Gadis Muda Untuk Pak Duda

Gadis Muda Untuk Pak Duda
Siapa Sekar?


__ADS_3

Nata merosotkan tubuhnya, raut wajah perempuan itu lesu seketika. Dia memandang nanar tumpukkan berkas yang baru saja Darren berikan padanya. Perempuan itu menghela nafasnya kasar. Baru saja pekerjaan dirinya selesai, tetapi sudah ditambah lagi oleh Darren.


Perempuan itu memejamkan matanya erat. Dia memijat keningnya yang cukup terasa sakit. Sepertinya perempuan itu akan kembali jatuh sakit nanti, mengingat daya tahan tubuhnya cukup lemah.


Huft ... Bisa yuk, Nat! batinnya.


Perempuan itu mulai menyelesaikan pekerjaannya satu-persatu. Dirinya coba melawan pusing yang tengah mendera kepalanya. Sejujurnya, dia sangat ingin untuk beristirahat, tetapi pekerjaannya bisa terbengkalai. Lagipula dirinya ragu jika Darren akan memberikannya izin untuk cuti.


Suara derap langkah kaki membuat Nata menolehkan kepalanya, dirinya mengerutkan keningnya saat melihat seorang perempuan cantik memasuki ruangan atasannya. Dia mengendikkan bahunya tak peduli, memilih untuk melanjutkan pekerjaannya. Walaupun dia penasaran, tetapi Nata mencoba menghiraukannya.


"Bodo ah! Kerjaan aku aja numpuk." Dia berujar demikian sembari menghembuskan nafasnya.


...***...


Sekar melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Tujuannya saat ini adalah untuk bertemu seseorang yang sangat Sekar rindukan selama dia menetap di Amerika. Tak ingin terlalu membuang waktu, Sekar memutuskan untuk segera menemui orang tersebut.


Jalanan kota Jakarta sore ini tak begitu padat dan itu adalah sebuah keberuntungan bagi Sekar. Dirinya tak perlu menghabiskan waktunya untuk tiba di tempat tujuannya. Raut bahagianya bahkan sangat tercetak dengan jelas, senyumnya terus saja mengembang dengan cantik.


Tiga puluh menit kemudian, dirinya tiba di sebuah perusahaan besar. Dengan anggunnya, Sekar keluar dari mobilnya. Dirinya berjalan dengan anggun memasuki lobby perusahaan tersebut, banyak pasang mata yang memandang dirinya heran. Sekar berjalan menuju meja repsesionis dengan senyum yang tak juga luntur.


"Selamat sore, Mbak," sapa Sekar.


"Sore kembali. Ada yang bisa saya bantu?"


"Saya ingin bertemu dengan CEO perusahaan ini, apakah bisa?" tanya Sekar.


"Sebelumnya sudah membuat janji?"


Sekar mengganguk singkat. "Sudah."


"Baik, di lantai 15, Mbak. Nanti akan ada satu ruangan, nah di sana ruangan CEO-nya."


"Baik, terima kasih."

__ADS_1


"Sama-sama."


Sekar mengikuti arahan repsesionis tersebut. Dirinya severa memasuki lift dan menekan tombol 15. Dirinya tak sabar bertemu dengan orang yang selama ini dia rindukan.


Setibanya di lantai 15, dapat Sekar lihat satu ruangan yang terkesan mewah dari luar. Dengan langkah pasti diringa berjalan menuju ruangan tersebut. Sekar mengetuk dengan pelan pintu ruangan tersebut. Setelah mendapatkan intruksi untuk masuk, dirinya segera memasuki ruangan tersebut.


Senyumnya semakin merekah kala melihat oramg yang dirinya rindukan tengah sibuk dengan tumpukan kertas. Orang itu bahkan tak menyadari kehadiran Sekar di ruangannya. Ingin sekali rasanya Sekar memeluk orang itu, tapi dia harus menahannya.


Ia berdehem. "Do you miss me?" ucap Sekar.


Mendengar suara seseorang yang dikenalinya, orang itu mendongakkan kepalanya. Matanya membulat sempurna kala melihat siapa orang yang kini ada di hadapannya. Dengan terburu-buru orang tersebut bangkit dari duduknya dan berjalan mendekati Sekar. Sekar terkekeh geli saat orang itu memeluk dirinya cukup erat.


"Hahaha ... Calm down, Baby."


"I miss you so bad, Dear," sahut orang tersebut.


"Aku pun."


Sekar menahan geli kala orang tersebut dengan sengaja mengecup basah lehernya. Dia segera melepaskan pelukannya dan mengecup singkat bibir orang tersebur. Sekar tersenyum amat manis membuat orang tersebut ikut tersenyum.


Suara ketukan pintu membuat Sekar dan Darren saling pandang. Tak lama masuklah Nata dengan tumpukkan berkas di tangannya, perempuan itu berjalan sembari merapikan letak berkasnya yang akan terjatuh. Dirinya tak menyadari jika ada orang lain di ruangan tersebut.


"Pak in—" Ucapannya harus menggantung di udara saat melihat sosok Sekar. Belum lagi perempuan itu yang kini berdiri di samping Darren dengan tangan yang melingkar di lengan Darren. Nata menunduk dalam saat merasakan dadanya berdenyut nyeri. Dia segera memberikan berkas itu pada Darren lalu pergi tanpa sepatah kata pun.


Dia kenapa?


...***...


Di sebuah kafe ternama kota Jakarta nampak tiga orang perempuan tengah asik bersenda gurau. Tawa mereka mengalun indah, raut bahagia terpancar dengan jelas. Mereka terus melempar candaan seolah tak ada hari esok.


Perempuan dengan rambut sebahu tiba-tiba saja menoleh ke arah pintu masuk diikuti kedua temannya, tanpa sebab mereka tertawa cukup keras. Beberapa pasang mata bahkan melirik ke arah mereka dengan raut penasaran. Tidak ada yang lucu bagi pengunjung lain, tapi tidak bagi ketiga perempuan tersebut.


"Hahaha ... Lina sumpah! Jangan gitu, nanti kamu kena azab," ujar Cellyn sembari meredakan tawanya.

__ADS_1


"Iya, lagian tuh bapak-bapak lucu banget. Dia gak sadar apa celananya melorot gitu?" ujar Lina masih dengan mata yang melirik ke arah pintu masuk.


"Hahaha ... udah-udah, kasian pengunjung lain enggak paham," celetuk Nisya.


"Bukan enggak paham, tapi telat liat kejadian si bapak-bapak celananya melorot," sahut Lina.


Mendengar itu mereka kembali tertawa walauphn tak sekencang yang tadi. Beginilah jika mereka berkumpul dalam satu ruangan, tawa mereka akan menggema. Hal sekecil apapun akan menjadi bahan humor bagi mereka.


Sore ini, ketiganya memutuskan untuk bertemu sesuai kesepakatan mereka beberapa hari lalu. Mereka memutuskan untuk menghabiskan waktu bersama sekaligus untuk menghilangkan penat mereka. Kesibukan mereka terkadang memaksa mereka untuk egois, memengingkan mengumpulkan pundi-pundi kekayaan daripada menikmati hidup. Namun, bukankah jika memiliki uang hidup terasa nikmat?


Ketiganya kini terdiam, mereka sibuk menghabiskan makanan yang mereka pesan. Sudah menjadi tradisi ketiganya jika makan dilarang untuk berbicara. Mereka hanya akan terfokus dengan makanan yang mereka makan, saat makanan mereka telah habis barulah mereka akan berbicara dan melakukan aktivitas mereka.


Suara notifikasi dari ponsel Cellyn membuat mereka saling melirik sebelum akhirnya kembali fokus pada makanan mereka. Lima belas menit mereka menghabiskan waktu untuk menghabiskan makanan mereka. Lina memberikan kode pada Cellyn untuk melihat ponselnya, Cellyn yang paham langsung memeriksa ponselnya.


Raut wajahnya berubah kala mendapatkan pesan berisi teror. Bukan raut wajah takut atau cemas, tetapi raut wajah kesal. Dirinya tak habis pikir dengan orang yang rela membuang waktunya hanya untuk meneror dirinya.


Gabut banget tu manusia, batin Cellyn.


Sebuah pesan yang berisikan kalimat 'kau akan mati!' itu sama sekali tak membuat keberanian Cellyn surut. Perempuan berusia 24 tahun itu justru dibuat kesal dengan adanya teror itu. Bagi Cellyn itu hanyalah permainan Anak kecil yang membosankan.


"Siapa?" tanya Nisya saat melihat wajah kesal Cellyn.


Cellyn tak menjawabnya, dirinya hanya memberikan ponselnya kepada kedua sahabatnya. Nisya dan Lina langsung membaca isi pesan tersebut, tawa mereka menyembur ketika membaca isi pesan ancaman tersebut. Lina bahkan sampai memegang perutnya yang terasa keram akibat terlalu banyak ketawa.


"Hahaha ... Lawak banget, astaga," cetus Lina.


Ia meredakan tawanya. "Siapa sih ini? Mainnya teror kayak bocah," ceplos Nisya.


Cellyn mengedikkan bahunya acuh. "Gak tahu tuh, ganht banget kayaknya."


"Anaknya Bapak Gautama diteror? Iya, jadi bahan julidan hahaha ...," ujar Lina.


"Shut ... mungkin masa kecilnya kurang bahagia," ceplos Cellyn.

__ADS_1


"Hahaha ...."


__ADS_2