Gadis Muda Untuk Pak Duda

Gadis Muda Untuk Pak Duda
Kehidupan Leonathan Gabriel


__ADS_3

Yesha berjalan mendekati sang Ibu yang tengah memasak sarapan untuk mereka berdua. Dipeluknya sang Ibu dari belakang, dia meletakkan dagunya di pundak sang Ibu. Pundak yang selalu kokoh meski dunianya runtuh, sosok yang selalu siap mendengar segala kesuh kesahnya meski dirinya sendiri telah rapuh.


Wina menggeleng pelan melihat tingkah laku sang anak. Anak gadisnya itu memang tak bisa lepas darinya. Sejak suaminya meninggal, dirinya seorang dirilah yang merawat Yesha. Yesha tumbuh menjadi perempuan hebat berkat didikannya.


"Kenapa, Sha? Mama lagi masak nasi goreng kesukaan kamu nih."


Cup!


"You're the best, Mom!" Perempuan itu memberikan kecupan pada pipi kiri Wina.


Wina yang mendengar itu tersenyum tipis. Diusapnya rambut Yesha dengan pandangan tetap terfokus pada nasi goreng yang sedang dia masak.


Momen-momen seperti ini memang selalu berhasil membuatnya jauh lebih baik. Segala sakit dan lelahnya menjadi single parent selalu terbayarkan oleh kehadiran Yesha. Meski anaknya itu sekarang cukup sibuk, tetapi dia tak pernah sekalipun mengabaikan dirinya.


"Manis banget ucapan anak Mama," ujar Wina dengan kekehan.


Dia menyengir. "Manisnya sama Mama aja, muach!" sahut Yesha.


Wina tertawa pelan, putrinya itu memang selalu bisa mengundang tawanya. Yesha yang dikenal cuek oleh banyak orang akan berubah menjadi Yesha yang hangat dan menyenangkan jika bersama orang terdekatnya.


"Lucu banget sih kamu."


...***...


Sinar mentari berhasil mengusik tidur seorang wanita cantik yang hanya mengenakan dalaman. Wanita itu membuka matanya perlahan, dia meringgis saat merasakan tubuhnya terasa sakit. Bercak kemerahan bahkan menghiasi tubuhnya. Melihat itu, dia tersenyum puas. Kenikmatan yang berhasil dia dapatkan tadi malam membuatnya melayang.


Flashback On . . .


Seorang wanita cantik baru saja menutup pintu rumahnya, tetapi sebuah ketukan membuatnya kembali membuka pintu tersebut. Dengan malas dan dengan raut wajah kesalnya, dia berjalan menuju pintu. Raut wajah yang tadi kesal berubah menjadi terkejut kala melihat siapa tamu yang mendatangi rumahnya itu.


Dia memandang tak percaya sosok yang berdiri tegap di hadapannya. Mulutnya terbuka lebar dengan mata membulat. Hey, jika ini hanya sebuah mimpi tolong bangunkan dirinya.


"Tidak ingin mengizinkanku masuk, Baby?" Suara bernada serak itu berhasil menggoda wanita yang sedari tadi terpaku.


****! Auranya mirip sugar daddy. Tiga kancing baju bagian atas kebuka, bibir seksi, tatapan mata penuh gairah. Bisa gila gua! batin perempuan itu dengan mata berbinar.

__ADS_1


"Eum . . . Silakan masuk," pintanya.


"Duduk dulu. Kamu mau minum apa?" tanyanya.


Pria itu tak menyahuti, tetapi dia menarik wanita dengan kasar hingga wanita itu terduduk di pangkuannya. Dia memeluk pinggang wanita itu dengan erat sembari menjilat bibir bawahnya sensual.


Sedangkan, wanita itu masih memaku. Dia masih terkejut dengan rangkaian peristiwa beberapa menit belakangan ini. Namun, tak berselang lama, dia mengalungkan tangannya di leher pria tersebut.


"Ada apa gerangan seorang Darren Aryan Gautama kemari, hm?" tanyanya sembari memberikan menggigit bibir bawahnya.


*Darren, pria itu menggeram kesal dengan tingkah wanita di pangkuannya. Bagaimana tidak, wanita itu dengan berani menggoda miliknya. Darren menghentika*n kelakuan Riana dengan cara menahan tubuh wanita itu.


"Ssshhh . . . Riana," desisnya dengan pandangan berkabut gairah.


Riana, wanita itu terkekeh pelan. Dia sangat menikmati bermain dengan Darren. Tak pernah dirinya sangka akan menjadi senikmat ini.


"Kau ke mari? Lantas istrimu bagaimana?" tanyanya sembari bermain dengan kancing baju bagian atas Darren.


"Aku mengatakan akan lembur," sahut Darren.


Wanita itu menatap Darren yang tengah menatapnya. Tanpa permisi Darren segera menutup mata Riana lantas mengecup bibir Riana singkat.


"Kamu selalu begini dengan istrimu?"


"Tidak! Nata tidak menyukai gaya bercinta kita, Sayang." Darren dengan sengaja berbisik di telinga Riana dengan nada serak untuk menggoda wanita itu.


"Di mana kamarmu?" sambungnya.


"Sebelah kanan."


Flashback Off . . .


"Uhhh . . . Gua basah lagi. Gimana, dong?" desisnya.


Riana mengusap sensual bagian kemerahan yang ada di tubuhnya. Senyum puas tercetak dengan jelas, permainan Darren kemarin malam benar-benar membuatnya tak berdaya.

__ADS_1


"Cepat tumbuh, Sayang. Kita akan rebut papamu dari wanita kampungan itu."


...***...


Leon menatap sang Ibu yang tengah membaca majalah fashion miliknya. Setelah menghela napasnya kasar, dia berjalan mendekati sang Ibu. Leon mendudukkan dirinya di sebelah sang Ibu, ditatapnya sang Ibu dengan serius.


"Ma . . .," panggilnya pelan.


Wanita itu paruh baya itu menoleh lantas meletakkan majalahnya di atas meja. Dia menatap putra bungsunya dengan tatapan penuh tanya.


"Kenapa?" sahutnya dengan nada tak bersahabat.


Leon menghembuskan napasnya kasar. Sudah biasa sosok wanita yang dihormatinya itu bersikap tak adil kepada dirinya dan Krishna. Sejak kecil Leon sudah terbiasa tidak mendapatkan kasih sayang seorang Ibu, walau begitu hatinya tetap saja terasa sakit. Perih yang hingga sekarang tak juga terobati.


Ria Alfira, nama wanita yang menyandang status sebagai Ibu kandung dari Krishnantara Putra dan Leonathan Gabriel. Namun, sejak kecil, Leon tak pernah mendapat kasih sayang seorang Ibu. Ria selalu mengabaikan dirinya padahal sang suami sudah sering memperingatinya, tetapi sikap Ria tak juga berubah.


Selama ini Leon dibesarkan oleh pembantu di keluarga, sosok yang telah lama meninggal dunia. Beliau adalah orang yang selalu menganggap Leon anaknya, memberikan kasih sayang kepada Leon layaknya seorang Ibu. Kasih sayang, cinta, nasihat, perhatian, semua itu dia dapatkan dari sosok pembantu yang dianggapnya seorang Ibu.


Kematian sosok itu membuat Leon berubah menjadi sosok yang dikenal banyak, sosok yang sangat suka berganti-ganti pasangan. Dia hanya mencoba mencari pelampiasan dari rasa sepinya, dari segala sakitnya. Namun, bersyukurnya, Ayah dan kakaknya selalu ada di sampingnya.


"Aku mau ngelamar perempuan yang aku sayang, Ma," ujar Leon.


"Enggak!" Ria segera bangkit dari duduknya, dia menatap Leon dengan amarah. "Enggak ada! Kamu cuman boleh nikah dengan pilihan Mama bukan sama orang yang kamu cinta!" bentak Ria.


Leon memandang tak percaya sang Ibu, ada sesak yang menyapanya. Bahkan untuk menentukan teman hidupnya saja Ria bersikap tak adil. Jika Krishna bebas menentukan pilihannya maka tidak dengan dirinya.


Leon bangkit dari duduknya. "Leon enggak peduli apa kata Mama, Leon bakalan tetep nikahin dia!" hardik laki-laki itu.


"Kamu macem-macem, Mama pastiin perempuan itu dalam bahaya." Ria bersmirik, wanita itu berhasil memancing amarah Leon.


"Stop! Sekali saja Anda menyentuh gadis saya, Anda akan tau akibatnya!"


"Kamu pikir saya takut? Memang apa yang bisa anak manja sepertimu lakukan, hm?" Riana terkekeh sinis.


Leon mengepalkan tangannya. Tanpa berbicara lagi, dia berjalan keluar rumah. Tujuannya saat ini adalah menenangkan pikirannya, dia tak ingin lepas kendali kepada ibunya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2