
Darren terus saja memikirkan ucapan sahabatnya— Devan. Ucapan Devan saat makan siang tadi masih tergiang dalam benaknya. Di mana sahabatnya itu tengah menasihati dirinya.
Dirinya menghela nafas berat, apa yang dikatakan sahabatnya itu ada benarnya. Namun, melupakan Elena tentu tak akan semudah itu. Elena adalah hidupnya, hal terindah yang dirinya miliki. Dan, kehilangan Elena adalah hal paling menyakitkan yang dirinya rasakan.
Flashback On.
Devan menghela nafas berat. Dirinya memandang Darren tenang. Bagaimanapun sahabatnya harus memulai hidup baru bukan terjebak dalam kenangan bersama mendiang istrinya. Devan tahu jelas itu bukan hal mudah, tetapi sahabatnya itu harus bangkit. Harus memulai melupakan kenangan itu.
Ah, bukan melupakan, tetapi menyimpannya di tempat terbaik yang ada di hati. Devan memandang Darren dengan sorot yang tak bisa dijelaskan. Helaan nafas Devan memancing atensi Darren. Darren memandang Devan penuh tanya.
"Ini emang sulit, Ren. Tapi, kamu harus bangkit dari semua ini. Sampai kapan kamu akan larut? Bagaimana jika Cellyn tahu kondisi papanya? Dia akan merasa gagal sebagai seorang anak, Ren," tutur Devan mencoba memberi pengertian.
"Tapi, ini sulit, Dev," lirih Darren.
Devan menghela nafas kembali. Dirinya memandang keluar jendela, dia turut sedih melihat kondisi sahabatnya. Dimana Darren selalu berusaha baik-baik saja di hadapan semua orang termasuk di hadapan dirinya dan juga Cellyn. Devan tidak mau suatu saat nanti sahabatnya tak akan ada yang mengurus di hari tuanya.
Dirinya yakin Cellyn tak akan menelantarkan Darren begitu saja, tetapi Darren pasti akan tetap merasa kesepian. Cellyn pun nanti akan sibuk akan hidup barunya, keluarga barunya, dan dirinya juga akan sibuk dengan keluarganya. Dan, dia tidak mau sahabat terbaiknya harus merasakan kesepian.
"Aku tahu itu, Ren. Cuman sampai kapan kamu terus terbayang-bayang sama mendiang istrimu? Elena bakalan sedih, kalau dia tahu kamu masih larut akan kenangan mereka."
"Pikirin juga keadaan Cellyn saat tahu ternyata orang yang dia punya satu-satunya menyembunyikan keadaannya dari dirinya. Orang tua Elena bahkan gak mau tahu soal anakmu, kamu lupa? Aku yang bantu kamu urus dia, Ren," lanjut Devan dengan tenang.
Darren menghela nafas lelah. "Lantas aku harus apa?" ucapnya putus asa.
"Mulai hidup baru, jangan lupakan Elena. Memulai hidup baru dengan Elena yang kamu simpan di hatimu yang paling dalam."
Flashback Off.
Darren memandang nanar foto mendiang Elena. Dadanya digorogoti oleh rasa nyeri, rindu yang selalu tak terobati. Sembilan belas tahun sudah berlalu, tetapi cintanya untuk Elena tak juga surut.
__ADS_1
Elena Gautama.
Nama itu selalu menjadi nama yang Darren harapkan hadir dalam mimpinya. Namun, Elena tak pernah juga hadir ke dalam mimpinya. Elena bahkan seolah tak pernah ingin tahu kondisi hatinya, itulah yang dipikirkan oleh Darren.
Apa hal yang paling berharga bagi seorang Darren Gautama? Jelas Elena, Cellyn? Cellyn adalah penyemangat terakhir bagi Darren. Dirinya tak akan pernah tahu bagaimana jika nanti Cellyn pergi darinya, hidup bersama sosok pria yang akan menggantikan sosoknya kelak.
Darren takut, takut Cellyn akan lupa dengannya. Dirinya memandang foto terakhir kali keluarganya, di mana di sana ada dirinya, Elena, dan Cellyn. Da mengambil foto tersebut, matanya sedari tadi menahan tangis yang akan membanjiri pipinya. Dirinya mengusap foto itu dengan gerakan pelan, rasa sesak semakin menyakiti dirinya.
Diletakkannya foto tersebut kembali. Kakinya melangkah menuju sebuah lemari yang berada diujung ruangan. Tatapan matanya sendu, menyiratkan sebuah luka dan kesepian. Darren membuka lemari tersebut, mengambil sebuah kotak coklat.
Air mata yang sedari tadi dirinya tahan akhirnya luruh juga. Darren kalah, kalah akan lukanya sendiri. Dengan perlahan dibukanya kotak tersebut, di sana terdapat foto dirinya dan Elena. Foto itu dia ambil saat masa pendekatannya dengan Elena, dari pendekatan hingga pernikahan mereka.
Flashback On.
Seorang pria tengah memandangi seorang gadis dengan perawakan tinggi. Senyum tipis terbit dari wajah tampannya, Matanya tak henti menatap gadis yang tengah tertawa dengan indahnya. Tawa yang mampu mengalihkan dunia sang pria.
"Hahaha ... kalau suka mah deketin, bukan diem-diem, Bro!" ujarnya dengan gaya slegean.
Pria itu memandang sahabatnya tajam. "Elena itu terlalu sempurna untuk gua yang—"
"Naudzubillah kayak setan, 'kan?" potong sahabatnya.
Pria itu mendelik kesal. "Lo tuh yang kayak setan."
"Darren Aryan Gautama, anak Bapak Tofid Gautama dan Ibu Alisha Gautama. Sejak kapan lo jadi pengecut?"
Iya, dia adalah Darren Aryan Gautama. Sosok pria yang terus memandangi Elena Teraxco dengan sangat intens. Darren mengagumi paras cantik dan rupawan Elena. Senyuman Elena adalah hal yang paling dirinya sukai.
Namun, untuk mendekati Elena, Darren terlalu takut. Bukan karena dirinya tak tampan apalagi mapan, hanya saja Elena adalah murid berprestasi di sekolahnya. Sosok ketua osis yang dikenal dengan ketegasannya.
__ADS_1
"Sono deketin si Elena, nanti diambil orang, nangessssss," ejek sahabatnya— Devano Brawirya.
Darren mendengus kasar, dirinya memilih menjauh dari Devan. Jika, tidak dia akan terpancing emosi karena sahabatnya itu. Urusan hatinya biarlah jadi urusan dirinya dan Tuhan.
Sebulan telah berlalu, tak ada yang berubah. Darren tetap menjadi penggangum rahasia seorang Elena Teraxco. Dirinya takut Elena akan menjauh darinya, walau kenyatannya mereka memang tak dekat.
Hingga suatu hari, Elena membantunya mengobati luka akibat tawuran. Dari sanalah dirinya bisa memandangi wajah cantik Elena dari dekat, wajah tegas saat Elena tengah serius. Dan, Darren menikmati rasa sakit dari luka yang ia dapatkan.
"Kenapa?" tanya Elena saat sadar Darren terus memperhatikan dirinya.
Darren sendiri gelagapan saat Elena mengetahui dirinya tengah menatap indah ciptaan Tuhan. "Hh—ha? Enggak kok."
"Yakin?"
"Iya."
Waktu terus berlalu dengan cepat. Elena dan Darren kian hari kian dekat seolah tak ada jarak. Rasa cinta pun hadir dalam diri mereka masing-masing, perasaan nyaman yang timbul akibat kebersamaan mereka. Rasa nyaman yang hadir akibat perhatian satu sama lain.
Hingga pada akhirnya, Darren memutuskan untuk mengungkapkan perasaan dirinya. Walau dirinya ragu akan diterima oleh Elena, tetapi Darren tak ingin mundur begitu saja. Ia sudah membulatkan tekadnya untuk menjadikan Elena miliknya, hanya miliknya seorang.
Riuh tepuk tangan dan sorak-sorakan heboh memenuhi lapangan SMA Merpati, tempat Darren bersekolah. Seluruh penghuni SMA Merpati dibuat terkejut dengan tindakan Darren yang tiba-tiba menyatakan perasaannya pada Ketua Osis SMA Merpati. Dugaan mereka benar, pasti akan timbul rasa diantara keduanya. Namun, tetap saja mereka terkejut akan apa yang mereka lihat sekarang.
"Elena Toraxco, aku emang bukan cowok pinter yang sebanding sama kamu. Aku cuman cowok yang suka buat ulah untuk dapat perhatian kamu. Kamu emang terlalu indah untuk aku genggam, tapi apa salah aku nyatain perasaan ini ke kamu? El, kamu mau gak jadi bagian dari ceritaku yang datar aja? Jadi orang yang paling berarti buat aku, mau? Dan, suatu saat nanti jadi Elena Gautama, Ibu dari anak-anakku," ujar Darren dengan sebuket bunga di tangannya.
Elena tersipu, dirinya menundukkan wajahnya dalam. Dia tak berani untuk menatap semua orang, termasuk Darren. Perasaan hangat menjalar di hatinya. Ia tak munafik, dirinya juga jatuh cinta pada sosok Darren. Sosok yang mampu memperlakukan dirinya dengan baik.
"Iya, aku mau."
Flashback Off.
__ADS_1