
Cellyn mengerjapkan matanya perlahan, dia mengedarkan pandangannya. Raut wajahnya terkejut saat melihat Devan yang tertidur pulas sembari memeluk dirinya erat. Ingatan kemarin malam berputar, menari dengan indahnya di pikirannya. Wajah wanita itu bersemu, dirinya ingat betapa dia menikmati perlakuan Devan semalam. Terlena dalam gairah yang Devan ciptakan.
Perempuan itu menggelengkan kepalanya pelan mencoba menghalau pikiran kotornya. Dia mencoba menyingkirkan tangan Devan yang membelit pinggangnya, tetapi Devan justru semakin erat memeluknya. Wanita itu kembali mencobanya, tetapi kembali gagal.
"Diam, Cellyn." Suara khas seseorang yang baru bangun tidur menyapa Cellyn.
Wanita itu terdiam, jantungnya bertalu dengan hebat. Pria tampan yang tengah tertidur itu berhasil membuainya. Bukan hanya paras, tetapi semuanya berhasil membuai Cellyn. Seorang Devan Brawirya berhasil membuat Cellyn dimabuk asmaraloka.
"O—om, Cellyn mau ke kamar mandi. Ini udah jam delapan pagi," ucap Cellyn sembari terus mencoba menyingkirkan tangan Devan.
"Jangan gerak, Cellyn. Nanti ada yang bangun."
Wanita itu membisu, tubuhnya menegang. Dia dapat merasakan sesuatu yang menusuk di bawah sana. Wajahnya seketika pucat pasi, dia tahu apa itu. Cellyn bukanlah perempuan polos dan lugu.
"Om . . .," lirihnya.
"Apa, hm?" sahut Devan sembari menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Cellyn.
"Punya Om bangun."
...***...
"Kalian enggak kepagian ke sininya?" tanya Nata pada kedua sahabatnya yang baru saja mendudukki diri di sofa ruang tamu.
Alika menjawab pertanyaan Nata dengan gelengan pelan. Perempuan itu beralih menatap perut Nata yang mulai membesar. Tangannya terulur mengusap lembut perut sahabatnya itu. Alika dibuat takjub dengan besarnya perut Cellyn.
"Ponakan Aunty semoga cepet tumbuh, ya," ucap Alika dengan senyuman.
__ADS_1
Nata yang mendengarkan itu tersenyum tipis. Dia tahu sahabatnya itu menantikan kelahiran anak pertamanya dan Darren.
Di sisi lain, Yesha nampak memberenggut kesal. Dirinya memandang ponselnya dengan wajah kesal. Kedua sahabatnya belum juga menyadari perubahan raut wajah Yesha, mereka tengah asik berbincang dengan janin yang masih di rahim ibunya itu.
Ini Leon minta ditabok apa, ya? batin Yesha memberenggut.
Nata yang saat itu tak sengaja melihat ke arah Yesha menatap sahabatnya itu bingung. Raut wajah Yesha sangat menunjukkan dirinya tengah kesal. Terbukti perempuan itu sedari mencibir dengan suara pelan.
"Kamu kenapa, Yes?" Pertanyaan dari Nata sukses membuat Alika menatap Yesha juga.
Dia menghembuskan napas. "Leon ngamuk karena gua main sama kalian kaga ijin ke dia," sahut Yesha kesal.
Alika dan Nata saling pandang. Mereka dibuat bingung dengan status hubungan Yesha dan Leon, keduanya tahu bahwa dua insan itu memang beberapa kali nampak bersama. Namun, Yesha belum pernah menceritakan status hubungan mereka.
"Hubungan kamu sama dia apa?" tanya Nata.
"Enggak ada. Leon enggak pernah ngasih kepastian hubungan," sahut Yesha dengan raut wajah datar.
"Lah kena gantung?"
...***...
"Keluar dari ruangan saya, Riana!"
Riana terkekeh sinis. Dia begitu menikmati wajah marah Darren yang sialnya semakin membuat pria itu tampan di mata Riana. Riana mengabaikan ucapan Darren, dia justru mendekati Darren. Perempuan itu mengusap dada bidang Darren sensual berharap mampu menggoda Darren.
"Riana," desis Darren dengan mata yang semakin menajam.
__ADS_1
"Why, hm?" tanya Riana dengan senyum sinisnya.
Darren menarik pinggang Riana agar tak ada lagi jarak di antara mereka. Pria itu memeluk erat pinggang Riana. Pria itu mengecup sekilas bibir ranum milik Riana. Darren tersenyum sinis melihat Riana yang terkejut.
"Menggodaku, Nona Manis?" bisik Darren tepat di telinga Riana.
Riana mendesis. Niatnya dia yang akan menggoda Darren, tetapi sialnya justru dirinya yang tergoda oleh perbuatan Darren sendiri. Wanita itu menggepalkan tangannya di atas dada Darren mencoba menahan hasrat yang akan meledak dari dalam dirinya.
"Mau bermain bersama, Sayang?" tanya Darren sembari menatap Riana.
"Tentu."
Darren terkekeh, dia melepaskan dasinya. Pria itu menutup mata Riana dengan dasinya. Tanpa banyak bicara, dia mengendong Riana, membawa Riana ke kamar yang pernah menjadi saksi kala dirinya beradu cinta dengan Nata. Darren membiarkan Riana bingung dengan sikapnya, membiarkan wanita bermain dengan imajinasinya. Dia akan membuat Riana melayang melebihi imajinasinya sendiri.
"Apa kau melupakan istrimu, Darren Aryan Gautama?" tanya Riana dengan sinis.
"Tentu tidak. Dia tengah hamil, saya tidak akan bisa meneyentuhnya. Anda lantas datang menawarkan kehangatan, sangat rugi jika saya menolak," balas Darren.
Riana tersenyum puas dalam gendongan Darren, dikalungkan tangannya di leher Darren. Dia akan membuat Darren terlena, itu janjinya.
Bruk!
Darren membanting Riana di atas kasur. Pria itu merangkak naik ke atas tubuh Riana. Pria itu membelai wajah Riana dengan lembut, dengan sengaja dia mengusap bibir ranum Riana dengan jarinya cukup lama.
"Hard s*x, Baby?"
"Sure, Baby."
__ADS_1