
Dua sahabat yang sudah lama tak menghabiskan waktu bersama memutuskan untuk bertemu pada jam makan siang. Sama-sama sibuk, sama-sama pengusaha sukses. Hanya saja yang satu memang sudah kaya sejak lahir, berbeda dengan yang satunya lagi, dimana dia harus merintis karirnya dari nol.
Darren Aryan Gautama dan Devano Brawirya, dua sahabat karib yang hingga kini masih menjalin hubungan baik. Hubungan persahabatannya yang sudah terjalin cukup lama tak terputus walau keduanya sudah memiliki keluarga dan kesibukan satu sama lain. Meski waktu mereka untuk berkumpul sudah tak sebanyak dulu, tetapi hubungan mereka masih terjalin dengan baik.
Siang ini, Darren dan Devan memutuskan bertemu. Menghabiskan waktu mereka untuk saling berbagi, hal yang sudah lama tak mereka lakukan karena kesibukan mereka. Rindu? Tentu saja mereka rindu dengan masa muda mereka, rindu dengan kenangan masa muda mereka.
Mereka memutuskan bertemu di restoran bergaya eropa. Tak hanya ingin bertemu saja, mereka juga ingin makan siang bersama. Walau sesaat, tetapi waktu yang mereka habiskan sangat berharga bagi keduanya.
"Wuih, si duda udah sampe aja."
Darren memutar balas bola matanya. "Kamu aja yang kelamaan, Dev."
Devan mendudukkan dirinya di hadapan Darren. "Hahaha .... maaf."
Darren hanya mengganguk sekilas. Mereka menikmati makan siang mereka dengan kesunyian, hanya dentingan alat makan saja yang bersuara. Saat mereka sudah selesai makan, barulah mereka berbincang.
"Kamu gak ada niatan nikah lagi, Dar?" Pertanyaan itu tentu membuat Darren tersentak.
Ia menatap Devan nyalang. "Jangan ngawur kamu, Dev!"
Devan yang mendengar nada marah sahabatnya menghela nafas berat. Ia hanya tak mau Darren kesepian nantinya, walaupun kenyataannya sudah. Bagaimanapun nanti Cellyn akan menikah, gadis itu tak akan selamanya ada di kediaman Gautama.
"Huft ..."
...***...
Sepulang dari rumah sakit, Cellyn segera pulang ke rumah. Langkahnya semakin lebar kala sudah tiba di rumah. Ia sudah tak sabar ingin mengistirahatkan tubuh dan membersihkan tubuh. Rasanya sangat melelahkan hari ini, pasien tak terbendung jumlahnya.
Namun, walau begitu dirinya menikmati profesinya. Profesi yang mengharuskannya mementingkan pasien bukan dirinya sendiri. Menjadi Dokter juga membuatnya memiliki rasa empati dan simpati lebih dalam lagi. Selelah apa pun dirinya, jika ia melihat senyum dari pasiennya maka lelahnya menghilang. Senyum karena kesembuhan mereka adalah hal yang paling Cellyn sukai.
"Cellyn, makan malam, Nak."
__ADS_1
Cellyn tersenyum tipis mendengarkan. Dia yang semula sibuk memakai berbagai jenis skincare menghentikan kegiatannya kala mendengar suara Darren. ia melirik jam di dinding, sudah jam makan malam rupanya. Tak ingin membuat Darren menunggu, dia memutuskan segera turun ke bawah.
"Malam, Pa," sapanya sembari mencium pipi Darren.
"Malam juga, Cantik."
Cellyn tersipu mendengar jawaban ayahnya. Ah .... ayahnya ini benar-benar sangat manis untuk dijadikan kekasih. Hahaha .... sayangnya Darren lebih pantas menjadi seorang Ayah untuk Cellyn.
Cellyn mendudukkan diri di depan Ayah. Jadi, posisi mereka saling berhadapan sekarang. Tanpa menunggu lama, dia mengambilkan makan malam untuk ayahnya. Rasanya Cellyn sudah pantas untuk menikah, bukan?
"Bagaimana pekerjaan kamu hari ini?" tanya Darren saat mereka t'lah usai menyantap makan malam.
Cellyn mengganguk singkat. "Lumayan baik, Pa. Sama seperti biasanya, jumlah pasien meledak. Papa gimana di kantor tadi?"
Saat ini mereka tengah berada di ruang keluarga. Hal ini, biasa mereka lakukan untuk menikmati waktu bersama saat mereka bisa berkumpul setelah seharian berkerja. Memang tak banyak, mengingat kesibukan mereka berdua. Namun, setidaknya kami memiliki waktu bersama.
"Cukup melelahkan," sahut Ayah.
Ia terkekeh pelan. "Lelah Papa mah terbayar setelah nonton pertandingan olahraga."
"Pa ...," ujarnya dengan pelan sembari menunduk.
"Cell, Papa gak memaksa kamu untuk cepat-cepat menikah. Papa paham kamu masih nyaman sendiri, tapi Papa khawatir. Gimana kalau Papa pergi nanti kamu gak ada yang urus," jelas Darren membuatnya menangis.
"Pa, jangan ngomong gitu," lirihnya.
Dapat dia rasakan dekapan hangat menyelimuti tubuh kecilnya. Cellyn tahu ini pelukan ayahnya, pelukan yang tak ada tandingannya jika mencari kenyamanan. Pelukan yang selalu berhasil membuatnya merasa aman. Suatu saat ia harus rela kehilangan tempat berlindungku.
"Shut .... udah, sekarang kamu istirahat. Besok masih harus ke rumah sakit, 'kan? Shut ... udah jangan nangis, maafin Papa karena udah buat kamu nangis."
...***...
__ADS_1
Darren menghembuskan nafas lelah. Dirinya melirik jam yang bertengger di pergelangan tangannya, sudah pukul 10 malam. Namun, semua perkerjaan dirinya belum juga tuntas. Ia ingin cepat kembali ke rumah, melihat senyuman manis putrinya yang membuatnya ingat dengan sosok mendiang Elena.
Dirinya tahu ini salah, dirinya selalu menganggap Cellyn adalah Elena. Paras Cellyn yang memang sangat mirip dengan Elena, ditambah sifat Cellyn pun turunan dari Elena. Hal itu tentu membuat Darren hanyut dalam khayalan dan masa lalunya.
Tinggal seatap dengan Cellyn terkadang membuatnya takut menaruh rasa lebih. Bagaimanapun dirinya juga seorang pria biasa dan seorang pria yang belum usai dengan kisah masa lalunya. Rasa takut itu selalu muncul kala Darren merasa kesepian, mungkin Devan benar dirinya harus kembali menemukan tambatan hati.
Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 02.00 wib. Darren menghela nafas lelah, akhirnya pekerjaan dirinya usai sudah. Dia segera membereskan barang-barangnya, ia sudah amat lelah. Dareen tak sabar untuk cepat sampai ke rumahnya.
Kaki besarnya berjalan masuk ke dalam rumah. Matanya melirik sekitar yang sudah sepi, lampu pun sudah dimatikan. Ia yakin Cellyn sudah tidur sedari tadi, mengingat anaknya itu selalu tidur dibawah pukul sepuluh sejak dulu.
Dirinya membersihkan tubuhnya terlebih dahulu sebelum memutuskan untuk makan. Sedari tadi dirinya menahan lapar dan sekarang ia sudah bisa makan. Jika dulu ada Elena yang akan menunggu dirinya pulang dan menyiapkan makanan, maka sekarang dirinya melakukan itu sendiri. Dirinya tak mungkin membangunkan anaknya itu.
Darren yang tengah memanaskan makanan sisa kemarin malam dibuat terkejut dengan kehadiran Cellyn yang tiba-tiba. Dia mengelus dadanya melihat penampilan Cellyn yang menggunakan baju putih dan rambut tergerai, persis seorang kuntilanak. Ia memandang putrinya sejenak dan kembali fokus pada kegiatannya.
"Papa angetin masakan kemarin? Kenapa gak bangunin aku sih? 'Kan bisa aku masakin, Pa," celetuk Cellyn diiringi helaan nafas.
Dirinya tak pernah tahu jika pelayan di rumahnya selalu menaruh makanan semalam di kulkas. Jika saja ia tak terbangun, maka dirinya tak akan pernah tahu soal ini. Ia tak akan pernah tahu jika Darren selalu makan makanan bekas seperti ini.
Perempuan itu menghela nafas, memilih mematikan kompor dan berjalan menuju kulkas. Ia mengeluarkan sayur dan ayam mentah yang ada di kulkas. Darren tetap diam, memperhatikan yang putrinya lakukan.
"Udah, Cellyn. Biar Papa makan ini aja," ujar Darren lembut.
Cellyn menatap Darren tajam. "Enggak! Sekarang Papa duduk, biar Cellyn masakin. Kebetulan Cellyn juga lapar."
"Mending kamu lanjut tidur," celetuk Darren.
Cellyn menghela nafas. "Tahu gak sih? Sifat Papa yang nyembunyiin dan selalu mencoba sendiri tanpa biarin aku tahu itu buat aku merasa gagal jadi seorang anak," celosnya.
Darren menghela nafas. Ia berjalan mendekati putrinya, memeluk erat putrinya itu. Tangannya bergerak mengusap surai putrinya. Darren paham, Cellyn hanya merasa khawatir pada dirinya.
"Maafin Papa, ya?"
__ADS_1
Bersambung.
Maaf aku lgi sakit:) Terpaksa ambil scene di HPTT.