Gadis Muda Untuk Pak Duda

Gadis Muda Untuk Pak Duda
Darren Menyebalkan


__ADS_3

Nata merenggangkan ototnya yang terasa kaku. Dirinya saat ini tengah disibukkan dengan mengurus berkas yang akan Darren gunakan untuk meeting selama seminggu penuh. Terkadang Nata berpikir, apa Darren tak lelah bekerja layaknya robot. Dia saja sudah merasa lelah, walau hanya sebentar berkerja.


Nata bangkit dari duduknya, dirinya berniat akan membuat secangkir kopi untuk dirinya. Sebulan sudah dirinya bekerja di sini, Nata sudah tak canggung lagi. Dirinya bahkan sudah bisa berteman dengan beberapa pegawai, tetapi tak terlalu dekat. Dirinya juga sudah tak lagi merasa insecure dengan penampilannya yang terkesan sederhana.


Nata membalas sapaan beberapa karyawan dengan senyuman tipis. Dirinya memang dikenal cukup ramah dan lembut, hal itulah yang membuat beberapa pegawai nyaman dengannya. Sifat Nata yang penuh kelembutan, dewasa, cantik, dan cerdas sangat membuat mereka iri.


"Mau buat apa Mbak?" tanya Sri saat Nata baru memasuki dapur.


"Mau buat kopi, Sri. Aku izin ya," sahut Nata.


"Pake izin segala Mbak! Pake aja dapurnya, ini dapur milik bersama." Sri terkekeh geli dengan ucapannya, Nata pun ikut tertawa pada akhirnya.


Setelah membuat kopi, Nata kembali ke ruangannya dengan secangkir kopi di tangannya. Perempuan itu berjalan sembari bersenandung kecil, hal yang sudah menjadi kebiasaan dirinya. Setibanya di mejanya, Nata dikejutkan dengan keberadaan Darren. Dengan segera dirinya meletakkan kopinya di atas meja.


"Ekhm ... Ada yang bisa saya bantu, Pak?" kata Nata salah tingkah.


"Darimana aja kamu?" Bukannya menjawab, Darren justru balik bertanya.


Nata menghela nafasnya pelan. "Buat kopi, Pak. Jadi, ada yang bisa saya bantu?"


"Tidak."


Nata mendelikkan matanya mendengar jawaban dari sang atasannya. Dirinya mengusap dadanya sembari terus menghembuskan nafasnya. Amarahnya hampir saja meledak begitu saja. Jika tidak ada yang dibutuhkan oleh Darren, mengapa dia harus mendatangi dirinya? Nata dibuat kesal oleh hal itu.

__ADS_1


"Ngelus dada gitu. Kamu udah rata malah makin rata yang ada," celetuk Darren saat melihat kelakuan Nata.


Dia mendelik kesal lantas memukul dada Darren dengan brutal. Darren sendiri hanya diam, karena memang pukulan Nata tak berasa baginya. Dirinya hanya terus memperhatikan Nata dengan raut yang tak terbaca. Merasa gemas dengan tingkah Nata, pria itu menarik pinggang Nata dan memeluknya erat. Sedangkan, Nata mematung karena ulah atasannya, perempuan itu merasakan jantungnya berdetak lebih cepat.


"Gugup, heem?" ujar Darren dengan suara beratnya tepat di depan wajah Nata. Pria itu meniup wajah Nata membuat kesadaran orang yang berstatus sebagai sekretarisnya sadar. Nata mencoba melepaskan pelukan Darren, tetapi dirinya justru terpaku oleh mata tajam milik Darren.


"Kamu suka mata saya, Sayang?" Tanpa sadar Nata mengganguk pelan. Hal itu, membuat Darren gemas. Dengan sengaja pria itu mengecup sekilas hidung pesek Nata.


"You're so cute, Baby."


...***...


Alika saat ini tengah berada di restoran miliknya. Dirinya mengawasi seluruh karyawannya yang tengah bekerja. Perempuan yang terkenal dengan kerusuhannya itu akan menjadi sangat berwibawa saat sudah berada di hadapan karyawannya. Sosok Alika yang dikenal bar-bar, petakilan, dan banyak tingkah seketika menghilang. Dirinya berubah menjadi perempuan tegas, anggun, dan berwibawa. Meski demikian tetap saja sosok Alika sangat tak bisa menggunakan dress, dirinya selalu menggunakan celana panjang sama seperti sekarang.


Alika melangkahkan kakinya ke meja yang berada di dekat jendela. Alisnya bertaut saat mendengar suara ribut-ribut yang berasal dari meja tersebut. Saat langkahnya sudah hampir dekat, dapat dirinya lihat seorang pelanggan telah memarahi pegawainya. Alika semakin mempercepat langkah kakinya. Dirinya memandang karyawan dan pelanggan itu dengan tatapan dinginnya.


"Iii—ini, Bu—"


"Dia dengan sengaja menumpahkan minuman ke baju branded saya, tapi gak mau ganti rugi. Dasad manusia miskin, gak berguna, pelayan aja songgong." Perempuan itu mencela ucapan karyawan Alika.


Alika yang mendengar itu lantas menaikkan satu alisnya. Dirinya menoleh ke arah karyawannya dan dibalas dengan gelengan kepala yang cukup kuat. Atensi Alika kembali teralih pada perempuan yang berada di depannya, dia memandang perempuan itu dengan tatapan menilai. Dia lantas terkekeh pelan, kekehannya itu membuat orang sekitar kebingungan.


"Mahal ya? Beli di pasar loak aja bangga, cih!" celos Alika dengan smiriknya.

__ADS_1


Perempuan itu menggepalnya tangganya. Dia memandang Alika dengan tajam. Amarahnya memuncak karena ucapan Alika. "Heh! Orang miskin diem aja deh! Emang lu tau harga baju gua? Enggak, 'kan? Mana paham lu soal barang branded," ucapnya menghina Alika.


Alika yang mendengar itu lantas berdecih. Dia maju selangkah, tatapan matanya semakin tajam. Ingat, Alika sangat benci dihina dan diusik. Perempuan di hadapannya ini tidak hanya menghina dirinya, tetapi juga karyawannya. Siapa pun tidak boleh menghina karyawannya, walau mereka bekerja sebagai pelayan setidaknya mereka tidak mengemis. Itulah yang Alika pikirkan.


Plak! Plak!


Sret!


Alika menampar kedua pipi perempuan tersebut lantas menjambaknya cukup kuat. Semua pelanggan dan karyawan Alika terkejut melihat itu, ditambah mulut perempuan itu yang sobek karena ulah Alika. Karyawan Alika baru pertama kali melihat atasan mereka bertindak demikian, karena biasanya Alika akan bersikap santai, tetapi tegas.


Perempuan itu meringgis kesakitan, dia memandang Alika tak percaya. Tindakan Alika yang selanjutnya semakin membuat semua orang terkejut. Alika dengan sengaja menyiram kuah ramen ke baju perempuan itu, untung saja kuah itu sudah tak paham lagi. Alika semakin mengeratkan jambakannya hingga kepala perempuan itu mendongak ke atas.


"Sebelum anda menjatuhkan saya, lebih baik anda berkaca terlebih dahulu. Bagaimana jika anda lebih buruk dari saya? Sangat tidak etis bukan? Seorang rendahan menghina ratu. Sadar akan posisi anda! Baju mahal? Branded? Jangan anda pikir saya tidak tahu harga baju anda, cih!" desis Alika lantas melepaskan jambakannya begitu saja.


Baru saja perempuan itu akan menjawab, tetapi Alika sudah lebih dulu menyiramkan air ke wajahnya. Perempuan itu terdiam semakin merasa terhina dengan kelakukan Alika. Saat dirinya ingin menampar Alika sebuah tangan menahannya.


"Anda sentuh sahabat saya, anda mati," cetus Yesha dengan suara dingin.


Perempuan itu meringgis kesakitan karena genggaman Yesha pada pergelangan tangannya cukup kuat. Nyalinya menciut saat melihat tatapan tajam Yesha dan aura dingin yang Yesha keluarkan. Dirinya melepaskan genggaman tangan Yesha dengan susah payah.


Alika yang melihat itu mendengus. "Lu pikir gua lemah sampe lu harus nahan tangan dia?"


"Enggak, tapi lu terlalu banyak drama buat ngejatuhin hama satu ini."

__ADS_1


Alika memutar malas bola matanya. Dirinya mengambil dopetnya dan mengambil beberapa lembar uang berwarna merah. Lantas dia lemparkan begitu saja ke wajah perempuan itu.


"Ambil dan pergi dari restoran saya."


__ADS_2