
Nata menghembuskan napasnya kasar saar melihat percakapan kedua sahabatnya itu. Dia ingin sekali untuk pergi jalan-jalan bersama kedua sahabatnya itu, tetapi Darren melarang dirinya pergi. Nata hanya bisa mematuhi permintaan suaminya itu.
...Cewek Cakep😎...
Yeshania Arafa
[ So, besok kita ketemu di kafe biasa? ]
Alika Dirnata
[ Iya, tapi Nata pasti kaga diijinin sama lakinya. ]
Yeshania Arafa
[ Dasar, Om Darren. ]
^^^Anda^^^
^^^[ Hehe, maaf. Huft . . . Aku pengen ikut kalian. ]^^^
Alika Dirnata
[ Emang Leon ijinin lo pergi, Yes? ]
Alika Dirnata
[ Gini aja deh, kita ngumpulnya di rumah keluarga Maheswari aja. Gimana? Entar Nata ijin ke Om Darren. ]
Nata menimang-nimang ucapan Alika, saran Alika cukup bagus. Dia akui itu, tetapi entah Darren akan memberikan izin atau tidak.
^^^Anda^^^
^^^[ Aku tanya Mas Darren dulu. ]^^^
Alika Dirnata
[ Sip. ]
Yeshania Arafa
[ Hm. ]
Nata meletakkan ponselnya di nakas. Wanita itu menarik selimut untuk menutupi tubuhnya, baru saja dirinya akan memejamkan mata. Darren memasuki kamar mereka dengan wajah lelah.
"Kenapa belum tidur, Sayang?" tanya pria itu sembari menuangkan air ke gelas.
Nata bangkit dari posisinya, dia duduk di tepi ranjang dengan wajah takutnya. Darren yang melihat tingkah Nata segera menghampiri istrinya itu.
"Kamu kenapa?"
"Eum . . . Alika sama Yesha mau ngumpul di sini, boleh?" tanya Nata dengan suara lirih.
Dia terkekeh. "Astaga, Sayang. Kenapa enggak boleh? Ini rumah kamu juga," jawab Darren sembari menarik istrinya ke dalam pelukannya.
"Mas mau ngunjungin Dede boleh?"
...***...
__ADS_1
Cellyn meletakkan Abian di box bayi dengan hati-hati, perempuan itu menghembuskan napasnya lega saat sang anak tertidur dengan pulas. Dia melangkah memasuki walk in closet, perempuan itu berniat ingin mengganti pakaian. Selang beberapa waktu, Cellyn keluar dari walk in closet dengan gaun putih berbahan satin yang jelas memperlihatkan lekuk tubuhnya.
Perempuan itu memang tidur seorang diri bersama Abimana tentunya, sedangkan Devan sendiri memilih tidur di kamarnya dan Hima. Cellyn tak perlu khawatir menggunakan baju terbuka di kamarnya seperti saat sebelum menikah, karena dia yakin Devan tak akan memasuki kamarnya.
"Huh! Haus, lupa ambil air mana." Dia melirik jam di yang menggantung di dinding. "Jam 00.40, Om Devan biasanya udah tidur. Ke bawah deh ambil air," gumamnya.
Cellyn memutuskan untuk pergi ke dapur, dirinya berjalan dengan pelan takut membangunkan Devan ataupun Yana. Perempuan itu segera mengambil air untuk dia bawa ke kamar, tetapi saat dia membalikkan badan perempuan itu terkejut melihat kehadiran Devan.
"O—om Devan," lirih Cellyn dengan wajah pucat.
Sialan! Gua enggak pakai bra, batin perempuan itu sembari menggigit bibir bawahnya.
Tak ingin terlalu lama berdekatan dengan Devan, Cellyn segera melangkahkan kakinya kembali ke kamar. Namun, dengan cepat Devan menarik tangan perempuan itu, merebut gelas yang dipegang oleh Cellyn dan meletakkan gelas itu pada meja dapur.
Dia memeluk pinggang Cellyn dengan erat, menatap perempuan itu dengan tajam. "Kamu ingin menggoda saya, Nona Cellyn?" desis Devan saat merasakan dada Cellyn yang membentur dada bidangnya.
"Eng—enggak, Om!" bantah Cellyn dengan suara gemetar.
Perempuan itu ketakutan sekarang. Tatapan Devan begitu menusuknya, tidak pernah lagi dirinya dapati tatapan memuja ataupun lembut dari laki-laki di hadapannya.
Dia mencoba menjauhkan sedikit badannya dari Devan, tetapi Devan justru semakin erat memeluknya. Cellyn mendesah pasrah, suara yang berhasil membuat Devan menggeram kesal.
"Cellyn," geram Devan sembari meremas pinggang perempuan itu.
Cellyn memejamkan matanya erat, bisa dia rasakan hembusan napas Devan pada wajahnya. Perempuan itu terbelalak saat merasakan benda lembut menyapa bibir ranumnya dengan kasar. Cellyn mencoba berontak, tetapi tenaganya tak cukup kuat. Perempuan itu meringgis pelan saat merasakan Devan semakin menjelajahi tubuhnya.
"O—om . . .," lirihnya.
"Sssttt . . . Salah kamu yang ngegoda saya," bisik Devan sensual.
"Kita lanjut di kamar."
...***...
Perempuan itu menggelengkan kepalanya pelan mencoba menghalau pikiran kotornya. Dia mencoba menyingkirkan tangan Devan yang membelit pinggangnya, tetapi Devan justru semakin erat memeluknya. Wanita itu kembali mencobanya, tetapi kembali gagal.
"Diam, Cellyn." Suara khas seseorang yang baru bangun tidur menyapa Cellyn.
Wanita itu terdiam, jantungnya bertalu dengan hebat. Pria tampan yang tengah tertidur itu berhasil membuainya. Bukan hanya paras, tetapi semuanya berhasil membuai Cellyn. Seorang Devan Brawirya berhasil membuat Cellyn dimabuk asmaraloka.
"O—om, Cellyn mau ke kamar mandi. Ini udah jam delapan pagi," ucap Cellyn sembari terus mencoba menyingkirkan tangan Devan.
"Jangan gerak, Cellyn. Nanti ada yang bangun."
Wanita itu membisu, tubuhnya menegang. Dia dapat merasakan sesuatu yang menusuk di bawah sana. Wajahnya seketika pucat pasi, dia tahu apa itu. Cellyn bukanlah perempuan polos dan lugu.
"Om . . .," lirihnya.
"Apa, hm?" sahut Devan sembari menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Cellyn.
"Punya Om bangun."
...***...
"Kalian enggak kepagian ke sininya?" tanya Nata pada kedua sahabatnya yang baru saja mendudukki diri di sofa ruang tamu.
Alika menjawab pertanyaan Nata dengan gelengan pelan. Perempuan itu beralih menatap perut Nata yang mulai membesar. Tangannya terulur mengusap lembut perut sahabatnya itu. Alika dibuat takjub dengan besarnya perut Cellyn.
__ADS_1
"Ponakan Aunty semoga cepet lahir, ya," ucap Alika dengan senyuman.
Nata yang mendengarkan itu tersenyum tipis. Dia tahu sahabatnya itu menantikan kelahiran anak pertamanya dan Darren.
Di sisi lain, Yesha nampak memberenggut kesal. Dirinya memandang ponselnya dengan wajah kesal. Kedua sahabatnya belum juga menyadari perubahan raut wajah Yesha, mereka tengah asik berbincang dengan janin yang masih di rahim ibunya itu.
Ini Leon minta ditabok apa, ya? batin Yesha memberenggut.
Nata yang saat itu tak sengaja melihat ke arah Yesha menatap sahabatnya itu bingung. Raut wajah Yesha sangat menunjukkan dirinya tengah kesal. Terbukti perempuan itu sedari mencibir dengan suara pelan.
"Kamu kenapa, Yes?" Pertanyaan dari Nata sukses membuat Alika menatap Yesha juga.
Dia menghembuskan napas. "Leon ngamuk karena gua main sama kalian kaga ijin ke dia," sahut Yesha kesal.
Alika dan Nata saling pandang. Mereka dibuat bingung dengan status hubungan Yesha dan Leon, keduanya tahu bahwa dua insan itu memang beberapa kali nampak bersama. Namun, Yesha belum pernah menceritakan status hubungan mereka.
"Hubungan kamu sama dia apa?" tanya Nata.
"Iya, apaan sih? Keknya Leon posesif amat," sambung Alika dengan raut penasaran.
"Enggak ada. Leon enggak pernah ngasih kepastian hubungan," sahut Yesha dengan raut wajah datar.
"Lah kena gantung?"
...***...
"Keluar dari ruangan saya, Riana!"
Riana terkekeh sinis. Dia begitu menikmati wajah marah Darren yang sialnya semakin membuat pria itu tampan di mata Riana. Riana mengabaikan ucapan Darren, dia justru mendekati Darren. Perempuan itu mengusap dada bidang Darren sensual berharap mampu menggoda Darren.
"Riana," desis Darren dengan mata yang semakin menajam.
"Why, hm?" tanya Riana dengan senyum sinisnya.
Darren menarik pinggang Riana agar tak ada lagi jarak di antara mereka. Pria itu memeluk erat pinggang Riana. Pria itu mengecup sekilas bibir ranum milik Riana. Darren tersenyum sinis melihat Riana yang terkejut.
"Menggodaku, Nona Manis?" bisik Darren tepat di telinga Riana.
Riana mendesis. Niatnya dia yang akan menggoda Darren, tetapi sialnya justru dirinya yang tergoda oleh perbuatan Darren sendiri. Wanita itu menggepalkan tangannya di atas dada Darren mencoba menahan hasrat yang akan meledak dari dalam dirinya.
"Mau bermain bersama, Sayang?" tanya Darren sembari menatap Riana.
"Tentu."
Darren terkekeh, dia melepaskan dasinya. Pria itu menutup mata Riana dengan dasinya. Tanpa banyak bicara, dia mengendong Riana, membawa Riana ke kamar yang pernah menjadi saksi kala dirinya beradu cinta dengan Nata. Darren membiarkan Riana bingung dengan sikapnya, membiarkan wanita bermain dengan imajinasinya. Dia akan membuat Riana melayang melebihi imajinasinya sendiri.
"Apa kau melupakan istrimu, Darren Aryan Gautama?" tanya Riana dengan sinis.
"Tentu tidak. Dia tengah hamil, saya tidak akan bisa meneyentuhnya. Anda lantas datang menawarkan kehangatan, sangat rugi jika saya menolak," balas Darren.
Riana tersenyum puas dalam gendongan Darren, dikalungkan tangannya di leher Darren. Dia akan membuat Darren terlena, itu janjinya.
Bruk!
Darren membanting Riana di atas kasur. Pria itu merangkak naik ke atas tubuh Riana. Pria itu membelai wajah Riana dengan lembut, dengan sengaja dia mengusap bibir ranum Riana dengan jarinya cukup lama.
"Hard s*x, Baby?"
__ADS_1
"Sure, Baby."