
Hembusan angin menyapu kulit gadis cantik yang tengah memandang kosong pemandangan dari balkon kamarnya. Dia Aya, gadis cilik dengan sifat seperti orang dewasa. Lahir menjadi saudari kembar seorang Ara membuatnya sering kali dibandingkan dengan sosok Ara. Dia akui, dia memang sedikit berbeda dari anak seumurannya. Pemikirannya terbilang terlalu matang untuk usianya, entahlah gadis itu harus bangga atau tidak.
Dia menghirup dalam udara malam yang mungkin akan membuatnya jatuh sakit esok hari. Aya menghembuskan napasnya secara perlahan, gadis kecil itu merasa sesak di dadanya yang tiba-tiba menyerang. Dia mendongak menatap taburan bintang yang nampak indah. Sering kali dia merasa takut dengan malam yang nampak lebih keji dari siang.
Bosen banget kecil terus, kapan besarnya sih? kata Aya dalam hati.
Iya, gadis kecil itu sangat berharap cepat dewasa. Dirinya merasa menjadi dewasa itu menyenangkan, itu yang dia lihat dari orang-orang dewasa di sekitarnya. Aya hanya menilai dari satu sisi saja, melihat satu sudut di mana orang dewasa selalu bahagia. Namun, gadis kecil itu tak melihat bagaimana kejamnya dunia terhadap orang dewasa.
Dia tak tahu, banyak orang dewasa yang berjuang untuk tetap bertahan hidup. Gadis kecil itu tak tahu ada banyak orang dewasa yang tengah mempertahankan kesehatan mental mereka. Dia pun tak tahu banyak orang dewasa yang berusaha kuat untuk tersenyum saat dunianya hancur.
Sebuah usapan di kepalanya membuat Aya menoleh ke belakang. Dirinya menatap sosok yang kini tengah memberikan senyum lembutnya pada Aya. Raut wajah gadis itu tak juga berubah, masih datar. Dia bahkan tak membalas lemparan senyumannya yang diberikan ayahnya.
"Kesayangan Daddy mikir apa, heem?" tanya Krishna sembari mengendong Aya membawa putrinya ke kamar.
"Enggak ada," sahut Aya dengan suara pelan.
"Dad, apa menjadi besar itu menyenangkan?" lontar Aya.
Krishna yang mendengar pertanyaan sang anak menghentikan langkahnya sesaat lalu berjalan menuju ranjang milik gadis kecil itu. Krishna mendudukkan dirinya di sana dengan Aya yang berada di pangkuannya. Tangannya mengusap lembut surai sang anak, dirinya menatap manik mata Aya yang tengah menatapnya dengan polos, tetapi sangat kosong di dalamnya. Dia tak pernah paham dengan manik mata anaknya yang seolah tak ada kehidupan.
"Aya mau cepet besar, Sayang?" Krishna bertanya sembari mengusap lembut surai Aya.
Aya hanya menganggukkan kepalanya, dirinya memeluk Krishna dengan erat. Wajahnya dibenamkan pada leher milik Krishna. Dia mulai mengantuk saat merasakan usapan lembut pada surainya, tetapi rasa penasarannya belum terjawab membuat gadis itu enggan menutup matanya.
"Heem, enak atau tidaknya itu kembali pada diri sendiri, Cantik. Daddy gak mau bilang jadi dewasa itu enak, Daddy gak mau buat kamu berharap seolah menjadi dewasa itu menyenangkan. Pesan Daddy ke kamu, saat kamu tumbuh dewasa nanti jangan pernah menyerah. Jangan pernah menjadi gadis lemah yang harus mengakhiri segalanya, jadilah Aya yang tangguh dan tak mudah dihancurkan. Iya, Sayang?" papar Krishna dengan lembut.
"Tapi, ada Daddy dan Mommy. Siapa yang akan menghancurkan Aya, Dad?" balasnya sembari mendongakkan kepalanya.
__ADS_1
"Daddy dan Mommy enggak akan bisa terus temenin kamu dan Ara. Apa pun kedepannya nanti, jaga Adik kamu dengan baik ya, Sayang?"
...***...
Riana berjalan memasuki sebuah diskotik yang berada di sebuah tempat terpencil kota Jakarta. Dengan pakaian yang cukup terbuka, dirinya memasuki diskotik tersebut dengan percaya diri. Suara musik yang menggema menyambut indera pendengarannya dan jutaan manusia yang tengah menari di lantai dansa menyambut netranya. Kakinya melangkah menuju bartender, dirinya merasa haus sekarang.
"Minuman dengan kadar alkohol sedang," pinta Riana sembari menatap sekitarnya.
Dirinya memang sering mendatangi diskotik tersebut untuk menyegarkan pikirannya. Dirinya hanya datang untuk minum bukan untuk berdansa apalagi melakukan *** bebas. Riana memang liar, tetapi dirinya masih tahu batasan. Dirinya tak ingin semakin rusak karena tindakannya.
Tanpa sengaja netranya menangkap sosok Darren dan beberapa pria yang tengah tertawa. Riana sangat yakin mereka tengah membicarakan sesuatu yang menyenangkan. Dirinya meletakkan gelas yang ada di tangannya dan melangkahkan kakinya menuju tempat Darren berada. Setibanya di sana, dia memeluk leher Darren dengan erat. Perbuatannya tentu membuat Darren terkejut.
"Ternyata ada kamu juga di sini." Bisikan itu membuat Darren menghela napasnya kasar. Dirinya tentu tahu siapa pemilik suara yang mendayu dengan seksi di telinganya. Darren melepaskan tangan Riana dengan paksa dari lehernya.
"Jangan dekati saya!" tegas Darren.
Leon dengan sengaja berujar demikian, dirinya sangat tahu jika Darren risih pada perempuan itu. Darren yang mendengar ucapan Leon menyunginggkan senyum tipis. Dirinya melirik Devan yang nampak acuh dengan keberadaan Riana, pria itu bahkan asyik bermain ponsel.
"Heem. Kalian bertiga aja? Refan mana?"
"Dia mah udah enggak boleh minum lagi," sahut Leon sembari menegak habis vodka miliknya.
"Ngapain, Ri? Lu cewek dan ke bar, keren banget. Mau cari pemuas?" cemooh Devan tanpa mengalihkan atensinya dari ponselnya.
Riana yang medengar itu mengepalkan tangannya. "Jaga bicara kamu, ya!" geram Riana.
"Terus? Jual diri? Cih, perempuan kayak lu mana pantas buat Darren." Devan menatap Riana dengan sorot merendahkan.
__ADS_1
"Kamu! Kamu salah, Dev! Darren hanya untuk aku!"
...***...
Alika saat ini tengah berada di salah satu penjual martabak manis. Entahlah, malam ini dirinya sangat ingin memakan makanan yang manis. Bahkan di tangannya sudah ada kantung belanjaan yang berisi donat dan kue. Alika sama sekali tak takut untuk gemuk, karena baginya makan adalah segalanya.
Sembari menanti pesenannya, perempuan itu memilih memainkan ponselnya. Dia terlalu fokus pada ponselnya hingga tak menyadari seseorang duduk di hadapannya. Alika bahkan tak sadar jika orang itu menatapnya dengan intens. Hingga sang penjual martabak menghantarkan pesenannya, Alika dibuat terkejut dengan kehadiran orang itu.
"Mbak, ini martabak coklat kejunya."
Alika mendongak. "Makasih, Mas. Ini uangnya, ya."
Tanpa sengaja, perempuan itu melirik ke depan, "Lo?!" teriak Alika dengan mata membulat, dia bahkan mengurungkan niatnya untuk bangkit dari duduknya.
"Apa?" tanya sosok itu.
"Ngapain lu di sini?" Pertanyaan Alika justru terdengar tak masuk akal bagi sosok itu.
"Mancing ayam."
"Refan!" jerit Alika.
Sedangkan, sosok itu hanya menaikkan satu alisnya mendengar jeritan Alika. Iya, dia Refandra. Pria itu berniat membeli martabak untuk sang Ibu tercinta. Namun, naasnya dia justru bertemu dengan Alika.
Alika memandang tajam Refan, dirinya masih kesal dengan pria yang kini duduk santai di hadapannya. Ingin rasanya Alika membunuh Refan detik itu juga. Rasa kesalnya semakin memuncak saat dia melihat raut wajah datar milik Refan.
"Arggghhh ... Mati aja lu!"
__ADS_1