Gadis Muda Untuk Pak Duda

Gadis Muda Untuk Pak Duda
Penyesalan Darren


__ADS_3

Darren menghela napasnya pasrah, dia entah mengapa tak bisa menentang kemauan Nata yang memintanya menikahi Riana. Jauh di lubuh hatinya, Darren enggan melakukan itu. Namun, apa boleh dibuat jika dia penyebab kehancuran rumah tangganya. Andai saja dirinya tak memulai perselingkuhan itu, mungkin semua tak akan begitu. Iya, itu semua hanya andai, karena nasi telah menjadi bubur.


Darren duduk berhadapan dengan para sahabatnya, raut wajah terlihat sangat frustasi. Dia terdiam dengan pikiran melayang ke segala arah. Penyesalan itu membuatnya gelisah, tak tenang. Darren ingin memperbaiki hubungannya dengan Nata, tetapi apa boleh buat jika benihnya telah tumbuh dengan subur di rahim Riana.


"Ada yang nyesel nih, Bro," ejek Leon sembari meminum minuman yang pelayan bawakan.


Iya, saat ini mereka tengah berada di salah satu kafe dekat perusahaan milik Refan. Empat sekawan itu memilih makan siang di kafe yang jauh dari jangkauan Nata dan sahabatnya, bukan tanpa alasan mereka melakukan hal itu. Sejak kejadian kemarin, mereka merasa enggan untuk bertemu pasangan mereka.


"Besok lo jadi nikah?" tanya Devan menatap Ayah mertuanya itu.


Darren tak membuka mulutnya, dia hanya menjawab dengan anggukan kecil. Sejak kemarin, pria dengan satu anak itu tengah dilema. Dia hanya menggunakan Riana untuk memuaskan nafsu bejatnya, tetapi pria itu lupa menggunakan pengaman. Beginilah akhirnya, pernikahannya harus di ambang kehancuran karena nafsu yang tak bisa dia kendalikan.


Para sahabatnya yang melihat itu hanya menghela napas pasrah. Ingin membela pun tidak bisa, di sini Darren adalah pelakunya. Pria itu yang membuat pernikahan mereka di ambang kehancuran. Mungkin jika itu ulah Riana sendiri yang menjebak Darren, mereka masih bisa membantu Darren.


"Ternyata Darren lebih bejat dari Devan," celetuk Refan membuat Devan tersedak makanannya sendiri. Devan memandang Refan dengan tajam.


"Bwahahahaa . . . Tapi, iya. Setidaknya Cellyn enggak dibuntingin," sela Leon sembari tertawa.


Darren memandang sahabatnya dengan malas. Tak tahukah mereka kepalanya rasanya ingin pecah? Mereka justru dengan asyiknya menjadikan ini lelucon. Darren sangat ingin melempar sahabatnya itu ke sungai Amazon, tetapi mereka adalah orang yang ada di suka dan duka Darren.


Tawa mereka terhenti saat mendengar dehaman milik Darren. Ketiganya terdiam, ralat keduanya. Karena sedari tadi Refan hanya fokus menghabiskan makanannya. Pria itu harus kembali ke kantor untuk melakukan meeting bersama klien-nya.

__ADS_1


Darren mengaduk-aduk makanan miliknya, pria itu nampak tak berselera untuk makan. Leon yang melihat itu berdecak dengan kesal, sahahatnya itu sudah seperti remaja yang putus cinta. Padahal sebentar lagi Darren akan memiliki cucu, tetapi kelakuannya tak jauh dari remaja yang patah hati.


"Lo bukan anak SMA yang diputusin karena ketauan selingkuh, ngapain lo ngaduk-ngaduk makanan gitu?" celetuk Leon geram.


"Enggak inget umur kali," sahut Devan sembari mengunyah makanannya.


Dia menunjuk Darren dengan tangannya. "Ini salah lo, terima akibatnya. Terus lo, Yon. Hubungan lo sama Yesha gimana? Udah dapet restu?" ucap Devan dengan wajah serius miliknya.


Leon menggeleng. "Belum sepenuhnya," lirih laki-laki itu. Raut wajahnya berubah menjadi sendu, terlalu sulit baginya untuk meluluhkan hati ibunya itu. Hanya ibunya saja yang tak bisa menerima hubungannya dengan Yesha.


"Jangan nyerah, buktiin ke Tante Ria kalau Yesha itu pilihan lo yang terbaik," ujar Refan.


"Betul dan lo, Darr, lo yang memilih jalannya. Jadi, terima."


...***...


Ingin merebut Leon dari Yesha pun sia-sia, selain karena Leon sudah terlanjur mencintai Yesha. Dia juga akan kalah bersaing dengan perempuan seperti Yesha, jelas dia akan kalah dari segala sisi. Yesha bukan hanya cantik, tetapi juga cerdas. Sangat terlihat dari penampilan dan tingkah perempuan itu, Yesha sosok yang tenang dan anggun. Namun, Vena yakin Yesha adalah sosok yang tak bisa dia remehkan.


Satu fakta yang berhasil Vena ketahui tentang sosok Yesha adalah Yesha seorang pengacara ternama. Selain itu, lingkup pertemanan Yesha pun bukan kalangan biasa. Vena menyesal mencoba mengulik latar belakang Yesha, dia pikir ucapan Yesha itu hanya bualan. Melihat dari penampilan Yesha, tetapi dugaan Vena ternyata salah.


Sebuah tepukan di bahunya membuat Vena tersadar dari lamunannya, dia menatap sang sahabat yang mendudukkan diri di sebelahnya. Vena sudah menceritakan tentang kejadian di malam perjodohan itu, Via yang geram pun ingin sekali menghampiri Leon dan Yesha. Namun, perempuan cantik itu dibuat mundur saat mendapati ucapan pedas sahabat Yesha. Bahkan fakta mengenai laki-laki yang dia temukan di taman itu mampu membuat Via terkejut.

__ADS_1


Dia, Refan, sosok laki-laki yang mencuri hatinya. Ingin merebut Refan dari Alika saja rasanya sulit, Alika sudah pernah mematahkan tangan milik Via saat perempuan itu memeluk lengan Refan. Via kalah, dirinya tak akan bisa mendapati hati cinta pertamanya begitu juga dengan Vena. Kedua sahabat itu mundur perlahan untuk mendapatkan hati pujaan hati mereka.


"Lo enggak mau makan? Lo mau sakit?" tanya Via pada Vena.


Vena diam, dia hanya menatap lurus ke depan dengan tatapan kosong. "Gua gak nafsu."


Via menghembuskan napasnya pasrah mendengar penuturan sahabatnya. Dia paham Vena tengah terluka, tetapi membiarkan Vena sakit itu adalah hal yang salah. Di sini dia juga merasakan sakit, tetapi Via tak boleh hancur karena cinta. Sudah cukup hidupnya dihancurkan oleh semesta.


"Lo mau sakit? Gua tau lo patah hati, tapi enggak nyiksa diri lo juga. Yang mau sama lo banyak kali," ketus Via dengan wajah kesal.


"Gua cuman mau Kak Leon," sahut Vena dengan suara pelan.


Via mengangkat tangannya seolah ingin mencekik Vena. "Lo kalo mau mati muda, sono. Rebut aja noh Kak Leon dari Kak Yesha, rebut. Walaupun saingan lo bukan Kak Yesha, gua tetap jamin lo akan mati muda. Inget, Leon dan sahabatnya bukan orang biasa."


"Ih! Kok lo gitu?" rengek Vena membuat Via memutar malas bola matanya.


"Gua gamau nabur bunga di kuburan lo. Ayo, makan." Perempuan itu menarik tangan Vena menuju kantin.


...***...


Cahaya bulan menyinari dua insan yang tengah berpelukan di balkon kamar. Raut wajah mereka sangat bahagia, mereka saling memeluk dengan eratnya. Sang wanita nampak dengan nyaman membenamkan wajahnya di dada bidang milik pria di hadapannya itu, sedangkan sang pria mengusap lembut rambut wanitanya.

__ADS_1


"Besok pernikahan itu, pernikahan yang aku pastikan satu orang akan menderita selamanya."


"Kamu terlalu cerdas dalam menjebak dia, Sayang," ucap sang Pria.


__ADS_2