Gadis Muda Untuk Pak Duda

Gadis Muda Untuk Pak Duda
Kecurigaan Nata


__ADS_3

Yesha memandang sahabatnya yang tengah melamun, dia menghela napasnya panjang. Kekhawatiran Nata akan perubahan sikap Darren sangat jelas dapat Yesha rasakan, pancaran penuh gelisah dari wajah sahabatnya itu menjawab semuanya.


Yesha menepuk pundak Nata membuat wanita itu tersentak kaget. Nata segera menoleh dan menatap Yesha dengan sayu, wanita itu menjadi sensitif belakangan ini.


"Kamu kenapa?" tanya Yesha lembut.


Dia menghela napas lantas menatap ke luar jendela kafe dengan sendu. "Apa Mas Darren main api di belakangan aku? Ke—kemarin aku liat kayak tanda ****** di lehernya," sahut Nata dengan nada pelan penuh ketakutan.


Yesha terdiam, perempuan itu sedikit terkejut mendengar penuturan sahabatnya. Yesha tahu Darren bukanlah orang seperti itu, pria itu akan selalu berusaha menjaga perasaan pasangannya. Namun, Nata pun tidak mungkin berbohong padanya.


"Kamu udah yakin itu tanda ******?" Yesha bertanya sembari memandang Nata dengan serius.


Dia mengangguk tanpa ragu, hanya anggukan singkat tak lebih. Nata rasanya enggan untuk berbicara, terlalu menyakitkan jika diingat. Lebih baik dirinya menutup mulut daripada harus berderai air mata.


"Huft . . . Aku anter kamu pulang, ya? Kamu istirahat aja di rumah, aku tau kamu butuh sendiri dulu. Maaf kalau aku ngajak kamu ketemuan di saat kondisi kamu jauh dari kata baik. Nat, apa pun yang terjadi nanti, ada aku sama Alika yang akan nemenin kamu. Jangan takut, ya?" tutur Yesha sembari menggengam tangan Nata.


"Iya, makasih." Nata tersenyum amat manis kepada sahabatnya itu.


...***...


Alisha yang baru keluar dari dapur memandang menantunya aneh, Nata baru saja kembali dari kafe. Alisha tentu tahu wanita itu ingin bertemu dengan sahabatnya, karena Nata selalu memberitahukannya padanya.


Alisha melangkah mendekati Nata, wanita paruh baya itu berjalan dengan cangkir teh di tangannya. Setibanya di hadapan Nata, dia tersenyum lembut lantas menarik Nata menuju sofa yang ada di ruang keluarga. Alisha duduk di sofa diikuti oleh Nata, wanita yang tengah hamil itu jelas tahu mertuanya ingin bicara padanya.


"Kenapa, Bun?" tanya Nata saat Alisha meletakkan cangkir tehnya.

__ADS_1


Dia menoleh, menatap Nata dengan lembut. "Kamu kenapa, Sayang? Kenapa ngelamun?" tanya Alisha.


"Nata enggak papa, Bun."


Alisha tersenyum amat manis, dia tahu menantunya itu tengah berbohong. Alisha memutar tubuhnya menghadap Nata, digenggamnya tangan Nata dengan penuh kasih sayang. Alisha memandang menantunya dengan lembut mencoba memberikan kenyamanan untuk wanita hamil di hadapannya ini.


"Soal Darren?" tanya Alisha sekali lagi.


Nata diam, dirinya enggan untuk bersuara.


Alisha tersenyum dengan maklum. "Dulu Bunda pernah di posisi kamu." Dia mrlepaskan genggamannya pada tangan Nata, lantas dia kembali menghadap ke depan. Alisha tersenyum simpul, dia menerawang pada kejadian beberapa tahun silam, sedangkan Nata menatap mertuanya penuh penasaran.


"Dulu Bunda ada di posisi kamu, penuh ketakutan, penuh curiga. Bunda takut Ayah selingkuh, setelah lima tahun pernikahan, sikap Ayah berubah. Dia jadi cuek, enggak peduli sama Bunda, jarang pulang. Di situ Bunda sama khawatirnya kayak kamu, tapi Bunda berusaha tenang. Setahun kemudian, Bunda tahu Ayah main hati sama perempuan lain. Itu titik kehancuran Bunda, titik terendah dalam hidup Bunda, Darren bahkan saat itu baru berumur lima tahun, karena Bunda hamil setelah setahun pernikahan. Bunda mau cerai? Tentu, Sayang. Siapa yang ikhlas pasangannya main hati? Tapi Bunda mikir lagi, gimana Darren kelak, gimana hidup dia. Bukan masalah harta, tapi mungkin trauma akan hubungan yang akan dia miliki saat dewasa nanti." Alisha menghela napasnya panjang lantas tersenyum tipis, dadanya sedikit dihimpit oleh sesak saat mengingat kejadian itu.


"Bunda mutusin bertahan. Segala cara Bunda lakuin supaya Ayah balik lagi kayak dulu, segala upaya Bunda usahakan. Enggak ada yang sia-sia, Ayah balik ke tangan Bunda. Sayang, orang yang selingkuh itu karena nafsu, buat ngambil dia dari tangan orang lain itu mudah. Posisi kamu udah menikah bukan mudah untuk putus nyambung. Apa pun nanti yang terjadi, rebut kembali apa yang jadi milik kamu. Paham?" lanjut Alisha lantas memandang Nata dengan senyuman.


...***...


"Kata Mama, kamu mau nikah. Bener? Kok Abang enggak tau?"


Leon menoleh, dia memandang sang Kakak dengan tatapan penuh tanya. Saat ini, pria itu tengah berada di kediaman sang Kakak, tentu untuk menemui keponakannya yang bermulut pedas itu.


"Nikah?" ulang Leon dengan raut kebingungan, Krishna hanya mengangguk sebagai jawaban.


Leon terdiam, dia tentu ingat ibunya itu tak menyetujui niatnya menikah. Leon juga yakin bahwa Ria tak akan berubah pikiran, sejak kecil Leon harus selalu menuruti kemauan Ria. Sangat berbanding terbalik dengan Krishna yang bebas menentukan pilihannya.

__ADS_1


Nikah? Bukannya Mama—perjodohan itu?! Jadi, Mama beneran mau jodohin gua?! pekik Leon dalam hati.


Krishna yang melihat sang Adik melamun, menatapnya dengan heran. Ayah dengan dua anak itu melangkah mendekati sang Adik yang duduk sembari melamun di sofa ruang keluarga. Krishna mendudukkan dirinya di sebelah Leon, dia menepuk pundak Leon dengan pelan untuk mengambil atensi laki-laki itu.


"Kamu kenapa?" tanya Krishna pelan.


Baru saja Leon akan menyahutinya, tetapi tertunda karena Anissa yang baru datang dengan nampan di tangannya. Leon memandang Kakak iparnya segan sembari tersenyum, sedangkan Krishna memandang sang istri dengan teduh.


"Ini cemilan sama tehnya, diminum. Sekalian nemenin kamu ngobrol." Anissa tersenyum manis lantas mendudukkan dirinya di samping sang suami setelah melihat isyarat yang Krishna berikan.


"Makasih, Kak. Jadi enak," canda Leon membuat Anissa terkekeh geli.


"Jadi, kenapa, Dek?" ulang Krishna.


Leon yang mendengar itu menghela napasnya dengan kasar. "Aku emang mau nikah, Bang. Mau banget, tapi sama pilihan aku bukan sama pilihan Mama. Aku cinta dia, Bang. Dia perempuan pertama yang buat aku merasa 'udah stop, ini yang terakhir'. Aku cuman mau dia, Bang," jelas Leon lantas mengusap wajahnya kasar.


Anissa yang mendengar penuturan Adik iparnya itu merasa iba. Krishna memang tak pernah menceritakan apa pun kepadanya, Anissa pun rasanya enggan bertanya. Dia sadar itu bukan urusannya walaupun statusnya juga bagian dari keluarga Krishna, tetapi dia hanya orang asing yang masuk ke dalam keluarga itu. Namun, melihat perbedaan sikap Ria terhadap Krishna dan Leon membuat Anissa dengan mudahnya menyimpulkan apa yang terjadi.


Krishna menghembuskan napasnya mendengar cerita sang Adik. Dia pikir ibunya telah berubah, ternyata tidak. Dia pikir Ria sudah mampu menyayangi Leon seperti wanita itu menyayanginya, tetapi dugaannya salah besar.


"Abang bakal bantu kamu, Abang janji." Krishna menepuk bahu Leon sebagai tanda semangat.


"Bang . . .," lirih Leon.


"Udah, tenang. Serahin sama Abang. Kasih tau Abang sama Kak Anissa kapan pertemuan untuk menjodohkan kamu dengan pilihan Mama," titah Krishna membuat Leon segera memeluk pria itu.

__ADS_1


"Makasih, Bang."


"Semangat, Dek. Kakak sama abangmu bakal dukung kamu."


__ADS_2