
Kumpulan perempuan dewasa tengah menatap satu sama lain dengan raut serius. Mereka tengah membicarakan hal serius yang terkadang terselip juga canda dan tawa. Salah satu dari mereka hanya menampilkan raut dinginnya meski dirinya juga terkejut, sedangkan satu lagi hanya menampilkan raut wajah kesalnya. Di sisi lain, seorang perempuan justru menampilkan raut cemasnya, entah apa yang ada di pikirannya.
Mereka adalah Nata, Alika, dan Yesha. Tiga perempuan yang memilih menghabiskan waktu weekend-nya di luar rumah. Bukan hanya ingin menghabiskan waktu bersama, Alika sendiri juga ingin memberi tahu sahabatnya perihal perjodohan yang dilakukan kedua orang tuanya.
"Gua dijodohin sama Refan," celetuk Alika tanpa melihat kondisi sekitar.
Uhuk! Uhuk! Uhuk!
Nata dan Yesha yang saat itu tengah meminum minumannya langsung tersedak saat mendengar celetukan Alika. Mereka memandang Alika dengan tajam, nyawa keduanya hampir melayang karena info yang Alika berikan. Sangat tidak lucu jika keduanya harus tiada hanya karena berita perjodohan yang Alika ucapkan.
"Bisa liat kondisi sekitar dulu, 'kan sebelum lu ngasih tau?" decak Yesha.
"Huft ... Untung cuman keselek jus jeruk, kalau sampe mati gimana?" sambung Nata sembari mengusap dadanya.
Alika menyengir. "Ya, maaf."
"Udah rata gitu gak usah dielus, makin rata yang ada," ejek Alika membuat Nata mendengus kesal.
"So? Bisa lu jelasin?"
Alika menghela napasnya kasar. Dia menatap sahabatnya dengan serius, perempuan itu kembali menghembuskan napasnya. Alika menceritakan semuanya kepada para sahabatnya, perjodohan dengan alasan memperkuat hubungan antara dua pihak. Alasan yang sangat klise dan hampir membuat Alika melayangkan sepatu ke kepala Wira. Dirinya merasa ayahnya itu tengah menjual dirinya hanya untuk kepentingan bisnis.
"Gila sih Om Wira, tau aja anaknya gak laku," kelakar Yesha mengundang kekehan yang keluar dari bibir Nata.
Alika memberenggut tak suka, dia memandang Yesha kesal. "Ck bantu gitu kek!"
Tangan Nata meraih kentang goreng yang dirinya pesan. Perempuan itu memandang Alika dengan santai sembari mengunyah kentang gorengnya. Dirinya sangat tahu sahabatnya itu tengah kesal sekarang, dia pasti merasakan ada pada posisi dimanfaatkan hanya untuk bisnis.
__ADS_1
"Ya mau gimana lagi? Orang tua kamu pun pasti memikirkan banyak hal untuk itu. Aku liat-liat Refan juga tipe orang yang bucin, kalau dia udah suka tapi," jelas Nata.
Dia mengangguk setuju. "Apa yang dibilang Nata ada benarnya, Lik. Jalanin aja ini udah takdir lu," imbuh Yesha dengan senyum tipisnya.
"Huft ... Okey. Eh! Bos lu gimana?"
"Ah iya! Kalian gak ada hubungan, 'kan?"
Nata memandang kedua sahabatnya dengan raut cemas. Apa harus dia menceritakannya? Pikirnya. Dia yakin mereka pasti akan memarahi dirinya habis-habisan, Nata takut sahabatnya itu juga akan menghina dirinya begitu saja.
"Eum ... Biasa-biasa aja, enggak ada hubungan juga," jawab Nata berusaha tak salah tingkah.
"Lu gak lagi bohong, kan?"
...***...
Thofid memandangi sang istri dengan senyum manisnya. Pria itu dibuat jatuh cinta setiap harinya oleh sosok Alisha, percaya atau tidak Alisha terlalu pandai membuatnya terbang setiap harinya. Pria dengan usia yang sudah tak muda lagi benar-benar beruntung memiliki Alisha di dalam hidupnya. Alisha telah berjasa banyak padanya dari dulu hingga detik ini, Alisha benar-benar berharga baginya.
Wanita itu tengah menyiapkan makan siang untuk keluarga kecilnya. Namun, seperti biasa sang suami akan selalu mengikuti dirinya. Thofid benar-benar tak pernah mau jauh dari Alisha. Keromantisan keduanya yang masih terjaga itu sering kali membuat orang-orang merasa iri pada mereka.
Darren dan Cellyn tiba-tiba saja memasuki dapur, tetapi langkah mereka harus terhenti saat melihat pemandangan di hadapan mereka. Darren berdecak di dalam hati, sedangkan Cellyn tersenyum manis. Perempuan itu dibuat iri oleh tingkah Kakek dan neneknya, Cellyn sangat berharap bisa menemukan pasangan yang tepat kelak.
"Ekhm ... Inget tempat," sindir Darren membuat Cellyn memukul lengan sang Ayah.
"Syirik banget duda bangkotan," sinis Thofid yang dibalas delikan tak terima oleh Darren.
Alisha dan Cellyn menghembuskan napas mereka secara bersamaan. Keduanya sangat yakin sebentar lagi bendera perang akan berkibar. Mereka seolah sudah terbiasa dan pertengkaran Ayah dan Anak itu yang hampir terjadi setiap hari.
__ADS_1
"Diem atau kalian gak dapat jatah makan?"
...***...
Hima memandangi Devan dengan malas. Wanita yang tengah berbadan dua itu masih saja perang dingin dengan suaminya itu. Hima jelas masih marah ah tepatnya kecewa dengan kelakuan Devan. Wanita itu sangat berharap jika Devan tak akan menodai pernikahan mereka, tetapi dirinya harus menerima kenyataan pahit itu kala dirinya tengah mengandung..
Hima sering kali bertanya pada dirinya, apa suaminya itu tak pernah memikirkan kondisi anak mereka? Dirinya yakin bahwa Yana akan kecewa dengan kelakuan ayahnya itu. Wanita itu hanya berharap anaknya tak tahu kelakuan Devan.
"Sayang, maafin Mas, ya?" ucap Devan dengan wajah memelas.
Hima memalingkan wajahnya. "Kenapa baru sekarang? Ke mana kamu selama ini? Pernah mikir gimana Yana? Gimana anak yang aku kandung? Kayaknya enggak. Kalau kamu emang capek sama aku, udah gak cinta lagi, udah bosen sama aku, bilang bisa? Bukan seling—"
Devan dengan cepat mencium bibir istrinya itu. Dia berharap Hima akan menghentikan segala ucapan yang terlontar dari mulut istrinya itu. Hima yang merasakan pasokan udara di sekitarnya menipis dengan segera menepuk dada Devan dengan kencang.
"Hosh ... Hosh ... Kamu gila?! Kamu mau buat aku mati he?!" sentak Hima dengan nafas tersenggal.
Devan terkekeh pelan. "Lucu."
Wanita itu memalingkan wajahnya kala merasakan pipinya itu memanas. Dalam hati Hima mengumpat, dirinya tengah marah pada Devan. Namun, sialnya pria itu malah membuatnya salah tingkah. Hima berdecak dengan pelan, hatinya itu masih lemah jika berhadapan dengan sikap manis suaminya itu.
"Stop! Aku serius, Mas!" hardik Hima.
"Kamu, 'kan udah aku seriusin." Hima mendelik tak terima mendengar jawaban yang dilontarkan Devan.
Wanita itu memandang Devan dengan tajam membuatnya menghela napas kasar. Devan pikir amarah istrinya itu telah reda, tetapi nyatanya masih berkobar. Devan benar-benar kehabisan cara lagi untuk mengubah pikiran Hima agar tak menceraikannya.
"Sayang, jangan cerai ya?" pinta Devan dengan raut sendu.
__ADS_1
"Kenapa baru sekarang? Kemarin-kemarin pas kamu lakuin itu, apa kamu gak mikir dampaknya buat pernikahan kita? Harusnya kamu mikir itu! Pikirin perasaan aku, Yana, pikirin nasib bayi yang aku kandung! Sekarang, saat semua udah terjadi, kamu dengan mudahnya meminta maaf. What do you mean, Dude?" cerca Hima dengan amarah yang berusaha dirinya pendam.
"Aku tetep mau cerai."