
Darren membawa Nata ke kediaman Gautama tepat saat mereka selesai memeriksakan tentang kehamilan Nata. Tidak hanya Nata, Cellyn pun langsung memilih pulang ke rumahnya, untungnya dirinya tengah tak ada pasien. Perempuan itu benar-benar tak habis pikir dengan kelakuan ayahnya yang dengan santainya menghamili sekretarisnya sendiri.
Mereka disambut oleh Alisha dan Thofid yang memandang ketiganya heran. Nata sedari tafi menundukkan kepalanya, wanita itu tengah dilanda oleh ketakutan. Dirinya takut jika Keluarga Gautama tidak dapat menerima janin yang saat ini ada di dalam perutnya. Darren yang sadar ketakutan wanita di sampingnya dengan cepat mengenggam tangan Nata sembari mengusapnya lembut.
"Kalian kenapa udah pulang? Loh Nata?" tanya Alisha dengan raut wajah bingungnya.
"Aku jelasin di dalam, Bun," sahut Darren.
Di sinilah mereka sekarang, ruang keluarga Gautama. Thofid memandang anaknya cukup serius, pria paruh baya itu merasakan sesuatu telah terjadi. Dirinya tahu bagaimana gilanya Darren dengan yang namanya bekerja, tidak mungkin anaknya itu mau begitu saja meninggalkan pekerjaannya.
"Kenapa?" tanya Thofid sembari menatap putranya meminta penjelasan.
Dia menghela napasnya kasar. "Nata hamil ...," sahut Darren pelan.
"Dan itu anak aku," sambungnya membuat Alisha dan Thofid memandang tak percaya putranya.
"Kamu gila?! Sejak kapan Bunda ajarin kamu jadi cowok brengsek kayak gini?!" bentak Alisha sembari bangkit dari duduknya.
Bugh!
Tanpa sepatah kata, Thofid memukul wajah sang putra. Darren hanya diam, dirinya akui ini kesalahannya yang tak bisa mengendalikan nafsunya. Dia bahkan lupa untuk memikirkan apa yang akan terjadi ke depannya akibat kesalahannya. Yang ada di pikirannya saat itu hanyalah nafsu yang harus tertuntaskan.
Di sisi lain, Nata tengah menunduk. Bahu wanita itu bergetar hebat, dia menangis. Nata takut saat melihat kilatan kemarahan di mata Thofid. Wanita itu berharap bisa keluar dari situasi yang cukup membuatnya terintimidasi, ditambah hormon kehamilannya yang membuat Nata menjadi lebuh sensitif lagi.
Cellyn yang melihat Thofid memukul Darren memejamkan matanya erat. Saat dirinya membuka mata, dia justru tak sengaja melihat Nata yang tengah menangis. Cellyn dengan cepat mendekati Nata yang jaraknya tak terlalu jauh darinya. Perempuan itu membawa Nata untuk duduk kembali di sofa, dia mengusap lembut punggung Nata yang begetar.
"Ssstt ... Tan—Mama tenang, ya? Papa enggak kenapa-napa kok," ucap Cellyn sedikit kikuk.
Melihat tangis Nata yang tak kunjung surut, Cellyn melirik ke arah keluarganya yang masih mencerca Darren. Perempuan itu berdeham dengan pelan membuat atensi keluarganya berhasil teralih ke dirinya. Cellyn melirik Nata yang masih menangis membuat ketiganya tersadar dan memilih mengakhiri pertengkaran mereka.
Darren dengan cepat menghampiri Nata dan Cellyn. Pria itu membawa Nata ke dalam pelukannya, tangannya terulur mengusap surai Nata dengan lembut. Sedangkan, Nata menyembunyikan wajahnya di dada bidang milik atasannya itu. Wanita itu dibuat nyaman oleh aroma tubuh Darren, mungkin ini bawaan bayi yang dirinya kandung.
__ADS_1
"Kamu takut?" Nata hanya mengangguk guna merespon pertanyaan Darren.
"Maaf, ya?" lanjut Darren sembari menangkup wajah Nata.
"Iya," cicit Nata.
"Ekhm ...."
Atensi Nata dan Darren teralih ke Thofid yang tengah memandang mereka datar. Nata kembali menundukkan kepalanya saat melihat tatapan datar Thofid padanya, dia takut. Untung saja Darren kembali menenangkannya.
"Kapan kalian akan menikah?" tanya Thofid.
"Minggu depan."
...***...
Riana menyesap kopi hitam miliknya. Perempuan itu memandang ke luar jendela dengan tatapan kosong. Dia sang antagonist yang nyatanya selalu kesepian. Hidup sebatang kara membuat dirinya merasakan kesepian setiap saat. Namun, tak ada satu pun yang tahu tentang itu. Semua hanya tahu dirinya adalah sang penggoda, memiliki Darren adalah ambisi terbesarnya.
Huft ...
"Darren udah pulang belum, ya?" tanyanya sembari membuka matanya.
Untuk sesaat Riana menghela napasnya kasar, dirinya tak bisa menemui Darren untuk beberapa waktu karena pria itu tengah sibuk. Dirinya harus kembali menahan hasratnya untuk bertemu dengan Darren. Riana sama sekali tak tahu bahwa Darren tengah disibukkan oleh persiapan pernikahannya bukan urusan kantornya.
"Seminggu lagi, kamu pasti bisa nahan rasa kangen kamu."
...***...
Alika memandang sang suka seorang perempuan yang kini tengah memeluk lengan tunangannya dengan erat. Saat ini, perempuan itu tengah berada di acara milik keluarga Refan, tepatnya acara keluarga Refan dan rekan bisnisnya. Acara ini sengaja dibuat untuk merayakan keberhasilan mereka dalam membangun sebuah cabang perusahaan baru.
Sialnya, salah satu perempuan justru sedari tadi tak bisa jauh dari tunangannya itu. Alika marah dengan hal itu, bagaimanapun Refan adalah tunangannya. Wajar saja dirinya marah.
__ADS_1
"Mbak bisa menjauh ga?" tanya Alika tanpa basa-basi.
Perempuan itu memandang Alika dengan remeh. "Memangnya kamu siapanya?"
"Saya tu—"
"Alika udah!" potong Refan.
Alika memandang tak percaya tunangannya itu. Refan dengan jelas memotong ucapannya, apa pria itu tak ingin mengakui dirinya sebagai tunangannya? Pikiran negatif itu akhirnya bermunculan begitu saja.
"Ceritanya lu gak mau ngakuin gua?" desis Alika.
Refan menghela napasnya. "Bukan gitu, Lik."
Alika yang melihat wajah frustasi tunangannya itu tertawa hambar. Dirinya kecewa dengan perbuatan Refan, pria itu membiarkan perempuan itu menempeli dirinya. Membiarkan Alika layaknya orang bodoh di tengah orang-orang asing di matanya.
"Lu siapa, sih?! Ganggu gua sama Refan berduaan aja," seloroh perempuan itu.
Plak!
Satu tamparan mendarat di wajah perempuan itu, perbuatan Alika tentu mengundang beberapa pasang mata melihat ke arah mereka. Alika hilang kendali, jangan lupakan jika perempuan itu sangat ahli dengan yang namanya bela diri. Alika memandang perempuan di hadapannya dengan remeh, dirinya tak akan membiarkan harga dirinya diinjak begitu saja.
"Kenapa, hm? Sakit?" tanya Alika dengan seringainya.
"Alika!" ucap Refan penuh penekanan, pria itu memandang tajam Alika. Refan dibuat malu oleh kelakuan tunangannya itu.
"Kenapa Anda memandang saya sangat tajam, Tuan Refano Alaskar?" Alika menaikan satu alisnya sembari memandang Refan datar.
"Kamu merasa hebat setelah menampar dia?"
Alika berdesis mendengar pertanyaan Refan. "Terus lo merasa hebat mengabaikan gua dan asik ketawa sama dia?" tanya Alika balik sembari memandang remeh perempuan di samping Refan.
__ADS_1
Perempuan itu menahan amarahnya saat melihat Alika memandang dirinya remeh. Tangannya terangkat ingin membalas perbuatan Alika, tetapi gerakannya sudah dibaca oleh Alika. Tanpa aba-aba, Alika memutar tangan perempuan itu ke belakang. Dirinya juga dengan mudahnya mematahkan tangan perempuan itu.
"Lain kali, cari tahu dulu siapa lawan Anda, Nona. Jadi malu sendiri, 'kan?"