
Yesha melangkahkan kakinya menuju minimarket yang berada tak jauh dari rumahnya. Perempuan itu nampak cantik dengan baju tidurnya, iya dia baru saja bangun tidur. Dirinya berniat membeli bahan masakan yang mudah, mi instan contohnya. Wina saat ini tengah berada di rumah sanak saudaranya, hal itu membuat Yesha terpaksa memakan mi instan di pagi hari. Dirinya memang tak bisa memasak, tak seperti Alika dan Nata yang tergolong pandai memasak.
Perempuan cantik itu lebih pandai berurusan dengan pasal-pasal dalam undang-undang dan kasus-kasus yang dia tangani. Karena dirinya tak bisa memasak, sering kali membuatnya mendapatkan petuah dari sang Ibu. Yesha tahu jika maksud Wina baik, tetapi tetap saja dirinya merasa malas untuk belajar memasak.
"Ck, mau makan mi aja repot. Gua kira yang susah cuman milih rasa pop ice doang, ternyata milih rasa mi instan juga pilihan yang susah," gerutunya dengan suara pelan.
Lama menatap rak yang berisi jajaran mi instan yang cukup terkenal di Indonesia. Pilihan perempuan itu jatuh pada mi instan goreng dari brand yang cukup terkenal. Setelah dirasa cukup, perempuan itu kini melangkahkan kakinya menuju kulkas untuk membeli susu kotak favoritnya. Perempuan itu memang sangat suka meminum susu kotak, terutama susu kotak dengan rasa coklat.
Yesha menatap keranjang belanjaannya yang tidak hanya berisi mi instan dan susu kotak, tetapi juga beberapa camilan yang dia beli. Setelah dirasa cukup, dirinya melangkahkan kakinya menuju kasir. Namun, langkahnya itu harus terhenti karena sebuah suara yang sedikit familiar di telinganya. Yesha menghela napasnya kasar, raut wajahnya berubah semakin datar kala dirinya menoleh ke belakang.
"Hallo, Cantik," celetuk Leon.
Yesha tak menjawab, perempuan itu justru kembali melanjutkan langkahnya. Namun, dengan cepat Leon menarik tangan Yesha. Perempuan itu kini berada dalam pelukan Leon dengan tangan kanan yang memegang keranjang belanjaan. Dirinya berusaha keras melepaskan pelukan Leon, tetapi pria itu justru semakin mengeratkan pelukannya.
"Lepasin, sialan!" maki Yesha.
Dia terkekeh, tangannya membelai lembut wajah Yesha. "Marah-marah mulu, enggak capek emangnya? Kenapa pake piyama gini?" tanya Leon dengan lembut.
"Gak usah sok kenal," desis Yesha sembari menepis tangan Leon dari wajahnya.
Leon terbahak. "Lucu banget sih calon istri gua."
...***...
Sekar membereskan semua dokumen kliennya yang berserakan di meja kerjanya. Perempuan itu sedari tadi hanya menampilkan raut sendunya. Sepertinya perubahan sikap Darren membuatnya kepikiran. Berulang kali bayang-bayang tentang Darren mengusik dirinya, sikap manis ataupun lembut Darren padanya masih tergiang jelas.
__ADS_1
Dirinya menghembuskan napasnya kasar. Ini salahnya yang tak berpikir seribu kali sebelum memutuskan sesuatu. Kecerobohan dirinya membuatnya harus kehilangan pria yang dirinya cinta sekaligus sahabatnya itu. Andai waktu bisa dirinya ulang, dirinya sangat ingin kembali ke masa itu. Masa di mana dia dan Darren tak terhalang oleh jarak.
"Kenapa berubah? Kenapa, Ren? Apa karena perasaan aku?" lirihnya.
Sekar mengacak rambutnya lantas memejamkan matanya erat. Perempuan itu menenggelamkan wajahnya di antara lipatan tangan. Rasa sakit, sedih, kecewa, dan putus asa jelas menyatu dalam hatinya. Sesak yang dirinya rasakan bahkan tak juga hilang. Sekar hanya berharap Darren sedikit mengerti dirinya, tetapi sepertinya hampir tidak mungkin.
"Gak mungkin seorang Psikolog jadi setres, 'kan?" celetuk sebuah suara.
Sekar mendongak, dirinya berdecak saat tahu siapa pemilik dari suara tersebut. Perempuan itu menegakkan tubuhnya. Matanya memandang sosok di hadapannya dengan malas. Dirinya tengah pusing dengan permasalahannya dan Darren, lantas sekarang ada orang yang menggangu dirinya.
"Berisik banget sih kamu!" ketus Sekar.
"Galak bener. PMS lu?" balas pria itu sinis.
Sekar memutar malas netranya, perempuan itu memandang pria di hadapannya dengan datar. "Ngapain sih kamu ke sini, Dev? Urus istri kamu yang lagi hamil sana!"
Iya, dia Devan Brawirya, sahabat dari Darren. Pria itu berniat menemani Sekar lebih tepatnya merecoki perempuan itu. Devan melirik pada tumpukkan kertas yang berada di meja teman lamanya itu. Dirinya mendudukkan bokongnya pada kursi klien yang ada di hadapan Sekar.
"Kayaknya Darren naksir Sekretaris barunya itu," cetus Devan membuat Sekar membeku.
"Se—sekretaris baru?" ulang Sekar dengan gugup.
Dia mengganguk pasti. "Yup! Anaknya kalem, lugu, manis juga," sahut Devan.
Sekar yang mendengar itu merosotkan tubuhnya. Dia memandang nanar ke hadapan Devan. Hancur, satu kata yang menggambarkan suasana hatinya saat ini. Dia tak bisa lagi untuk memberikan komentar apa-apa, bibirnya seolah terkunci dengan rapat. Hanya dadanya saja yang bertalu menahan sakit.
__ADS_1
"Aku harap kamu gak nekat, Kar. Jangan buat Darren semakin jauh dari kamu."
...***...
Hari ini, Nata memutuskan membawa bekal ke kantornya untuk makan siang. Perempuan itu malas jika harus pergi ke kantin atau kafe dekat kantornya. Belum lagi dirinya harus menghemat pengeluarannya, mengingat sudah memasuki tanggal tua. Jadi, dirinya harus pandai-pandai mengatur keuangannya.
Perempuan itu makan dengan lahapnya tanpa menyadari di belakangnya ada seseorang yang menatapnya dengan senyum. Sosok itu bahkan tak bisa mengalihkan antensinya dari punggung milik Nata. Dia dibuat gemas dengan raut wajah Nata yang tengah mengunyah makanan. Perlahan, kakinya melangkah menghampiri Nata dengan senyum tipis yang tak luntur dari wajahnya.
Cup!
Tubuh Nata menegang dengan sempurna saat mendapatkan sebuah kecupan pada pipi kirinya. Respons tubuhnya itu membuat sosok tersebut mengulum bibirnya. Setelah usai dengan rasa terkejutnya, Nata membalikkan tubuhnya. Dirinya berniat memarahi orang yang telah lancang memberikan kecupan pada pipinya.
"Lancang banget ya! Ini itu termasuk pele—" Ucapan Nata menggantung di udara. Matanya membulat sempurna saat tahu siapa pelaku yang telah lancang memberikan kecupan pada pipinya. "P—pak Darren?" lanjutnya gugup.
Darren yang merasa namanya disebut, menaikkan satu alisnya. Dia memandang Nata dengan datar, pria itu sengaja menjahili Sekretaris kecil miliknya. Matian-matian dirinya menahan tawa yang akan meledak karena melihat raut wajah tegang Nata. Dirinya benar-benar dibuat gemas dengan ekspresi Nata.
"Kamu mau bilang saya melakukan pelecehan, Nona?" tanya Darren dengan suara rendahnya.
Nata menahan napasnya saat hembusan napas Darren menerpa wajahnya, jarak mereka cukup dekat saat ini. "Bu—bukan gitu maksud saya, Pak," sahutnya sembari memundurkan wajahnya.
"Terus?"
"Lagian Bapak! Bapak ngapain tiba-tiba cium pipi saya?! Gimana kalau saya jantungan?! Bapak mau emang masuk penjara karena bunuh pegawai sendiri?!" omel Nata membuat Darren semakin gemas.
Pria itu dengan sengaja mengecup bibir Nata yang terbuka, karena perempuan itu tengah mengatur napasnya. Perbuatannya kali ini semakin membuat Nata terkejut bercampur malu. Sedangkan, Darren dibuat terkekeh samar oleh tingkah Nata.
__ADS_1
"Lucu banget hahaha ... Buktinya kamu enggak jantungan saya cium. Kamu justru salah tingkah, Sayang."