
Saat ini Leon tengah berada di salah satu taman dekat rumahnya. Dirinya tengah menemani sang Keponakan yang akan selalu datang setiap sore untuk bermain, mengingat kedua orang tuanya tengah sibuk maka dari itu Leon yang menemani. Pria yang sudah tak muda itu tak hanya menemani sang Ponakan, tetapi juga menggoda beberapa wanita yang saat itu tengah berolahraga.
Pria itu memang tidak akan puas jika hanya menggoda satu perempuan saja. Usianya yang sudah memasuki kepala tiga itu tak membuatnya sadar juga akan kelakuan buruknya. Sahabatnya sering kali menasehati dirinya, tetapi dirinya tak juga paham itu. Leon justru semakin brutal dalam bertindak, ada saja perempuan yang setiap hatinya dibuat patah hati oleh dirinya.
"Aws!"
Mendengar suara pekikan membuat atensi Leon teralih pada dua gadis kembar yang berada tak jauh darinya. Matanya membulat sempurna karena tengah terkejut, dengan segera dirinya bangkit dari duduknya. Leon berlari menghampiri dua gadi kembar itu, raut wajahnya berubah menjadi khawatir.
"Kamu enggak apa-apa, Cantik?" tanya Leon saat sudah ada di dekat kedua gadis kembar itu.
Gadis itu tersenyum. "Ala ndak papa kok," sahutnya.
Syavaya Caralova dan Syavara Caralova, dua gadis kembar yang merupakan Keponakan Leon. Meski mereka kembar, keduanya memiliki karakter yang sangat jauh berbeda. Ara yang dikenal sebagai gadis kecil yang ramah, lucu, dan menggemaskan. Sedangkan, Aya dikenal sebagai gadis kecil yang tak banyak bicara, tak acuh pada sekitar, dan dingin.
Leon menghela nafasnya lega. "Huft ... Syukur. Lain kali hati-hati mainnya ya jangan sampe jatuh lagi."
"Om aja yang terlalu asik menggoda cewek cantik huh!" cetus Aya malas.
Leon yang mendengar ucapan Ara hanya mampu menghela nafasnya kasar. Keponakannya yang satu ini memang terkenal ceplas-ceplos. Jika Ara masih tak lancar berbicara, Aya justru telah lancar dalam berbicara. Gadis kecil itu bahkan memiliki pemikiran layaknya orang dewasa.
"Udah kaya buaya lepas kandang tau gak?" lanjut Aya dengan nada ketus.
Leon menghela nafasnya untuk kesekian kalinya. "Apa ada masalah apasih sama Om, Ay?" tanya Leon dengan wajah serius.
"Pikir aja sendiri!"
Ara yang melihat perdebatan antara sang Om dengan kembarannya hanya bisa terdiam. Dirinya tak paham dengan apa yang diributkan oleh Leon dan Aya. Oleh karena itu, dirinya lebih memilih untuk diam saja. Sudah biasa dirinya lihat perdebatan antara Leon ataupun Ara.
Tak ingin kembali meladeni Aya, Leon bsralih menatap Ara. Pria itu menunjukkan senyum manisnya pada Ara, Ara yang melihat itu pun ikut tersenyum manis. Leon terkekeh gemas melihat wajah Ara yang menggemaskan. Sedangkan, Aya memandang malas dua orang berbeda usia itu.
__ADS_1
Lebay, batinnya.
"Kalau mau tatap-tatapan nanti aja. Sekarang pulang, Om! Ini udah mau malam," celetuk Aya.
"Huh ... Gini amat punya Ponakan."
...***...
Yesha melangkahkan kakinya keluar dari pengadilan. Perempuan itu baru saja menyelesaikan kasus perceraian. Dengan langkah perlahan dirinya berjalan menuju pakiran, perempuan itu mendongak guna menatap langit yang sudah mulai gelap. Yesha menghembuskan nafasnya lantas memasuki mobilnya, perempuan itu menancapkan gasnya dan meninggalkan pegadilan dengan kecepatan sedang.
Dia memandang malas pemandangan di hadpaannya, kemacetan kota Jakarta. Seolah sudah menjadi tradisi Jakarta akan macet di jam-jam pulang bekerja. Yesha menyandarkan tubuhnya di kursi pengemudi, dirinya merasakan keram di bagian perutnya. Yesha berdecak kesal saat merasakan sakit yang teramat pada perutnya.
"Ck! Pakai haid segala," ujarnya kesal.
Sebelum memutuskan untuk pulang ke rumah, Yesha menyempatkan diri ke supermarket untuk membeli obat datang bulannya. Selang empat puluh lima menit, perempuan itu akhirnya tiba di rumahnya. Dengan wajah lesu dirinya memasuki rumahnya, nyeri haidnya membuatnya menjadi lemas. Itu akan terus terjadi saat dia kedatangan tamu.
"Loh kenapa lesu gitu, Sayang?" ucap seorang wanita yang baru keluar dari kamar.
"Iya udah bersih-bersih dulu sana. Terus kita makan malam." Dia mengusap rambut putrinya dengan lembut. Yesha yang mendengar itu sontak mengikuti perintah sang Ibu.
Wina Alyanti, seorang Ibu rumah tangga yang berstatus janda. Sang suami hilang entah kemana saat Yesha berumur dua tahun. Sejak saat itu, Wina membesarkan Yesha seorang diri. Untungnya Wina berasal dari keluarga kaya raya, hidupnya cukup terjamin sampai saat ini.
"Habis mandi langsung turun ke bawah ya, Sayang!" teriak Wina.
"Iya, Ma!"
...***...
Saat ini, Alika dan Nata tengah berada di dalam mobil milik Alika. Mereka berniat makan malam berdua, tentu saja itu ide dari Alika sendiri. Tiba-tiba saja perempuan itu menghampiri kediaman Nata dan mengajaknya untuk makan malam di luar. Nata hanya bisa menghembuskan nafasnya kasar saat sahabatnya menarik tangannya.
__ADS_1
"Mau makan apa?" tanya Nata.
"Kamu mau nasi goreng gak, Nat?" Nata hanya mengganguk singkat sebagai jawaban, Alika yang melihat itu tersenyum dengan puas.
Ketiga sahabat itu memang menggunakan bahasa yang bisa dikatakan campuran. Terkadang menggunakan 'aku-kamu' dan terkadang 'lu gua'. Kelakuan mereka sama persis seperti kelakuan Darren dan sahabatnya.
Alika menghentikan mobilnya di pedagang pinggir jalan. Dirinya dan Nata memang langganan di penjual nasi goreng pinggir jalan, Yesha pun merupakan pelanggan setia sama seperti kedua sahabatnya. Ketiganya lebih sering makan di pimggir jalan daripada restoran bintang lima.
"Mang, biasa ya," celetuk Alika yang diacungi jempol.
Sembari menanti pesanan mereka diantarkan, keduanya memutuskan untuk mencari tempat duduk. Setelah menemukan tempat duduk, keduanya memutuskan untuk duduk di sana. Sembari menanti pesanannya diantarkan, keduanya memilih bermain dengan ponselnya.
Nata meletakkan ponselnya saat merasakan kejenuhan, dia menatap Alika dengan intens. Merasa tengah diperhatikan, Alika mendongak guna menatap Nata. Perempuan itu menatap Nata dengan tatapan heran, dirinya bahkan meletakkan kembali ponselnya.
"Kenapa?"
"Bosen," cetus Nata.
"Kayang aja sono di tengah jalan," sahut Alika.
"Pengen gua mati ya lu?!" seru Nata.
Alika mengedikkan bahunya tak acuh. Atensinya kembali fokus pada handphone miliknya. Dirinya tak memperdulikan Nata yang tengah kesal padanya, perempuan itu bahkan menatap jengkel ke arah Nata. Alika tahu itu, tapi saat ini dirinya tengah sibuk memperhatikan foto-foto pria tampan yang dirinya temukan di google.
Merasa terus diabaikan, Nata memilih memandang jalanan yang nampak ramai. Dirinya benar-benar jenuh, makanannya akan datang lebih lama mengingat antriannya cukup panjang. Berulang kali perempuan itu menghembuskan nafasnya kasar, tetapi sang sahabat tak juga peka.
Mending tadi masak mie aja, kalau tau gini.
"Udah jangan kek bocah ngambek deh, Nat. Tuh pesenannya dateng, makan yuk!"
__ADS_1
"Kirain rumah ke sini sama sahabat," ceplos Nata.
"Hahaha .... maaf."