Gadis Muda Untuk Pak Duda

Gadis Muda Untuk Pak Duda
Ketulusan Hati


__ADS_3

Yesha berjalan menuruni tangga menuju dapur, perempuan itu berniat membuat susu. Mengingat cuaca di luar sangat dingin, dikarenakan hujan tidqk juga berhenti sejak beberapa hari lalu. Kalaupun berhenti, tak pernah lebih dari satu jam. Seluruh aktivitas manusia berhasil dipersulit oleh cuaca, untungnya dia selalu menggunakan mobil ke mana pun dirinya pergi.


Perempuan itu meminum susunya perlahan sembari menatap pemandangan kota Jakarta di malam hari dari jendela yang berada di dapur. Yesha mengusap kulitnya kasar saat merasakan angin menusuk kulitnya, cuaca yang tengah hujan dan waktu yang telah menunjukkan pukul 22.49 wib semakin membuat udara terasa lebih dingin.


Perempuan itu menghela napasnya, dia memilih kembali ke kamarnya. Namun, baru saja dirinya membalikkan tubuhnya, dering ponsel menghentikan langkahnya. Yesha segera mengambil ponsel miliknya, perempuan itu menyatukan alisnya saat melihat nomor tidak dikenal menelepon. Perempuan itu segera mengangkat teleponnya, suara seorang laki-laki menyapa indra pendengarannya, suara yang nampak asing.


"Hall—" Belum sempat Yesha menyelesaikan ucapannya, tetapi seseorang di seberang sana telah lebih dahulu memotong ucapannya.


Raut wajah perempuan itu berubah panik saat mendengar penuturan seorang pria dari seberang sana. Entah apa yang mereka bicarakan, tetapi itu berhasil membuat seorang Yesha menggigit kuku-kuku jarinya, panik.


"Saya ke sana sekarang, tolong jaga dia." Yesha segera mematikan teleponnya sepihak, diletakkan gelas yang ada di tangannya pada meja dapur.


Perempuan itu berlari menuju kamarnya, menaikki tangga dengan tergesa-gesa. Dirinya pergi mengambil kunci mobil dan cardigan miliknya, mengingat dia hanya menggunakan hotpans dan tanktop saat ini. Dikarenakan terlalu panik, perempuan itu tak berpikir untuk mengganti pakaian.


Sebelum pergi, perempuan itu menyempatkan diri pergi ke kamar Wina untuk berpamitan.


"Ma, aku mau pergi sebentar. Mama langsung istirahat, ya," ucap Yesha dengan napas memburu.


Wina yang tengah menyisir rambutnya jelas dibuat terkejut dengan kehadiran sang anak. Mendengar penuturan dari Yesha membuat wanita itu menghentikan aktivitasnya, dia menatap Yesha dengan penuh tanya.


"Mau ke mana, Sayang? Ini udah malam loh," tanya Wina khawatir.


"Leon mabuk dan kecelakaan, aku mau jemput dia dulu. Dia enggak mau di bawa ke rumah sakit," jawab Yesha membuat Wina membekap mulutnya tak percaya.


"Ya udah hati-hati, ya."


Yesha menganggukan kepalanya lantas mencium tangan dan pipi Wina. Dia segera berlari turun ke bawah dan berlari menuju garasi. Setibanya di garasi, perempuan itu segera memasukki mobilnya. Setelah menghela napasnya kasar untuk menenangkan dirinya, dia segera menancapkan gas menuju lokasi kekecelakaan Leon.

__ADS_1


...***...


Seorang perempuan cantik tengah menari di lantai dansa sebuah club ternama kota Jakarta. Raut bahagia, puas, bebas, dan lepas, tercipta jelas di raut wajahnya. Tertawa lepas tanpa beban, segala beban di pundaknya itu terangkat dengan sempurna.


Wajah cantik, tubuh body goals, kulit putih mulus, senyum manis, dan tatapan yang menggoda, membuat banyak orang yang menatapnya lapar. Namun, perempuan itu nampak acuh, dirinya tetap menari dengan bahagianya.


"Via!" Panggilan itu membuat perempuan tersebut menghentikan tubuhnya yang asyik bergoyak, dia menatap sang sahabat yang berjalan mendekatinya.


"Gua kira lo dibawa om-om diskotik," canda sahabatnya membuat perempuan itu mendelik sinis.


"Berani bayar berapa mereka?" bisik perempuan itu membuat sahabatnya melotot.


"Via Tirava!"


"Kenapa, Vena Alixa?" godanya membuat perempuan di hadapannya mendengus kesal.


Via merupakan perempuan yang cukup kuat dan hebat, menjadi yatim piatu sejak duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama membuatnya dipaksa lebih kuat oleh semesta. Hal itu membuat Via tumbuh menjadi perempuan penuh ambisi yang akan mengandalkan segala cara untuk mencapai keinginannya.


Vena Alixa, sosok sahabat yang telah menemani Via sejak duduk di bangku Sekolah Menengah Atas. Vena adalah satu-satunya orang yang akan selalu berdiri mendampingi Via apa pun kondisinya. Mereka sering kali dianggap kembar oleh orang-orang di sekitaran mereka.


Vena, perempuan dewasa dan bijak. Sosok perempuan yang mampu menyelesaikan masalahnya dengan kepala dingin. Lahir sebagai putri bungsu di keluarga kaya raya membuat apa yang dia inginkan selalu dia dapati, tetapi perempuan itu tak pernah menggunakan cara licik untuk mendapatkan apa yang dia mau.


"Kenapa manggil gua?" tanya Via dengan satu alis terangkat.


"Pulang, yok! Abang gua udah nyuruh pulang, nih," dengus Vena.


Via tersenyum tipis, menjalin hubungan cukup lama membuat Via hafal dengan kelakuan keluarga sahabatnya yang posesif. Via memaklumi hal tersebut mengingat Vena adalah putri bungsu pengusaha sukses.

__ADS_1


"Ya udah, ayo."


...***...


Yesha menghembuskan napasnya kasar. Saat ini perempuan itu tengah berada di apartemen Leon. Saat Yesha ingin membawa Leon ke rumah sakit, laki-laki itu menolak keras. Dia beralasan hanya keningnya yang terluka, nyatanya bahu pria itu juga tergores. Yesha hanya mampu mengalah, Leon terlalu keras kepala untuk dirinya lawan.


Setelah mengobati luka milik Leon, laki-laki itu membawa Yesha ke kamarnya, mengurung perempuan yang dia akui sebagai miliknya di kamarnya. Leon memeluk Yesha cukup erat, ditenggelamkannya wajahnya di ceruk leher Yesha. Hembusan napas Leon berhasil membuat Yesha panas dingin, dia takut Leon akan lepas kendali mengingat laki-laki itu tengah mabuk sekarang.


Lamunan Yesha buyar saat merasakan lehernya menjadi basah. Perempuan itu segera menoleh ke samping kanannya, dia cukup terkejut melihat bahu Leon yang bergetar hebat. Yesha menjauhkan kepalanya dari Leon, dapat dia lihat laki-laki itu tengah menggigit bibir bawahnya untuk menahan isakan yang akan keluar.


Dia membalikkan tubuhnya menjadi berhadapan. "Hey, kenapa? Kenapa nangis? Ada yang sakit?" tanya Yesha lembut dengan wajah khawatir.


Leon tak menyahuti, dirinya hanya diam dan semakin menggigit bibir bawahnya. Yesha yang melihat itu segera membawa Leon ke pelukannya, perempuan itu tak tahu apa yang terjadi pada laki-laki dalam pelukannya. Namun, Yesha yakin Leon tengah terluka sekarang.


"Kenapa, hm? Mau cerita?" tanya Yesha sembari mengusap lembut rambut Leon.


"Ma—mau nikah sama kamu, ta—tapi Mama larang. Katanya aku cuman boleh nikah sama pilihannya," sahut Leon dengan sisa tangisnya membuat Yesha terpaku.


"Capek, Sha, capek. Mama enggak pernah sayang sama aku, Mama cuman sayang Kak Krishna," sambung Leon.


Yesha terpaku, dia terkejut. Laki-laki yang selama ini dinilainya buruk ternyata memiliki luka yang mendalam. Laki-laki yang bahkan rela meneteskan air matanya demi dirinya. Yesha tak bodoh, dia tahu cinta Leon tulus untuknya.


"Cuman mau nikah sama kamu," lirih Leon.


Yesha menangkup wajah Leon. "Hey, jika Tuhan menjadikan kita takdir, kita akan tetap bersatu apa pun rintangannya. Tapi jika Tuhan enggak berkehendak, itu enggak akan terjadi. Aku harap kalau kamu enggak nikah sama aku, kamu dapat yang lebih baik." Yesha mencium kening Leon cukup lama.


"Cuman mau sama kamu." Leon mengeratkan pelukannya, berusaha mecari kenyamanan pada sosok yang dia cintai.

__ADS_1


__ADS_2