
Laras membawa mantan suaminya itu ke kontrakannya, bukan tanpa alasan Laras membawa mantan suaminya itu ke kontrakan miliknya. Kondisi Vero tidak memungkinkan untuk pria itu menyetir mobil, Laras hanya takut terjadi hal-hal buruk pada Vero.
Meninggalkan Laras yang tengah sibuk bergelut dengan pikirannya. Vero, pria itu tengah memandangi kontrakan Laras dengan tatapan menilai. Kontrakannya tidak besar, tetapi cukup rapi. Pria itu menghela napas, dia tak tahu apakah dia bisa tidur malam ini. Bagaimanapun dirinya terbiasa tidur kamar yang ber-AC dan ranjang yang cukup empuk.
Kaki pria itu melangkah mendekati Laras yang berada di dapur. Dia memandang Laras yang tengah meminum susu hamilnya. Ada perasaan bersalah yang hinggap di hatinya, ada rasa sesak yang tiba-tiba saja mengusik dirinya. Atensi Vero sama sekali tak teralih, dirinya terfokus pada Laras.
"Mas kenapa liatin aku kayak gitu?" tanya Laras. Wanita itu dibuat terkejut saat membalikkan badan dan menemukan Vero yang terpaku menatapnya.
Dia gelagapan. "E—eh? Enggak apa-apa kok," sahut Vero sedikit terbata.
Laras mengernyitkan dahinya saat melihat tingkah laku Vero. Wanita itu menggeleng keras, mencoba mengusir pikiran-pikirannya yang tiba-tiba saja berisi tentang Vero. Laras menghembuskan napasnya panjang, dirinya harus bisa bersikap seolah tak terjadi apa-apa. Padahal hatinya sangat ingin memeluk Vero, mengatakan seribu kalimat amarah dan kalimat rindu. Bohong rasanya jika rasanya untuk Vero sudah sirna.
"Mas tidur sekamar sama aku, enggak papa? Nanti biar aku tidur di sofa kalau Mas enggak mau." Laras memandangi Vero dengan wajah memerah.
"Sekamar?" ulang Vero sembari menaikkan alisnya.
Laras mengangguk. "Iya, soalnya aku cuman bisa bayar kontrakan yang murah. Jadi, Mas mau tidur sekamar sama aku atau enggak?" jelas Laras.
"Hm, kita sekamar aja kalau gitu."
Laras yang mendengar jawaban Vero mengangguk pelan. Jantungnya berdebar hebat, ada perasaan malu dan tak percaya yang menyatu. Selama menikah, Vero selalu menolak tidur sekamar dengannya. Namun, sekarang dengan mudahnya pria itu menyetujuinya. Rasanya Laras tengah bermimpi saat ini.
Di sinilah mereka sekarang, di sebuah kamar minimalis. Berada dalam satu ruangan dan dalam ranjang yang sama. Gugup, itulah yang Laras rasakan. Padahal ini bukan malam pertamanya, tetapi dirinya seperti tengah ada pada situasi malam pengantin. Laras melirik diam-diam ke arah Vero yang tengah memandang langit-langit kamarnya.
"Tidur," cetus Vero.
Laras mengangguk pelan. Dia perlahan memejamkan matanya, tetapi rasa kantuk dikalahkan oleh rasa gugupnya. Dia membalikkan tubuhnya perlahan menghadapi Vero, memandang mantan suaminya itu dengan teduh.
"Mas, aku ndak bisa tidur," adu Laras dengan manjanya.
Vero yang mendengar itu segera mengubah posisinya menjadi menyamping. Dia menatap Laras dengan lekatnya, pria itu terpaku. Dia baru sadar bahwa Laras memiliki wajah ayu khas perempuan Indonesia. Pandangannya beralih pada bibir Laras yang tengah cemberut itu, dia menelan salivanya dengan susah payah.
"Maaf."
__ADS_1
Entah siapa yang lebih dahulu memulai, tetapi kini dua benda kenyal itu telah menyatu. Saling berperang mencari kenikmatan yang semu. Mereka memejamkan mata erat, merasakan nikmat yang perlahan berbalut gairah. Laras memandangi Vero dengan tulus, jantungnya bertalu-talu sekarang.
Saat dirasa udara sekitar mulai menipis, Laras memukuli dada Vero dengan pelan. Paham maksud mantan istrinya itu, Vero segera menyudahi kegiatannya. Dia memandang saliva yang memutus kegiatan mereka, tangan pria itu mengusap lembut bibir Laras yang membengkak.
"Manis," ucapnya dengan tatapan lembut.
"Ma—mas . . ., di bawah gatal. Dedenya kangen sama Mas kayaknya," cicit Laras.
Dia terkekeh. "Dedenya atau kamu?" tanya Vero dengan nada menggoda.
Laras berdecak. Walau faktanya memang dia yang rindu, tetapi anak di dalam kandungnya juga ikut merindukan ayahnya itu. Mendengar kekehan dari Vero membuat Laras segera membalikkan badannya untuk membelakangi Vero, tetapi pria itu dengan cepat membalikkan badannya kembali. Bahkan kini pria itu sudah mengukung dirinya, Laras tentu saja terkejut dengan hal itu.
"As you wish, Baby."
...***...
Cellyn menghela napasnya sebelum memasuki rumah keluarganya. Perempuan itu memilih pulang ke rumah ayahnya untuk sesaat, dia hanya ingin menenangkan dirinya. Menenangkan hatinya yang terasa kacau.
Yang pertama kali dia lihat saat memasuki rumah adalah Nata yang sedang sibuk menonton acara televisi ditemani setoples keripik pisang. Cellyn menghampirinya dengan senyum cerah di wajahnya. Dia tak mau keluarganya tahu bahwa dirinya tengah dirundung oleh masalah.
Kehadiran Cellyn yang tiba-tiba jelas membuat Nata terkejut. Wanita itu segera menaruh toples di tangannya di meja depan televisi. Dia menolehkan kepalanya, membalas pelukan Cellyn dengan perlahan.
"Mama juga kangen. Kamu ke sini sendiri? Devan sama Yana mana?" tanya Nata dengan raut wajah bingung.
"H—ha? I—itu, Mas Devan sibuk, kalau Yana dia masih les," balasnya sedikit tergagap.
Perempuan itu menghela napasnya lega saat melihat Nata menganggukkan kepalanya. Dia berasa beruntung karena Nata tak seperti Alisha. Andai yang bertanya itu Alisha, sudah dipastikan wanita itu tidak akan percaya dengan mudah.
Tangan Cellyn beralih mengusap perut Nata yang mulai membuncit. Perasaan sendu mendatangi dirinya, rasa sesak yang mengusiknya belakangan ini. Keinginan untuk mengandung tiba-tiba saja hadir, dia ingin mengandung dan melahirkan. Namun, Devan bahkan tak menyentuh dirinya hingga sekarang.
Huft . . ., gimana mau hamil? Disentuh aja enggak, batin Cellyn sembari tersenyum miris.
"Kamu mau makan apa, Cell?" tanya Nata sembari menonton televisi.
__ADS_1
"Apa aja, Ma. Oh, ya, aku enggak sabar nunggu adeknya lahir."
"Semoga kamu juga cepet hamil, ya."
Caranya gimana? Mau hamil gimana?
...***...
Yesha berjalan dengan anggunnya memasuki restoran milik sahabatnya. Dikarenakan kesibukannya, Nata yang mengandung, Alika yang sibuk ke luar kota atau negeri membuat mereka jarang sekali bertemu. Ini bukan yang pertama kalinya, tetapi kesekian kali.
Dirinya menatap ke segala penjuru. Tepat di pojok ruangan ada Alika dengan kacamata bacanya, perempuan itu nampak sibuk sekali berkutat dengan tumpukan berkas. Tanpa menunggu lama, Yesha berjalan menghampiri Alika.
"Sibuk banget, Bu." Perempuan itu mendudukkan dirinya di hadapan Alika.
Dia mendongak lantas terkekeh. "Maklum bosnya ini," ucap Alika.
Yesha menggelengkan kepalanya, sudah tak heran dengan kelakuan sahabatnya itu. Dia menatap Alika yang kembali fokus berkutat dengan kertas-kertas itu. Helaan napas akhirnya keluar juga, Yesha jenuh saat ini.
"Lo kenapa?" tanya Alika dengan tangan yang sibuk membolak-balikkan kertas.
Yesha hanya menggeleng pelan. Dia pun tidak tahu apa maunya, yang pasti dia jenuh sekarang. Pandangannya menyapu ke seluruh ruangan, mencoba mencari hal yang menyenangkan. Namun, matanya justru menangkap sosok pria yang tengah tertawa dengan riangnya bersama seorang gadis.
"Ck, kotanya sibuk meeting. Meeting sama betina sih iya," cibir Yesha.
Alika yang mendengar itu lantas mendongak, dia mengikuti arah pandang Yesha. Perempuan itu nampak santai, sudah biasa melihat Leon yang hadir dengan perempuan yang berbeda-beda setiap harinya. Namun, untuk kali ini rasa tak pedulinya harus dia singkirkan.
"Mau gua samperin?" tawar Alika.
Dia menggeleng. "Gak usah. Biarin aja, lagian gua enggak ada hubungan sama dia," sahut Yesha.
"MBAK!" teriak Yesha yang berhasil mengalihkan atensi seluruh pelanggan restoran.
Alika menggeleng pelan, dirinya menatap Leon yang mematung. Wajah pria itu bahkan berubah pias. Alika tersenyum mengejek membuat Leon geram. Sedangkan, Yesha memandang Leon dengan smirik miliknya.
__ADS_1
Mampus gua!