Gadis Muda Untuk Pak Duda

Gadis Muda Untuk Pak Duda
Pernikahan


__ADS_3

Hari yang membahagiakan bagi Nata dan Darren akhirnya tiba juga. Pernikahan yang telah mereka rancang dengan sedemikian rupa itu akhirnya di depan mata juga.


Pancaran bahagia dari keduanya tak bisa berbohong. Bahkan Cellyn ikut bahagia melihat senyum ayahnya sendiri. Dia akui, dia tak ingin mempunyai Ibu tiri, bukan karena rumor Ibu tiri itu jahat. Namun, karena baginya posisi Elena yang tak bisa digantikan.


Namun, saat dia tahu Nata hamil, dia tak bisa lagi menentang takdir. Tak mungkin ayahnya itu membiarkan anaknya lahir tanpa sosok Ayah. Mau tak mau dia harus mau menerima keadaannya. Melihat Darren yang bahagia bersama Nata, sudah cukup membuat Cellyn yakin melepas ayahnya itu.


Di sisi lain, Nata tengah meremas jemarinya gugup. Wanita memandang sekitarnya gelisah, jantungnya berdetak dengan kerasnya.


"Tenang, ya." Dea menggengam jemari sang putri dengan erat, berharap itu dapat menenangkan putrinya.


"Ma ...," lirih Nata dengan mata berkaca-kaca.


Dea menggeleng pelan sembari tersenyum dengan manisnya. Dia paham perasaan gugup yang menghampiri putrinya itu, dia pernah di posisi itu. Dea tahu segugup apa putrinya itu.


"Sah!"


Suara yang menggema dengan lantangnya itu membuat jantung Nata bertalu dengan kencangnya. Tanpa sadar bulir bening itu menetes, dia telah melepas masa lajangnya.


Dea menangis haru. Ada perasaan sakit yang menyelimuti, bukan karena Nata yang telah resmi menjadi seorang istri. Namun, karena dirinya yang telah gagal menjadi seorang Ibu untuk putri semata wayangnya.


Dea memeluk Nata dengan erat. "Selamat, Sayang. Mama harap kamu bahagia, jadi istri yang berbakti, ya," ucap wanita itu.


"Kita keluar, yuk. Darren pasti udah nunggu kamu."


...***...


Di tempat berbeda, seorang perempuan tengah mengepalkan tangannya. Kuku-kukunya bahkan memutih, sorotnya penuh kebencian. Dia memandangi sebuah undangan yang tergeletak begitu saja di depan meja.


"Kalian tidak akan pernah bahagia," desisnya.


Dia terkekeh sinis, dia akan melakukan segala hal untuk menghancurkan orang yang dia benci. Obsesi terlalu menghantui dirinya hingga dia lupa akan jalan yang lurus. Ditempa kuat dan dihancurkan oleh semesta membuatnya tumbuh menjadi sosok yang berhati dingin.


"Mungkin aku akan diam, hanya untuk sekarang. Sial, kenapa harus ke Singapura?" ujarnya dengan nada kesal di akhir kalimat.


Dia menghembuskan napasnya kasar. Sorot matanya jatuh pada foto yang dia pajang di dinding kamarnya dengan ukuran yang sangat besar. Tatapan penuh amarah, benci, cinta, dan kesal, semuanya menyatu. Semakin membuat perasaan perempuan itu hancur, sesak pun semakin menghimpit dadanya.

__ADS_1


Brak!


"ARGGGGHHHH . . . Kenapa gua harus kalah saing sama perempuan rendahan kayak gitu?! Sial!" hardiknya sembari memukul meja riasnya.


...***...


Laras memandangi perutnya yang mulai membesar itu. Ada perasaan bahagia dan sedih secara bersamaan. Dia takut, takut anaknya akan hidup dalam perundungan karena tak memiliki seorang Ayah.


Wanita yang tengah mengandung itu tentu tahu, bagaimana kehidupan anak zaman sekarang. Mereka telah pandai menghina dan menjatuhkan orang lain. Laras takut hal itu juga terjadi pada anaknya kelak.


Usia kandungannya telah memasuki bulan keempat, lima bulan lagi buah hatinya akan memandangi dunia. Laras takut sekaligus bahagia, segalanya telah dia siapkan dengan baik. Dia mau persalinan dirinya berjalan, meski tanpa pendamping.


"Kamu yang kuat ya, Sayang," ucapnya sembari mengulas senyum manis.


Wanita itu menghela napas, lantas berjalan ke arah dapur. Hari minggu, dirinya mendapatkan cuti dari atasannya, alasannya karena Laras butuh istirahat.


Dirinya berniat memasak mi untuk makan siangnya. Meski kurang baik untuk kesehatannya, dirinya tak peduli. Dia tak ingin membuat buah hatinya harus kelaparan di dalam sana.


"Andai pernikahanku layaknya orang-orang. Pasti aku bahagia."


Vero tahu anak itu memang anaknya, darah dagingnya. Namun, pria itu enggan memiliki anak dari seorang wanita miskin seperti Laras. Baginya pasangan yang akan mendampingi dirinya harus sesuai dan sepantaran dengannya.


Katakanlah dia jahat, tetapi memang itu faktanya. Pria itu justru menaruh hati pada sosok pengacara cantik, Yeshania Arafa. Sosok perempuan dengan keangunan dan sikap cueknya yang berhasil menarik perhatian Vero.


Kembali lagi pada Laras, Wanita itu memandang langit-langit kamarnya dengan tatapan sendu. Hidup sebatang kara dalam posisi mengandung memang tak akan mudah, tetapi dengan menyerah pun tidak akan membuat masalahnya usai. Dia hanya akan menambah masalah di akhirat nanti.


"Huh . . . Bunuh diri dosa enggak sih?"


...***...


Darren terus saja memandangi wajah cantik Nata membuat wanita itu malu setengah mati. Bagaimana tidak, saat ini mereka tengah bersaliman dengan para tamu. Tentu beberapa tamu melihat kelakuan Darren, tak terkecuali Cellyn.


"Bapak lo betah banget liatin bininya," celetuk Lina sembari menatap pengantin baru yang tengah berdiri di atas altar.


"Kayak pengantin baru," kekeh Nisya.

__ADS_1


"Lo kapan nyusul?" ejek Lina yang dibalas tatapan menggoda oleh Nisya.


"Ngaca! Lo berdua bahkan masih jomblo," sungut perempuan itu sembari memandang kesal sahabatnya.


Beralih kembali ke Darren dan Nata. Nata semakin dibuat salah tingkah oleh tatapan intens suaminya itu.


"Mas kenapa liatnya gitu banget, sih?" tanya Nata malu-malu.


"Cantik," cetus Darren dengan senyum manisnya.


"Ekhm ... Dilanjut nanti ae di kamar. Ini kita mau salaman," celetuk Alika dengan tatapan malasnya.


Nata menundukkan kepalanya saat melihat sahabatnya dan sahabat Darren berada di hadapan mereka. Dia sungguh malu saat ini.


"Jangan nunduk, mahkota lo entar jatuh. Enggak ada duit di bawah juga," bisik Yesha.


"Berapa bulan, Him?" tanya Darren pada wanita yang berdiri di sebelah Devan.


"Tinggal nunggu waktu lahiran."


Sahutan itu jelas mengundang sorakan dari Leon dan Refan. Mereka tak sabar menanti kehadiran sosok malaikat kecil itu. Namun, sorakan itu terhenti saat Cellyn menghampiri mereka.


Sadar atau tidak, perempuan itu mencoba mengabaikan keberadaan yang lain kecuali, Darren dan Nata. Dirinya berniat izin pergi ke kamar, karena kepalanya seketika berat.


"Eh, Cellyn. Mau cari Papa?" tanya Leon yang dibalas anggukan oleh perempuan itu.


"Muka kamu pucat. Kamu enggak papa?"


"Cellyn baik-baik aja kok, Om Refan," sahut perempuan itu.


Cellyn menghela napasnya. Dia tahu Hima sedari tadi memandangnya dengan intens. Dirinya hanya mencoba untuk pura-pura tak peduli, dia tak ingin kembali terjebak. Meski rasanya untuk Devan belum juga menghilang, dirinya hanya mencoba untuk bersikap acuh tak acuh pada laki-laki itu.


"Pa, Ma, Cellyn mau ke ka—"


Bruk!

__ADS_1


"Sayang!"


__ADS_2