
Seorang wanita dengan perut yang sedikit membesar itu menarik kopernya sembari menangis. Dirinya menoleh ke belakang, menatap sang suami yang memandanginya datar. Dia Arumi, perempuan malang yang harus menikah dengan pria yang tak memiliki hati. Arumi mengusap air matanya, dia menunduk sembari mengusap lembut perut buncitnya. Dirinya menghela nafas sebelum akhirnya melangkah keluar dari rumah tersebut, dia bersumpah tak akan kembali lagi ke rumah itu.
"Dasar bodoh! Kenapa kamu mengusir istrimu yang tengah mengandung anakmu, Kenan?!" bentak seorang pria paruh baya. Kenan, pria itu tersentak, tubuhnya membeku. Baru saja dirinya mengusir istrinya yang tengah mengandung, sumpah demi Tuhan! Kenan tidak tahu istrinya itu tengah hamil. Tak ingin larut dalam pikirannya, Kenan berlari keluar rumah untuk menyusul istrinya. Dia berharap tidak terlambat untuk menemui istrinya, dia akan merasa sangat bersalah jika itu sampai terjadi.
Bruk!
Para warga sekitar terkejut kala melihat seorang wanita yang terpental cukup jauh, mereka semua tergesa-gesa untuk menghampiri wanita tersebut. Seorang pria meneteskan air matanya, seluruh ototnya seolah melemas, tubuhnya kaku seketika. Dengan perlahan dirinya melangkah, dirinya memeluk tubuh seorang wanita yang sudah berlumuran darah itu dengan erat, perasaan sesak yang dirinya rasakan tak bisa dia tepis. "Arumi, aku mohon bangun! Aku berjanji akan memperbaiki semuanya, bangun! Hiks … Kita besarkan Anak kita bersama, aku mohon bangun, Arumi!" jeritnya histers. Warga dibuat terkejut dengan aksi pemuda itu yang merebut pisau salah satu penjual bakso dan menusuk tepat pada jantungnya.
Di sisi lain, seorang perempuan menutup mulutnya melihat aksi terkejut. Dirinya dibuat tak bisa berkata-kata, tubuhnya melemas. Secara tidak langsung dirinya melihat adegan bunuh diri. Tak ingin suatu saat dirinya terlibat masalah, perempuan itu berjalan masuk ke dalam mobilnya.
Perempuan itu menjalankan mobilnya menuju salah satu restoran. Setibanya di sana, dirinya segera menghampiri para sahabatnya. Dia segera mendudukkan dirinya di sana dengan napas tak beraturan.
"Kamu kenapa, Lina?" tanya Nisya sembari memberikan sebuah minuman.
Lina, perempuan itu menerima minuman yang Nisya berikan. Peluh bercucur dari keningnya, bayang-bayang kejadian saat dirinya di jalan tadi masih menghantuinya. Lina dibuat ketakutan oleh kejadian yang baru dirinya lihat.
"Kamu kenapa, Lin? Kali ini Cellyn bertanya dengan wajah bingungnya.
"Hosh . . . Hosh . . . Hosh . . . Ta—tadi aku enggak sengaja liat orang bunuh diri," ucap Lina dengan terbata-bata.
Nisya dan Cellyn membulatkan matanya sempurna. Dia memandang Lina tak percaya. "SERIUSAN?" pekik mereka bersamaan.
"Jangan teriak! Malu tau enggak sih?!" Lina memperhatikan sekitarnya sembari meringgis.
"Hehe, maaf."
"Hm, udahlah lupain. Saatnya kita seneng-seneng."
Nisya dan Cellyn menghembuskan napasnya pasrah, mereka tahu Lina tengah berusaha melupakan kejadian tersebut. Mereka menatap Lina yang masih menunjukkan raut ketakutan, tetapi perempuan itu berusaha untuk menunjukkan dirinya baik-baik saja.
"Ekhm . . . Yana sakit," ucap Cellyn berusaha mengalihkan perhatian Lina.
__ADS_1
Lina segera menatap Cellyn dengan mata membulat. "Ha?! Sakit?! Sakit apa astaga?! Kok kamu enggak bilang ke aku?! Sekarang gimana? Dia udah sembuh?" tanya Lina beruntun.
"Santai, Lin. Santai, biarin Cellyn jawab," sela Nisya gemas.
"Demam, efek cuaca. Udah membaik."
"Syukurlah, nanti kita jengguk ya?" ucap Nisya yang diangguki Lina.
"Iya, boleh. Pulang dari sini langsung ke rumah Om Devan," sahut Cellyn.
"Rumahmu juga, Cell," ucap Lina.
"Hehe, enggak tau juga."
...***...
Toni Teraxco, Ayah kandung dari Elena Gautama. Pria paruh baya itu semakin hari semakin rapuh, dirinya sudah beberapa kali jatuh sakit. Usianya yang tak muda lagi membuat daya tahan tubuhnya semakin melemah.
"Anda melamun?" tanya sebuah suara.
Toni menoleh lantas tersenyum tipis, senyuman penuh kesenduan. Dirinya ingin berbagi, tetapi tak bisa. Air matanya selalu luruh saat mengingat ataupun menceritakan kejadian penuh luka itu pada orang lain.
"Jangan larut dalam kesedihan, saya tahu Anda menyesal. Perbaiki semuanya, jangan biarkan Sera dan Elena tidak tenang di sana, Pak Toni," celetuk sebuah suara dengan raut sendu.
Toni menggeleng pelan, pecah sudah bulir bening itu. Isak tangis pria itu tak akan bisa mengembalikan kedua wanita yang telah mencapai keabadian itu. Walaupun dia menangis darah, wanita itu tak akan kembali lagi.
"Pak Thofid, Bu Alisha, terima kasih telah menjaga anak saya," lirih Toni.
Dia tersenyum. "Elena saat menjadi menantu keluarga Gautama jelas dia menjadi anak saya juga. Elena dengan senyum manis dan sikap lembutnya, pantas saja Darren jatuh hati. Jangankan Darren, saya dan istri pun dibuat jatuh hati dan kepribadiannya," jelas Thofid.
"Kami merasa beruntung Elena menjadi menantu kami meski tak lama."
__ADS_1
...***...
"Vena balikan pulpen gua woi!"
Teriakan itu menggema di koridor kampus, seorang perempuan berlari mengejar temannya. Beberapa pasang mata menatap mereka malas, kejadian yang hampir setiap hari terjadi. Dua sahabat yang selalu saja menghebohkan satu kampus, bukan hanya parasnya yang cantik, tetapi juga otaknya yang berisi. Namun, sayangnya tingkah mereka masih seperti anak Sekolah Menengah Atas.
"Udah ah, Vi, gua capek," ucap perempuan bernama Vena sembari menghentikan langkahnya.
Via ikut menghentikan langkahnya di samping Vena, keduanya berjalan ke arah bangku yang berada di pojok kantin. Mereka mengatur napasnya sembari menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi. Kegiatan seperti ini selalu mereka lalui, tetapi napas mereka masih saja terasa berat.
"Hosh . . . Hosh . . . Remaja jompo gini amat," ucap Via sembari mengatur napasnya.
Vena melirik Via. "Lo aja sono remaja jompo," ketusnya.
Via hanya mengedikkan bahunya tak peduli. Perempuan itu memilih meminum minuman yang baru saja dirinya pesan. Vena yang melihat itu memandang sahabatnya sinis, selalu saja begitu.
Via jika di mata orang sebagai sosok antagonis, maka di mata Vena berbeda. Via hanya perempuan biasa yang membutuhkan kasih sayang. Bersikap arogan hanya untuk menutupi setiap lukanya dan semua orang berhasil ditipu dengan topengnya itu.
"Makin ke sini gua makin yakin demen tu cowok," ucap Via membuat Vena melihat ke arahnya.
"Cowok yang lo liat di taman itu?" sahut Vena sembari memasukkan makanan ke mulutnya dan mata terfokus pada Via.
Via mengangguk. "Iya, sampai sekarang gua enggak ketemu cowok itu lagi. Gua juga belum tau nama dia." Via tersenyum miris.
Vena yang melihat sahabatnya itu melamun, menghembuskan napasnya kasar. Dia tahu belakangan ini sahabatnya dilanda oleh kegalauan, untuk pertama kalinya Via harus jatuh cinta. Sayangnya, firasat Vena buruk akan hal ini.
"Kalau jodoh pasti ketemu," ucap Vena menghibur.
"Iya," sahut Via.
Semoga enggak akan terjadi apa-apa.
__ADS_1