Gadis Muda Untuk Pak Duda

Gadis Muda Untuk Pak Duda
Terabaikan


__ADS_3

Seorang perempuan menghela napasnya kasar. Sudah seminggu dirinya menetap di rumah megah itu, tetapi perempuan itu belum juga terbiasa. Setiap harinya terasa asing bagi perempuan itu.


"Ma—"


"Bi, Yana salapan di sekolah aja, ya," potong sebuah suara lantas berlalu pergi.


"Saya berangkat."


Cellyn terdiam di tempatnya. Dia tak mampu berkata lagi. Sudah seminggu hal ini terus terjadi. Devan dan Yana terus saja mengabaikan keberadaan dirinya. Hati perempuan itu sakit, tetapi dia sadar dirinya hanya pengganti di dalam keluarga Brawirya.


Dia menghela napasnya panjang. Tak ingin terlalu larut dalam rasa sakit di hatinya, Cellyn memilih melangkahkan kakinya ke kamar dirinya untuk mengecek keadaan sang putra. Abian Putra Brawirya, nama si bungsu dari keluarga Brawirya. Wajahnya sangat mirip dengan Hima, hanya mata bayi itu saja yang mirip dengan Devan.


Omong-omong soal Devan, pria itu sudah berangkat ke kantor bersama Yana tanpa mengucapkan sepatah kata pun.


"Bi, tolong jaga Abi, ya. Saya mau ke rumah sakit dulu," titah Cellyn pada babysister anak sambungnya itu.


"Baik, Nya."


Pekerjaannya sebagai relawan bagi masyarat tak bisa Cellyn tinggalkan begitu saja. Dia begitu menyayangi profesinya sebagai Dokter itu, meski sering kali lelah menghampiri. Namun, dirinya merasa senang melakukannya.


Lantas sekarang bertambah rasa lelahnya, dia harus kuat menghadapi tingkah keluarga Devan. Devan yang dulunya manis berubah menjadi tak peduli. Cellyn sering kali dibuat kebingungan dengan sikap pria berstatus suaminya itu.


...***...


Seorang wanita menggeliat dalam tidurnya. Matanya masih terasa berat, tetapi dipaksa bangun oleh seorang pria yang mengusik tidurnya. Nata mendengus kesal saat merasakan wajahnya yang basah karena Darren. Wanita yang tengah berbedan dua itu segera mendorong tubuh Darren agar mau menjauh.


"Mas, ih!" rengeknya.


Darren terkekeh pelan. Dirinya dibuat gemas dengan sikap sang istri. "Apa, hm?"


"Nata ngantuk, Mas! Jauh dulu ih."


Darren semakin terbahak melihat tingkah lucu Nata. Merasa kasihan dengan istrinya itu, Darren mengalah. Pria itu melangkahkan kakinya menuju kamar mandi, membiarkan Nata kembali melanjutkan tidurnya.


...***...


Yesha memandangi Leon dengan wajah bingungnya. Pria itu tiba-tiba saja mendatangi rumahnya. Tak ada angin dan tak ada hujan, bisakah dia menaruh rasa curiga? Untung saja rumahnya dalam keadaan sepi, jika tidak bisa ditebak apa yang akan terjadi. Leon mungkin akan diintrogasi oleh sang Bunda.

__ADS_1


"Ngapain ke sini?" tanya Yesha sembari menutup pintu rumahnya.


"Mau jemput bidadari surga saya, dong."


Yesha memandang Leon dengan satu alis yang dinaiki. Perempuan itu dibuat tak paham dengan maksud pria yang ada di hadapannya ini. Memilih tak peduli, Yesha melangkahkan kakinya menjauh.


Namun, Leon lebih dulu menariknya. Hingga perempuan itu berada di pelukannya. Yesha mencoba berontak, tetapi kekuatannya jelas tak sebanding dengan Leon.


"Kenapa?" tanya Yesha pasrah.


Cup!


"Calon istri gua enggak boleh kesal," balas Leon.


Yesha mendelik saat merasakan benda kenyal dan basah itu menempel di keningnya. Dia memukul dada bidang Leon dengan kesal. Bukannya marah, Leon justru terkekeh geli. Dia menikmati wajah kesal Yesha.


"Kamu mau aku terkam, hm?"


Yesha mendelik kesal. "Mesum!" hardiknya membuat Leon terbahak.


Perempuan itu menghela napas. Menghadapi orang seperti Leo memang membutuhkan kesabaran ekstra. Dirinya harus menyetok kesabaran luar biasa jika berhadapan dengan Leon.


...***...


"Mas, aku mau rujak melon!" rengek Nata sembari menarik kemeja kerja Darren.


Mendengar permintaan Nata membuat Darren menghela napasnya berat. Untuk pertama kalinya istrinya itu mengidam, mengidam hal yang menurut Darren aneh. Dia mungkin tahu rujak bisa dengan buah apa pun, tetapi tidak dengan melon.


Pria itu memijat keningnya yang seketika berdenyut nyeri. Ingin menolak keinginan Nata, tetapi yang memintanya calon anaknya, sang penerus dirinya. Darren kembali menghembuskan napasnya secara berulang, menghadapi Nata yang sedang hamil memang dibutuhkan kesabaran ekstra.


"Mas minta Bunda buatin ya, Sayang. Seben—"


"Maunya beli, Mas!" Belum sempat Darren menyelesaikan ucapannya, Nata terlebih dahulu memotongnya.


Pria itu kembali menghela napasnya. Dia menarik Nata yang tengah duduk di ranjang untuk berdiri. Dipeluknya pinggang Nata sedikit erat, pria itu memandang intens Nata. Namun, masih tersirat kelembutan di sana, dia tak ingin membuat istrinya merasa terintimidasi.


"Mau cari rujak melon di mana, Cantik?" tanya Darren dengan lembut.

__ADS_1


"Penjual rujak, Mas," sahut Nata dengan polosnya.


Darren menghembuskan napasnya kasar. Kalau bukan penjual rujak di mana lagi? Ya kali penjual sepatu, gini amat bini gua, ucap Darren dalam hati.


"Darren, Nata! Sarapan dulu."


Saat hendak menyahuti balasan Nata, teriakan Alisha yang meminta mereka untuk sarapan menghentikan mulut Darren yang akan mengeluarkan suara. Darren menatap Nata yang memasang wajah sedihnya, pria itu menghela napasnya kasar sebelum akhirnya menarik tangan sang istri untuk ke meja makan.


"Kita sarapan dulu, ya."


Sesampainya di meja makan, mata mereka menangkap Alisha yang tengah menata meja makan dan Thofid yang tengah meminum kopi sembari membaca koran. Melihat itu Nata segera melepaskan genggaman tangan Darren dan berjalan mendekati Alisha. Dia merasa tak enak hati karena tak membantu Alisha pagi ini.


"Sini biar Nata bantu, Bun," ujar Nata menawarkan diri.


Alisha menoleh, dia tersenyum dengan lembut. "Enggak usah, Sayang. Kamu duduk aja, Ibu hamil enggak boleh capek."


Nata menghembuskan napasnya kasar. Hanya menata makanan di meja makan saja Alisha dan Thofid melarangnya. Dia seolah ratu di rumah itu, diperlakukan layaknya anak bukan menantu. Memilih menuruti ucapan Alisha, karena dia tahu membantah akan berakhir sia-sia.


Beralih pada Thofid yang baru saja menyudahi aktivitasnya. Pria paruh baya itu tak sengaja menatap wajah sang anak, dia mengerutkan keningnya. Wajah Darren sangat kusut, terlihat sangat jelas anaknya itu tengah memikirkan sesuatu.


"Kamu mikirin apa?" tanya Thofid sembari menaruh korannya.


"Nata ngidam rujak melon, Yah. Mau cari di mana?" sahut Darren lesu.


Dia terkekeh. "Buat aja sendiri," balas Thofid santai.


Darren meliriknya sekilas. "Nata maunya beli."


"Makanya sebelom bikin itu kamu mikir dulu. Sekarang makan tuh rujak melon."


"Ayah kurang akhlak."


...***...


Yana memandang Cellyn yang tengah menimang-nimang sang Adik. Dia menatap penuh tanya saat perempuan yang berstatus Ibu sambungnya itu memakai daster bukan pakaian yang menurutnya bagus. Yana mengamati pakaian Cellyn dengan pandangan menilai.


"Tante kenapa pakai dastel? Bukan pakaian bagus. Malu-maluin tahu ndak, sih?" celetuk Yana.

__ADS_1


Cellyn yang mendengar itu menghentikan aktivitasnya. Dia membisu, hatinya mencelos. Ada sakit yang menyapa dirinya dengan manis. Ucapan bernada datar itu berhasil membuat hati Cellyn berdenyut nyeri.


"Maafin saya kalau malu-maluin kamu, Yana."


__ADS_2