
Suara langkah kaki yang tergesa membuat Nata dengan cepat memalingkan wajahnya. Alis perempuan itu menyatu kala melihat seorang perempuan cantik ingin memasuki ruangan Darren. Nata yang melihat itu segera bangkit dari duduknya, Darren menitip pesan agar tak ada yang menemui dirinya saat ini.
Nata mehadang perempuan itu, dirinya menatap perempuan itu dengan tajam. Tak terima dihadang oleh Nata, perempuan itu memandang Nata dengan remeh. Baginya mengalahkan perempuan seperti Nata adalah hal yang mudah.
"Minggir, gua mau masuk." Perempuan itu mencoba menggeser tubuh Nata, tetapi tak juga membuahkan hasil.
"Maaf, Bu. Ibu dilarang masuk," tegas Nata.
"Siapa lu ngatur-ngatur gua ha?!" bentak perempuan itu.
Darren yang tengah sibuk menyelesaikan dokumen pentingnya dibuat terkejut oleh suara bentakan. Pria itu menyudahi kegiatannya, dia memilih menghampiri asal keributan yang menggangunya. Darren mengerutkan keningnya saat melihat Nata tengah berusaha melarang seorang perempuan masuk ke dalam ruangannya.
"Ada apa ini?" tanya Darren dengan tak santai.
Perempuan itu tersenyum lebar kala melihat Darren ada tak jauh darinya. Dia berjalan dengan tergesa menghampiri Darren, saat sudah di hadapan Darren, perempuan itu dengan lancang mencium pipi Darren. Nata yang ingin membuka suara urung karena apa yang dia lihat. Nata bahkan menahan napasnya sejenak.
"Apa yang kamu lakukan, Riana?!" hardik Darren.
"Mencium dirimu. Oh, atau kamu mau aku cium di bibir?"
Darren menyentak tangan Riana yang mengusap bibirnya dengan kasar. Dia benar-benar dibuat marah oleh perempuan di hadapannya ini. Mata Darren berkobar, tindakan Riana saat ini tak bisa dia maafkan begitu saja. Pria itu mencengkram pergelangan tangan Riana dengan kuat membuat perempuan itu meringgis.
"Ssshhhh ... Lepas, Darren!" harap Riana.
Darren terkekeh. "Cih, dasar perempuan murahan! Anda pikir saya akan terpikat dengan anda, begitu? Mimpi!" cemooh Darren.
"Aku cinta kamu, Ren," lirih Riana.
"I don't care."
Di sisi lain, Nata berusaha mati-matian menahan air matanya. Dadanya bergemuruh kala perempuan itu memberikan kecupan pada pipi Darren, meski singkat tetap saja dirinya cemburu. Dia memandang pertengkaran di hadapannya dengan mata bergelinang air mata. Tak kuasa menahan perasaan sesaknya, Nata memilih menjauh dari keduanya.
Suara derap langkah kaki itu membuat atensi Darren teralih. Pria itu berdecak kesal saat melupakan kehadiran Nata karena amarahnya. Dia memandang Riana dengan tajam, rasa marahnya belum juga reda. Namun, saat ini Nata yang terpenting.
__ADS_1
"Pergi dan jangan muncul di hadapan saya!" tegas Darren.
Ruana tak menyahuti, dirinya memilih berlari untuk menjauh dari Darren. Hatinya sakit mendengar penuturan Darren. Air mata yang dirinya bendung begitu saja akhirnya luruh saat dia sudah jauh dari hadapan Darren.
Pria itu menghela napas saat melihat Riana telah jauh. Tujuannya saat ini adalah bertemu Nata, dirinya melangkahkan kakinya menuju meja kerja Nata. Dia kembali menghela napas kasar saat melihat Nata tengah membereskan pekerjaannya. Tanpa menunggu lama, pria itu melangkah mendekati Nata dan membawa Nata ke dalam gendongannya.
"Aaaaaaa ...," pekik Nata.
Perempuan itu dibuat terkejut dengan perbuatan Darren. Dia memejamkan matanya, jantungnya berdetak cukup hebat. Darren yang melihat itu tersenyum tipis, dia merasa gemas sendiri oleh kelakuan Nata. Atensinya teralih pada sisa air mata di pipi sekretarisnya, dia menggeleng pelan melihat itu.
Setibanya di ruangannya, Darren menduduki dirinya dengan Nata yang berada di pangkuannya. Perempuan itu menundukkan kepalanya, dia merasa malu saat ini. Tangan Darren terulur menyentuh dagu Nata, dia mengangkat kepala Nata agar menatapnya.
"Kenapa, heem?" tanya Darren yang dibalas gelengan oleh Nata.
"Hey, kenapa?" Bukannya menjawab, Nata justru memeluk Darren dengan erat serta menenggelamkan wajahnya pada leher Darren.
"Bapak jahat," cicit Nata diikuti isak tangis.
Darren menyatukan alisnya. "Kenapa, Sayang?" sahutnya sembari mengusap lembut rambut Nata.
Ingin rasanya Darren meledakkan tawanya mendengar jawaban Nata. Pria itu selalu dibuat gemas dengan kelakuan Nata, Nata memang memiliki pribadi anggun dan dewasa. Namun, saat dengannya justru perempuan itu layaknya anak kecil. Tingkahnya selalu berhasil membuat Darren tersenyum.
"Sstt ... Daripada cemburu, mending kita buat dede bayi. Kamu udah buat punya saya bangun, Baby."
...***...
^^^Alika menatap sang Ibu dengan intens. Dirinya menolak keras harus dijodohkan. Semalam ayahnya mengatakan dirinya akan dijodohkan dengan salah satu rekan bisnisnya, jelas Alika menolak itu. Seingat dirinya rekan bisnis Wira sudah berumur semua dan ayahnya dengan tega justru menjodohkannya.^^^
"Bun, aku gak mau dijodohin,' protes Alika.
"Sstt ... Diem! Bentar lagi calon kamu datang," balas Yanti.
Alika yang mendengar itu hanya mampu menghembuskan napasnya kasar. Tak selang beberapa waktu, Wira masuk ke dalam rumah dengan satu orang pria dan satu orang wanita paruh baya di belakangnya. Mata perempuan itu membulat sempurna saat tahu siapa yang dibawa Wira.
__ADS_1
"Bun, jangan bilang itu ca-calon suami aku?!" pekik Alika yang dibalas anggukan oleh Yanti.
"Refan," cicit Alika.
Perempuan itu menatap sang Ayah dengan sendu berharap Wira merubah pikirannya. Namun, dirinya justru tak sengaja melihat tatapan yang Refan layangkan untuk dirinya. Perempuan itu berdeham singkat, tatapan mata Refan membuatnya merasa terintimidasi.
Refan mendudukkan dirinya di hadapan Alika. Tatapan yang pria itu layangkan pada Alika menbuat perempuan itu mati kutu. Refan jelas dengan sengaja melakukan itu, dirinya merasa terhibur melihat raut wajah Alika yang angkuh berubah seolah menjadi anak kucing.
Pria itu mendekatkan dirinya pada wajah Alika. "Gugup, eh?"
...***...
"Terus sekarang mereka gimana?"
"Terancam cerai," sahut Cellyn dengan pelan.
Malam ini, Cellyn dan kedua sahabatnya memutuskan untuk makan malam bersama. Ketiga perempuan cantik itu sudah lama sekali tak menghabiskan waktu bersama, mereka disibukkan dengan pekerjaan mereka.
"Orang-orang pada pacaran, setan!" desis Lina.
Nisya terkekeh. "Makanya cari juga."
"Kamu tau dari siapa mereka bakal cerai?" sambung Nisya.
"Beberapa hari lalu, aku sama Om Devan ketemuan. Dia ceritain semuanya," balas Cellyn.
"Bukannya istrinya lagi hamil? Harusnya gak bisa cerai, dong," celetuk Lina.
Nisya dan Cellyn menggangguk setuju. Memang, mereka tidak akan bisa cerai jika kondisi Hima saat ini tengah mengandung. Namun, satu bulan lagi dia akan melahirkan. Bukankah itu pertanda dirinya bisa menggungat cerai Devan?
Hingga detik ini, Cellyn dihantui rasa bersalah. Dirinya mencoba untuk tak peduli, tetapi tetap saja rasa bersalah telah menghantui dirinya. Sering kali perempuan itu melamun sendiri, dia takut jika nantinya Devan dan Hima akan benar-benar bercerai. Apa dia masih menaruh rasa pada Devan? Tentu saja masih.
"Gimana nasib si Yana nanti ya?" tanya Nisya.
__ADS_1
"Entah, mungkin jadi broken home?"