Gadis Muda Untuk Pak Duda

Gadis Muda Untuk Pak Duda
Orangtua Nata


__ADS_3

"Nata, sarapan dulu, Sayang."


Teriakan itu membuat Nata yang tengah menyiapkan dirinya segera turun ke bawah. Wanita itu memang sudah tinggal di kediaman Gautama atas permintaan Thofid. Hal itu bertujuan untuk memudahkan mereka menjaga dan mengawasi Nata yang tengah hamil muda. Bahkan Nata telah memanggil Alisha dan Thofid dengan sebutan Ayah dan Bunda, tentu saja atas permintaan keduanya.


Seluruh atensi teralih pada Nata yang tengah menuruni tangga dengan anggun, jangan lupakan wajah lugu di balik kedewasaan miliknya. Wanita itu berdeham singkat guna menetralkan kegugupannya. Jelas saja wanita itu gugup, seluruh pasang mata yang berada di meja makan tengah menatapnya dengan intens.


"Sini, Sayang," panggil Darren dengan senyumannya.


Nata mengangguk pelan. Dia berjalan mendekati Darren. Alisha yang melihat Nata sudah duduk dengan tenang segera mengambilkan sarapan yang dia masak khusus untuk calon menantunya itu. Nata yang diperlakukan bak Ratu hanya bisa meremas jemarinya. Dia bahkan belum resmi menjadi menantu keluarga Gautama, tetapi mereka memperlakunnya dengan baik.


"Nata, setelah ini Ayah mau bicara penting sama kamu." Thofid memandang Nata dengan tenang, pria itu berusaha membuat calon menantunya merasa nyaman.


"I—iya, Ayah."


Seusai sarapan, Cellyn segera bangkit dari duduknya. Dia menyalimi semua anggota keluarganya, termasuk Nata. Perempuan itu bahkan mengusap perut Nata dengan lembut membuat semuanya memandang kejadian itu dengan haru.


"Jaga Mama, ya? Jangan bandel. Kakak kerja dulu biar bisa beliin kamu mainan," cetusnya sembari mengusap perut Nata.


"Kamu jangan lupa makan siang, ya," ucap Nata dengan senyumnya.


"Siap, Ma!"


Seperginya Cellyn, keempatnya berkumpul di ruang keluarga. Mereka semua nampak memasang wajah serius mereka. Nata meremas jemarinya, tatapan mata Thofid yang menghunusnya membuatnya gugup. Dirinya masih belum terbiasa dengan segala yang ada dalam keluarga Gautama.


"Saya tahu kamu bukan anak yatim piatu, Nata."


Ucapan penuh penekanan itu membuat tubuh Nata menegang. Wanita yang tengah mengandung penerus dari keluarga Gautama itu menundukkan kepalanya dalam. Ada perasaan sesak yang tanpa permisi mengusik hatinya, Nata tahu ini akan terjadi. Thofid tidak mungkin tidak mencari tahu asal-usulnya, tidak mungkin pria itu membiarkan putranya menikah dengan wanita yang bahkan tak jelas asal-usulnya.


"Jadi kamu bukan anak yatim piatu?" tanya Darren dengan dingin.


"Maaf, bukan maksud saya ingin membohongi kalian." Ucapan bernada dingin yang keluar dari mulut Nata itu membuat Darren terkesiap.


"Saya tahu kamu tidak mau mengenang masa itu, tapi bagaimanapun orangtuamu harus tahu pernikahan ini," papar Alisha dengan tenang.


"Hm."

__ADS_1


"Ini gak ada yang mau jelasin ke aku?" tanya Darren.


"Tanya aja calon istrimu itu," balas Thofid.


"Malas ngomong panjang."


...***...


Alika memandang sang Ibu dengan tatapan memohon. Seperti biasanya, hari-harinya akan dipenuhi oleh wajah Refan. Hal itu, karena ibunya sendiri lah yang meminta Refan untuk selalu mengawasi dirinya. Alika benci saat Refan selalu berhasil membuat jantungnya berdetak dengan kencang, karena tingkah pria itu.


"Bun, ayolah!"


"Nurut, Alika. Apa susahnya?" cetus Yanti.


Alika menghela napasnya kasar, ini baru tunangan, ntar nikah lebih parah yang ada, batinnya.


Alika berjalan menuju ruang tengah, meninggalkan sang Ibu yang tengah membersihkan meja makan. Dapat dirinya lihat, Refan tengah mengobrol dengan sang Ayah. Dia kembali menghela napasnya kasar sebelum akhirnya melangkah mendekati kedua pria berbeda usia itu. Percayalah, jantung perempuan itu tengah berdetak cukup kencang sekarang.


"Huft ... Bisa, yuk, bisa."


"Yah, Alika ke resto dulu," pamitnya.


"Hati-hati. Refan, Alika dijaga yang benar," sahut Wira.


"Siap, Yah."


Selama di perjalanan menuju restoran miliknya itu, Alika hanya diam sembari menatap jalanan. Di sisi lain, Refan sering kali mencuri pandang pada tunangannya itu. Tidak biasanya Alika hanya diam saja, kelakuannya saat ini cukup mengusik Refan.


"Kamu kenapa?" tanya Refan dengan tatapan terfokus pada jalanan.


Alika menoleh. "Enggak papa," sahutnya.


Refan yang mendengar itu menghela napasnya perlahan. Dia memberhentikan mobilnya di pinggir jalan membuat Alika memandangnya heran. Tak berselang lama, Refan menarik tangan Alika membuat perempuan itu berjarak cukup dekat dengannya.


"Kenapa, hm?"

__ADS_1


"Eng—enggak ...."


Ucapan Alika terhenti begitu saja saat Refan tiba-tiba saja menyerang bibir ranum milik perempuan itu. Alika masih dalam keterkejutannya hanya bisa terdiam dengan pikiran kosong, dia membiarkan Refan bermain dengan ganasnya pada bibirnya itu.


Refan menyudahi aksinya, dia menatap Alika dengan lembutnya. "Saya ada salah sama kamu?"


Alika tak menyahuti, perempuan itu justru menyerbu tubuh Refan dengan pelukan. Dia malu saat ini, jantungnya berdetak dengan kencangnya. Ini hal yang dia benci saat berdekatan dengan Refan.


"Malu tau!"


...***...


"Saya bilang keluar dari ruangan ini!" berang seorang pria.


Tatapan matanya sangat menghunus tajam, tetapi tak membuat seseorang di hadapannya merasa takut. Dia justru semakin berani mendekati pria itu. Dia seolah tak memiliki rasa takut sama sekali, terus saja gencar mendekati pria itu.


Dengan berani dia menyentuh tubuh pria itu. Amarah pria itu semakin tak terkendali dibuatnya, terbukti dari mata yang kian memancarkan aura permusuhan yang kuat sekali. Namun, orang itu tak juga memundurkan langkahnya.


Plak!


Suara tamparan itu menggema di ruangan benuansa hitam dan putih itu. Orang itu memegang pipinya yang terasa panas. Tamparan dari pria yang berada di hadapannya ini cukup membuatnya takut seketika.


"Jangan sementang Anda perempuan, saya tidak bisa bersikap kasar pada Anda, Nona Riana Dxya," desis seorang pria.


"Ta—tapi Darren—"


"Stop! Tutup mulut kotor Anda itu. Selama ini saya masih sabar menghadapi Anda, tapi tidak sekarang. Anda seorang perempuan, di mana letak harga diri Anda hingga berani mengejar seorang pria yang sebentar lagi akan menikah," seloroh Darren.


Kedatangan Riana ke kantornya siang ini cukup membuat Darren ditikam oleh amarah. Pria itu sudah ada di batas kesabarannya, menghadapi perempuan seperti Riana tak bisa dengan cara tenang. Perempuan itu tidak akan bisa mengerti. Bagaimanapun ada Nata yang harus dia jaga perasaannya, dia tentu tahu sifat pencemburu milik wanitanya itu. Ditambah Nata tengah mengandung anaknya sekarang, Nata tentu akan semakin sensitif.


"Ni—nikah?" Tenggorokan Riana terasa tersekat oleh sesuatu hingga kata itu terasa sulit dia lontarkan.


"Siapa, Darren? Kenapa harus dia? Aku yang selama ini nunggu kamu," lanjutnya dengan nada lirih.


"Satu hal yang harus Anda tahu, saya tidak akan pernah mencintai Anda."

__ADS_1


__ADS_2