Gadis Muda Untuk Pak Duda

Gadis Muda Untuk Pak Duda
Teror Untuk Cellyn


__ADS_3

Cellyn berjalan ke kamarnya dengan santai, dia baru saja selesai mengambil air di dapur. Perempuan itu harus terbangun tengah malam karena kehausan. Dirinya lupa mengisi gelas yang berada di kamarnya sebelum tidur.


Cellyn mengunci pintu kamarnya, ia menghela nafas pelan. Tidurnya harus terganggu hanya karena kehausan. Dirinya berjalan menuju tempat tidur, tetapi ada yang membuat dirinya terkejut. Cellyn menarap meja riasnya dengan tatapan was-was.


Dapat dia lihat dengan jelas sebuah tulisan yang membuat dirinya terkejut bukan main. Hampir saja dirinya berteriak, tetapi diurungkan mengingat ini sudah tengah malam. Cellyn berdecak kesal kala melihat sebuah tulisan yang dibuat dengan cat bertuliskan 'die'. Dirinya yakin jika itu bukan darah melainkan cat, ia seorang Dokter tentu tahu bagaimana bau dari darah dan bagaimana teksturnya.


"Gabut banget itu orang sampai neror aku," decak Cellyn.


"Okey, let's play, Baby."


...***...


Devan memandang sahabatnya dengan malas. Andai saja dirinya tak ada keperluan penting, dia tak akan membuang waktunya untuk hal tidak penting. Matanya melirik sinis Darren yang nampak santai menyesap kopi hitamnya.


"Anaknya semalam kena teror, Bapaknya malah asik ngopi," sindir Devan.


Uhuk!


Mendengar ucapan Devan membuat Darren tersedak. Dirinya langsung meletakkan cangkir kopi miliknya di meja. Dia menatap Devan dengan serius, dirinya terkejut dengan ucapan Devan. Bagaimana dirinya tak tahu jika Cellyn semalam diteror? Pikirnya.


Devan mendengus melihat reaksi sahabatnya. Mengapa baru sekarang? Kemarin kemana saja sahabatnya itu? Dirinya masih memandang Darren dengan sinis, merasa kesal dengan tingkah sahabatnya itu. Ia melirik laptop Darren yang menyala, Devan menghembuskan nafasnya kasar. Dengan lincah ia mengotak-atik laptop milik Darren, senyum sinis tercetak dengan jelas di bibirnya.


"Tikus kecil sudah berani mengusik ternyata," gumamnya berdesis.


Darren yang melihat itu menaikkan satu alisnya heran, sebenarnya Cellyn ini putrinya atau bukan? Pikirnya. Darren memilih ikut bergabung dengan Devan, dapar dirinya lihat aktivitas anaknya pada malam itu. Senyum bangga tercetak di bibirnya kala melihat reaksi anaknya.


"Keturunan Gautama memang tidak bisa diremehkan," cetusnya bangga.


Devan memutar malas bola matanya. "Up to you."


Keduanya kembali terdiam, sibuk dengan pikiran masing-masing. Hingga suara ketukan pintu dari luar ruangan Darren terdengar, keduanya saling pandang lantas mengganguk. Darren segera mempersilakan orang itu untuk memasuki ruangannya, ia memandang tajam sekretarisnya itu.


"Pak, anda ada rapat 30 menit lagi," ujar sekretarisnya sembari menunduk.

__ADS_1


"Hm."


Sekretaris Darren segera keluar dari ruangan itu setelah berpamitan. Dirinya merasa sudah tak ada lagi yang ingin atasannya itu ucapkan. Lagipula, Darren tak akan bicara banyak hal jika pada orang asing.


"Si Nata cantik gitu jangan lu kacangin!"


...***...


Refan baru saja tiba di sebuah restoran milik Alika. Pria itu berjalan memasuki restoran seorang diri, dia mendudukkan dirinya di dekat jendela. Setelah memesan makanannya, dia memandang ke arah luar jendela. Entah apa yang dirinya pikirkan.


Suara keributan membuat Refan mengalihkan atensinya. Dirinya dapat melihat tengah ada keributan, tak ingin terlalu ikut campur dia memilih untuk diam. Pria itu memilih membaca email yang masuk ke ponselnya. Namun, suara bising itu justru semakin menggangu dirinya. Dia menoleh lagi ke samping lantas menghela nafasnya kasar.


"Berisik," gumam pria itu kesal.


Sedangkan, di sisi lain, seorang perempuan tengah ribut dengan seorang pria karena dirinya diganggu. Keributan itu mengundang banyak mata untuk menonton drama yang tengah disajikan. Bukannya melerai, mereka justru menjadikannya sebagai tontonan.


"Anda pikir, anda tampan? Keren? Merasa keren karena menggoda perempuan?" cetus Alika.


Plak!


"Jaga bicara anda!" desis Alika.


Perempuan itu menyeringai. "Saya bisa laporkan kasus ini ke dalam pelecehan," ancam Alika.


Pria itu tak peduli, dia justru tertawa meremehkan. Alika geram sendiri melihatnya. Sedangkan, pria itu menggangap remeh ancaman Alika. Dia berpikir semua perempuan itu lemah, tetapi dirinya belum tahu siapa gadis yang ada di hadapannya ini.


Pria itu bernama Anton, seorang pria yang katanya orang kaya. Tingkahnya jauh lebih buruk dari Leon, karena dia berani meniduri perempuan. Baginya perempuan adalah pemberi kenikmatannya. Dia memandang Alika dengan tatapan laparnya, melihat tubuh perempuan itu yang sepertinya sangat indah, begitulah pikirannya.


Alika mengambil handphone miliknya, perempuan itu segera menghubungi sahabatnya, Yesha. Yesha seorang pengacara tentu itu memudahkan dirinya lagi bahkan tanpa pria itu sadari, Alika telah merekam kelakuan bejatnya yang tengah menggoda salah satu pelanggan.


"Hallo, Lik! Kenapa kamu nelfon?"


"Eh! Hai, Sha. Gini, mau tanya undang-undang pelecehan nomor berapa ya?" tanya Alika.

__ADS_1


Di seberang sana, Yesha tengah mengerutkan keningnya. Merasa heran dengan pertanyaan seseorang yang berstatus sebagai sahabatnya. Dia tahu betul bahwa Alika sangat tidak suka berurusan dengan undang-undang, otaknya tak bisa mengingat. Meski demikian, Yesha tetap menjawab.


"Pelecehan seksual dapat dijerat menggunakan pasal percabulan yakni Pasal 289 hingga Pasal 296 KUHP, dengan tetap memperhatikan ketentuan unsur-unsur perbuatan tindak pidana masing-masing," jelas Yesha.


Alika menyeringai. "Kalau pelecehan secara verbal bisa ditindak pidana?" sambung Alika.


"Bisa. Pasal 315 KUHP tindakan pelecehan **** secara verbal yg terjadi di tempat umum dapat dipidana. Kenapa?"


"Bukti-bukti udah gua kirim ke email lu. Tolong ditindak lanjuti." Tanpa menanti balasan Yesha, Alika segera menutup ponselnya.


...***...


"Sial! Bagaimana bisa gadis itu tetap tenang walau sudah diteror?!" bentak seorang pria paruh baya.


Semua orang yang berada di ruangan itu menundukkan kepalanya takut. Mereka sangat hafal dengan perangai dari pria paruh baya itu, selalu lepas kendali jika marah. Salah satu dari mereka menghela nafas pelan, dirinya sangat malas mendengar ucapan dari atasannya. Namun, dirinya sadar akan posisinya.


Pria paruh baya itu melempar apa saja yang berada di ruangan tersebut. Ruangan yang semulanya rapi kini berubah menjadi berantakan, pecahan dari bahan yang terbuat dari kaca berserakan di lantai. Hal itu, justru membuat seorang wanita yang sedang berada di dapur menghampiri mereka.


Raut terkejut dan heran sangat terlihat jelas sejak dia memasuki ruangan itu. Wanita itu menghela nafas kasar kala melihat tatapan penuh amarah dari suaminya. Dia juga melihat para bodyguard yang menunduk takut. Dapat dirinya pastikan bahwa suaminya tengah memarahi bawahannya.


"Mas, kenapa?" tanya wanita itu dengan lembut.


"Ck! Bukan urusanmu! Urus saja urusanmu di dapur, sebagaimana mestinya perempuan yang harus berada di dapur. Berhenti mencampuri urusanku!" bentak pria paruh baya itu.


Wanita paruh baya itu memejamkan matanya mendengar ucapan dari suaminya. Selalu saja begitu, selama 47 tahun usia pernikahan mereka tak pernah ada bahagia. Suaminya selalu saja bertindak semaunya, memperlakukan dirinya sesukanya. Ia lelah, tetapi dia tak ingin perjuangannya mempertahankan pernikahan mereka sejauh ini menjadi sia-sia.


Wanita itu menghapus air matanya yang akan luruh dari matanya. Dia menghela nafas lantas tersenyum dengan tulus. Ia menatap suaminya dengan lembut, walau hatinya selalu hancur karena ulah suaminya.


"Iya, udah. Aku siapin makan siang dulu, Mas." Tak ada sahutan dari pria paruh baya itu membuat wanita itu tersenyum miris.


"Kalian teror kembali perempuan sialan itu hingga dirinya menjadi gila! Tapi, lakukan besok, biarkan dia tenang satu hari saja."


"Ba—baik, Tuan."

__ADS_1


__ADS_2