
Hembusan napas yang beradu dengan angin, menerbangkan rambut seorang perempuan dengan balutan gaun berwarna biru muda itu. Dia tampak sangat cantik dan anggun. Senyum manis yang terpatri dalam wajah ayunya. Dia tengah berdiri di balkon salah satu restoran, perempuan cantik itu tengah menanti kedatangan calon suaminya.
Dia menghembuskan napasnya berulang kali, ada perasaan gugup yang menghampiri dirinya. Pertemuan pertamanya dengan calon suaminya. Jantungnya berdebar dengan cukup kencangnya. Dia harap semua akan berjalan sesuai keinginannya.
"Vena, sini, Sayang. Calon suami udah datang."
Vena menghembuskan napasnya sekali lagi. Dia berjalan dengan perlahan, irama jantungnya semakin tak terkendali. Debar jantung perempuan itu semakin kuat, Vena dibuat gugup.
Ada perasaan sedih dan senang yang menyatu, dia senang akan menikah. Namun, dia sedih karena harus menikah dengan orang yang tak dia kenali, ya perjodohan. Sang Kakak—Vero Devatar memintanya menikah dengan anak dari rekan bisnisnya. Vena ingin menolaknya, dia masih ingin bebas. Namun, rasanya tak ingin mengecewakan sang Kakak. Ucapan Vero pun masih tergiang di benaknya.
"Kamu lihat dulu siapa calonnya, kalau kamu enggak suka. Kamu bisa nolak, Abang enggak akan maksa."
Merasa tergiur dengan ucapan Vero membuat Vena akhirnya menyetujui kemauan sang Kakak. Perempuan itu tidak dipaksakan untuk memilih, jadi dia bebas menentukan apakah ingin menolak atau menerimanya.
Di sinilah Vena sekarang, duduk dengan anggunnya di hadapan calon suaminya kelak. Perempuan itu menunduk malu saat melihat pahatan wajah laki-laki asing di hadapannya. Hey, apakah dia jatuh cinta?
Gila, ganteng banget. Kalau gua nolak yang ada rugi, batin Vena.
"Wah . . . Jadi ini calon menantu saya, cantik sekali. Iyakan, Pah?"
Suara itu membuat Vena mendongakkan kepalanya. Dia memandang wanita paruh baya di hadapannya dengan senyum kikuk. Dapat Vena tebak wanita paruh baya itu biasa mengikuti arisan kaum elit, sangat terlihat dari caranya berpakaian.
"Iya, Mah," sahut seorang pria paruh baya yang Vena tebak suaminya.
"Leon pasti suka!" seru wanita itu—Ria.
Leon melirik sinis. Dia akui sosok perempuan di hadapannya memang cantik, tetapi Yesha tetap menjadi pemenangnya. Sebuah usapan di lengannya membuat Leon menoleh, sang Kakak tersenyum hangat padanya.
Krishna benar-benar menepati janjinya, dia akan membantu Leon agar terbebas dari pernikahan yang tak adiknya itu inginkan. Pria itu datang tak hanya sendiri melainkan bersama istri dan kedua putrinya, awalnya Krishna melarang putrinya untuk ikut. Pria itu yakin akan ada keributan tentunya, tetapi Aya dan Ara tetap kekeh dengan keputusannya. Ara, gadis kecil itu ingin tahu perempuan seperti apa yang akan dijodohkan dengan Om kesayangannya itu. Berbeda dengan Aya, dia tentunya ingin melihat keributan apa yang akan omanya itu perbuat. Sejujurnya Aya merasa prihatin dengan omnya itu, walau dia tahu apa yang terjadi. Namun, melihat secara langsung menurutnya lebih menyenangkan.
"Vena gimana, mau nikah sama Leon?" tanya Ria dengan mata berbinar.
Wanita paruh baya itu dibuat jatuh hati dengan paras menawan dan sikap anggun milik calon menantunya itu. Besar harapannya, Leon akan menikahi Vena. Pria paruh baya yang duduk di sebelah Ria hanya menghembuskan napasnya kasar. Dapat dia rasakan kebencian terpancar dari mata anak bungsunya.
Dia mengangguk malu. "Aku ma—" Ucapan Vena dipotong oleh Ara. Gadis kecil itu mendelik galak ke arah Vena.
__ADS_1
"Ala ndak mau Om Ala nikah sama Tante!" sela Ara sembari berlari ke arah Leon, Leon yang paham segera mengendong Ara untuk duduk di pangkuannya. Ara memeluk leher Leon dengan erat, membenamkan wajah mungilnya di leher Leon.
"Ara! Siapa yang ngajarin kamu enggak sopan gini?!" bentak Ria.
Laras secara reflek menutup kedua telinga anaknya, wanita itu melirik Vero. Dia rasa, Vena tak akan bahagia jika menikah dengan Leon. Vero yang paham makna lirikan sang istri segera berdeham.
"Harap tenang, Nyonya. Mereka masih anak-anak, wajar tak ingin kehilangan omnya," ujar Vero dengan sedikit lembut.
"Iya, Mah. Tenang, ya?" bujuk pria paruh baya itu.
Ria menghela napasnya kasar, dia menatap Anissa dengan tajam. Anissa hanya menghembuskan napasnya pelan, sedikit muak dengan sikap mertuanya. Krishna yang paham itu segera mengenggam tangan Anissa agar istrinya tenang.
"Maaf, tetapi saya pun tidak setuju Om saya menikah dengan perempuan yang tidak dicintainya," tandas Aya.
Gini amat punya anak, pada bar-bar. Anissa menghembuskan napasnya kasar mendengar ucapan Aya. Dia tahu betul watak kedua putrinya itu. Ara dengan sikap manisnya, tapi ucapannya terkadang menyakiti. Lalu sang Kakak yang terkesan dingin, dewasa, blak-blakan, dan tak bisa dibantah. Anissa sendiri tidak tahu darimana sikap Aya itu berasal.
"Bakal ada keributan nih," bisik Leon pada Ara, sedangkan Ara mengangguk dengan semangat.
"Aya—"
"Stop, Oma! Aya belum selesai bicara, bukankah sangat tidak sopan menyela ucapan orang lain?" potong Aya dengan raut tenangnya.
"Tante, saya tahu Tante jatuh hati pada Om saya. Namun, maaf perjodohan ini tanpa izin Opa dan tentunya Om Leon sendiri. Bukan begitu?" papar Aya.
"Iya. Sebelumnya, maaf. Saya menolak perjodohan ini," sahut Leon dengan tegas.
"Leon!" teriak Ria membuat Laras kembali mendekap putranya.
"Mah, udah! Papah juga sejak awal enggak setuju," celetuk seorang pria paruh baya.
Dia Darma Teraza, sosok bijaksana. Dia baru saja kembali dari perjalanan bisnisnya, tetapi saat kembali justru tak melihat keakuran keluarganya.
"Ada apa ini? Kenapa ribut di restoran saya? Ucap seorang perempuan.
"Ah, maaf kami tidak bermaksud," sahut Krishna.
__ADS_1
"Loh Leon?" ucap seorang perempuan terkejut.
Leon menatap sosok yang ada di sebelah pemilik kafe. Dia segera menurunkan Ara dari pangkuannya, lantas menghampiri perempuan itu. Leon memeluknya dengan erat, perempuan itu jelas terkejut. Namun, tak ayal dia membalas pelukan Leon.
"Aku kangen," bisik Leon.
Dia terkekeh. "I miss you so bad, Baby."
"Ekhm . . . Masih ada gua di sini, Yesha, Leon," ketus Alika.
Leon segera melepas pelukannya. Dia menggenggam tangan Yesha dengan erat, dapat dia lihat raut terkejut dari semua orang. Namun, pria itu tak peduli. Ini saatnya dia berjuang demi cintanya, dia tidak akan melepaskan Yesha hanya memiliki untuk perempuan lain.
"Dari awal Leon udah nolak perjodohan ini, Leon bahkan udah bilang mau nikahin orang yang Leon cinta. Tapi apa? Mamah enggak pernah peduli perasaan Leon, dari kecil Leon turutin mau Mamah. Apa itu enggak cukup? Bahkan Leon hancurin mimpi Leon buat jadi seorang Dokter Bedah demi Mamah. Masih kurang?" seloroh Leon membuat semuanya bungkam.
"Tapi perempuan yang kamu cintai itu orang miskin, Leon! Pasti keluarganya cuman buruh."
Alika yang mendengar penuturan penuh percaya diri dari Ria dibuat terbahak, semuanya memandang Alika dengan heran. "Cuman buruh, dong. Gila ini mak-mak, bahkan keluarga Yesha lebih berada," kelakar Alika.
"Maaf, Anda belum tahu siapa saya, Nyonya? Perkenalkan saya Yeshania Arafa, seorang pengacara terbaik. Anak tunggal dari pengusaha kaya raya di Amerika," papar Yesha dengan senyum manisnya.
Semua mematung, kecuali Alika. Leon bahkan baru tahu hal ini, dia pikir Yesha hanya seorang pengacara. Namun, berasal dari kalangan yang lebih elit dari keluarga Gautama. Gaya hidup Yesha yang sederhana itu memang jauh mencerminkan Yesha dari kalangan berada.
"Leon mau perjodohan ini batal."
Ria memandang tajam putra bungsunya itu, dia segera bangkit dari duduknya. "Jangan membantah Mamah, Leon!" hardik wanita paruh baya itu.
"Saya setuju, saya tidak mungkin membiarkan Adik saya menikahi laki-laki yang tidak ingin hidup dengannya," tandas Vero, pria itu tidak mau apa yang dialami oleh Laras akan dialami oleh adiknya. Lebih baik dia mencegah semuanya.
"Kalau begitu kami permisi. Ayo, Sayang. Ayo Dek, Abang enggak mau kamu jatuh di tangan orang yang salah." Vero dan keluarganya berjalan meninggalkan restoran.
"Batal dong," ujar Alika.
Ria memandang putra semata wayangnya dengan tajam, tapi itu tak membuat Leon mundur. Dia hanya ingin Yesha bukan perempuan lain.
"Stop egois, Mah! Sampai kapan Mamah maksain semuanya ke Leon? Dia juga anak Mama, aku selama ini diem karena semuanya masih wajar. Cuman kali ini enggak wajar," ungkap Krishna.
__ADS_1
"Mah, kasian Leon. Restuin dia. Mamah berhenti kayak gini, enggak mikir perasaan Leon? Gimana kalau nanti Leon milih pergi dari kita? Mamah mau?" lanjut Darma.
Dia menghela napas. "Terserah kalian."