya itu bicarakan, kalaupun dia tahu, Ara tak akan paham.
"Mom, aku ke ruangan Daddy dulu, ya." Aya bangkit dari duduknya, Anissa hanya membalas dengan anggukan kepala.
__ADS_1
Gadis kecil itu melihat ruangan kerja ayahnya yang terbuka, setelah mengetuk pintu tersebut, Aya segera memasuki ruangan itu. Tentunya dia sudah menutup kembali pintu ruangan Krishna. Dia berjalan mendekati sang Ayah, menatap sang Ayah dengan tatapan penuh tanya.
"Why, Dad?" tanya Aya sembari duduk di pangkuan Krishna.
"Daddy mau nanya, Om Leon ngadu ke Daddy. Katanya ucapan kamu makin nyelekit. Kenapa, Sayang?" tanya Krishna hati-hati.
Ngaduan, cibir Aya dalam hati.
Gadis kecil itu menghela napasnya pelan. "Om Leon hobinya godain cewek terus padahal Tante Pengacara suka dia," sahut Aya.
"Tunggu nanti mereka bakal berantem tuh, karena Om Leon genit," lanjut Aya sembari menatap jam yang melingkar di tangan Krishna.
"Kamu makin peka, ya?" Krishna mengusap lembut surai sang anak.
"Hum, Daddy." Aya menatap sang Ayah dengan tatapan sedih.
Aya, gadis dengan kespesialan yang dirinya miliki. Mampu melihat masa depan, membaca karakter orang, membaca pikiran orang, dan niat jahat orang. Aya bukanlah seorang indigo, tetapi kemampuan yang dia miliki karena turunan dari Krishna sendiri.
"Kontrol, ya. Jangan sampai Ara tau ini gitu juga Mommy kamu. Paham?"
...***...
Yesha memandangi Leon dengan tajam. Amarah perempuan cantik itu sudah di ambang batasnya. Dia muak, muak dengan segala tingkah Leon. Tindak tanduk Leon yang bersikap seolah dia milik pria itu, tetapi Leon justru mendekati banyak pria. Yesha bukanlah mainan seorang Leonathan Gabriel.
Leon menghela napasnya kasar. Dia tahu Yesha sedikit berbeda dari perempuan kebanyakan, Yesha terlalu sulit dia gapai. Apakah dia menyukai Yesha? Hanya Leon yang tahu itu.
"Berhenti bertingkah seolah saya milik Anda, Tuan Leonathan Gabriel!" tegas Yesha.
Leon terkekeh kecil, ditariknya pinggang Yesha. Dia memeluk pinggang Yesha dengan erat, dengan sengaja pria itu mengecup singkat bibir Yesha. Berada satu ruangan dengan Yesha tentu membuat hasrat pria itu melonjak. Iya, mereka tengah berada di apartemen Leon, tentunya Leon yang menarik paksa Yesha ke apartemennya.
Mereka terkejut dengan tindakan Leon yang seenak jidat, tangan Yesha terulur menampar wajah tampan pria itu. Plak! Tentu saja tindakan Yesha membuat Leon terkejut dan secara spontan melepas tangan yang melingkar di pinggang Yesha.
"Bisakah Anda berhenti bersikap seenaknya, Tuan?" desis Yesha.
__ADS_1
"Jangan galak-galak, Sweety," ucap Leon sembari mengusap pipinya yang memerah.
Tamparan ni cewek lumayan juga.
"Stoped! I'm not your girl! Jadi, stop bertingkah kalau kamu itu kekasih saya!" hardik Yesha.
"Oh, kamu ngode biar aku resmiin hubungan kita?"
Yesha terdiam, wajahnya bersemu malu. Leon terkekeh kecil melihatnya, dia gemas dengan perempuan di hadapannya ini. Perempuan yang selalu berhasil membuatnya nyaman sekaligus menggetarkan hatinya.
"*Okay, you're my girl, Baby."
"What the hell*?!"
...***...
^^^Saat ini Alisha tengah berada di kamarnya setelah sarapan. Kondisi tubuh wanita paruh baya itu tiba-tiba saja tidak baik. Dia merasakan pusing yang mendera kepalanya. Sepertinya karena terlalu banyak pikiran mengenai keadaan cucunya di rumah seorang Devan Brawirya.^^^
Alisha bukanlah wanita bodoh yang membiarkan cucunya menikah karena sebuah wasiat, jelas dia akan mengawasi Cellyn. Bagaimanapun Cellyn adalah harta berharga keluarga Gautama dan tentunya anak yang tengah dikandung oleh Nata juga calon permata Gautama.
Alisha jelas tahu jika Devan masih mencintai mendiang Hima. Pria itu hanya menaruh perasaan suka kepada Cellyn, Devan juga selama ini hanya diselimuti Gairah bukan cinta. Alisha jelas dengan mudah membacanya hanya dengan melihat tatapan Devan ke Cellyn.
"Sayang, kamu enggak apa-apa?" tanya Thofid yang baru memasuki kamar.
Wanita itu menghela napasnya kasar. "Pusing," adu Alisha sembari menyandarkan tubuhnya di punggung kasur.
Thofid berjalan mendekati sang istri, pria paruh baya itu mendudukkan dirinya di pinggir ranjang. Diusapnya dengan lembut surai Alisha yang sudah mulai memutih itu. Pria itu menatap Alisha dengan hangat menciptakan ketenangan untuk Alisha sendiri.
Meski sudah bertahun-tahun menikah, suaminya itu tak banyak berubah. Justru semakin manis dan romantis setiap harinya.
"Kamu mikirin apa, hm?" Thofid menatap Alisha dengan lembut.
"Cellyn, aku khawatir. Mereka udah ngelakuin hubungan suami istri. Aku cuman takut Devan masih dihantui rasa penyesalan ke Hima dan berujung mengabaikan Cellyn jika dia hamil nanti," jelas Alisha.
__ADS_1
"Tenang, ya. Kita awasin terus mereka," sahut Thofid sembari membawa Alisha ke pelukannya.
Kamu menyakiti cucu saya maka kamu berhadapan dengan saya bukan lagi istri saya.