Gadis Muda Untuk Pak Duda

Gadis Muda Untuk Pak Duda
Kebingungan


__ADS_3

Nata memandang kosong hamparan hijau di hadapannya. Sepulang dari kantor, perempuan itu membawa badannya ke taman yang cukup sepi. Iya, dia butuh ketenangan saat ini. Perempuan itu tengah dilanda dilema saat ini. Rasa bingung yang disebabkan oleh Darren, bosnya.


Seminggu sudah berlalu, sejak kejadian di mana Darren membawanya masuk ke dalam kamar yang berada di ruangannya. Nata tahu itu kesalahan, tetapi dirinya justru menikmati apa yang Darren perbuat. Sekarang perempuan itu dilanda penyesalan. Darren berubah, pria itu seolah melupakan apa yang telah dia perbuat hari itu. Nata benar-benar menyesal dengan apa yang dirinya perbuat.


Dia menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi. Tangannya bergerak memijat pelipisnya yang terasa pening. Perempuan itu memejamkan matanya erat, berulang kali dia menghembuskan nafasnya. Nata benar-benar tak tahu harus bagaimana sekarang, bayangan kala Darren memberikannya sebuah rasa nikmat bahkan terus menghantui dirinya.


"Aku harus apa, Tuhan?" tanyanya pada diri sendiri dengan lirih.


Nata benci dirinya yang harus terbuai oleh apa yang bosnya itu lakukan. Dirinya takut jika harus hamil nantinya, segala pikiran negatif bahkan menghantui dirinya. Dia takut jika itu sampai terjadi, Darren enggan mengakui Anak yang telah dirinya kandung itu.


Nata membuka matanya lantas kembali menghembuskan nafas. Dirinya harus siap dengan segala kemungkinan apa pun. Dirinya hanya bisa berharap hal buruk tak terjadi pada hidupnya.


"Tuhan, bantu aku."


...***...


Sekar memandangi Darren dengan senyum yang merekah di wajahnya. Saat ini dirinya dan Darren tengah berada di salah satu restoran untuk makan malam bersama. Ide ini tentu saja permintaan dari Sekar sendiri. Darren hanya bisa menyetujuinya saja, percuma dirinya menolak. Dia sangat tahu karakter Sekar yang keras kepala itu, Sekar akan melakukan apa pun agar bisa mendapatkan apa yang dia mau.


Sejujurnya, Darren lebih memilih makan di rumahnya sendiri. Darren lebih menikmati makannya jika itu dengan Cellyn, sang Putri. Rasa penatnya akan menghilang jika dirinya melihat wajah dan senyum putrinya itu. Selama seminggu ini, dia terlalu disibukkan oleh kerjaannya membuatnya jarang bersitatap dengan sang Anak.


"Oh, ya! Gimana kabar Anak kamu?" tanya Sekar memulai obrolan.

__ADS_1


"Baik," sahut pria itu seadanya.


Sekar menghembuskan nafasnya kasar. Sejak dirinya memutuskan untuk mengungkapkan perasaannya, sikap Darren berubah padanya. Pria itu semakin acuh tak acuh padanya. Sikap lembut pria itu menghilang, tatapan lembutnya kala menatap mata milik Sekar pun menghilang. Semua yang Sekar dapat dari Darren hirap bak ditelan oleh rasa sepihaknya.


Sekar memandang Darren dengan sendu. Pria itu tak banyak bicara lagi sejak Sekar memutuskan untuk mengungkapkan perasaannya. Dirinya hanya bisa menyesali keputusannya itu sekarang. Jika, tahu begini akhirnya, dirinya tak akan mengungkapkan perasaannya pada Darren.


"Kamu berubah ya," celetuk Sekar membuat Darren memandangnya dengan satu alis terangkat.


Dia menghela nafasnya kasar. "Kamu jadi acuh tak acuh ke aku, Ren. Hahaha ... Apa karena aku ungkapin perasaan ke kamu? Salah ya aku naruh rasa ke kamu? Bertahun-tahun kita temenan, munafik kalau aku enggak naruh rasa ke kamu. Tahu kalimat 'enggak ada pertemanan antara perempuan dan laki-laki yang murni temenan. Salah satunya pasti ada rasa' tahu, 'kan? Itu yang aku rasain sekarang. Asal kamu tau, rasa ini nyakitin aku. Berat sebelah, paham?" tutur Sekar.


Darren memandang Sekar dengan raut yang tak bisa dijelaskan. Dirinya pun tak mau bersikap acuh pada sahabatnya itu, tetapi dia juga tak mau sikapnya semakin membuat Sekar semakin berharap padanya. Semua ini sulit, dirinya di tempatkan pada tempat yang membuatnya harus memilih. Darren tak bisa memilih antara pertemanan atau membalas perasaan sahabatnya itu.


Sekar terkekeh miris melihat Darren hanya diam saja. Dirinya semakin yakin bahwa pria itu memang tak memiliki perasaan yang sama. Sekar pikir menaklukkan hati Darren tak sulit, tetapi dirinya lupa ada Elena yang bertahta dengan hebat. Dirinya tak mungkin bisa menggantikan posisi Elena dari hati Darren.


...***...


"Saya mau pulang aja, Sus," kekeh seorang wanita.


"Saya enggak bisa bayar biaya perawatan saya selama di rumah sakit," lanjutnya.


"Bu Laras tenang aja ya. Untuk biaya sudah ditanggung oleh Dokter Cellyn," ucap Suster tersebut.

__ADS_1


Sudah seminggu wanita berbadan dua itu dirawat di rumah sakit dan sudah seminggu pula dirinya terus meminta untuk pulang. Sekar sejujurnya ingin pulang ke kontrakannya, tetapi Suster melarang dirinya untuk pulang. Mereka selalu mengatakan kondisinya belum membaik. Sekar hanya merasa dirinya tak mampu untuk membayar biaya rumah sakit.


Dia setiap harinya terus saja memikirkan tentang hidupnya dan anaknya kelak. Dia bukanlah wanita yang berasal dari golongan atas, dia hanya bisa mengandalkan gaji sebagai pelayan kafe untuk memenuhi kebutuhannya. Wanita itu bahkan selalu memikirkan biaya untuk persalinannya kelak, dirinya tak mungkin meminta uang untuk biaya persalinan ke mantan suaminya.


Lama bergelut dengan pikirannya, dia tak menyadari jika Nisya memasuki ruangannya. Laras terlalu fokus memikirkan segala kemungkinan yang akan terjadi, hal itu membuat dirinya lupa akan janin yang berada di kandungannya. Kondisinya kian hari tak juga membaik, faktor dirinya yang tengah setres membuatnya harus dirawat lebih lama lagi.


"Bu Laras memikirkan apa?" tanya Nisya dengan lembut.


Dia tersentak. "Dokter sejak kapan di sini?" tanyanya linglung.


"Sejak Bu Laras melamun. Memikirkan apa? Ibu harus ingat ada nyawa lain yang harus dijaga ya," sahut Nisya dengan lembut.


"Kita periksa dulu kondisi Ibu dan janin ya." Nisya berujar sembari tersenyum manis.


Laras terus memperhatikan Nisya yang tengah memeriksa kondisinya. Nisya yang sadar diperhatikan hanya mengulum bibirnya berusaha untuk tidak tersenyum geli. Sering kali Laras menatapnya saat dia memeriksa wanita yang tengah berbadan dua itu. Nisya tak tahu pasti alasan Laras selalu memperhatikannya, tetapi hal itu selalu bisa membuat Nisya gemas sendiri.


"Kondisi kandungannya dijaga ya, Bu. Emang Ibu enggak bosen di sini terus? Inget ada nyawa lain yang harus diperhatikan juga, jangan terlalu setres ya," celetuk Nisya dengan lembut.


Laras memandang Nisya dengan ragu. "D—dok, untuk biaya—"


"Untuk biaya sudah rekan saya yang mengurusnya. Ibu enggak perlu memikirkan itu lagi. Fokus Bu Laras saat ini adalah janin yang ada di kandungan Ibu ya," potong Nisya dengan cepat.

__ADS_1


Laras menundukkan kepalanya. Dirinya merasa telah membebankan banyak orang, terutama Nisya dan Cellyn. Dia bahkan tak mengenal siapa keduanya, tetapi dirinya sudah membebani orang tersebut. Malu, itulah yang dirinya rasakan saat ini.


"Maaf jika saya merepotkan Dokter dan rekan Dokter."


__ADS_2