Gadis Muda Untuk Pak Duda

Gadis Muda Untuk Pak Duda
Kekhawatiran Nata


__ADS_3

"Loh suami kamu belum pulang?"


Nata menggeleng pelan. Wanita itu melirik jam dinding yang menggantung di dinding, dia menghela napas kasar. Waktu sudah menunjukkan pukul 21.00 wib, tetapi suaminya itu tak juga kunjung pulang.


Nata dilanda kekhawatiran yang amat mendalam. Wanita itu benar-benar tak tahu harus berbuat apa. Dia dilanda ketakutan, takut Darren berbuat hal di luaran batas. Seorang perempuan sudah biasa dilanda oleh pikiran berlebih miliknya, tak perlu heran lagi, sudah keahlian mereka dilanda overthinking, apalagi masalah pasangan.


"Kamu istirahat, gih. Nanti juga Darren pulang," ucap Alisha berusaha menenangkan menantunya itu.


Alisha menghembuskan napasnya saat melihat Nata tak juga bergerak, wanita itu masih berdiri di depan pintu masuk dengan gelisah. Wanita itu sedari tadi memainkan jemarinya mencoba mengusir segala pikiran buruk yang mengusik. Tangan Alisha terulur mengelus rambut Nata dengan lembut, dia paham kekhawatiran yang menantunya alami.


"Tidur, ya? Kamu lagi hamil, loh," ujar Alisha mencoba membujuk Nata.


"Tapi, Mas Darren . . .."


"Darren enggak akan aneh-aneh, dia pasti pulang. Kerjaannya lagi numpuk aja. Gih, tidur, Bunda temenin."


"Iya, Bun."


...***...


Di tempat berbeda, seorang pria tengah memeluk wanita di pangkuannya dengan erat. Mereka baru saja selesai bersenang-senang bahkan mata wanita itu masih ditutupi oleh kain hitam. Keringat masih membasahi tubuh mereka bukti dari kenikmatan yang mereka jajah beberapa waktu yang lalu.


Sang pria mengusap punggung telanjang wanita yang duduk dengan manis di pangkuannya. Dengan sengaja dirinya menggoda wanita itu, dia sudah hafal dan tahu titik sensitif wanita itu. Pria itu terkekeh saat mendengar alunan merdu yang keluar dari bibir manis wanitanya.


"Aku harus pulang, Sayang. Nanti istriku curiga," bisiknya.


Wanita itu memberenggut. Dengan cepat dia mengeratkan pelukannya, dia tak ingin ditinggalkan oleh pria di hadapannya, ya.


Pria yang melihat itu hanya menggelengkan kepalanya. Sudah biasa dirinya dibuat tertekan oleh wanita di pelukannya. Dia mengurai pelukan itu, mengusap lembut wajah wanitanya yang matanya masih ditutupi oleh kain.


"Aku janji besok akan ke sini lagi. Biarin aku pulang, oke?"

__ADS_1


"Iya."


Pria itu menghela napasnya kasar saat wanitanya merajuk. Ditariknya wanitanya ke dalam pelukannya kembali lantas dikecup kening wanitanya dengan mesra. Dia mengusap lembut kembali rambut wanitanya itu.


"Hey, masa marah? Kalau istriku nanti curiga gimana, hm? Aku jadi enggak bisa ke sini, dong. Biarin aku pulang, ya? Besok aku ke sini lagi atau kapan-kapan kita liburan bareng deh. Gimana mau?" paparnya.


Wanita itu menghela napasnya kasar lantas mengangguk drngan pelan. "Iya, boleh pulang."


...Nasib jadi pemuas nafsu ya begini....


...***...


"Huh pegel ni badan," keluh Cellyn sembari berjalan ke dapur.


Wanita itu berniat mengambil segelas air putih, yetapi langkahnya harus berhenti saat mendengar isakan dari kamar anak sambungnya. Kepalang khawatir, Cellyn melupakan tujuannya untuk mengambil air putih. Dahaga yang dia rasakan hilang sudah, terlanjur khawatir dengan kondisi anak sambungnya.


Dibukanya pintu kamar Yana secara perlahan. Dapat dirinya lihat Yana tengah meringkung di ranjang dengan tubuh yang bergelung di bawah selimut. Cellyn mendekati Yana perlahan, dirinya dapat melihat gadis kecil itu menangis dengan mata terpejam. Namun, fokus Cellyn ada pada wajah pucat anak sambungnya itu.


Wanita itu mematikan AC di kamar Yana, lantas berjalan keluar kamar. Tujuannya saat ini adalah ke kamarnya untuk mengambil peralatan medis miliknya, tetapi sebelum itu dirinya menyempatkan diri ke dapur untuk membuat air panas.


Devan yang baru keluar dari ruang kerjanya mengernyitkan keningnya heran saat Cellyn membawa tas yang dirinya yakini berisi peralatan medis milik istrinya itu. Devan berjalan mendekati Cellyb dengan langkah perlahan dan tatapan mata tajamnya.


"Mau ke mana?" tanya pria itu saat sudah di hadapan Cellyn.


"Kamar Yana, dia demam."


Mendengar penuturan Cellyn membuat Devan khawatir, dengan cepat pria itu berlari menuju kamar anaknya. Cellyn yang melihat itu segera berjalan mengikuti langkah kaki Devan secara perlahan.


Setibanya di kamar Yana, wanita itu segera memeriksa kondisi Yana. Devan duduk di pinggir ranjang sebelah kiri sembari mengusap rambut sang anak, beberapa kali dia juga mengusap surai Yana dengan lembut.


Dia menghela napas. "Suhu tubuhnya 38,5° celcius. Yana demam karena iklim yang terus saja berubah dan terlalu banyak memakan makanan tidak sehat akhirnya berdampak pada lambungnya. Akan saya tuliskan resepnya, tolong tebus di apotek," jelas Cellyn.

__ADS_1


"Ma—mama, Yana kangen hiks . . .," racau Yana membuat atensi Devan dan Cellyn teralihkan.


Cellyn mengusap rambut Yana. "Tenang ya, Sayang. Om tebus dulu obatnya, Yana biar Cellyn jaga." Dia menatap Devan dengan tenang.


...***...


Dirinya menghela nafas dan memejamkan matanya erat. Dadanya berdenyut nyeri, perasaan sesak yang dirinya benci itu selalu mengusiknya kala sendiri. Lina memukul dadanya keras, berharap rasa sakit itu menghilang.


Sepertinya dia butuh pelampiasan, pikirnya. bicara soal pelampiasan, sudah lama Lina tak melakukan having ***. Mengingat kesibukan yang tak bisa dirinya tinggalkan begitu saja. Mungkin, dirinya akan pergi ke bar malam ini untuk mencari kesenangan.


Lina berdecak kala tiba-tiba pintu ruangannya terbuka, dirinya melirik dengan sinis ke arah pintu. Namun, sesaat kemudian tatapannya berubah datar, tetapi tak dengan hatinya yang bergemuruh. Dirinya merasakan takut yang luar biasa, tetapi harus ia sembunyikan dengan baik.


Di ambang pintu, sang Ibu memandangnya dengan remeh. Tatapan yang selalu berhasil menampar Lina berkali-kali. Lina bangkit dari duduknya, berusaha bersikap biasa-biasa saja. Faktanya, hatinya berdenyut dengan hebat. Luka kemarin bahkan belum sembuh total.


"Kenapa anda kesini, Nyonya?" tanya Lina dengan nada angkuh.


"Cih, dasar Anak tak guna," maki sang Ibu.


Lina berdecih. "Jangan membuang waktu saya."


Sejujurnya, hatinya sakit bicara demikian. Hanya saja Lina tak mau terlihat lemah. Dirinya harus bisa baik-baik saja tanpa dukungan keluarga.


"Saya mau kamu memberikan cabang butikmu ke Gebia."


Lina mengepalkan tangannya erat, dirinya memejamkan matanya. Perempuan itu berusaha mengontrol emosinya yang akan meledak. Perempuan itu membuka matanya, dirinya memandang sang Ibu cukup tajam. Setelahnya dia tertawa kencang membuat sang Ibu keheranan.


"Apa Keponakan tercinta anda itu tak sanggup untuk membuat butiknya sendiri? Ah, atau memang dia tak berguna?" ujar Lina tajam.


Tangan sang Ibu mengepal kuat. "Berikan atau kau tahu akibatnya Anak sialan!" ujarnya marah.


"Hahaha ... Kau bahkan tak tahu apa pun tentang saya, Nyonya."

__ADS_1


Lina merasakan dejavu, dia pernah ada di posisi ini. Dia juga pernah ada pada kondisi ini, titik terhancur dirinya. Hal ini kembali terulang.


__ADS_2